"Ya ampun flo!" Teriak Lily lebih keras untuk yang kedua kalinya.
"Kamu kalau teriak lagi, aku keluar ni ly! Seriusan!" Ancam Flo yang mulai merasa Lily keterlaluan, sekalian aja dia teriak di tengah lapangan. Pikir flo masam.
"Astaga!" Seru Lily lagi, kali ini dengan intonasi hampir berbisik.
"Bisa berhenti nggak ly, kamu tu nyebelin tau nggak!" Protes Flo mulai kesal.
"I....iya, iya ampun! Habis nya aku masih kaget flo, bisa bisanya seorang Athur!" Wow. Serunya lagi.
Flo mulai merasa ini adalah keputusan yang salah, memilih Lily sebagai teman curhat. Dia heboh sendiri! Ya Ampun. Pikir flo.
"Okay...aku akan serius!" Tekad Lily walau masih ada seberkas senyum di wajahnya.
"Terus, terus gimana?" Tanya Lily antusias.
"Gimana apa nya yang gimana?" Flo malah tambah bingung.
"Iya...maksud gue.., ehh kok jadi ala ala remaja lebay yaa aku ngomongnya!" Ck. Lily sempat sempatnya ngelawak.
"Iya maksud aku tu, gimana rasanya?" Tanya Lily malah ikutan gagap.
"Rasanya apanya?" Ya Ampun tambah awkard.
"Ciumannya flo! Kok kita kaya aneh gini yaa ngomongnya! Absurd banget tau nggak!" Tutur Lily sembari terkikik geli menyadari kebodohannya.
"Hahaha." Lily.
"Hahaha." Flo.
"Ya nggak gimana gimana, aku lari ly kekamar!" Sahut Flo mulai sebal dengan ke absurd an pembicaraan mereka.
"Heumhh...kok kesannya kaya gimana gitu!" Sambung lily.
"Gimana apa nya?" Tanya flo lagi.
"Asal kamu tau ya flo, aku aja ni ya yang kenal Athur lebih lama dari kamu, nggak pernah tu melihat dia bertingkah aneh seperti yang kamu bilang." Terang Lily.
"Jadi kamu mau bilang kalau aku bohong gitu?" Tanya Flo mulai kecewa.
"Bukan, bukannya aku bilang kamu bohong lho yaa..maksud aku, dia kaya gitu tu cuma ke kamu flo. Setahu aku Athur itu sosok yang serius dan dingin, dia tidak pernah bercanda apalagi menindas orang seperti yang kamu bilang. Seperti perlakuan dia ke kamu!" Jelas Lily.
"Ya nyatanya dia kaya gitu ly!" Protes Flo.
"Dan tadi pagi yaa...
Flo menceritakan kejadian di ruang makan, sampai insiden di depan kelas level 4.
"Makanya aku telat masuk kelas kamu!" Jelas flo mengakhiri cerita panjangnya.
"Ya ampun!" Lily lagi lagi memekik keras.
"Kayanya dia suka deh sama kamu flo!" Cetus Lily mengambil kesimpulan.
"Yee...sembarangan!" Teriak flo kali ini, sembari melempar bantal sofa ke wajah Lily.
"Eyy...mulai kurang ajar yaa." Canda Lily.
"Ckckck...ampun bu guru!" Sahut flo di iringi dengan gelak tawanya.
"Ehh...tapi kasian juga Demico yaa!" Sambung Lily.
"Kok malah Demico, nggak nyambung banget tau ly!" Protes Flo.
"Iya kasian tau, jelas jelas Demico itu suka sama kamu. Terus dengan pernyataan Athur yang ambigu kaya gitu, bikin Demico jealous nggak sih?" Sambung Lily.
"Ih...tau ah ly, mending aku keluar aja bentar lagi kelas mrs Markeva soalnya!" Seru flo sembari berdiri dari duduknya.
"Ohh...ya udah, sana gih ke kelas!" Usir Lily.
"Bye...!" Seru Flo sembari melenggang pergi setelah menutup pintu Lily.
Ada ada saja.
...***...
Pukul 13.00 Kelas ramuan.
Flo dengan serius memperhatikan Mrs Markeva yang mendemokan ramuan penurun demam di muka kelas.
"Flo!" Panggil Demico yang berada di sampingnya.
Dengan susah payah Flo mengabaikan keberadaan Demico di sampingnya, tapi di panggil seperti itu mau tak mau ia harus menyahut.
"Heumhh." Sahut Flo seperti biasanya.
"Ada hubungan apa kamu dengan Mr.Patterson?" Tanya Demico dengan penekanan di setiap katanya.
Tuh kan.
