Flo terbangun tepat pukul 06.00 pagi dan dengan berat hati melangkahkan kaki kekamar mandi. Mungkin air hangat bisa membuat suasana hatinya lebih baik. Ia harus menjalani hari yang membosankan di sekolahnya yang menurutnya sangat membosankan.
Well, mungkin bagi sekian orang sekolahnya terlihat wow karena bergengsi dan di idamkan oleh setiap murid di kota New York.
Mungkin Flo bukan salah satu dari segelintir murid yang menyukai sekolah yang lebih mirip hotel bintang Lima itu dengan semua murid dan tingkah lakunya yang lebih tepat dikatakan seorang putra putri kerajaan daripada murid SMA pada umumnya.
Flo hanya punya satu teman di kelas. Dan itu karena ia sama pendiam nya seperti flo. Bukan berarti flo murid yang pantas dikucilkan.
Semua orang tahu seberapa besar kekayaan kakaknya, dan juga ia tidak bisa dikatakan miskin.
Yang ingin berteman dengannya banyak, tapi yang tulus hanya Lily teman sebangku flo. Dia anak yang supel ramah dan apa adanya. Dia bukan ratu drama seperti Evelyn yang manja kelewatan. Dia satu-satunya teman Flo.
Kembali ke realita, flo sudah selesai memakai seragam sekolah dan menengok sekali lagi ke cermin. Matanya bengkak, lagi.
Flo melangkah lesu keluar kamar menuju pantry dan duduk dengan malas di kursi dengan meja makan yang penuh dengan berbagai macam hidangan sarapan.
Ia mengambil roti panggang dan telur mata sapi setengah matang kemudian mengapitnya dengan roti panggang lainnya dan mulai mengunyah dengan perlahan.
Dimana Gerald? Ia tak pernah sekalipun makan dengan Flo. Dan untuk itu flo tak tahu alasannya.
Baru setengah roti ia makan, ia sudah mulai bosan.
"Oke katakanlah aku tidak bersyukur. Aku sangat tidak mood sekarang." Ujar Flo berbicara pada dirinya sendiri kemudian mengambil segelas susu cokelat hangat meneguknya sampai tetes terakhir.
Flo menunggu bus jemputan dengan setengah hati. Tak beberapa lama kemudian bus sekolah itu melintas di depan Flo dan berhenti. Dengan patuh flo masuk ke dalam bus dan mengambil tempat duduk di samping Lily tentu saja.
"Hei..." sapa Lily.
"Hei..." balas flo sembari duduk disampingnya.
"Hari yang membosankan, heh?" Tanya Lily dengan wajah mengulum senyum. Lily sangat cantik. Siapapun bisa melihatnya. Tapi sikapnya yang pendiam membuat para lelaki yang ingin mendekatinya menjadi segan.
"Heummh... begitulah!" Jawab flo sembari mengedikkan bahu.
Ia tersenyum dan mengalihkan pandangannya kedepan. Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam.
Bus terus melaju menjemput teman sekelas mereka yang lain, hingga tak terasa sampai kedepan gerbang sekolah.
"Besok ulang tahunmu?" Tanya Lily sembari menyamakan langkah kecilnya dengan langkah lebar flo di koridor sekolah.
Flo berhenti dan menatapnya bingung.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya flo menyelidik.
Karena flo rasa ia tidak pernah memberi tahu siapapun.
"Kamu lupa, kamu yang memberitahunya padaku?" Jawabnya sedikit gagap.
Flo menyerngitkan dahi. Bernarkah? Aku sama sekali tidak ingat. Tapi ya sudahlah. Memangnya apa pentingnya? Tohh aku juga tidak peduli. Pikir Flo.
"Entahlah, mungkin aku lupa" jawab Flo seadanya.
Mereka kembali berjalan be iringan dalam diam. Sesampainya di kelas mereka duduk dengan tenang sampai Mr.Arnold masuk dan mulai mengoceh tentang sejarah Inggris. Tidak bisakah lebih hari ini membosankan lagi.
Selang beberapa lama dering bel berbunyi. Teman sekelas flo dengan sekejap menghilang entah kemana. Flo masih setia duduk bersama Lily yang membuka bekal kentang goreng dan ayam crispy nya.
"Kamu tidak makan?" Lily bertanya sembari menyuap kentang ketiganya.
Flo menggeleng dan refleks memegang perut.
"Tidak, aku masih terlalu kenyang" sahutnya sekenanya.
Flo terbiasa sarapan diwaktu pagi. Well, walaupun tidak punya orang tua bukan berarti tidak ada yang memperhatikan asupan makannya.
Hanya saja ia terlalu malas untuk sekedar berjalan ke kantin. Untungnya Flo tidak perlu sendiri dikelas. Karena Lily selalu saja membawa bekal dan menyantapnya di kelas. Zaman sekarang masih saja ada yang bawa bekal. Pikir Flo.
Selang beberapa menit kemudian datang Demico anak kelas X-2 yang selalu saja mengganggu flo. Ok dia ganteng. Tapi kelakuannya yang sok itu bikin eneg. Pikir Flo malas.
"Hai...baby girl? Kamu tidak keluar?" Ia bertanya pertanyaan yang selalu dia tanyakan.
Flo hanya menatapnya kemudian kembali sibuk dengan buku sejarah Inggris yang sama sekali tidak menggugah niat untuk membaca.
