Ingin rasanya Demico lari mengejar Flo. Tapi sepertinya barisan ini sudah di mantrai agar tidak ada satupun yang bisa keluar dari barisan. Setelah alex yang masuk kelas penyihir, sekarang tiba gilirannya.
Demico tertegun di depan dua benda pusaka itu. Ia tidak yakin dengan kemampuan dirinya, apakah ia penyihir? Peramal? Entahlah.
Kedua benda di depannya seperti bergetar, ia gugup. Kali ini saja, jangan membuat masalah demico. Gumamnya.
"Sihir, aku ingin masuk kelas penyihir!" Bisiknya lirih entah pada siapa.
Seketika bola kristal berhenti bergetar dan dengan pasti tongkat jambrud melayang ke tangan kanan yang ia angkat.
"Penyihir!" Seru Markeva seolah lega, tidak terjadi masalah pada Mr.Carlos.
Demico meletakan tongkat jambrud kembali ke tempat nya, dan dengan segera ia berlari ke pintu aula.
"Permisi, aku perlu ke toilet sekarang!" Ujar Demico meminta ijin, dengan sigap pengawal membukakan pintu untuknya.
Dengan perlahan demico menelusuri koridor ke sayap kanan, jika flo di bawa ke suatu tempat sudah pasti itu adalah ruang kepala sekolah. Seingatnya di peta tadi malam yang ia pelajari, ruangan penting ada di sayap kanan. Semoga benar!
Setelah berjalan melalui koridor panjang yang seperti tidak ada penghuninya, ia tiba di koridor paling ujung. Benar saja, disana ada flo yang sedang berdiri kebingungan sepertinya. Dengan langkah lebar iya berjalan mendekati flo dari belakang.
"Butuh bantuan girl?" Seru demico.
Flo berbalik dan seketika terkejut melihat sang empu suara.
"Kamu?!"
Demico tersenyum miring melihat cewek yang di sukainya terkejut melihatnya.
"Apa yang kau lakukan disini Demico?!" Tanya flo lebih seperti teriakan.
"Aku sekolah baby, tentu saja! Sama sepertimu." Balas Demico santai.
"Jangan bercanda dem, ini sekolah penyihir!" Tambah flo heran.
"Iya, baby..dan itu artinya aku juga penyihir!" Demico menjawab tak mau kalah.
"Berhenti memanggil baby Demico! Aku bukan pacarmu!" Seru flo mulai kesal.
"Oh ayolah flo, tidakkah kamu senang melihatku disini? Ditempat ini? Kalau tidak aku akan kecewa. Karena aku sangat senang, asal kau tau!" Ujar Demico dengan kebahagiaan yang tampak sangat jelas.
Demico sekali lagi menyunggingkan senyum termanisnya.
"Berhenti tersenyum seperti itu, menggelikan!" Seru flo bergedik.
"Eumh..benarkah?" Demico bertanya jail.
Di tengah pembicaraan bodoh mereka, datanglah lily.
"Ehemm..ms.Austin, mr Carlos sedang apa kalian?" Tanya lily dengan penuh penekanan.
Demico berpaling, dan seketika terpana.
"Lily???" Serunya heboh. Ini seperti renunian. Pikir Demico.
Seketika itu pula flo mencubit tangan Demico.
"Maaf mrs abigail, kami hanya tersesat. Sekarang kami akan kembali!" Jawab Flo tergagap sembari menggamit lengan Demico berjalan dengan cepat di koridor ke sayap kiri.
"Apakah ini arah yang benar?! " Bisik Flo.
"Sayangnya benar, baby!" Jawab Demico sembari terkikik pelan. Untuk pertama kalinya cewek ini menggandeng tangannya dengan erat. Demico punya banyak pertanyaan di benaknya untuk flo, tapi iya tahan. Sepertinya ia akan punya banyak waktu dengan flo. Semoga.
Sesampainya di Aula, mereka berdua terkejut saat pengawal membukakan pintu. Ruangan sepak bola itu seketika berubah menjadi ruang makan yang besar dan memiliki 4 baris meja panjang di mana 2 meja di kanan bertuliskan "Penyihir" dan 2 meja di kiri bertuliskan "Peramal".
Belakangan di ketahui jumlah semua murid di Forcaster Academy ada 4000 jiwa dengan 4 tingakatan kelas. Dan saat ini Demico dan flo ada di tingkat 1.
Dengan langkah lebar Demico dan Flo berjalan ke arah meja tingkat satu yang di iringi dengan tatapan ingin tahu semua murid yang ada di sana. Duduk bersebarangan dengan Demico , flo berusaha mengacuhkan pandangan murid lain terhadap nya.
