Bab 2. Xiao Wangfu Dikepung Pembunuh!

"Bawa aku untuk menemui Wangye."

Gu Sinjie yang mendengar permintaan Huang Mingxiang kembali membungkuk dalam. "Maafkan saya, Wangfei. Saat ini yang mulia menolak untuk bertemu siapa pun. Rasa sakit kaki yang mulia sedang kambuh, Wangye takut hal ini akan membuat Wangfei merasa tidak nyaman."

Huang Mingxiang yang mendengar alasan ini menatap Gu Sinjie dingin. Sepertinya itu bukan alasan sungguhan, melainkan alasan yang dibuat-buat. Tetapi, Huang Mingxiang tidak mau terlalu peduli.

"Baiklah, saya harap Tuan Gu segera mengabari saya jika Wangye sudah merasa lebih baik dengan rasa sakitnya." Huang Mingxiang memaksakan senyum tipis ke Gu Sinjie.

Gu Sinjie balas tersenyum. "Baik, tentu saja, Wangfei. Wangfei, bawahan ini akan mengantar anda langsung ke kediaman anda yang telah disiapkan Wangye di Wangfu ini. Ah ... dan ini adalah Su Mama. Beliau adalah pelayan senior yang akan melayani dan mendampingi anda." Gu Sinjie melirik ke arah Su Mama, Su Mama pun segera membungkuk dan tersenyum ke arah Huang Mingxiang.

Huang Mingxiang balas tersenyum, kemudian mereka segera berjalan masuk ke dalam Xiao Wangfu. Huang Mingxiang memperhatikan setiap detailnya. Benar-benar sebuah Wangfu yang sangat indah dan megah, luas dan keindahannya hampir menyaingi Istana. Jika Xiao Muqing tidak lumpuh, dia pasti sudah menjadi salah satu pria menantu idaman yang diincar oleh para keluarga bangsawan. Sayangnya karena perang tiga tahun lalu, luka berat menimpa kakinya yang membuat kakinya mati rasa dan diprediksi lumpuh permanen. Cahaya Xiao Muqing segera redup, namun Kaisar terdahulu tetap memberikan imbalan luar biasa atas jasanya. Uang melimpah dari Istana terus mengalir karena jasanya, sebagai perlindungan akan martabatnya, Kaisar terdahulu pun memberikan kuasa penuh atas setengah lebih pasukan kekaisaran. Bahkan, Kaisar saat ini pun yang merupakan keponakannya hanya memegang seperempat-nya. Semenjak kejadian itu, Xiao Muqing menarik dirinya dari pandangan orang-orang dan jarang sekali keluar dari Xiao Wangfu.

Xiao Muqing merupakan adik paling kecil dari Kaisar terdahulu. Satu tahun setelah kakaknya memberikan bayaran besar atas jasa-jasanya itu, kakaknya meninggal. Membuat anaknya yang menjadi Putra Mahkota, tidak lain adalah Kaisar saat ini, naik takhta. Hal ini membuat kedudukan Xiao Wangye milik Xiao Muqing semakin tinggi, karena dia adalah paman Kaisar. Tetapi walaupun begitu, tetap tidak ada wanita bangsawan yang rela menikah dengannya. Mau sehebat apa pun gelarnya, jika cacat, maka tidak akan ada yang sudi.

Huang Mingxiang mengucapkan terima kasih kepada Gu Sinjie sebelum akhirnya Gu Sinjie pamit undur diri setelah menyelesaikan tugasnya.

Huang Mingxiang sebenarnya lelah, tetapi dia harus waspada dan menggali informasi mengenai Xiao Wangfu. Xiao Wangfu benar-benar tertutup, mereka seperti mati. Tidak ada kabar mengenai Xiao Wangfu dan Xiao Wangye setelah kejadian tiga tahun lalu itu.

"Su Mama." Huang Mingxiang memilih menggali informasi dari Su Mama.

"Nubi, Wangfei?" jawab Su Mama sopan, wajahnya tersenyum hangat khas seorang ibu.

"Sudah berapa lama anda bekerja di Wangfu ini?" tanya Huang Mingxiang.

"Menjawab, Wangfei. Nubi sudah bekerja sejak pertama kali Xiao Wangye mendirikan Wangfu ini. Apa ada yang ingin Wangfei ingin tanyakan lagi?" jawab Su Mama.

Huang Mingxiang mengangguk. "Seperti apa Xiao Wangye? Apa saja mengenai Xiao Wangye, tolong beritahu saya."