"Oh...come on, baby girl sampai kapan kamu akan cuek padaku seperti ini? Apa kamu tahu? Di luar sana banyak sekali perempuan yang ingin kencan denganku." Demico kembali menyombongkan dirinya.
Flo menatapnya jengah.
"Dan aku bukan salah satunya!" Jawab Flo sembari mendelik padanya.
"Benarkah? Baiklah. Mari kita lihat nanti" katanya sembari berbalik santai meninggalkan kelas kami. Sungguh menyebalkan.
...***...
Flo memasuki rumah dengan gontai, besok adalah hari ulang tahunnya. Apakah ia senang? Tentu tidak. Karena apa? Karena ia tahu kakaknya akan pergi lama. Dan entah mengapa ia merasa sepertinya untuk kali ini akan berbeda atau malah lebih parah lagi. Entahlah.
Namun dugaannya salah. Baru dua langkah ia menginjakkan kaki dari pintu utama, suara bariton kakaknya terdengar.
"Flo"... Seru nya dengan sorot mata yang entah apa artinya.
"Hay..." sahut flo dengan suara tercekat.
"Bagaimana harimu?" tanya dia dengan canggung.
" Emhh...baik" hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Flo sembari perlahan menaiki anak tangga, menuju kamarnya yang damai.
Ia tidak mengerti kenapa setiap kali di tegur oleh kakaknya sendiri, ralat kakak kandungnya sendiri bisa se gugup ini? Come on flo...
Selesai bersih bersih dan makan malam yang masih seorang diri, ia kembali mendekam di kamar....scroll scroll handphone, buka aplikasi tutup lagi. Sungguh sangat membosankan.
Ya Tuhan...bisakah hidup lebih membosankan dari ini? Pikirnya kesal. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Flo sudah menguap untuk yang entah ke berapa kalinya. Dengan perasaan gundah..akhirnya ia tertidur. Tidur yang lelap setelah berhari hari tidur tidak nyenyak.
***
New York City tepat pukul 00.00 tanggal 28 Januari 2023 tepat hari ulang tahunnya yang ke 16 Florence Jhon Austin terbangun disebuah labirin. Hei bukankah ia tidur dirumah nya?
Kembali ke labirin. Flo berjalan dan terus berjalan namun labirin itu tidak ada akhirnya. Ia panik. Tentu saja. Siapa yang tidak panik terbangun di tempat entah berantah seperti ini ditengah malam larut seperti ini. Ia terus berjalan hingga menemukan pintu yang menyala terang. Ia mendekat, mecoba menyentuh daun pintu itu. Namun, pintu itu seketika terbuka.
Flo seketika terpana. Di depannya berdiri sebuah gedung tinggi yang lebih mirip istana dengan gaya modern. Namun ia salah! Ia perhatikan lagi sekelilingnya. Banyak anak remaja seusianya atau lebih tua satu atau dua tahun darinya.
Well, ini sekolah? Tapi ada yang lebih aneh. Bukankah di luar tadi malam? Lalu kenapa disini siang yang begitu terik? Wow, ini pasti mimpi bodohnya. Pikir Flo. Ia segera berpaling, namun suara bariton yang sangat dikenalnya menyerukan namanya.
"Flo" panggil suara itu.
Flo tertegun dan segera berpaling. Dan ia terpana di depannya adalah Kakaknya, Gerald.
Masih tertegun, flo berusaha mencubit pipinya..come on Flo bangun! Pikirnya.
"Kamu tidak sedang bermimpi saat ini." Gerald mendekat.
Untuk pertama kalinya flo bisa merasa sedekat itu dengan Gerald, aneh. Flo mundur selangkah. Membuat Gerald menyerngit. Ia terdiam. Sembari menghembuskan napas panjang ia maju mendekat dan memegang tangan adiknya. Adiknya satu satunya.
"Happy birthday, baby..." Gerald menahan genangan air mata yang berlomba untuk keluar.
"Kakak..." ucap flo teredam pelukan erat gerald. Untuk pertama dalam hidup nya flo di peluk kakaknya Gerald. Perasaan sakit hatinya selama ini dengan kejamnya merongrong keluar secara bersamaan. Ia menangis tersedu sedu, tidak peduli berpuluh puluh pasang mata sedang menatap mereka dengan penasaran.
"Tempat apa ini?" Tanya flo mencicit.
Gerald memberi jarak di antara mereka sembari menatap wajah sembab adiknya.
"Ini sekolah dan akan menjadi tempat tinggal mu dari sekarang". Ucapnya dengan penuh penekanan.
"Sekolah? maksudnya?" Flo bertanya dengan penuh rasa penasaran.
"Nanti kamu akan tau, untuk saat ini...ikutilah semua kata kataku." Ucap Gerald sembari memisahkan diri.
"Dan perkenalkan ini Abigail, yang akan mengajarimu segala sesuatu hal tentang sekolah ini, tepatnya ia adalah mentor kamu flo." Ucap Gerald sembari mundur selangkah memperlihatkan wajah cantik seorang perempuan yang sudah sangat flo kenal, bedanya ia tidak pakai kacamata...dia cantik dan hampir sempurna, sangat jauh dengan seorang yang ia kenal dengan sosok yang sama.
Flo masih tertegun, sampai Lily menyapa nya dengan canggung.
"Hai..."
Apalagi ini?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Bakulgeblek
waduh, manggil adiknya baby 🤦♂️
2024-03-12
0
Weng Candra
lanjut kak
2023-04-16
0
mantap kak
2023-03-30
0