Flo sedang berdiri 3 meter tepat di depan Arnold yang menyeringai jahat.
"Wow...tuan putri kita!" Sambutnya dengan berlebihan.
Flo menggeram kesal mendengar ledekan Arnold.
"Pastikan kau tidak membuat gelar mu sebagai adik kepala sekolah jadi hancur, heh?" Tambahnya dengan tatapan tidak suka.
Benarkan? Ia tidak menyukaiku! Ada masalah apa pria ini dengannya? Pikir Flo heran.
"Well, bersiap lah nona!" Serunya memecah ketegangan di seluruh ruangan.
"DIANDRUM REFIOLUS!" Arnold mengucapkan mantra yang sama.
Flo berdiam diri berusaha fokus dengan perisai yang ia buat, mantra itu tidak bisa menembus perisainya! Ia berhasil?
Arnold menatap flo dengan pandangan menusuk. Sedangkan semua murid terlihat bernapas lega.
"Wow!" Seru salah satu murid.
"Dia pantas di sebut tuan putri!" Tambah murid yang lainnya.
Arnold geram, ia berpikir akan sangat menyenangkan jika flo melayang keatas dan kemudian terjembab di panggung ini. Tapi sepertinya tidak akan semudah itu.
Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan, flo merasa terhormat dan mulai lengah.
"REMOSA SANTROLUS (tertekan)!" Arnold tiba-tiba mengucapkan mantra. Flo yang tidak siap sama sekali belum membuat perisai, sekita flo terjembab jatuh kebelakang.
"Aww...!" Flo berteriak kesakitan ia tidak menduga dengan serangan tiba tiba tersebut.
Belum lagi ia berpikir jernih dari rasa sakitnya. Arnold kembali mengucapkan mantra kedua.
"REMOSA TRANTOLUS (lebih tertekan)!"
"Aww....sakit, ku mohon hentikan!" Seru Flo lirih di sisa tenaganya.
"Woww..tuan putri kita ternyata lemah!" Arnold berseru dengan tawa yang membahana di seluruh ruangan.
Demico yang melihat Flo kesakitan dengan sigap berlari ke panggung ingin menyelamatkan flo. Brengsek!
Namun seketika langkah nya terhenti karena teriakan dari arah pintu.
"APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA!!!" Seru Gerald yang tiba-tiba ada di depan kelas bisa di pastikan ia memakai ilmu teleportasi.
Seketika ia menghilang dan berada di panggung di depan adiknya.
"Fortuna!" Tanpa aba-aba ia membebaskan flo dari mantra Arnold.
Flash back on
Gerald sedang mengadakan rapat dengan mentor kelas peramal tentang kurikulum terbaru mereka. Namun beberapa saat dimulainya rapat, tiba tiba tubuhnya merasa sakit luar biasa. Ia sedang duduk di tengah ruangan bersama mentor Peramal dan ia kesakitan setengah mati, itu adiknya!
Dengan sigap ia berdiri, mencoba berpikir sejenak kelas apa yang sedang di kerjakan flo hingga ia merasa sakit seperti ini. Kemudian ia mencari jadwal adiknya di kepalanya. Dan glek, kelas pertahanan! Itu artinya ia sedang bersama Arnold! Brengsek.
Sebenarnya ia tidak ada masalah dengan kelas pertahanan, hanya saja ia bermasalah dengan mentor yang satu itu. Sebab sebelum orang tuanya meninggal, Arnold adalah satu satu orang terdekat dengan mereka. Seharusnya jika Gerald tidak ada, maka sudah pasti Arnold yang akan jadi kepala sekolah. Tapi dewan sekolah memilihnya, tentu saja...orang tuanya yang membangun sekolah ini!
Kembali ke rasa sakit, Gerald serta merta berteleportasi ke ruang kelas pertahanan.
Flash back off
Dan disinilah ia sekarang, dengan adiknya yang duduk duduk terjembab di atas panggung di tengah semua murid!
"Aww..." flo meringis menahan di sikunya yang lebam.
Gerald merasakan sakitnya saja begitu kesakitan, apalagi adiknya!
Gerald berpaling menatap Arnold dan sekelabat mata sudah di depan Arnold mencengkram kerah jubah hitamnya membuat pria itu terpental mundur.
"Apa yang kau lakukan padanya!" Tanya Gerald lebih seperti teriakan.
" Well, kami hanya sedikit bermain dengan tuan putri." Jawab Arnold dengan seringaian bodoh yang membuat Gerald semakin panas dan berniat menonjok wajah brengsek Arnold.
