Ansel menghubungi Max untuk memberitahu kedatangan wali kelas Darren di kantornya.
Max segera pulang setelah memastikan para korban bullying tidak akan buka mulut.
Setibanya di kantor tempatnya bekerja. Max terkejut melihat kedatangan Ilham dengan tampilan yang tak biasa.
"Ada apa kau datang kemari?" tanyanya sinis
"Aku tahu kau sedang mencari seseorang tulang pukul terbaik untuk mengalahkan Ali,"
"Lalu apa hubungannya denganmu?" sahut Max
"Aku bisa membunuhnya jika kau mau," jawab Ilham membuat Max terkekeh mendengarnya
"Kau pikir siapa dirimu, bahkan Ansel saja bisa ia kalahkan apalagi guru lemah seperti mu!" cibir Max
Ilham membuka kemejanya dan memperlihatkan otot-ototnya yang kuat.
"Kau pikir aku percaya, meskipun kau memiliki otot besar seperti seorang binaragawan tapi tidak menjamin kau punya kekuatan,"
Max menyuruh anak buahnya untuk melawan Ilham.
Ilham tersenyum sinis saat Max menyuruhnya melawan anak buahnya.
Ilham mengalahkan anak buah Max dengan cepat, bahkan saat Max memerintahkan puluhan anak buahnya untuk melawannya, ia dengan mudah mengalahkannya.
Kali ini Ilham menantang Ansel untuk melawannya.
Max mengangguk pertanda mengijinkannya untuk melawan Ilham.
Ansel membuka jasnya dan menggulung kemejanya.
Ia berjalan mendekati Ilham yang sudah menunggunya. Ilham begitu bernafsu menyerang Ansel, hingga langsung melesatkan tinjunya kearah pria itu. Beruntung Ansel pandai membaca gerakan Ilham hingga mampu menghindari serangannya.
Pertarungan sengit Ansel dan Ilham berlangsung Alot, keduanya terlihat sama kuat sehingga masih belum bisa menentukan siapa pemenangnya.
Karena Max mendapatkan panggilan dari kantor polisi ia menghentikan pertarungan itu.
Namun Ilham tak mau berhenti karena belum ada pemenang diantara mereka.
Meskipun begitu Ansel menuruti perintah Max, ia melepaskan Ilham yang sudah di pitingnya dan bergegas mengikuti Max.
Ilham yang tak terima dirinya diabaikan kembali menyerang Ansel hingga nyaris menikamnya.
"Aku sudah mengalahkannya, jadi perintahkan aku untuk menghabisi Ali," ucap Ilham
Max mengepalkan tangannya saat melihat Ilham mengalungkan belatinya di leher Ansel.
"Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan. Aku hanya akan memberikan bayaran jika kau bisa menghabisinya, tapi jika kau gagal maka kau tidak akan mendapatkan apapun dariku, dan jangan pernah membawa namaku jika berurusan dengan polisi," tandas Max
"Deal!" seru Ilham kemudian melepaskan Ansel
Ansel menatap nanar kepergian Ilham, saat pria itu hendak membalas kelicikan Ilham, Max melarangnya.
Max Buru-buru masuk kedalam mobilnya menuju ke kantor polisi.
Setibanya di kantor polisi Max dibawa ke ruang seorang Ajun Komisaris .
Seorang perwira polisi menunjukkan sebuah video yang dikirim oleh seorang siswa kepada pihak kepolisian.
Max terkejut saat melihat video itu, ia melihat dengan jelas bagaimana Darren mendorong Beni hingga ia jatuh dari lantai dua.
"Beruntung belum ada satupun penyidik yang melihat video ini jadi anakmu masih aman. Tapi aku tidak bisa menjamin jika nanti akan ada lagi korban bullying yang datang ke sini dan memberikan bukti kepada penyidik," ucap polisi itu kemudian memberikan USB itu kepada Max.
"Terimakasih kau sudah memberitahu ku, aku janji setelah ini tidak akan ada lagi siswa lain yang akan datang ke sini,"
Max kemudian berpamitan dan meninggalkan tempat itu.
Keesokan harinya Max kembali mendatangi SMA Tunas Bangsa.
Seperti biasa Ridwan mengumpulkan anak-anak korban bullying di Aula.
"Pastikan tidak ada yang terlewat," bisik Max
"Ini sudah semuanya Tuan,"
Max kemudian memeriksa satu persatu para korban bully tersebut.
Ia sebenarnya ingin mencari siapa yang sudah berani mengirimkan bukti kepada pihak kepolisian.
Seorang siswa diam-diam menghubungi Ali dan memberitahu kejadian tersebut kepadanya.
Max kembali memberikan ultimatum kepada para siswa untuk tidak melaporkan apapun tentang tindak kekerasan yang pernah mereka terima. Ia mengancam akan mengeluarkan siapa saja yang berani melapor ataupun memberikan bukti-bukti tindakan kekerasan kepada polisi. Bukan hanya dikeluarkan dari sekolah Max bahkan akan menutup akses baginya agar tidak bisa diterima disekolah manapun kecuali ia pindah ke luar negeri.
Semua siswa tampak ketakutan mendengar ancaman Max.
"Untuk itulah lebih baik kalian diam, karena dengan begitu kalian akan mendapatkan beasiswa dan saya juga bisa menjamin kalian bisa diterima di universitas terbaik di negeri ini," terang Max
Ridwan kemudian mempersilakan semua siswa kembali ke kelasnya masing-masing, kecuali satu orang.
