Setelah mendapatkan bukti-bukti tentang tindak kekerasan yang dilakukan oleh Ilham. Ali mencoba mencari tahu identitas pria itu yang sebenarnya.
*Dreet, dreet!!!
Ali segera mengangkat ponselnya, dan dari ujung telpon terdengar suara Darren memintanya datang ke rumahnya.
Suara Darren tampak ketakutan dan tak lama panggilannya terputus.
Ali mengira sesuatu terjadi dengannya.
Ia buru-buru meninggalkan ruangan perawatan Beni. Sementara itu Hari yang baru tiba di rumah sakit berusaha menghentikannya.
"Oi, mau kemana kamu malam-malam begini, bukannya menjaga anakmu, kau malah pergi!"
"Tolong jaga Beni sebentar ayah, aku akan kembali setelah urusan ku selesai!" seru Ali
Hari terus menggerutu melihat Ali pergi begitu saja tanpa menghiraukan ucapannya.
"Dasar menantu sialan kau selalu saja membuatku kesal!"
********
*Kediaman Max
*Braakkk!!
Darren tampak pucat pasi melihat Ilham memasuki kamarnya dengan pisau di tangannya.
"Sudah ku bilang jangan pernah melaporkan kejadian itu kepada siapapun, tapi sepertinya kau benar-benar ingin bermain-main dengan ku rupanya!"
Ilham segera merebut ponsel Darren dan kemudian menginjaknya. Ia mencengkram leher pemuda itu hingga membuat bocah itu membeku.
"Tolong jangan bunuh aku!"
*Plakk!!
Sebuah tamparan mendarat di wajah Darren. Bukannya sekali, Ilham menamparnya berkali-kali hingga wajah putih Darren berubah membiru.
Ia menggoreskan pisau di lengan Darren membuat pria itu menjerit kesakitan.
Tak puas menguliti lengan Darren kini ia meletakkan pisau itu ke wajahnya.
Ali yang melihat kejadian itu langsung melemparkan sebuah guci kearah Ilham hingga membuat pisau di tangannya terjatuh.
Ilham menyeringai menatap kedatangan Ali.
"Tidak ku sangka kau datang untuk menolong seseorang yang sudah membuat putramu koma, benar-benar pahlawan sejati!" tandas Ilham
"Berhenti merundung para siswa sebelum aku mengungkapkan semua kejahatan mu,"
"Kau pikir aku takut dengan ancamanmu!" Ilham segera melepaskan tendangannya dan menyerang Ali
Pria itu tampak begitu sigap dan kuat tak seperti yang di bayangkan oleh Ali.
Ternyata dugaan Darren benar, dia bukan orang biasa.
Ali berusaha mengimbangi kemampuan bertarung guru muda itu.
Melihat sebuah tato di tangannya, Ali yakin jika Ilham seorang anggota gengster.
Berkali-kali ia mampu mematahkan serangan Ali dan pukulannya selalu tepat mengenai sasarannya.
Ilham mulai kewalahan menghadapi Ali. Yakin ia tidak bisa mengalahkan Ali ia memilih melarikan diri dari tempat itu.
Ali berusaha mengejarnya, namun melihat kondisi Darren Ali tak tega meninggalkan bocah itu.
Ia segera menghentikan pendarahan di lengannya dan membawanya ke rumah sakit. Darren meminta agar Ali membawanya ke rumah sakit Tempat Beni di rawat agar ia merasa aman. Ia juga meminta Ali menghubungi Ansel untuk memberitahukan kejadian yang menimpanya kepada ayahnya.
Setelah mengabari Ansel Ali meninggalkan Darren.
Saat tiba kembali ke bangsal perawatan putranya, Hari terkejut melihat Ali yang babak belur
Ia kembali memarahinya setelah mengetahui jika ia sering bolak-balik ke penjara untuk menemui seorang siswa yang di tahan karena kasus perundungan.
"Kamu ini bukannya nyari kerja malah sibuk ngurusin anak orang. Memangnya kau dapat apa dari sini. Lebih baik urusi dulu keluarga mu sebelum mengurusi orang lain,"
"Ayah jangan khawatir, besok aku akan mencari kerja lagi. Sebaiknya sekarang ayah pulang saja karena sudah malam," Ali kemudian mendorong pria itu keluar dari ruangan itu dan mengunci pintunya
Tentu saja hal itu membuat Hari marah dan terus mencemoohnya.
Keesokan harinya Ali datang ke sekolah untuk meminta surat pengalaman kerja. Sebenarnya tujuan Ali datang ke sana adalah untuk menyelidiki tentang Ilham.
Namun untuk menghindari kecurigaan dari pihak sekolah, ia terpaksa memakai cara itu.
Hari itu Ilham tidak masuk kerja sehingga membuat Ali leluasa memeriksa ruangan Ilham.
Namun Ali tak menemukan apapun di sana sehingga ia tak bisa menghubungkan kasus kekerasan yang dilakukan oleh Ilham terhadap kematian siswa kelas XII.