"Kak!" Flo berteriak mencegah kakaknya memukul Arnold dan kelihatan begitu frontal di depan banyak pasang mata melihat mereka.
Dan benar saja, bukan lagi murid yang ada di kelas melainkan mentor mentor kelas terdekat juga sudah menengok ke dalam kelas diikuti para murid lain yang seolah lepas dari kandang.
"Maksudku, Mr tolong kami hanya sedang melakukan demo perisai!" Tambah flo mencoba berdiri dari duduknya. Seketika Gerald mendekat memapah flo.
"Apa yang sakit?" Tanya Gerald khawatir tanpa memedulikan tatapan semua orang.
Sedetik ia berbalik menatap Arnold dengan mata nyalang, seolah memberi peringatan tanpa kata kepadanya.
Flo kembali merengkuh Gerald berusaha mengalihkan perhatian kakaknya dari Arnold.
Ayolah kak, tidak bisakah lebih memalukan lagi. Aku akan di anggap murid lemah yang selalu perlu dilindungi kakaknya!
Sekelebat mata Gerald dan Flo menghilang dan beralih keruangan Markeva.
Markeva yang tiba tiba kedatangan tamu agung tersebut di ruangan nya sangat terkejut.
" Oh my, Mr!" Pekiknya kaget.
"Obati dia, dia baru saja terjembab keras dan di mantrai mantra tertekan...dada sebelah kirinya panas, kakinya keram!" Perintah Gerald dengan intonasi tinggi.
Flo lupa kalau kakaknya adalah setengah jiwanya! Tentu saja Gerald tau pasti apa yang ia rasakan. Bodoh! Harusnya aku diam saja dan jadi gadis penurut di kelas tadi.Pikir flo geram mengingat tatapan Arnold yang sangat puas telah membuatnya sakit seperti ini.
Dengan tergopoh gopoh markeva mengambil kotak ramuan miliknya dan mendekati dua manusia yang tiba tiba sudah duduk di sofa di depan meja kerjanya.
Markeva menyodorkan cairan biru terang kepada Flo mengisyaratkannya untuk minum. Tanpa mengeluh ia meminum cairan tersebut dengan satu kali tegukkan. Gleg. Rasanya sangat pahit dan amis!
Dengan sangat ahli markeva meongleskan cairan kental berwarna hijau ke kaki flo. Tanpa melihat pun, markeva tau kalau kaki flo terkilir. Bagaimana bisa ia terkilir? Apa yang sebenarnya terjadi. Pikir markeva.
"Si brengsek itu menjadikannya pendemo di kelas Pertahanan, dan dengan sengaja memakai mantra keras untuk flo!" Sahut Gerald menjawab pikiran markeva.
" Pantas saja". Balas Markeva.
Markeva sangat tahu dinginnya hubungan Gerald dan Arnold bahkan sebelum Gerald jadi kepala sekolah pun hubungan mereka sudah renggang. Entah apa yang ada dipikiran kedua pria itu.
"Kak, bukan seperti itu ceritanya. Aku yang menawarkan diri." Sela Flo di tengah reaksi obat yang ia minum tadi. Sedikit meringis ia merasa obat yang ia minum menjalar di setiap nadinya.
"Tetap saja dia yang salah, itu hanya akal akalan dia flo. Aku tau dengan pasti isi pikiran manusia itu!" Balas Gerald geram.
Seketika Flo terdiam, ia tahu apapun yang ia katakan tidak akan mengubah prasangka Gerald pada Arnold. Kedua pria ini bermusuhan! Flo sadar kalau ia adalah korban disini! Cih. Dasar mentor gadungan! Maki Flo kesal.
Setelah reaksi obat menjalar keseluruh tubuh, flo merasa panas di dadanya mereda. Kakinya pun bisa dengan mudah ia gerakkan. Akhirnya.
Setelah perdebatan cukup panjang, kelas peratahanan di kecualikan oleh Gerald untuk Flo. Gerald bilang Athur bisa mengajarinya lebih dari Arnold.
Bukan masalah lebih bisa atau apapun itu, ia akan terlihat seperti pengecut yang hilang dari satu mata pelajaran hanya karena satu kecelakaan kecil. Itu akan sangat memalukan!
Walaupun enggan, flo tetap menyetujui usulan kakaknya. Ia kan sudah berjanji akan menuruti kata kata kakaknya? Tanpa bertanya dan membantah?
Huh...semua ini karena mentor gadungan itu! Pikir flo masam.
...****...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 28 Episodes
Comments
Bakulgeblek
nah ini...
melindungi tp gk melemahkan, itu yg sulit...
2024-03-12
0