"Kamu satu-satunya manusia yang berani menyentuh kepala benwang tanpa izin," ujar Xiao Muqing sambil memasukkan potongan bakpao ke dalam mulutnya.
Huang Mingxiang tersenyum. "Dan Wangye adalah orang pertama yang Mingxiang sisir secara pribadi."
"Otakmu rusak, ya?" balas Xiao Muqing pedas, membuat senyum dan rasa kesal Huang Mingxiang bertambah secara bersamaan. Dia harus bersabar, tidak boleh menarik rambut paman dari seorang Kaisar.
"Wangye, apa anda ingin berkeliling Wangfu? Saat melewati kebun buah dekat paviliun barat, Mingxiang melihat buahnya sudah banyak sekali yang matang, siap panen." Huang Mingxiang memilih tidak menanggapi, dia beralih mengganti topik pembicaraan mereka.
Belum sempat Xiao Muqing menjawab, Huang Mingxiang sudah kembali bicara. "Wangye, di mana minyak rambut anda?"
"Meja," jawab Xiao Muqing, lagi-lagi membuat Huang Mingxiang kesal. Banyak meja di ruangan ini, pria itu tidak pernah memberikan jawaban yang pasti dengan benar.
Huang Mingxiang berbalik, kemudian menelusuri seluruh meja dengan matanya. Begitu melihat botol minyak rambut di atas meja dekat kasur, wanita itu bergegas mengambilnya. Tak lama ia kembali menghampiri Xiao Muqing, menuang minyak rambut ke telapak tangannya dan perlahan dia balurkan minyak itu di rambut hitam halus milik Xiao Muqing.
"Bagaimana Wangye, anda ingin melihat kebunnya?" tanya Huang Mingxiang, kini dia sudah selesai membalurkan minyak rambut, berikutnya beralih berjongkok di depan kursi roda Xiao Muqing.
Xiao Muqing menatap wajah Huang Mingxiang, ini pertama kalinya dia memiliki jarak yang sangat dekat dengan seorang wanita setelah tiga tahun tidak pernah menampakkan diri ke permukaan.
"Melihat anda hanya diam dan menatap saya, maka saya anggap jawaban Wangye adalah iya." Huang Mingxiang kemudian berdiri, lalu berjalan ke belakang kursi roda dan mulai mendorongnya perlahan.
Para pelayan yang melihat ini pun terkejut, mereka sama sekali tidak pernah membayangkan penampakkan ini. Setelah musibah yang mengenai kaki Wangye mereka, mereka semua yakin akan sulit mendapatkan wanita yang tulus untuk Wangye mereka. Tetapi setelah kedatangan Huang Mingxiang, rasa khawatir mereka pun mereda.
Huang Mingxiang terus mendorong kursi roda Xiao Muqing menuju kebun yang ada di paviliun barat, begitu sampai, pemandangan tumbuhan yang menghijau segar dengan buah matang masing-masing pun sangat menyejukkan pandangan. Ditambah udara segar di pagi hari menambah mood segar Huang Mingxiang. Perasaan buruknya karena perkataan tajam Xiao Muqing sebelumnya pun berangsur hilang.
"Wangye, pelayan di sini sangat cekatan. Mereka menanam buah dengan kualitas yang sangat baik, jika dijual di pasaran harganya akan sangat tinggi." Huang Mingxiang berjalan menuju pohon anggur, meninggalkan Xiao Muqing di belakang yang memperhatikan satu persatu tanaman. Dia sudah lama tidak mengunjungi kebun buah Wangfu-nya sendiri.
Tak lama Huang Mingxiang kembali dengan membawa dua buah butir anggur yang sudah matang, lalu memberikannya pada Xiao Muqing satu.
"Anda harus mencoba ini, rasanya jauh lebih manis dan enak saat baru dipetik seperti ini," ujar Huang Mingxiang.
Xiao Muqing dengan ragu mengambil buah anggur yang diberikan Huang Mingxiang, kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Tetapi, tak lama kemudian dahi Xiao Muqing mengerut.
"Huang Mingxiang!" Xiao Muqing berseru kencang, membuat beberapa pelayan yang mendengar ini terkejut bukan main dan segera menatap ke arah mereka.
Huang Mingxiang tertawa, dia sengaja memberikan buah anggur yang masam kepada Xiao Muqing.
"Maafkan Mingxiang, Wangye. Mingxiang pikir anda dapat membedakan buah yang benar-benar matang dan belum." Lalu Huang Mingxiang kembali tertawa, ekspresi menahan rasa masam milik Xiao Muqing sangat lucu.
Xiao Muqing mendengus kesal, kemudian jari telunjuk kanannya menunjuk salah satu buah anggur yang belum matang, lalu dengan cepat buah anggur itu terbang ke dalam mulut Huang Mingxiang secara paksa.
Huang Mingxiang terkejut, lalu spontan mengunyah buah anggur itu. Dengan cepat, gelak tawanya terhenti dan berubah menjadi diam seribu bahasa karena manahan rasa masam.
Melihat raut wajah lucu dari Huang Mingxiang, Xiao Muqing tanpa sadar tersenyum tipis puas. Dia membalas perbuatan Huang Mingxiang, setelah itu membalikkan arah kursi rodanya dan pergi meninggalkan Huang Mingxiang.
"Sialan, seberapa besar ilmu bela diri pria itu sampai bisa menggunakan kekuatan seperti ini?" gumam Huang Mingxiang, lalu melepeh anggur masam tadi.
