Lily Briyan Abigail

22.00 PM New York

Abigail, tolong persiapkan semuanya_

Sebaris pesan teks yang masuk ke handphonenya, membuat lily beranjak dari tempat tidur dengan tergesa.

Well, setelah berpuluh tahun lamanya akhirnya semua ramalan yang hanya bisa ia dengar dari mulut ke mulut itu akan terjadi. Dan kali ini Lily adalah orang terhormat yang akan menemani si gadis yang selama ini ia kenal sebagai Flo.

Awalnya ia agak marah saat di beri tugas mengawasi seorang anak kelas 1 SMA? Ayolah, umurnya sekarang sudah 25 tahun? Bagaimana ia harus mengasuh seorang gadis yang bahkan belum berumur 17 tahun?

Namun apalah daya yang meminta ada lah kepala sekolah mereka, Gerald. Apapun yang ia katakan untuk menolak, tidak akan bisa menjadi sebuah alasan. Dan jadilah ia mengulang masa SMA yang sangat membosankan itu sebagai kedok untuk bisa terus menjaga Flo. Untung saja ia memiliki wajah yang masih bisa di katakan baby face, ck.

Kembali ke pesan, Lily menyambar jaket dan sepatunya. Berdiri di tengah ruangan. Dengan perlahan menghembuskan napas panjang. Forecaster Academy! Sekelebat cahaya putih datang.

Sedetik kemudian ia tiba di labirin dan membuka pintu gerbang berukir huruf F besar dengan bahan emas murni. Akhirnya ia kembali ke tempatnya.

Menyusuri lorong ia tiba di sayap kiri bangunan, asrama putri. Menuju kamar 2068 ia membuka sebuah kamar yang nantinya akan di tempati Flo.

Lily menyiapkan semua kebutuhan flo termasuk seragam sekolahnya. Baju dan perlengkapan yang biasa di pakai nya dan hal hal kecil yang di butuhkan Flo untuk tinggal di tempat ini. Merasa semuanya sudah siap. Ia keluar kamar dan kembali menyusuri lorong hingga tiba di ruangannya.

Sebenarnya ia ada lah mentor untuk pelajaran transformasi. Sebuah pelajaran untuk siswa dan siswi Forecaster agar bisa mengubah dirinya dalam waktu singkat menjadi seseorang untuk mengelabui musuh atau pun orang lain dengan kepentingan tertentu. Tidak seperti kedengarannya, sebenarnya pelajaran itu sangat mudah dan menyenangkan.

Lily duduk di sofa kamarnya, dengan sejentik bunyi jarinya ia berganti pakaian yang nyaman. Sepertinya sudah sangat lama ia merindukan perasaan seperti itu, bisa dengan mudah berganti pakaian tanpa harus membuka lemari dan mencari pernak pernik seorang perempuan sebagai mana mestinya, ck.

Lily termenung dan mencoba berpikir keras, apa yang ia akan katakan saat bertemu Flo nanti? Hai aku adalah orang yang di utus kakakmu untuk memata matai mu selama ini? Senang berkenalan denganmu? Shh...sama sekali bukan ide yang bagus. Well, apapun itu...ia harus menghadapi Flo kan?

Selang berapa lama, Lily melihat jam di sudut ruangannya. Pukul 00.00. Ia bergegas keluar dari kamarnya menyeberangi lapangan hijau yang luas. Dari kejauhan ia melihat kerumunan anak anak, tidak salah lagi itu pasti Flo dan Gerald. Dengan langkah panjang ia mendekati kerumunan.

Terlihatlah seorang gadis yang selama ini ia kenal sedang di peluk seorang pria yang tentu saja adalah kepala sekolah mereka. Flo terlihat masih menangis sengungukan, Flo yang malang.

Namun perasaan mengharukan itu segera tergantikan saat Gerald melihatnya datang, ia mencoba mendekat ke belakang punggung Gerald.

"Dan perkenalkan ini Abigail" Ucap Gerald sembari mengisyaratkan Flo untuk melihatnya yang ada di belakang Gerald. Seketika Flo menatap Lily.

"Dia yang akan mengajarimu segala sesuatu hal tentang sekolah ini, tepatnya ia adalah mentor kamu Flo" Ucap Gerald sembari mundur selangkah memperlihatkan wajah cantik seorang perempuan yang sudah sangat Flo kenal, bedanya ia tidak pakai kacamata...dia cantik dan hampir sempurna, sangat jauh dengan seorang yang ia kenal dengan sosok yang sama.

"Hai!" ucap Lily yang juga bingung harus berkata apa.

Flo mendekat satu langkah dan meraih tangan lily.

