"Bawa aku untuk menemui Wangye."
Gu Sinjie yang mendengar permintaan Huang Mingxiang kembali membungkuk dalam. "Maafkan saya, Wangfei. Saat ini yang mulia menolak untuk bertemu siapa pun. Rasa sakit kaki yang mulia sedang kambuh, Wangye takut hal ini akan membuat Wangfei merasa tidak nyaman."
Huang Mingxiang yang mendengar alasan ini menatap Gu Sinjie dingin. Sepertinya itu bukan alasan sungguhan, melainkan alasan yang dibuat-buat. Tetapi, Huang Mingxiang tidak mau terlalu peduli.
"Baiklah, saya harap Tuan Gu segera mengabari saya jika Wangye sudah merasa lebih baik dengan rasa sakitnya." Huang Mingxiang memaksakan senyum tipis ke Gu Sinjie.
Gu Sinjie balas tersenyum. "Baik, tentu saja, Wangfei. Wangfei, bawahan ini akan mengantar anda langsung ke kediaman anda yang telah disiapkan Wangye di Wangfu ini. Ah ... dan ini adalah Su Mama. Beliau adalah pelayan senior yang akan melayani dan mendampingi anda." Gu Sinjie melirik ke arah Su Mama, Su Mama pun segera membungkuk dan tersenyum ke arah Huang Mingxiang.
Huang Mingxiang balas tersenyum, kemudian mereka segera berjalan masuk ke dalam Xiao Wangfu. Huang Mingxiang memperhatikan setiap detailnya. Benar-benar sebuah Wangfu yang sangat indah dan megah, luas dan keindahannya hampir menyaingi Istana. Jika Xiao Muqing tidak lumpuh, dia pasti sudah menjadi salah satu pria menantu idaman yang diincar oleh para keluarga bangsawan. Sayangnya karena perang tiga tahun lalu, luka berat menimpa kakinya yang membuat kakinya mati rasa dan diprediksi lumpuh permanen. Cahaya Xiao Muqing segera redup, namun Kaisar terdahulu tetap memberikan imbalan luar biasa atas jasanya. Uang melimpah dari Istana terus mengalir karena jasanya, sebagai perlindungan akan martabatnya, Kaisar terdahulu pun memberikan kuasa penuh atas setengah lebih pasukan kekaisaran. Bahkan, Kaisar saat ini pun yang merupakan keponakannya hanya memegang seperempat-nya. Semenjak kejadian itu, Xiao Muqing menarik dirinya dari pandangan orang-orang dan jarang sekali keluar dari Xiao Wangfu.
Xiao Muqing merupakan adik paling kecil dari Kaisar terdahulu. Satu tahun setelah kakaknya memberikan bayaran besar atas jasa-jasanya itu, kakaknya meninggal. Membuat anaknya yang menjadi Putra Mahkota, tidak lain adalah Kaisar saat ini, naik takhta. Hal ini membuat kedudukan Xiao Wangye milik Xiao Muqing semakin tinggi, karena dia adalah paman Kaisar. Tetapi walaupun begitu, tetap tidak ada wanita bangsawan yang rela menikah dengannya. Mau sehebat apa pun gelarnya, jika cacat, maka tidak akan ada yang sudi.
Huang Mingxiang mengucapkan terima kasih kepada Gu Sinjie sebelum akhirnya Gu Sinjie pamit undur diri setelah menyelesaikan tugasnya.
Huang Mingxiang sebenarnya lelah, tetapi dia harus waspada dan menggali informasi mengenai Xiao Wangfu. Xiao Wangfu benar-benar tertutup, mereka seperti mati. Tidak ada kabar mengenai Xiao Wangfu dan Xiao Wangye setelah kejadian tiga tahun lalu itu.
"Su Mama." Huang Mingxiang memilih menggali informasi dari Su Mama.
"Nubi, Wangfei?" jawab Su Mama sopan, wajahnya tersenyum hangat khas seorang ibu.
"Sudah berapa lama anda bekerja di Wangfu ini?" tanya Huang Mingxiang.
"Menjawab, Wangfei. Nubi sudah bekerja sejak pertama kali Xiao Wangye mendirikan Wangfu ini. Apa ada yang ingin Wangfei ingin tanyakan lagi?" jawab Su Mama.
Huang Mingxiang mengangguk. "Seperti apa Xiao Wangye? Apa saja mengenai Xiao Wangye, tolong beritahu saya."
