Bab 2. (Revisi)

Ali yang tak puas dengan penjelasan dari Wali kelas berusaha mencari informasi sendiri untuk menjawab rasa penasaran terhadap penyebab Beni menjadi koma.

Ia menatap intens wajah putranya yang terbaring di hadapannya.

Bola matanya seketika tertuju pada luka memar pada kedua kelopak matanya.

Ia kemudian mulai memberanikan diri memberitahu tentang kejanggalan yang ditemukannya kepada Sang Wali Kelas yang masih ada di tempat itu.

Ali kemudian menunjukkan beberapa luka memar di wajah Beni yang dianggap janggal bagi seorang yang jatuh dari mistar lompatan saat melakukan lompat tinggi.

Ia bahkan menarik pria itu agar bisa melihat dari dekat luka di kedua kelopak mata Beni.

"Coba lihat luka di kedua matanya, bukankah itu sudah jelas bukan luka akibat jatuh, aku yakin seratus persen jika luka lebam di kelopak mata Beni adalah luka bekas pukulan," ucap Ali mencoba menunjukkan fakta yang di dapatnya.

Ia bahkan sengaja mengarahkan tinjunya kearah sang wali kelas untuk mempertegas asumsinya.

Sejenak Ilham dibuat tegang saat ia mengira, jika Ali akan benar-benar memukulnya.

"Maaf jika sudah membuat anda tegang, saya hanya ingin meyakinkan jika asumsi saya sangat berdasar dan tidak mengada-ada," ucap Ali mencoba menghilangkan rasa tegang yang dirasakan oleh Ilham.

"Logikanya jika putraku hanya jatuh dari atas mistar lompat tinggi tidak mungkin ada begitu banyak luka di wajahnya, contoh bibir yang sobek, kedua pipi lebam, dan terutama luka yang paling mencolok yaitu memar di area kedua matanya," tutur Ali menunjukkan beberapa luka memar di wajah Beni

"Sebagai seorang lelaki kau pasti tahu benar jika luka memar ini bukan karena jatuh tapi bekas pukulan tangan. Aku yakin ada pembullyan di sekolah dan Beni adalah salah satu korbannya," imbuh Ali membuat bola mata Ilham seketika melebar.

Lelaki itu tak mengira jika Ali begitu cermat menganalisa penyebab kecelakaan putranya hanya dari melihat luka di wajahnya.

Namun hal itu segera dibantah oleh Regina, yang mengatakan jika putranya baik-baik saja di sekolah.

"Tidak mungkin jika Beni di rundung di sekolah. Selama ini aku melihat dia adalah anak yang supel dan mudah bergaul jadi mustahil ia memiliki seorang musuh yang akan merundungnya hingga babak belur seperti itu," tandas Regina

Ia juga mengatakan jika dirinya kerap melihat putranya berkumpul dengan teman-temannya di kantin atau berolahraga bersama saat jam istirahat atau sebelum pulang sekolah.

"Ia juga pernah bilang kalau ia terlambat pulang karena ia menghabiskan waktu bersama teman-temannya di sebuah kafe. Jadi mustahil kan anak yang memiliki banyak teman sepertinya menjadi korban bullying?" tambah Regina

Mendengar ucapan Regina membuat sang wali kelas berdehem pelan. Ali segera menoleh kearah Ilham saat pria itu mendengar suara Ilham.

"Bukankah benar demikian Pak Ilham?" tanya Regina membuyarkan lamunan Ilham.

"Be... benar," jawab Ilham mengangguk mengiyakan ucapan wanita itu.

Namun melihat tingkah aneh Ilham yang kembali memalingkan wajahnya saat menjawab pertanyaan dari istrinya membuat Ali semakin mencurigai pria itu.

Insting seorang pembunuh Ali mengatakan jika Ilham sengaja menutupi sesuatu untuk menyelamatkan nama baik sekolah.

Ali yang masih tidak yakin dengan penjelasan dari Ilham mencoba mencari tahu dengan bertanya kepada dokter.

Ia sengaja menemui dokter yang merawat Ali dan menanyakan apa penyebab Putranya mengalami koma.

"Dari hasil pemeriksaan sementara saya menyimpulkan jika luka sobek di bibir pasien di sebabkan karena pukulan benda tumpul, begitupun dengan luka di sekitar kelopak mata dan tulang pipi yang retak semuanya disebabkan karena benturan benda keras atau pukulan bertubi-tubi," jawab sang dokter memperkuat kecurigaan Ali tentang tindak kekerasan yang dialami putranya.

Mendengar jawaban dari dokter yang sejalan dengan asumsinya membuat pria itu merasa puas dan bertekad untuk mencari kebenaran penyebab Putranya koma.