"Selamat makan semuanya!" Seru markeva sembari mengetuk gelasnya 3 kali. Seketika murid murid mengambil makanan yang ada di meja ke piring mereka dan mulai makan dengan tenang, benar benar tenang tanpa ada suara keributan lain.
Demico menyengir lebar sembari mengambil potongan ayam di depannya, lagi lagi untuk pertama kalinya ia makan berhadapan dengan orang yang ia sukai.
Flo mulai menyuapkan makanan kemulutnya dengan kikuk, untuk pertama kalinya ia makan dengan banyak orang. Biasanya ia hanya makan sendiri. Flo menatap Demico yang makan dengan lahap di depannya. Ia juga harus seperti Demico, ia akan menghadapi hidupnya dengan bahagia seperti Demico, tidak ada lagi kesedihan, tidak akan ada lagi! Tekadnya dalam hati.
Namun baru saja tekad itu ia tanamkan di dalam hatinya. Segera setelah jam pelajaran pertama di mulai ia mulai merasa dunia begitu berat. Ck.
Mata pelajaran pertamanya dikelas penyihir adalah "Sejarah". Demico lagi lagi mengambil tempat duduk tepat di samping flo. Tidak bisakah ia menjauh? Pikir flo mulai jengah.
Madam caroline sebenarnya adalah mentor yang sama sekali tidak membosankan, ia wanita yang cantik tinggi dan berkulit putih dengan rambut berwarna blonde. Tapi pelajaran sejarah? Benar benar sejarah dengan arti harfiah. Sejarah berdirinya sekolah, para pendiri dan masih banyak lagi yang caroline jelaskan membuat flo menguap berkali kali.
"Kamu ngantuk baby?" Bisik Demico geli. Tidak pernah ia bisa sedekat ini dengan flo.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" Seru flo kesal dan mengangkat tangannya tanpa sadar ingin memukul Demico.
"Ya, Ms Austin? Ada pertanyaan?" Seru madam caroline.
Glek. Flo tertegun semua mata di kelas itu memandangnya, dan itu artinya 300 orang di kelas itu sedang memandangnya ingin tau.
"Hey bukankah itu cewek yang tadi ya? Si genius dengan dua kekuatan?" Bisik seorang siswi di dekatnya.
"Mungkin dia merasa hebat, makanya cari cari perhatian!" Tambah siswi di sampingnya.
"Shh...Cewek berambut pirang di samping Demico menegur mereka berdua.
"i..iya madam, saya tidak bermaksud untuk bertanya, i m so sorry!" Jawab flo dengan penuh rasa bersalah.
"Its okay, jika ada pertanyaan tanyakan saja nanti!" Tambah madam caroline bijak.
Demico kembali nyengir melihat tingkah kikuk flo. Baby girl.
" Kembali ke sejarah tongkat sihir.....madam caroline kembali menjelaskan tentang sejarah lahirnya pusaka sekolah itu.
Fiuh! Flo merasa sangat bersyukur semua mata yang tadi menatapnya kembali fokus ke depan. Ia harus berterima kasih kepada cewek berambut pirang yang ia tau sudah dua kali membelanya. Ia akan mendekati cewek itu nanti. Pikirnya.
Flo kembali memfokuskan diri dengan penjelasan madam Caroline, kali ini ia bertekad tidak akan membuat ulah lagi hingga terus terusan di tegur, ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Tidak kali ini.
Dua jam yang sangat berat akhirnya bisa terlewati. Pikir flo sembari menutup buku sejarahnya.Dengan sisa tenaganya ia berdiri dan mengambil tas di kursinya kemudian menyampirkannya ke punggung.
Ketika cewek pirang yang 2 kali membelanya lewat di samping kursinya, ia berdiri dengan cepat dan memegang tangan cewek itu.
"Hay...sorry, perkenalkan aku flo!" Seru flo antusias.
Cewek itu berhenti dan membalas jabatan tangan flo.
"Felly!" Balasnya singkat dengan sedikit senyum.
"Demico!" Seru demico sembari menggandeng flo dan mengulurkan tangan kepada felly tidak kalah antusiasnya.
Felly terkikik melihat kelakuan Demico.
"Apa kalian berpacaran?" Tanya felly geli.
"NO!!! Bantah Flo.
"Yess!!! Demico mengangguk semangat.
"Demico apa apaan kamu!" Seru flo kesal dan memukul punggung Demico dengan sekuat tenaga.
Felly berlalu dengan geli. Masih ada yaa cerita roman di sekolah sihir seperti ini? Pikirnya sembari meninggalkan dua sejoli yang terus berdebat tidak ada habisnya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
lanjutkan
2023-04-02
0