Su Mama tertegun, menatap tidak percaya ke arah Huang Mingxiang. Dipikiran Su Mama sebenarnya sebelum melihat sosok Huang Mingxiang, Huang Mingxiang akan gemetar ketakutan dan larut dalam kesedihan. Tidak ingin bertemu dengan Xiao Muqing dan tidak ingin tahu, setelah itu mengurung diri. Tetapi ... Su Mama salah, justru Huang Mingxiang terlihat tenang dan tegas. Wanita itu justru berkali-kali menanyakan keberadaan Xiao Wangye kepada Gu Sinjie, dan bahkan kini berinisiatif menanyakan sesuatu tentang Xiao Wangye. Hal ini membuat hati S Mama senang, karena Wangye mereka ternyata tidak mendapatkan istri yang tidak terlalu buruk. Tetapi tetap, kebahagiaan Su Mama tidak bisa terlalu besar begitu mengingat alasan mengapa Huang Mingxiang dinikahkan dengan Wangye mereka.
"Wangye adalah orang yang pendiam dan tegas. Walaupun sebelumnya banyak rumor yang mengatakan bahwa yang mulia kejam dan tidak berperasaan, namun yang mulia masih sangat menghargai usaha seseorang. Baik itu usaha kecil atau besar. Yang mulia senang memakan camilan seperti bakpao, karena dulu Chen Taifei sering membuatkan camilan itu untuk Xiao Wangye."
Setengah jam berlalu, dan sebagian besar topiknya adalah membahas Xiao Muqing.
Baiklah ... sekarang Huang Mingxiang sudah tahu gambaran kasar atau sebagian besarnya Xiao Muqing dan Xiao Wangfu ini. Sepertinya ... dia bisa menghadapinya.
Ketenangan Huang Mingxiang ada bukan karena dia sudah menerima begitu saja takdirnya yang dipermalukan dan dibuang, tetapi karena memang tidak ada cara lain selain tenang. Dia tidak mungkin bunuh diri, itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Jika dia harus mati, dia harus membersihkan namanya dan berada di posisi terhormat, lalu membalaskan rasa sakit yang dia rasakan kepada Huang Liyue serta membayar mulut-mulut para bangsawan yang sudah mencibirnya seenak hati. Seluruh Kekaisaran harus bisa merasakan amarahnya.
Malam pun tiba, Su Mama berjaga di depan pintu kamarnya. Huang Mingxiang duduk sendirian di atas kasur masih dengan pakaian pengantin lengkap dengan aksesoris berat di kepalanya serta penutup wajahnya. Dia mengutuk Xiao Muqing karena tak kunjung datang untuk melepas penutup kepalanya. Jika sampai larut nanti pria itu tak kunjung datang, maka Huang Mingxiang akan membuka penutup kepalanya sendiri dan mengabaikan peraturan adat. Saat ini dia bersabar karena menghormati peraturan adat yang sudah dibuat oleh para leluhur.
"Su Mama, apa Wangye masih belum bisa datang juga?" tanya Huang Mingxiang kepada Su Mama, nada bicaranya nampak lelah.
Su Mama menghela napas singkat sebelum menjawab,"Belum, yang mulia. Yang mulia apa sebaik--" Belum selesai Su Mama bicara, Huang Mingxiang sudah kembali bicara.
"Sebaiknya lupakan saja, Su Mama. Anda bisa kembali ke kamar anda, saya juga sudah lelah."
Su Mama terlihat sedih dari luar, namun karena Huang Mingxiang sudah berkata demikian, tidak ada pilihan lain selain patuh.
Su Mama kembali ke kamarnya, setelah itu penjagaan di depan pintu kamar Huang Mingxiang diganti menjadi para prajurit Xiao Wangfu.
Huang Mingxiang menghela napas gusar, kemudian menyibak tudung pengantinnya. Wanita itu akhirnya bisa leluasa melihat. Huang Mingxiang berdiri, kemudian berjalan ke arah meja rias. Satu persatu, aksesoris emas yang melekat di kepalanya dicopot. Menyisakan rambut panjang hitam sepunggung digerai bebas.
Saat hendak berjalan ke arah kasur, langkah Huang Mingxiang terhenti, matanya fokus menatap ke arah jendela kamar yang telah tertutup. Jantungnya berdetak lebih cepat, namun tidak membuat pikirannya kacau. Gawat, dirinya merasakan ada seseorang di luar jendela kamarnya.
