Bab 8 (REVISI)

Pagi itu Ali mendatangi MW Finance. Dua orang sekuriti segera menghentikannya saat ia tiba di depan gedung MW tower.

Setelah memastikan tak ada satupun benda tajam yang dibawa, sekuriti itu kemudian melepaskannya.

"Dia sudah datang,"

Max memerintahkan kedua anak buahnya untuk membawa Ali ke ruangannya.

Raut wajah tegang tampak tersirat dari wajah kedua sekuriti itu. Meskipun Ali tak membawa senjata namun tetap saja ia bak seorang algojo yang siap membunuh siapapun.

Max segera keluar dan menyambut kedatangan Ali.

"Mari silakan masuk," pria itu kemudian menyuruh kedua sekuritinya kembali ke tempat kerjanya.

"Bagaimana dengan tawaranku, apa kau sudah memikirkannya?"

Ali kemudian mengambil sebuah pena dan menuliskan sesuatu.

Max membaca pesan itu dengan wajah sinis.

"Apa kau tidak memikirkan nasib keluarga mu, bagaimana mereka bisa menghidupi keluarganya jika penghasilan saja mereka tak punya,"

"Aku tidak peduli. Lagipula selama ini mereka tak pernah menganggap ku, jadi aku juga akan melakukan hal yang sama kepada mereka." jawab Ali

"Apa kau yakin akan melakukannya?" tanya Max tak percaya

Ali segera beranjak dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.

"Sial!" pekik Max begitu kesal

Ansel datang menemui Max dan mengabarkan jika Darren sudah bisa berjalan lagi.

Max bergegas ke rumah sakit untuk menjenguk putranya.

"Bagaimana keadaan mu?"

Max tampak senang saat mendengar Darren mengatakan jika kondisinya sudah membaik.

"Syukurlah kondisi ku sudah membaik. Bahkan sekarang aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat lagi," jawab Darren

"Syukurlah, ayah cemas sekali saat tahu kakimu patah. Entah apa yang akan aku lakukan jika kau benar-benar tak bisa berjalan," ucap Max

"Apa ayah sudah membunuh pria yang sudah membuat ku seperti ini?" tanya Darren

"Itu... ah tentu saja, aku sudah membereskannya," jawab Max

"Aku tahu ayah pasti akan menyingkirkannya dengan cepat. Sekarang tinggal aku yang akan menyingkirkan pecundang itu," tandas Darren

***********

*Rumah sakit tempat Beni di rawat!!

Ali tampak sedang membacakan sebuah cerita di samping Beni. Lelaki itu sesekali mengusap wajah Beni dengan tatapan penuh penyesalan.

"Apakah kamu belum bisa mengenali ayah. Aku tahu selama ini kau pasti sangat membenciku hingga jarang sekali berbincang dengan ku. Ayah minta maaf jika selama ini aku kurang memperhatikan mu," Beni meletakan buku bacaannya saat ia mendapatkan pesan singkat dari wali kelas Beni.

Lelaki itu memberitahunya untuk segera membayar uang bulanan Beni yang menunggak.

Ali segera menghubungi Ilham untuk membahasnya.

"Sebaiknya bapak cepat lunasi pembayaran uang SPP Beni yang sudah menunggak dua bulan. Karena minggu besok kami sudah melaksanakan penilaian akhir semester, aku harap lusa bapak sudah membayarnya,"

"Tapi anak saya masih koma, tidak bisakah kau memberikan kami kelonggaran waktu?" jawan Ali

"Sayang sekali, Sekolah tak pernah memberikan kelonggaran kepada siapapun. Jadi kalau anda mau Beni tetap mengikuti Penilaian Akhir Semester maka bayarlah uangnya besok," jawab Ilham mengakhiri obrolannya.

Ali tampak lemas saat Ilham mengakhiri obrolannya.

"Sekarang apa yang harus ayah lakukan, kalau kamu ingin mengikuti Penilaian Akhir Semester maka cepatlah sadar dan ayah pastikan akan membayarnya besok pagi," tutur Ali membuat Beni menitikkan air mata

* Keesokannya di SMA TUNAS BANGSA

Darren yang sudah sembuh kembali berulah.

Setibanya di sekolah ia langsung mencari Aldi.

Ia langsung menyeret Aldi ke lorong sekolah, namun sayangnya bel masuk berbunyi hingga membuatnya mengurungkan niatnya.

Gagal membalas dendam kepada Aldi di jam pertama, Darren kemudian melanjutkannya saat jam istirahat.

Kali ini dia menyeret Aldi ke belakang gedung.

Ia mendorongnya hingga Aldi tersungkur ke tanah.

"Dasar pecundang, apa kau pikir bisa lari setelah membuat ku menjadi pincang begini!" pekik Darren

Ia kemudian memukuli Aldi menggunakan tongkatnya.

Sementara itu Ali memutuskan untuk membayar tunggakan biaya SPP Beni.

Seorang anak buah Darren terkejar saat melihat kedatangan Ali ke sekolah.

Pemuda itu langsung berlari ke gedung belakang untuk memperingatkan Darren perihal kedatangan pria itu.

Darren tak percaya, saat mendengar kedatangan Ali ke sekolah. Ia percaya jika ayahnya sudah menyingkirkan pria itu seperti ucapannya.

