Gerald Jhon Austin

Hidup adalah pilihan, apapun yang terjadi hal itu sudah kamu sanggupi sebelum lahir ke dunia ini. Jika pada akhirnya hidupmu sangat berat, itu artinya kamu adalah orang yang kuat.

Lagi-lagi mimpi itu. Aku kembali merasa tercekik. Semua orang berlarian. Mereka menabrak ku. Menginjak ku. Karena apa? Mereka tidak melihatku! Aku kehabisan nafas. Gedung-gedung di sampingku mulai runtuh. Dan...

Aku terbangun! Terengah-engah. Seluruh baju kaos ku basah karena keringat. Okay... aku menarik nafas. Tenggorokanku kering! Lama aku duduk berdiam diri.

Dia sedang tidur beberapa saat lalu dan bermimpi. Tepatnya mimpi adiknya yang bisa ia rasakan.

Aku lapar!

Itu adalah isi pikiran adik cantikku yang malang,Flo . Aku kembali menarik nafas berat. Dia selalu bermimpi hal yang sama, mimpi yang selalu dialaminya sejak kecil. Kenapa aku bisa merasakannya? Karena dia adalah setengah nyawaku. Ya, soulmate ku. Jangan bingung. Nanti kalian akan mengerti.

Aku beranjak dari ranjang, berniat mengambil minum untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan ku dan itu artinya aku akan bertemu flo, dan itu bukan berarti aku keberatan untuk bertemu dengannya. Hanya saja aku tidak ingin melihat sinar matanya yang selalu terkejut melihatku, seolah aku adalah bahaya besar dan bukannya kakak kandungnya.

Harus kuakui, aku memang bukan kakak yang baik. Aku memang selalu menghindarinya. Tapi itu bukan karena aku membencinya, hanya saja aku tidak bisa terlalu lama berdekatan dengannya sebelum ia berumur 16 tahun, Kalian bingung?

Ya, keluarga kami memang membingungkan. Dulu sekali sebelum adikku lahir, sebenarnya ia tidak ada harapan hidup. Ibu adalah seorang peramal dan ayahku seorang penyihir. Well, jangan membayangkan wajah seorang ibu dengan kalung besar panjang serta bola kristal dan seorang penyihir pria dengan sapu terbang serta tongkat sihirnya. Mereka seperti orang tua normal, sungguh.

Ya, walaupun sangat berbeda. Karena ibu biasa tidak bisa meramalkan seorang bayi perempuan lahir dari rahimnya yang kelak akan menyelamatkan kota tempat ia berada dengan segala konsekuensinya. Bayi itu akan lahir dengan balasan nyawa kedua orang tuaku, tapi ia akan lahir tanpa kekuatan apapun. Bahkan ibuku meramalkan kemungkinan ia hidup sangat kecil. Dan aku tidak akan membiarkan pengorbanan orang tuaku sia-sia. Jadi aku memberikan setengah nyawaku untuknya.

Dan itu sebabnya aku belum bisa terlalu lama didekatnya, karena tubuhku melemah jika terlalu lama dekat dengannya. Apalagi setiap umurnya bertambah, kekuatan di tubuhnya seakan mencari setengah jiwanya dan itu adalah aku. saat umurnya 16 tahun, baru tubuhnya bisa menerima kekuatan dari setengah jiwa yang kuberikan untuknya, dan saat itu tiba aku akan menjelaskan semuanya padanya, itu artinya lusa.

Itu artinya aku tidak perlu memberinya hadiah secara diam-diam dan aku tidak perlu berjauhan dengannya selama seminggu seperti ulang tahunnya yang sudah-sudah. Dan aku akan memberitahunya seluruh rahasia yang ku sembunyikan darinya selama ini.

Sesampainya di dapur kulihat Flo sedang menaruh sesuatu ditempat cuci piring. Dia habis makan?

Kamu belum tidur?" Aku bertanya sembari berlalu dari hadapannya, Ya Tuhan adikku kelaparan? Batinku sembari menatap sekilas mangkuk di pencucian kemudian membuka kulkas dan mengambil air botol dingin dan meminumnya.

"Aku... aku sudah tidur, hanya saja terbangun karena lapar" Jawabnya dengan nada yang sangat kentara gugup.

Aku berhenti meneguk air kemudian menatapnya.

"Kamu tidak bermimpi buruk?" Tanyaku sambil lalu hanya ingin memastikan.

Ia terlihat bingung mau menjawab apa, namun aku mendengar isi pikirannya.

Kalau saja orang di depanku ini bukan kakakku. Aku akan berkata, ya aku mimpi buruk dan kemudian orang itu akan memelukku dan mengatakan "Its ok, everything is will gonna be ok".