"Kan aku sudah bilang, dia teman dekat kakakku." Sahut Flo dengan berbisik, ia tidak mau jadi perhatian di kelas lagi.
"Teman kakakmu gimana, gimana ceritanya baju kamu ada di kamar dia?" Tanya Demico dengan nada hampir meledek.
Flo menatap Demico dengan tatapan penuh arti.
"Memang apa urusanmu ya dem? Aku rasa kita bukan di ranah untuk berbagi cerita seperti itu? Dan lagian ya, ngapain kamu menanyakan sesuatu dengan jawaban yang sudah ada di otakmu dengan versi kamu sendiri?" Tutur Flo mulai kesal.
Demico terdiam, sadar pertanyaannya barusan sudah menyimpang dari yang seharusnya. Entah kenapa Demico merasa hatinya sesak saat Flo berbicara dengan pria itu. Apalagi dengan pernyataan Athur yang seperti itu!
"Flo, aku nggak maksud kaya gitu!" Demico mencoba memperbaiki suasana tapi Flo tidak menghiraukannya lagi.
Dan Flo benar benar diam dan menganggap Demico tidak ada di sampingnya sampai jam pelajaran berakhir.
...****...
Pukul 15.00 Ruang makan
"Flo please maafin aku!" Seru Demico entah sudah yang keberapa kali sembari berusaha memegang tangan flo. Namun flo tepis dengan cepat.
Karena menepis tangan Demico, tangan flo tidak sengaja menyenggol gelas kaca dan menyebabkan gelas tersebut jatuh ke kaki flo!
"Pranggg!!" Terdengar suara pecahan gelas yang memekakkan telinga.
Semua mata tertuju pada flo! Sedang Demico menatap ngeri pada kaki flo yang tertancap serpihan kaca dan sudah berlumuran darah.
Seketika Gerald dan Athur muncul di samping Flo kiri dan kanan, dan orang yang pertama menggendong Flo adalah Athur!
Gerald yang keduluan Athur seketika menatap Demico nyalang.
"Apa yang kau lakukan padanya!" Teriak Gerald dengan nada dingin tersirat jelas di kalimatnya.
"Maaf Mr. aku tidak sengaja." Jawab Demico sadar akan kesalahannya.
"Kau..!" Gerald berteriak tertahan.
"Kak, please!" Cicit Flo yang masih berada di gendongan Athur.
Gerald menatap Flo yang memandangnya dengan wajah memelas kemudian menatap sekeliling sadar bahwa mereka sudah jadi tontonan.
Dengan geram Gerlad berbalik.
"Bawa dia keruanganku!" Perintah Gerald.
"Markeva!" Panggil Gerald.
Athur melangkah mendahului Gerald dan Markeva.
Sepeninggal mereka ruangan tersebut riuh akan kasak kusuk dimana mana, mereka menatap Demico dengan pandangan prihatin dan banyak juga yang menghardiknya. Demico yang malang.
Di ruangan Gerald.
Markeva melepaskan serpihan kaca di kaki flo satu persatu, mengabaikan tatapan ngeri kedua pria di sampingnya.
Flo berusaha menahan sakit saat markeva melakukannya.
Namun satu ringisan lolos dari bibir flo saat markeva sudah selesai membersikan lukanya dan mengolesi dengan salap.
"Aww!" Flo meringis sakit.
"Pelan pelan markeva!" Ucap Gerald tanpa menghiraukan wajah markeva yang jengah dengan kelakuan Gerald.
"Iya mr. ini sudah yang paling pelan!" Gerutunya kesal.
Dengan cekatan iya memperban luka kaki flo sampai selesai.
"Selesai, untuk sementara kamu tidak boleh ikut kelas yang berat seperti olahraga dan ilmu pertahanan!" Perintah Markeva yang membuat flo senang karena itu artinya ia bisa melewatkan jam pelajaran Athur.
"Tenang saja markeva, pelajaranku malam ini adalah membaca pikiran. Jadi kurasa ms austin tidak akan keberatan untuk masuk kelasku malam ini!" Tutur Athur membuat mata flo terbelalak.
Hah! Licik sekali. Pikir Flo sengaja untuk di dengar. Tapi ia lupa itu artinya ia juga memperdengarkan kepada Gerald.
"Licik apa?" Tanya Gerald seketika.
"Hah?" Seru Flo tanpa sadar.
"Ohh..ngomong-ngomong tentang licik, kenapa tadi malam kau suruh adikku lari 10 kali di gymnasium mu? Kau gila apa? Gymnasium mu itu hampir setengah lapangan kita!" Hardik Gerald sembari memberikan tatapan tajamnya.
Dan Athur hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Hari yang melelahkan.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments