#Mohon untuk para pembaca sebaiknya membaca ulang chapter 1,2, dan 3 yang sudah saya revisi agar bisa nyambung saat baca chapter ini. Maaf jika nanti novel ini tidak bisa up setiap hari karena ada proses revisi, jadi harap sabar menunggu ya 😉😉.
Maxwell Ayah Daren segera mengirimkan anak buahnya untuk menjemput Darren di sekolah setelah mendengar laporan dari putra semata wayangnya tersebut.
Sementara itu Ali menghampiri Aldi yang masih terduduk di lantai. Ia mengulurkan tangannya namun pemuda itu memilih menempelkan tangannya di dinding daripada menerima bantuan Ali.
"Bagaimana keadaan mu?" tanya Ali
"Aku baik-baik saja, terimakasih sudah peduli padaku," jawab Aldi kemudian memperbaiki posisi duduknya
"Sepertinya lukamu sangat parah, bagaimana kalau kita berobat ke klinik?" bujuk Ali
"Tidak usah Om, lagipula aku sudah biasa seperti ini sebentar lagi juga pasti sembuh," jawab Aldi
Ali menghela nafas kasar, pria itu tak bisa menyalakan Aldi yang bersikap dingin padanya.
Pernyataan Aldi sudah cukup untuk mengukuhkan alibinya jika Beni memang mendapat tindak kekerasan hingga mengalami koma.
Aldi kemudian mengeluarkan tisu basah dari tasnya untuk membersihkan lukanya.
Meskipun dengan tangan gemetar dan sesekali mengernyit karena menahan samit pemuda itu berusaha tegar dan menahan agar tangisnya tak pecah di hadapan Ali.
Melihat tak satupun siswa lain yang peduli dengan keadaan Aldi, membuat pria itu berempati padanya dan menawarkan diri untuk membantu mengobati lukanya.
Namun lagi-lagi Aldi menolaknya.
"Saya bisa sendiri Om." ucap Aldi kemudian membersihkan darah di sudut bibirnya
Ali menatap lekat Bocah tujuh belas tahun itu dengan tatapan Iba. Ia bahkan membayangkan jika Aldi adalah Beni. Melihat Ali masih mematung di depannya membuat Aldi meminta pria itu segera meninggalkan kelas karena jam istirahat sudah hampir selesai.
"Sebaiknya Om jangan membantu saya lagi jika nanti melihat Darren merundung ku. Karena bukannya menolongku Om justru membuat Darren akan menyiksaku dua kali lipat dari biasanya. Istirahat sudah usai dan sebentar lagi guru akan masuk kelas, jadi silakan Om pergi." ucap Aldi dingin
Bel masuk berdering keras, semua siswa segera masuk ke kelasnya masing-masing. Ali kemudian pergi meninggalkan ruang kelas meskipun ia masih mengkhawatirkan Aldi.
Di saat yang bersamaan beberapa orang anak pria berjas hitam memasuki halaman sekolah.
Masing-masing dengan wajah serius berjalan cepat seperti hendak menemui seseorang.
Ali segera menepi dan memberi jalan kepada mereka. Salah seorang pria bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya dalam-dalam, lalu tiba-tiba berbalik saat melihat Ali.
Lelaki itu memperhatikan Ali dari ujung rambut hingga ujung kepala sembari memikirkan sesuatu.
Mengetahui salah seorang anak buah Maxwell terus memperhatikannya membuat Ali menurunkan topi yang di pakainya.
*Dreet, dreet, dreet!!
Atensinya seketika teralihkan saat mendengar dering ponselnya.
Regina memberitahunya jika Beni sudah siuman. Ali buru-buru menyalakan motornya melesat menuju ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Ali segera menuju ke bangsal perawatan putranya. Ia melihat Regina dan ayah mertuanya sedang menunggu di luar ruangan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ali
"Dokter masih memeriksa kondisinya, semoga saja keadaannya segera membaik agar ia bisa segera pulang," jawab Regina
Tidak lama dokter keluar dan Ali segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanyanya cemas
Dokter memberitahukan jika Beni sudah sadar namun ia belum bisa berinteraksi dengan orang lain. Meskipun Beni sudah membuka matanya dan mendengar suara disekelilingnya namun Ia belum bisa mengenali siapapun karena kondisinya masih kritis.