Seorang siswa memperhatikan gerak-gerik Ali dari kejauhan.
Siswa itu tahu jika Ali sedang mengumpulkan bukti-bukti.
Di tempat berbeda Ansel menerima pesan dari Ali. Ia segera memberitahu Max tentang keadaan Darren.
Ansel menghubungi anak buahnya untuk mengetahui apa yang terjadi.
Seorang anak buahnya menceritakan jika ada seorang pria menerobos masuk ke dalam rumah mencari Darren. Ia menyebutkan ciri-ciri pria itu dan kemampuan beladiri yang dimilikinya.
Mendengar bagaimana pria itu bisa mengalahkan semua anak buahnya Max menuduh jika itu adalah Ali.
Ia memutuskan untuk segera kembali ke Indonesia karena tak mau terjadi sesuatu dengan putranya.
Setibanya di Jakarta Max segera menemui Darren di rumah sakit. Melihat kondisi putranya Max bersumpah akan membalas perlakuan Ali terhadap putranya.
Ia meminta Ansel menghubungi perusahaan tempat Ali dulu bekerja. Seorang polisi menghubunginya jika ia menemukan satu tersangka baru dalam kasus perundungan siswa di sekolah Darren.
Seketika wajah Max berubah pucat pasi, ia mengira jika pelaku yang dimaksud adalah putranya. Karena ia tahu benar jika Darren dan Justin adalah sahabat dekat yang selalu melakukan apapun bersama.
Setelah mendengar pemberitahuan dari kepolisian Max segera menemui Ridwan.
Ia memerintahkan kepada sekolah tersebut untuk mengumpulkan semua korban Perundungan Darren di aula.
"Untuk apa Tuan mengumpulkan mereka?"
"Ada yang harus aku luruskan,"
Dengan cepat Ridwan segera mengumpulkan semua siswa yang di aula
Max segera menemui mereka dan meminta para siswa untuk tutup mulut saat polisi menginterogasi mereka. Sebagai kompensasinya ia memberikan hadiah berupa beasiswa hingga menjamin mereka masuk ke universitas Negeri.
Seorang siswa diam-diam merekam aksi Max tersebut.
Di tempat berbeda Hari sengaja datang untuk memastikan apakah Ali sudah mendapatkan pekerjaan atau belum.
Melihat Ali masih mendongeng di depan cucunya lelaki itu yakin jika Alu menganggur.
Ia kemudian menyuruh Ali untuk bekerja di perusahaan temannya, namun Ali menolak dan mengatakan akan pergi melamar pekerjaan.
Ali segera mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Hari tanpa menghiraukan ucapan pria itu.
Ali menuju ke sebuah Taman untuk melepaskan penatnya. Saat ia asyik menghisap rokoknya seorang siswa datang menghampirinya.
Meskipun tak mengenalnya namun dari seragamnya Ali tahu jika dia adalah siswa SMA Tunas Bangsa.
"Aku sangat kagum sama Om, kadang aku iri sama Beni yang memiliki ayah yang keren seperti dirimu,"
"Apa kau tidak bangga dengan ayahmu?" jawab Ali
"Ayahku sudah meninggal saat aku di dalam kandungan Om,"
"Sorry,"
"Aku dengar Om sedang mencari bukti-bukti untuk membebaskan Justin. Meskipun aku tidak suka dengannya karena dia adalah seorang Perundung, tapi aku juga tak bisa membiarkan ketidak adilan merusak hidupnya,"
Pemuda itu kemudian memberikan sebuah USB kepada Ali.
"Pada hari kejadian aku ada di TKP, aku merekam semuanya karena aku juga sangat ingin menghukum para Perundung itu. Tapi belakangan aku sadar aku tidak akan bisa menghukum mereka seorang diri. Melihat mu begitu gigih memperjuangkan keadilan untuk Beni dan Justin membuat ku yakin jika kau adalah orang yang bisa menghukum para Perundung itu,"
Ali segera menyambungkan USB itu ke ponselnya.
Seketika bola matanya membulat melihat video dalam USB tersebut.
"Terimakasih nak, aku yakin dengan video ini kita bisa menghukum para Perundung itu," Ali kemudian berpamitan dan pergi menuju kantor polisi
Sementara itu, Ilham mendatangi kantor Max dan menawarkan diri untuk menjadi eksekutor untuk menghabisi Ali yang sudah mencelakai putranya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
𝐙⃝🦜ֆɦǟզʊɛɛռǟ🍒⃞⃟🦅👻ᴸᴷ
makin seru nich
2023-05-19
0
🔥⃞⃟ˢᶠᶻ🦂⃟ᴘɪᷤᴘᷤɪᷫᴛR⃟️𝕸y💞hiat
USB yang sama seperti Ranti kah?? Max malah mengira ulah Ali hadeuuhhh
2023-05-13
0
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
max kalau percaya sama Ilham bodoh namanya ... kalau bukan Ali yang nolong Darren sudah mati di tangan ilham
2023-05-02
0