Huang Mingxiang berjalan mundur kembali, setelah itu mengambil tusuk rambut paling panjang dan tajam dan lanjut berjalan ke arah kasur untuk berbaring. Saat mulai memejamkan mata, Huang Mingxiang mendengar suara jendela yang dibuka pelan, nyaris tidak ada suara, hanya terpaan angin dari luar yang masuk.
Huang Mingxiang merasakan sensasi dingin di wajahnya, hatinya sudah tidak tahan lagi untuk memejamkan mata lebih lama karena gelisah. Dengan cepat Huang Mingxiang membuka matanya dan menarik bantal untuk menutupi perutnya, lalu mengangkat tusuk rambutnya untuk menepis belati yang akan dilayangkan ke arahnya.
Matanya terbelalak, melihat sosok pria dengan pakaian serba hitam berdiri di samping tempat tidurnya sambil mengangkat belati tinggi-tinggi, bersiap menembus badannya.
Trang!
Tangkisan Huang Mingxiang berhasil, kemudian dengan cepat bangkit dari tidur dan melompat menjauhi kasur. Sial, saat hendak berbaring tadi dia lupa melepas pakaian luarnya. Karena ini pergerakannya menjadi lambat sebab pakaian pengantin yang sangat berat.
Pembunuh itu berlari ke arah Huang Mingxiang, membuat debaran jantung Huang Mingxiang meningkat. Dia tidak terlalu pandai bela diri, hanya bisa melakukan bentuk pertahanan diri ringan seperti menangkis dan menghindar.
Huang Mingxiang berlari menjauh menuju peti mahar yang telah dia bawa dari kediaman Huang. Dengan gesit tangannya membuka penutup peti dan mengambil satu botol kaca kecil berisi bubuk misterius. Bubuk itu adalah racun yang membuat pandangan mata menjadi kabur dan panas, lalu perlahan melemahkan otot-otot korban. Dia mendapatkan ini dari Huangtaihou untuk berjaga-jaga.
Prang!
Suara botol kaca pecah itu terdengar nyaring, kepulan bubuk racun pun menyebar ke seluruh ruangan.
Huang Mingxiang menutup hidungnya rapat dengan kain bajunya, kemudian menendang pintu kamarnya. Dua penjaga yang bertugas di depan pintu kamarnya pun terkejut, pasalnya mereka tadi sedang bermimpi indah, namun sekarang mendengar tendangan pintu dari kamar Huang Mingxiang.
"Cepat lari dari sini, racun itu akan menyebar kemari!" Huang Mingxiang memberi peringatan sambil terus berlari menuju halaman depan kediamannya. Tetapi, belum sempat kedua penjaga itu memahami apa yang Huang Mingxiang katakan, mereka sudah terlanjur terpengaruh oleh racun bubuk Huang Mingxiang.
"Pembunuh!" Salah satu penjaga kamar Huang Mingxiang berseru sebelum akhirnya matanya tertutup dan pingsan.
Karena seruan tadi, seisi kediaman menjadi gempar. Su Mama dengan gesit keluar dari kamarnya mencari Huang Mingxiang.
"Wangfei! Wangfei! Di mana Wangfei?! Cari yang mulia! Kita harus melindungi Wangfei!"
Huang Mingxiang yang mendengar suara Su Mama pun segera berteriak. "Su Mama! Saya di sini!"
Su Mama yang juga mendengar suara Huang Mingxiang segera berlari cepat menuju halaman depan, matanya berkaca-kaca menahan tangis, tubuhnya gemetar.
"Wangfei ... anda ... anda selamat? Astaga, syukurlah. Terima kasih Dewa, terima kasih ...." Su Mama bersimpuh di tanah, menangis.
Huang Mingxiang tertegun, reaksi Su Mama benar-benar sangat mengkhawatirkan dirinya. Hal ini membuat hati Huang Mingxiang sedikit tersentuh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Dyah Shinta
xiao muqing namanya, xiao wangye gelarnya ... yeee... akhirnya aku tau...👏
2023-06-09
0
Dyah Shinta
oh jadi wangfu itu nama kediaman wangye yah... mengerti
2023-06-09
0
Dyah Shinta
maaf author...
malas baca lagi ke atas.
beda xiao wangfu dengan xiao wangye tuh apa?
xiao wangfei itu gelar untuk huang mingxiang sebagai istri xiao wangye kan
ya?
jadi xiao wangfu itu namanya dan xiao wangye itu gelarnya?
2023-06-09
0