Setidaknya jawaban dari dokter akan membuatnya lebih percaya diri untuk mematahkan pendapat sekolah yang menyatakan jika putranya koma karena mengalami kecelakaan saat berolahraga.

Meskipun Ali sudah menyampaikan jawaban dokter kepada Ilham, pria itu tetap bersikeras jika Beni koma karena jatuh saat melakukan lompat tinggi.

"Saya menjamin jika di sekolah kami tidak pernah ada pembullyan. Bapak bisa cek melalui cctv sekolah jika tidak percaya. Karena disekolah kami memang sengaja di pasang cctv agar guru-guru bisa memantau apa yang dilakukan oleh peserta didik saat jam istirahat ataupun saat jam pelajaran. Jika memang Beni mendapat tindakan kekerasan di sekolah atau bullying pasti kita akan menemukannya di cctv. Jadi silakan bapak datang ke sekolah kami untuk melihat rekaman cctv hari itu," tantang Ilham berusaha membenarkan alibinya

Mendengar Ilham terus mempertahankan alibinya tentang kejadian yang menimpa putranya membuat Ali berpikir untuk mendatangi sekolah Beni untuk memecahkan kasus tersebut.

"Baik, insya Allah besok kalau ada waktu saya pasti akan menyempatkan diri untuk melihat rekaman cctv sekolah," jawab Ali

"Baik saya tunggu kedatangannya Pak," jawab Ilham kemudian berpamitan

Setelah kepergian Ilham, Ali memilih berjaga di samping anaknya dan menyuruh istri dan mertuanya untuk pulang. Saat Regina dan Hari hendak meninggalkan ruangan itu tampak seorang perawat datang menghampiri Ali dsn memberikan rincian pembayaran rumah sakit.

"Saya harap anda bisa membayar biaya pengobatan ini pasien secepatnya agar kami bisa melakukan tindakan selanjutnya," ucap perawat tersebut kemudian meninggalkan ruangan itu

Melihat begitu besar tagihan yang harus di bayar membuat Ali tampak murung. Lelaki itu berpikir keras bagaimana cara mendapatkan uang untuk membayar biaya tagihan rumah sakit putranya.

Melihat wajah murung suaminya membuat Regina mengurungkan niatnya untuk pulang. Ia tahu benar jika suaminya tidak memiliki uang untuk membayar biaya berobat Beni.

Melihat putrinya diam mematung membuat Hari menghampiri Regina.

"Kenapa lagi," ucap Hari saat melihat wajah gusar putrinya

"Tidak papa ayah," jawab Regina sembari menatap suaminya yang masih duduk termangu menatap kwitansi pembayaran di tangannya.

"Tidak mungkin tidak ada apa-apa jika kau sampai merenung seperti ini," tandas Hari lelaki itu kemudian menghampiri Ali yang masih terduduk di depan putranya dan mengambil kwitansi dari tangannya.

"Dasar suami tak berguna bagaimana kau bisa melindungi anak dan istrimu jika membayar biaya berobat putramu saja tidak mampu!" seru Hari mulai memakinya dan membanding-bandingkan Ali dengan menantu lainnya yang kaya.

Tentu saja Ali merasa kesal mendengarnya. Harusnya Hari bisa membantunya di saat ia sedang kesusahan karena musibah yang dialami Beni. Hari justru menambah beban pikirannya dengan terus mencercanya.

Ali berusaha menahan emosinya dan tetap bersikap sopan kepada ayah mertuanya itu.

"Hari sudah malam sebaiknya ayah istirahat. Jangan khawatir aku pasti akan membayar semua tagihan ini," ucap Ali kemudian menyuruh Regina untuk mengantar ayahnya pulang

Keesokan harinya, Ali memutuskan pergi ke sekolah anaknya untuk mencari bukti-bukti.

Terpopuler

Comments

ᴊɪʀᴏ ⍣⃝☠️​

ᴊɪʀᴏ ⍣⃝☠️​

kepala sekolah berani berbohong demi nama baik sekolahan yg dipimpin.
sedangkan ibu nya menganggap anaknya yg terbaik.
sedangkan si ayah berkata sesuai keadaan.
biarpun ali orang yg tak punya,tapi aku kok sependapat dgn ali.

2023-06-08

1

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

minta hasil visum buat di laporan ke polisi apalg dia mantan tentara bayaran pasti ga sulit krn pasti punya banyak teman dan kenalan

2023-05-19

1

Yuli Eka Puji R

Yuli Eka Puji R

itu istrinya jd guru kenapa msh ngeluh aja sm keuangan, anak lg koma bukannya sedih malah seolah membenarkan apa yg terjadi sm anaknya ibu macam apa km jangan" ibunya udh menerima suap

2023-05-18

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!