Huang Mingxiang, Xiao Muqing, Gu Sinjie, dan Baili Ruyi menghabiskan waktu bersama di perpustakaan. Bahkan mereka menggelar acara makan bersama di perpustakaan, Xiao Muqing tadinya menolak, namun Baili Ruyi terus merengek seperti anak kecil sampai membuatnya kesal. Tetapi hal itu berhasil membuat Xiao Muqing menyetujui acara makan bersama di perpustakaan ini.
Selesai makan siang, Baili Ruyi memutuskan untuk pergi begitu saja. Wanita itu hendak berkeliling ibu kota sekitaran Xiao Wangfu, dia ingin melihat-lihat. Jarang sekali dia mengunjungi ibu kota, rugi rasanya jika hanya berdiam diri di Xiao Wangfu.
"Tuan Gu, apa saya boleh meminta tolong sesuatu pada anda?" tanya Huang Mingxiang, membuat Gu Sinjie dan Xiao Muqing menatap dirinya bersamaan.
"Tentu, Wangfei. Bagaimana mungkin bawahan ini menolak?" jawab Gu Sinjie, kembali pada sikap tenangnya sebelum kedatangan Baili Ruyi.
"Saya butuh informasi terbaru mengenai kesehatan ayah saya. Tetapi saya tidak bisa meninggalkan Xiao Wangfu, bisakah anda bertanya kepada orang-orang Huang Fu atas nama saya?" tanya Huang Mingxiang.
Gu Sinjie mengangguk, kemudian berdiri dan membungkuk ke arah Huang Mingxiang. "Baik, Wangfei. Bawahan ini akan kembali tidak lama lagi."
Huang Mingxiang tersenyum. "Terima kasih banyak, Tuan Gu."
Setelah kepergian Gu Sinjie, Xiao Muqing yang sedari tadi terlalu banyak diam akhirnya bicara. "Mengapa tidak anda sendiri yang memastikan?"
Huang Mingxiang menghela napas tipis. "Aku juga ingin melakukan itu, namun bagaimana mungkin aku meninggalkan suami saya yang sedang sakit di sini?"
Xiao Muqing mengerutkan keningnya. "Apa hubungannya dengan itu?"
"Tentu saja ada. Merawat Wangye adalah kewajiban saya," jawab Huang Mingxiang, matanya menatap wajah tampan pria itu.
Xiao Muqing balas menatap Huang Mingxiang, tatapan mata mereka bertemu. Xiao Muqing menutup bukunya, kemudian berkata,"Kembali ke kamar."
Huang Mingxiang tersenyum samar saat menyadari telinga pria di hadapannya ini memerah, namun dia tidak banyak bicara, Huang Mingxiang bergegas berdiri dan mendorong kursi roda Xiao Muqing.
Di tengah jalan, Huang Mingxiang meminta minyak pijat pada pelayan dan meminta pelayan itu mengantarkannya ke kamar Xiao Muqing. Lalu sesampainya mereka di kamar Xiao Muqing, Huang Mingxiang mengulurkan tangannya ke arah pria itu dan membantu Xiao Muqing berpindah tempat ke kasur.
Xiao Muqing bersandar di atas kasur, tak lama kemudian pelayan datang dan memberikan minyak pijat pada Huang Mingxiang. Huang Mingxiang dengan cepat menanggapinya dan menyentuh minyak pijat tersebut. Tetapi, sesaat kemudian dia tersadar bahwa dia lupa menggulung lengan hanfu-nya.
Huang Mingxiang gagal naik ke atas tempat tidur Xiao Muqing, wanita itu sibuk berusaha menggulung lengan hanfu-nya menggunakan giginya. Xiao Muqing memperhatikan istrinya dengan tatapan aneh.
"Bodoh. Kemari." Xiao Muqing tiba-tiba memanggilnya, membuat Huang Mingxiang menatap pria itu dan tersenyum. Xiao Muqing ingin membantunya, Huang Mingxiang senang.
Dengan cepat, Huang Mingxiang naik ke atas tempat tidur dan mengulurkan kedua tangannya ke arah Xiao Muqing seperti anak kecil. "Mohon bantuannya, Wangye."
Xiao Muqing tidak menjawab, pria itu dengan cepat menggulung kedua lengan hanfu Huang Mingxiang. "Seperti anak kecil," cibir Xiao Muqing.
Huang Mingxiang mengangkat kedua bahunya acuh. "Mungkin saja ini adalah gambaran anak kita nanti."
"Waras kan otakmu," balas Xiao Muqing pedas.
Huang Mingxiang terkekeh, dia perlahan mulai terbiasa dengan ucapan pedas Xiao Muqing.
"Wangye." Huang Mingxiang memanggil Xiao Muqing, ingin bicara lagi.