"Wangye! Tunggu saya!" Huang Mingxiang berteriak, lalu berlari menyusul Xiao Muqing.
Saat Huang Mingxiang berlari menyusul Xiao Muqing, matanya tidak sengaja melihat sosok bayangan hitam yang sedang menghunuskan panah ke arah Xiao Muqing.
Huang Mingxiang membelalakkan matanya, kemudian menambah kecepatannya untuk dapat meraih Xiao Muqing.
Splash!
Anak panah itu melesat cepat ke arah Xiao Muqing, bertepatan dengan itu, Huang Mingxiang berhasil meraih Xiao Muqing dan memeluk pria itu.
"Wangye!"
Huang Mingxiang memejamkan matanya erat, bersiap menerima tembakan panah di punggungnya. Tetapi, sudah cukup lama dia memeluk Xiao Muqing, anak panah itu tidak kunjung menancap di punggungnya.
Huang Mingxiang mencoba menoleh, dia terkejut ketika melihat Xiao Muqing menahan anak panah itu dengan telapak tangannya yang mengeluarkan kekuatan dalam membentuk perisai yang mengelilingi mereka.
"Ini--"
"Diam. Tetap di situ." Xiao Muqing berkata dingin, membuat Huang Mingxiang tidak berani membantah dan kembali meletakkan kepalanya di bahu Xiao Muqing.
Tak lama kemudian, entah dari mana asalnya, bayangan hitam lain muncul dari atap-atap bangunan. Sepertinya mereka adalah orang-orang Xiao Muqing, karena mereka berusaha menyerang bayangan hitam yang tadi menembakkan anak panah ke arah mereka.
Xiao Muqing menghilangkan perisai yang tadi dia bentuk, kemudian melirik Huang Mingxiang yang sampai saat ini masih memeluknya.
"Sekarang kita kembali." Suara Xiao Muqing menyadari Huang Mingxiang, membuat wanita itu dengan cepat melepaskan pelukannya tanpa banyak bicara dan mendorong kursi roda itu cepat menuju ruangan Xiao Muqing. Diam-diam, telinga Huang Mingxiang memerah.
Kali ini mereka sedang berada di ruangan kerja Xiao Muqing, mereka berdua duduk berhadapan. Huang Mingxiang masih agak terkejut karena kejadian tadi, dia terkejut karena pembunuh selalu berdatangan, dan ... dia terkejut karena dirinya secara spontan ingin melindungi Xiao Muqing. Walaupun Huang Mingxiang memang ingin mengambil kepercayaan Xiao Muqing, tetapi tidak perlu sampai dengan pengorbanan seperti itu.
"Wangye! Wangfei!" Suara Gu Sinjie yang terengah-engah terdengar.
Gu Sinjie masuk tanpa mengetuk, pria itu sepertinya sangat panik begitu mendengar kabar ada pembunuh yang mengincar Xiao Muqing kembali datang.
"Apa ... apa kedua yang mulia baik-baik saja? Astaga ... kapan pembunuh-pembunuh itu berhenti?" tanya Gu Sinjie sambil terus mengatur napasnya.
"Wangye." Huang Mingxiang menatap Xiao Muqing, dia ingin menanyakan sesuatu.
"Apa yang membuat para pembunuh itu terus menerus datang? Apa yang mereka cari dari anda? Bukankah anda sudah lama tidak menampakkan diri ke lingkungan sosial?" Huang Mingxiang langsung melemparkan pertanyaan begitu Xiao Muqing menatapnya.
Gu Sinjie yang mendengar pertanyaan Huang Mingxiang pun segera menjawab menggantikan Xiao Muqing. "Itu karena kekuatan militer besar milik Xiao Wangye. Banyak para bangsawan yang mengincar itu, khususnya bangsawan yang berkuasa di perbatasan dan para anggota kerajaan."
Huang Mingxiang menaikkan alis kirinya. "Para bangsawan? Bukankah mereka tidak memilik hak untuk mendapatkan kekuatan militer Wangye meskipun Wangye telah tiada?"
Gu Sinjie menggelengkan kepalanya. "Kekuatan Wangye yang diberikan dari mendiang Kaisar adalah hasil dari menarik kekuatan milik para bangsawan yang memiliki status di dunia militer. Jika Wangye tiada, maka kekuatan militer itu akan kembali dibagi rata atau justru Kaisar sendiri yang menyimpannya."
Huang Mingxiang mengangguk paham, kemudian dia diam-diam menghela napas. Entah kekuatan ini bagus atau tidak, karena dia membawa keduanya. Bagus karena bisa menjadi dasar kekuatan pula untuk Huang Mingxiang sebagai istri Xiao Muqing, tidak karena dia tidak akan pernah hidup tenang karena diteror para pembunuh.
Mengesampingkan pikiran itu, Huang Mingxiang memilih untuk melupakannya dan bertekad untuk terus sabar. Huang Mingxiang tersenyum tipis ke arah Xiao Muqing. "Wangye, apa anda ingin meminum sesuatu?"
Xiao Muqing menggeleng, kemudian melirik Gu Sinjie dan berkata, "Keluar. Perintahkan pelayan untuk membawakan teh hangat." Setelah itu matanya beralih menatap Huang Mingxiang. "Kau tetap di situ."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Shai'er
mau ngeteh berdua nih, ceritanya🥰🥰🥰
2023-04-05
0
Shai'er
oooooooooo
2023-04-05
0
Shai'er
bangsawan 🤔🤔🤔
2023-04-05
0