"Lily?" Ucapnya entah sebagai pertanyaan atau pernyataan untuk memastikan penglihatannya.

"Ehemm...Abigail, dan untuk kedepannya saya adalah mentor kamu!" Ucap Lily dengan penuh penekanan, tentu saja ia tidak ingin di nilai Gerald terlalu dekat secara emosional dengan anak muridnya, nanti.

Flo tersadar dan melepaskan tangan nya dari tangan Lily, ia mundur selangkah.

"Iya, Ms Abigail!" balas Flo.

"Abigail, tolong bawa Flo ke kamarnya. Aku masih ada urusan." Sela Gerald sembari mendekat dan mencium kening Flo.

"Take care, baby girl!" Ucapnya sembari berpaling dan berjalan menuju sayap kanan, ruangannya.

Sepeninggal Gerald, Lily menggandeng tangan flo.

"Come on flo, banyak yang ingin ku ceritakan padamu" Ucapnya sembari menatap manik mata flo yang masih saja dalam keadaan bingung.

...***...

05.00 New york_Forecaster Academy

Flo duduk di sebuah ranjang bertema kream abu abu selayaknya kamarnya di dunia nyata. Kenapa dunia nyata? Jujur ia masih merasa ini semua mimpi. Peramal? Penyihir? Tidak ada satu kata pun dari mulut Lily yang bisa ia pahami, ralat Abigail .

Saat ini adalah saat terkalut yang pernah ia alami dalam hidup. Walau harus di akui sedikit banyaknya ia senang, karena untuk pertama kali dalam hidupnya Gerald memeluk Flo. Tidak pernah sekalipun mereka bisa sedekat itu, tapi kenyataan yang baru saja Lily paparkan sama sekali tidak membuatnya senang. Jika Flo adalah penyihir atau pun peramal, bukan kah seharusnya ia punya kekuatan? Terbang kek, menghilang kek. Pikirnya lucu

Di tengah ketidakpastian Flo terdengar ketukkan pintu.

"Tok,tok!" Flo,..

Seketika wajah Gerald menyembul dari balik pintu.

"Hai...sambungnya.

"Hai..silahkan masuk." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Flo. Sebenarnya ada baiknya mereka tidak terlalu dekat untuk keadaan seperti ini, untuk ukuran kakak beradik mereka terlalu hemat dalam berbicara.

Gerald mendekat dan duduk tepat di samping Flo. Ia mengangkat wajah Flo yang sengaja ia tundukkan.

"Hai...baby girl, biarkan aku menjelaskan semuanya." Ucap Gerald lirih.

Flo mengangguk dan mendengarkan nya dengar serius. Gerald mengambil napas panjang dan menghembuskan kembali sebelum memulai berbicara.

"Yang pertama, aku sangat menyayangimu di atas apapun yang kamu pikirkan selama ini."

"Yang kedua, semua yang Abigail ceritakan adalah kebenarannya."

"Yang ketiga, aku minta maaf atas semua rasa sakitmu selama ini." Runtut Gerald.

Sakit? Setidaknya ia tau aku sakit hati selama ini. Pikir Flo.

"Yang terakhir, kamu akan tinggal disini bersamaku dan yang lainnya." Tutur gerald sembari menatap Flo dalam.

Untuk apapun yang sudah terjadi. Satu hal yang selalu Flo syukuri, ia masih memiliki kakaknya. Ia tidak bisa membayangkan jika dulu sekali Gerald tidak membagi jiwanya.

"Tanyakan saja apapun yang ingin kamu tanyakan, aku akan menjawabmu sebisaku." Tambahnya Gerald lagi.

Flo mencoba memberanikan diri menatap manik mata kakaknya yang berwarna emerald tepat seperti miliknya.

"Aku takkan bertanya dan aku akan mendengarkan apapun yang kamu mau aku lakukan ka." Jawab Flo entah darimana datangnya keberanian hingga kalimat itu keluar.

"Terimakasih sudah bertahan sampai saat ini, mulai saat ini semuanya akan lebih berat sayang. Selamat datang di Forecaster Academy!" ucap Gerald sembari memeluk Flo.

Entah apa yang akan lebih buruk dari hidupku sebelumnya, satu hal yang pasti. Aku mencintaimu ka, kamu adalah cinta pertamaku sejak aku mengenal dunia. Maka apapun yang kamu katakan, aku akan melakukannya bahkan tanpa bertanya. Pikir Flo. Yang tentu saja du dengar Gerald.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Terpopuler

Comments

Bakulgeblek

Bakulgeblek

gantinya bokap y emg kakak 😅

2024-03-12

0

bagus sekali

2023-03-30

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!