"Apakah anda--" Belum selesai Huang Mingxiang bicara, Xiao Muqing sudah lebih dulu memotong.
"Apa ini?" tanya Xiao Muqing, keningnya terlipat menatap pergelangan tangan bagian dalam milik Huang Mingxiang. Huang Mingxiang segera menarik pelan tangannya untuk melihat apa yang Xiao Muqing maksud. Dan ah ... itu adalah luka lamanya.
"Ini luka lama Mingxiang tiga bulan yang lalu, belum benar-benar hilang," jelas Huang Mingxiang.
"Apa yang terjadi?" tanya Xiao Muqing, keningnya sudah tidak lagi terlipat. Kini pria itu menatap bekas luka Huang Mingxiang datar.
"Saat itu Mingxiang mencoba kabur dari hukuman Huangtaihou karena telah berbohong padanya bahwa Mingxiang telah menyelesaikan tugas bab tatakrama Selir Kekaisaran. Huangtaihou memberi Mingxiang pembelajaran lebih cepat sebelum akhirnya pengumuman seleksi diumumkan," jawab Huang Mingxiang, kemudian tersenyum menatap bekas lukanya, karena penyebabnya sangat konyol. Dia terjatuh saat mencoba melarikan diri melompat pagar Istana. Setelah dipikir-pikir lagi, itu sangat memalukan.
"Oh." Xiao Muqing menjawab acuh, kemudian memejamkan matanya setelah selesai menggulung kedua lengan hanfu Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang melanjutkan lagi ucapannya yang tadi sempat terpotong sambil membalurkan minyak pijat ke atas kaki Xiao Muqing.
"Wangye, apakah ada kemungkinan anda akan mencintai saya?" tanya Huang Mingxiang, matanya terus menerus menatap Xiao Muqing.
Xiao Muqing membuka kembali matanya, menatap Huang Mingxiang. "Pertanyaan yang tidak penting untuk benwang jawab."
Huang Mingxiang tersenyum tipis, kepalanya sedikit tertunduk. Entah mengapa dia mulai merasa tidak nyaman di hatinya ketika Xiao Muqing menunjukkan sisi acuh tak acuh terang-terangan seperti ini padanya.
Xiao Muqing memperhatikan raut wajah Huang Mingxiang yang berubah, pria itu diam-diam mengerutkan keningnya dan menatap Huang Mingxiang dengan tatapan sulit. Xiao Muqing juga merasakan sesuatu yang tidak nyaman di hatinya.
"Di dunia ini, Mingxiang ... hanya memiliki anda. Huangtaihou terlalu jauh di Istana dan terikat protokol Istana, ayah saya ... beliau tidak mungkin hanya memikirkan saya, pasti juga Huang Liyue. Jika kami bertengkar, ayah tidak pernah membela saya atau Huang Liyue. Dia memilih diam, mungkin reaksinya akan sama jika beliau tahu apa yang terjadi antara Mingxiang dan Huang Liyue saat ini."
Xiao Muqing diam, dia memilih mendengarkan kalimat-kalimat Huang Mingxiang.
"Saya selalu mencoba yang terbaik untuk menjadi yang terbaik tanpa menjatuhkan siapapun. Saya menyayangi dan membantu seluruh orang dengan tulus, tidak pernah menyakiti mereka. Tetapi, Wangye ..." Ucapan Huang Mingxiang tertahan karena tenggorokannya yang terasa tercekat.
Huang Mingxiang juga tidak mengerti, mengapa dia tiba-tiba memiliki dorongan untuk mengucapkan semua hal ini pada Xiao Muqing yang bahkan mungkin tidak terlalu peduli dengan masalahnya.
Huang Mingxiang menarik napas dalam, lalu melanjutkan,"Mereka justru membuang saya. Mereka menyakiti saya. Mereka menipu saya. Satu persatu, orang-orang yang dulunya ramah terhadap Mingxiang, perlahan menunjukkan tatapan dingin mereka. Sampai akhirnya saya berakhir di sini dan tidak memiliki apa pun, namun ... saya bertemu anda." Mata Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing, lalu dengan ragu pria itu membalas tatapan mata Huang Mingxiang. Walaupun tidak ada air mata yang menggenang di kedua mata itu, namun Xiao Muqing dapat merasakan dengan jelas rasa sakit yang dirasakan Huang Mingxiang.
"Wangye, saya tidak pernah sekeras ini untuk membuat orang-orang menyukai saya. Hal-hal gila seperti menghadapi pembunuh dan benar-benar berdiri sendiri di tengah-tengah Istana kekaisaran menghadapi musuh adalah yang pertama kali bagi saya. Dan semua itu saya lakukan untuk mendapatkan pengakuan anda."