"Tidak" tapi hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya. Adikku yang malang.

Aku mencoba terlihat biasa dan kemudian menghabiskan air di tanganku. Ia berbalik dengan pelan. Aku ingin bicara padanya lebih lama. Hei...tunggu.

"Lusa ulang tahunmu bukan?" Aku kembali bertanya. Mau tak mau ia berhenti dan kemudian menatapku dengan sedikit senyum tersungging.

"Ya" ia kembali menjawab singkat, tidak bisa kah lebih canggung dari ini?

"Kamu menginginkan sesuatu?" Tanyaku, namun kemudian menyadari kebodohan ku.

Bagaimana bisa ada orang mau memberi hadiah bertanya seperti itu? Teringat waktu sebelum sebelumnya dimana aku selalu menaruh hadiah di depan kamarnya saat pagi menjelang, tanpa kartu ucapan dan kemudian menghilang selama seminggu.

Well, seminggu yang sangat menyakitkan tepatnya. Markeva wakil kepala Forecaster Academy sekolah peramal dimana aku adalah pemiliknya lah yang mengobati luka-luka yang timbul di tubuhku saat momen itu terjadi.

Luka-luka itu seperti ada silet yang membelah kulitku, dan jangan pernah tanyakan bagaimana sakitnya. Ya, bisa dibilang itu adalah karma dari sikap lancang ku membagi jiwa untuk adikku.

"Tidak, aku tidak menginginkan apapun" ia pun menjawab dengan kalimat yang membuatku merasakan sedikit kekecewaan di dalam hatiku.

"Eummhh, baiklah kalau begitu" jawabku pasrah sembari membalikkan badan berpura-pura mencari sesuatu.

Iapun berlalu meninggalkanku. Tidak bisakah hidup kami lebih normal dari ini?

Kenapa dia begitu acuh padaku. Apa aku bukan adik kandungnya? Apa dia menyalahkan ku atas meninggalnya orang tua kami? Pikir Flo.

Adikku yang malang, pikirannya selalu saja bisa menusuk hatiku. Percayalah, hatiku perih mendengarnya. Bersabarlah flo, sebentar lagi semuanya akan menjadi jelas. Janjiku.

Aku berjalan kembali menuju kamarku. Aku bisa mendengar dengan sangat jelas tangisan tak bersuara adikku. Lagi-lagi aku membuatnya menangis.

Aku sangat prihatin dengan adikku semata wayang itu. Di usia remajanya sekarang tak pernah sedikitpun aku mendengar pikirannya berbicara tentang lelaki. Tidakkah ia menyukai lelaki di sekolahnya?

Aku menyekolahkannya di SMA favorit se New York...tentunya untuk sementara sampai umurnya 16 tahun tepatnya lusa. Tapi ia tidak pernah memikirkan tentang sekolahnya.

Ia naik bus ke sekolah setiap hari dan pulang naik bus juga. Bukannya kami tidak memiliki mobil. Banyak malah.

Tapi memang begitulah fasilitas sekolah elite itu. Dan itu salah satu opsi yang kusukai sebenarnya. Karena dengan begitu aku bisa merasa aman jika adikku sekolah.

Kembali ke masalah lelaki. Aku yakin banyak lelaki yang menyukainya. Mengingat wajahnya yang cantik. Tapi kenapa aku tidak pernah mendengar pikirannya memikirkan lelaki. Ia hanya memikirkan ku dengan semua tingkah lakuku yang selalu menjauhinya. Adikku yang malang.

Percayalah, aku sangat ingin menjadi kakak yang normal untuknya. Bukan kakak yang selalu saja keceplosan membalas isi pikirannya daripada perkataannya.

Well, itu sering terjadi sebenarnya. Dan aku khawatir ia tahu. Bahwa aku bukanlah kakak normal seperti orang lain. Aku peramal. Aku pembaca pikiran. Dan aku penyihir. Tidak bisakah lebih aneh lagi?

Tapi aku mencintai diriku. Aku selalu bersyukur atas segala apa yang Tuhan berikan padaku. Meskipun sepertinya Tuhan marah padaku, karena aku sangat lancang membagi jiwaku untuk adikku. Maafkan aku Tuhan. Tapi memang semestinya itu yang kulakukan. Demi adikku dan demi kami, demi kota kami. NEW YORK

Terpopuler

Comments

Bakulgeblek

Bakulgeblek

kdg mmg terasa menjengkelkan, tp y namanya hidup...
semua sudah ada plotnya masing2 😅😅😅

2024-03-12

0

Weng Candra

Weng Candra

hebat kakak ni menulis, pintar kali merangkai kata

2023-04-05

0

lanjutkan

2023-03-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!