Seorang siswa tampak membeku saat Max menghampirinya.
"Apa kau pikir dengan memberikan video kepada polisi akan membuatmu bisa bersekolah nyaman di sini?"
Keringat dingin tampak membasahi pelipis pemuda itu saat Max mulai mengintimidasinya.
"Semuanya tidak seperti yang kau bayangkan anak muda, hukum hanya akan berpihak kepada mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Tapi bagi rakyat jelata seperti kalian mereka akan hukum hanya sebuah teori yang hanya ada di buku-buku tanpa ada realisasinya, apa kau mengerti?" tanya Max mencondongkan wajahnya kepada siswa itu
"Mengerti Pak,"
"Mengerti atau tidak!" pekik Ridwan kemudian menamparnya dengan keras
"Mengerti Pak,"
Kembali Ridwan menamparnya dengan keras. Bahkan karena geramnya dengan siswa itu Ridwan membuka sepatunya dan memukulkannya ke punggung bocah tujuh belas tahun tersebut.
"Cukup!" seru Max
"Jadi sekarang apa yang harus kau lakukan?"
"Diam dan tidak mengatakan apapun apalagi memberikan bukti kepada pihak Polisi," jawab siswa itu terbata-bata
"Good!" ucap Max kemudian menepuk-nepuk pipi pemuda itu
Ia kemudian meninggalkan tempat itu di susul oleh Ridwan.
Siswa itu tampak luruh dan duduk bersandar di dinding dengan tatapan sendu. Air matanya seketika menetes membasahi pipinya.
Mimpinya untuk mendapatkan keadilan justru berujung penyiksaan.
*Tak, tak, tak!!
Terdengar langkah seseorang memasuki aula dengan buru-buru.
"Ah sial, sepertinya aku terlambat!"
Melihat seorang siswa duduk menyendiri di sudut ruangan membuat Ali langsung menghampirinya.
Siswa itu segera mengusap air matanya saat melihat Ali mendekatinya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ali sembari mengamati wajah siswa itu yang tampak memerah
"Aku baik-baik saja kok," jawab siswa itu kemudian segera berdiri
"Apa seseorang telah merundung mu?" tanya Ali
Lelaki itu menggelengkan kepalanya.
"Jangan takut, katakan saja semuanya Padaku. Aku janji akan melindungi mu sama seperti siswa lainnya,"
Pemuda itu sekilas menatap kesungguhan di wajah Ali. Namun mengingat betapa kejamnya Max membuat ia tetap diam.
"Baiklah aku mengerti. Ngomong-ngomong apa kau tahu tentang pembullyan yang dilakukan oleh Darren?" tanya Ali
Murid itu kaget lalu langsung membuang muka dan pergi meninggalkannya. Ali tahu kalau anak itu tahu sesuatu, jadi ia tidak akan menyerah begitu saja.
Ia terus mengikutinya meskipun bocah itu mencoba kabur darinya.
*Dret, drett!!
Ali berhenti mengikuti siswa itu saat ponselnya bergetar.
Ia melihat sebuah pesan masuk dari wali kelas Beni.
"Ayo selesaikan urusan kita secara Jantan. Aku tunggu kedatanganmu di pusat kebugaran HADES,"
Ali segera memasukan ponselnya kedalam saku celananya dan berlari mengejar siswa itu, tapi sepertinya ia sudah kehilangan jejaknya.
"Sepertinya aku harus meminta bantuan Aldi untuk menginterogasi siswa itu. Sekarang yang terpenting adalah meringkus wali kelas brengsek itu!"
Ali mengambil motornya dan melesat menuju ke tempat Kebugaran yang dimaksud oleh Ilham.
Setibanya di sana, Ilham mengajak Ali ke ruang belakang Gym.
Ia menantang Ali bertarung di atas Ring, dan Ali menerima tantangannya.
Keduanya kemudian bertarung diatas Ring disaksikan ratusan penonton yang berseru menyoraki keduanya.
Ali yang sudah bisa membaca beberapa gerakan lawan mulai, memimpin pertandingan. Terlihat Ilham beberapa kali berhasil di jatuhkan olehnya. Namun ambisi yang begitu besar membuat Ilham menggunakan berbagai cara untuk dapat mengalahkan Ali, termasuk dengan menggunakan senjata tajam .
Ia berhasil menyayat lengan Ali hingga ia kesulitan menggunakan lengan kanannya. Sekuat apapun Ilham jam terbang dan pengalaman Ali yang sudah lama malang melintang di dunia hitam membuatnya mampu mengalahkan pemuda itu meskipun hanya menggunakan tangan kirinya.
Tak terima dengan kemenangan Ali, Max menyuruh anak buahnya yang sudah berada di lokasi untuk menyerangnya dengan senjata Api.
Melihat ada keributan, pemilik Gym menelpon polisi. Saat mendengar suara sirene mobil Polisi Ali segera kabur dari tempat itu, begitupun dengan Max dan Ilham.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
Yuli Eka Puji R
ga ada ali anakmu dah mati max, kenapa ga cek cctv di rumahmu
2023-05-19
0
𝐙⃝🦜ֆɦǟզʊɛɛռǟ🍒⃞⃟🦅👻ᴸᴷ
simax bisa aj dikibulin siilham😏😏😏
2023-05-19
0
🔥⃞⃟ˢᶠᶻ🦂⃟ᴘɪᷤᴘᷤɪᷫᴛR⃟️𝕸y💞hiat
iddih curang si Ilham gemezz liatnya
2023-05-14
0