Huang Mingxiang memaksakan senyum simpul ke arah Huang Mingxiang, lalu berkata,"Oleh karena itu, jika bukan karena anda, saya tidak akan dapat sepenuhnya bertahan seperti ini. Tanpa anda, saya mungkin dapat bertahan, tetapi tidak sebaik ini. Mencintai dan melayani anda sebagai seorang istri adalah hal yang paling saya sukai, sedangkan dicintai oleh anda itu adalah pilihan anda sendiri."
Xiao Muqing tertegun. Dia tidak pernah melihat manusia dengan aura setulus ini untuknya. Rasanya ... Xiao Muqing seperti melihat cahaya kecil di tengah-tengah kegelapan yang bertahun-tahun dia diami.
Xiao Muqing menggeser tatapannya lurus ke depan, memalingkan wajah dari Huang Mingxiang. "Bodoh. Tanpa atau adanya benwang, bertahan sebaik mungkin adalah sebuah keharusan. Semakin banyak anda mengeluh, menangis, dan berdiam diri, maka semakin maju serta besar tertawaan mereka. Tidak ada batasan untuk kasih sayang. Jika seseorang itu sayang, maka jika dia seorang Kaisar pun, dia rela turun dari takhta-nya. Lupakan hal bodoh di masa lalu, anda saat ini berada di Xiao Wangfu."
Deg!
Huang Mingxiang tertegun. Xiao Muqing ... Pria itu tengah menghiburnya? Lucu sekali, namun kata-katanya ... sangat menyentuh hati Huang Mingxiang. Hingga tanpa sadar, gerakan memijat Huang Mingxiang terhenti, perlahan gelombang air mata muncul ke permukaan mata wanita itu.
Huang Mingxiang menutup wajahnya dengan kedua pergelangan tangannya karena telapak tangannya berlumur minyak. Wanita itu terisak pelan-pelan, tidak berani mengeluarkan suara lebih keras di hadapan Xiao Muqing.
Huang Mingxiang menggerutu kesal, mengapa dia harus menangis di hadapan pria ini?!
Xiao Muqing, pria itu memperhatikan Huang Mingxiang yang terus terisak. Matanya menatap sulit ke arah Huang Mingxiang, diam-diam otaknya memikirkan sesuatu yang bertentangan dengan dirinya sendiri. Memeluk. Dia ingin memeluk Huang Mingxiang. Sosok Huang Mingxiang saat ini terlihat sangat rapuh, hati batu Xiao Muqing melunak melihat ini.
"Kemari," ucap Xiao Muqing, membuat Huang Mingxiang menurunkan kedua tangannya dan menampilkan wajahnya yang basah karena air mata.
"Maaf ... Mingxiang ... Mingxiang tidak bisa menahannya. Ini ... memalukan." Huang Mingxiang terus terisak, tidak bisa berhenti.
Xiao Muqing menggertakkan giginya, lalu tangan kanannya menarik lembut tangan Huang Mingxiang, membuat wanita itu terkejut. Kedua mata mereka bertemu, Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing bingung. Apa pria itu ingin membentaknya karena menangis?
Xiao Muqing memejamkan matanya, dia berusaha menjernihkan pikirannya. Sampai tak lama Xiao Muqing kembali membuka matanya, lalu perlahan tangan kanannya tergerak untuk menghapus air mata Huang Mingxiang.
"Berhenti. Kamu jelek saat menangis."
"Hati Mingxiang saat ini sungguhan tengah bersedih, Wangye."
"Benwang tahu. Tetapi wajahmu memang jelek saat menangis. Berhenti menangis, Mingxiang."
Mendengar Xiao Muqing memanggil namanya tanpa marga, hati Huang Mingxiang kembali tersentuh. Tak lama kemudian isak tangisnya menjadi lebih cepat. Huang Mingxiang menggertakkan giginya kesal, dia ingin mencekik Xiao Muqing.
Huang Mingxiang dengan cepat lebih mendekatkan dirinya pada Xiao Muqing, kemudian memeluk pria itu. "Sebenarnya anda menganggap saya ini apa?! Bawahan? Istri? Sikap anda sama sekali tidak dapat saya mengerti. Saya selalu berusaha membatasi diri saya dari perasaan, namun--"
Xiao Muqing memotong cepat, Huang Mingxiang banyak sekali mengoceh. "Tutup mulut banyak bicara itu. Tenangkan dirimu dengan benar."
Huang Mingxiang dengan cepat terdiam, lalu tak lama dia sedikit terkejut karena merasakan ada sesuatu yang membelai kepalanya dengan lembut. Itu tangan Xiao Muqing.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
💖 sweet love 🌺
gengsi nya xiao muqing terlalu tinggi
2023-10-21
0
Shai'er
ademm 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
2023-04-06
0
Shai'er
🤣🤣🤣🤣🤣🥰🥰🥰🥰
2023-04-06
0