"Tapi aku tidak bohong, aku benar-benar melihatnya di ruang administrasi,"

"Kalau begitu bawa dia kemari, aku ingin memastikan sendiri apa dia benar-benar masih hidup atau hanya hantu yang bergentayangan,"

Pemuda itu langsung berlari menuju ke ruang administrasi. Setibanya di sana ia melihat Ali sudah tidak ada hingga membuatnya segera berlari untuk mencarinya.

Ia bernafas lega saat melihat Ali berdiri di depan kelasnya.

"Om,"

Ali segera menoleh saat seorang siswa memanggilnya.

"Ada apa?" tanya Ali

"Aldi di rundung oleh Darren di gedung belakang, bisakah kau menolongnya," jawab pemuda itu

"Kalau begitu bawa aku kesana,"

Pemuda itu kemudian mengajak Ali menuju ke gedung belakang.

Ali mengepalkan tangannya saat melihat Darren menghajar Aldi hingga tersungkur ke tanah.

Aldi berusaha bangun namun kembali Darren menendangnya.

Ali yang geram melihat kejadian itu segera bergegas membantu Aldi. Ia mengulurkan tangannya dan membantu pemuda itu bangun namun siapa sangka Aldi menolak bantuannya membuat Darren tertawa.

"Tidak semua orang mau menerima bantuan mu pak tua!" cibir Darren

"Aku tidak tahu kenapa kau masih hidup padahal ayahku bilang sudah menyingkirkan mu," Darren kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang

Tidak lama beberapa pria berjas hitam berdatangan di tempat itu.

"Aku ingin lihat kehebatan mu mengalahkan para bodyguard ku ini," Darren memberikan isyarat kepada para bodyguardnya untuk menyerang Ali.

Tidak butuh waktu lama bagi Ali untuk menjatuhkan para bodyguard tersebut.

Melihat Ali berhasil menjatuhkan para bodyguard di hadapanya, membuat Darren ketakutan dan segera kabur meninggalkannya.

Kali ini Ali membiarkan Darren pergi.

Melihat kondisi Aldi babak belur ia kemudian mengantarnya pulang ke rumah meskipun harus memaksanya.

"Aku tidak mau melihat mu, celaka lagi karena Perundung itu. Untuk itulah aku ingin memastikan keselamatan mu dengan mengantar kamu sampai ke rumah dengan selamat,"

"Tapi...." Aldi tampak ragu-ragu saat menerima tawaran Ali

Namun melihat reaksi Darren saat melihatnya membuat ia terpaksa naik keatas motor butut Ali.

Setibanya di rumah Aldi, Ali tercengang melihat kondisi rumah bocah itu.

"Terimakasih banyak Om sudah membantu saya hari ini," ucap Aldi kemudian mencium punggung tangan Ali

Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah. Ia tampak gusar saat melihat wajah Aldi yang babak belur.

"Apa mereka memukuli mu lagi?" tanyanya sembari mengusap wajah Aldi

Aldi mengangguk pelan membuat wanita itu semakin pilu, "Bukankah sudah ibu bilang, jangan pernah cari masalah dengan dia, kau bisa menghabiskan jam istirahat mu di perpustakaan agar ia tak bisa menemukan mu. Kau tahu kan Ibu tak bisa membantumu karena kondisi ku yang seperti ini,"

Ali menatap wanita itu dengan Iba.

"Apa pria ini yang sudah menolong mu?" tanya wanita itu

Aldi lagi-lagi mengangguk pelan mengiyakan ucapan ibunya.

"Terimakasih banyak bapak karena sudah menyelamatkan anak saya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan Aldi jika hari ini anda tidak menolongnya," ucap wanita itu menitikkan air mata

"Sama-sama Bu," jawab Ali

"Kalau kau tidak keberatan sebagai ucapan terimakasih saya ingin anda mencicipi makanan kami. Memang saya tidak bisa menghidangkan makan siang yang enak-enak tapi yang penting bisa membuat anda kenyang,"

Wanita itu kemudian meminta Aldi mengajak Ali masuk.

Ia menyiapkan makan siang untuk mereka.

"Silakan dinikmati makan siang sederhana ini, tapi maaf saya tidak bisa menemani karena harus kembali bekerja," ucap wanita itu kemudian pamit pergi.

"Tapi sebaiknya anda menemani putra anda makan juga,"

Ali mengajak wanita itu duduk.

"Sebaiknya anda sering-sering makan bersama dengan putramu jika masih ada kesempatan,"

Alu kemudian membuka dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu kepada wanita itu.

"Bukan saya menolak untuk makan siang di sini, tapi putraku juga menunggu ku untuk menemaninya makan siang, jadi sekali lagi maaf,"

Terpopuler

Comments

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

bagus ali keren jawabanmu untuk mengelabui lawan yg licik, otak harus di lawan dengan otak bukan otot

2023-05-19

1

💜_Vicka Villya_💜

💜_Vicka Villya_💜

nggak ngerti kenapa bisa ada anak seusia darren kok pikiran sama kelakuannya sejahat itu

2023-05-14

0

ρuʝi ¢ᖱ'D⃤ ̐ OFF 🤍

ρuʝi ¢ᖱ'D⃤ ̐ OFF 🤍

Darren ga kapok juga yah, kayaknya harus kasih pelajaran lagi nih

2023-05-14

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!