"Jadi tetap ajak ia berbicara dan ingatkan lagi tentang memori-memori indahnya untuk merangsang saraf-sarafnya dan juga mempercepat otaknya mengingat kembali orang-orang terdekatnya," ucap dokter memberikan penjelasan
"Baik dok, Terimakasih sudah bekerja keras," jawab Ali
Saat memasuki bangsal perawatan Beni, ia melihat Regina menangis tersedu-sedu di depan Beni yang berbaring di depannya dengan tatapan kosong.
Seperti ucapan dokter, meskipun Beni sudah siuman namun ia belum bisa bicara apalagi mengenali keluarganya.
Mendengar tangisan Regina membuat ia trenyuh dan memintanya untuk pulang ke rumah.
"Sebaiknya kau di rumah saja, karena jika kau terus menangis seperti ini maka akan membuat Beni semakin sedih dan itu bisa memperburuk kondisinya. Biarkan aku saja yang akan menemaninya di sini," tutur Ali berusaha menenangkan istrinya
"Aku merasa bersalah sama Beni karena selama ini terlalu sibuk hingga sering mengabaikannya," ucap Regina
Wanita itu kemudian menempelkan telapak tangannya ke wajah pucat Beni dan mengusapnya lembut.
"Cepat pulih ya sayang, mamah kangen sama kamu. Mamah janji akan membuatkan sarapan kesukaan kamu jika siuman nanti," imbuhnya
Regini mengecup kening putranya sebelum meninggalkan ruangan itu.
Hari tampak berkaca-kaca melihat cucu kesayangannya yang tak menatapnya meskipun ia ada di depannya. Masih belum lekang dalam ingatannya jika Beni adalah satu-satunya cucunya paling manja kepadanya.
"Cepatlah sembuh cucu kesayangan kakek, rumah kakek sepi jika tak ada Beni, jadi cepatlah sembuh!"
Hari kemudian menggandeng lengan Regina dan meninggalkan ruangan itu.
Ditempat berbeda Maxwell begitu geram saat mengetahui putra kesayangannya terluka. Ia semakin sedih saat tahu jika putranya tak bisa berjalan karena kakinya terkilir.
Max meminta dokter terbaik di kota untuk mengobati putranya.
Lelaki itu kemudian duduk di kursi panjang dan menghisap rokok di tangannya.
"Apa kau sudah mencari tahu siapa pelakunya?"
"Ali Setiawan, seorang pekerja bangunan, memiliki dua anak Dayu dan Beni. Beni adalah teman satu kelas Darren yang koma setelah di bully oleh Mas Darren. Sepertinya dia mematahkan kaki Mas Darren untuk membalas dendam atas apa yang dilakukan Mas Darren kepada putranya Beni," terang pria itu
"Datangi alamatnya dan bawa ia kepadaku hidup-hidup," jawab Max kemudian menghembuskan asap rokoknya perlahan-lahan ke angkasa
"Baik," jawab Pria itu segera bergegas pergi meninggalkannya
Ia kemudian membawa beberapa orang anak buahnya menuju ke parkiran rumah sakit.
Lelaki itu segera melompat masuk kedalam mobilnya dan melesat menuju ke kediaman Ali.
Namun setibanya di sana rumah itu dalam keadaan kosong karena Regina dan Dayu lebih memilih memasuki tinggal di rumah kakeknya selama Beni di rumah sakit.
Ia segera menuju ke rumah sakit setelah mendapat informasi dari informan perusahaan.
*Rumah sakit tempat Beni di rawat
Ali segera membuka matanya saat mendengar derap langkah mendekat kearahnya.
Beberapa orang anak buah Maxwell mengendap-endap memasuki ruang perawatan Beni.
Ali yang bersembunyi di balik pintunya segera membekuk satu persatu mereka tanpa mengeluarkan suara.
perkelahian sengit terjadi namun tak seorangpun mengetahuinya karena Ali begitu rapi menghabisi musuh-musuhnya tanpa menimbulkan kegaduhan.
Ali kemudian mengambil ponsel salah seorang dari mereka dan menghubungi nomor ponsel Max.
"Jangan pernah mengirim orang untuk mencari ku lagi, atau aku akan membunuh setiap orang yang kau kirim!" ucap Ali kemudian mematikan ponselnya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 45 Episodes
Comments
ᴊɪʀᴏ ⍣⃝☠️
hajar saja
2023-06-08
0
ᴊɪʀᴏ ⍣⃝☠️
baru terkilir saja sudah marah,,tuh ada yg koma akinat ulah anal km.😡
2023-06-08
1
Yuli Eka Puji R
km ga mau anakmu terluka max, teroosss kmpikir orang tua yg lain mau anaknya di lukai
2023-05-19
0