Su Mama tertegun, menatap tidak percaya ke arah Huang Mingxiang. Dipikiran Su Mama sebenarnya sebelum melihat sosok Huang Mingxiang, Huang Mingxiang akan gemetar ketakutan dan larut dalam kesedihan. Tidak ingin bertemu dengan Xiao Muqing dan tidak ingin tahu, setelah itu mengurung diri. Tetapi ... Su Mama salah, justru Huang Mingxiang terlihat tenang dan tegas. Wanita itu justru berkali-kali menanyakan keberadaan Xiao Wangye kepada Gu Sinjie, dan bahkan kini berinisiatif menanyakan sesuatu tentang Xiao Wangye. Hal ini membuat hati S Mama senang, karena Wangye mereka ternyata tidak mendapatkan istri yang tidak terlalu buruk. Tetapi tetap, kebahagiaan Su Mama tidak bisa terlalu besar begitu mengingat alasan mengapa Huang Mingxiang dinikahkan dengan Wangye mereka.

"Wangye adalah orang yang pendiam dan tegas. Walaupun sebelumnya banyak rumor yang mengatakan bahwa yang mulia kejam dan tidak berperasaan, namun yang mulia masih sangat menghargai usaha seseorang. Baik itu usaha kecil atau besar. Yang mulia senang memakan camilan seperti bakpao, karena dulu Chen Taifei sering membuatkan camilan itu untuk Xiao Wangye."

Setengah jam berlalu, dan sebagian besar topiknya adalah membahas Xiao Muqing.

Baiklah ... sekarang Huang Mingxiang sudah tahu gambaran kasar atau sebagian besarnya Xiao Muqing dan Xiao Wangfu ini. Sepertinya ... dia bisa menghadapinya.

Ketenangan Huang Mingxiang ada bukan karena dia sudah menerima begitu saja takdirnya yang dipermalukan dan dibuang, tetapi karena memang tidak ada cara lain selain tenang. Dia tidak mungkin bunuh diri, itu tidak akan menghasilkan apa-apa. Jika dia harus mati, dia harus membersihkan namanya dan berada di posisi terhormat, lalu membalaskan rasa sakit yang dia rasakan kepada Huang Liyue serta membayar mulut-mulut para bangsawan yang sudah mencibirnya seenak hati. Seluruh Kekaisaran harus bisa merasakan amarahnya.

Malam pun tiba, Su Mama berjaga di depan pintu kamarnya. Huang Mingxiang duduk sendirian di atas kasur masih dengan pakaian pengantin lengkap dengan aksesoris berat di kepalanya serta penutup wajahnya. Dia mengutuk Xiao Muqing karena tak kunjung datang untuk melepas penutup kepalanya. Jika sampai larut nanti pria itu tak kunjung datang, maka Huang Mingxiang akan membuka penutup kepalanya sendiri dan mengabaikan peraturan adat. Saat ini dia bersabar karena menghormati peraturan adat yang sudah dibuat oleh para leluhur.

"Su Mama, apa Wangye masih belum bisa datang juga?" tanya Huang Mingxiang kepada Su Mama, nada bicaranya nampak lelah.

Su Mama menghela napas singkat sebelum menjawab,"Belum, yang mulia. Yang mulia apa sebaik--" Belum selesai Su Mama bicara, Huang Mingxiang sudah kembali bicara.

"Sebaiknya lupakan saja, Su Mama. Anda bisa kembali ke kamar anda, saya juga sudah lelah."

Su Mama terlihat sedih dari luar, namun karena Huang Mingxiang sudah berkata demikian, tidak ada pilihan lain selain patuh.

Su Mama kembali ke kamarnya, setelah itu penjagaan di depan pintu kamar Huang Mingxiang diganti menjadi para prajurit Xiao Wangfu.

Huang Mingxiang menghela napas gusar, kemudian menyibak tudung pengantinnya. Wanita itu akhirnya bisa leluasa melihat. Huang Mingxiang berdiri, kemudian berjalan ke arah meja rias. Satu persatu, aksesoris emas yang melekat di kepalanya dicopot. Menyisakan rambut panjang hitam sepunggung digerai bebas.

Saat hendak berjalan ke arah kasur, langkah Huang Mingxiang terhenti, matanya fokus menatap ke arah jendela kamar yang telah tertutup. Jantungnya berdetak lebih cepat, namun tidak membuat pikirannya kacau. Gawat, dirinya merasakan ada seseorang di luar jendela kamarnya.

Huang Mingxiang berjalan mundur kembali, setelah itu mengambil tusuk rambut paling panjang dan tajam dan lanjut berjalan ke arah kasur untuk berbaring. Saat mulai memejamkan mata, Huang Mingxiang mendengar suara jendela yang dibuka pelan, nyaris tidak ada suara, hanya terpaan angin dari luar yang masuk.

Huang Mingxiang merasakan sensasi dingin di wajahnya, hatinya sudah tidak tahan lagi untuk memejamkan mata lebih lama karena gelisah. Dengan cepat Huang Mingxiang membuka matanya dan menarik bantal untuk menutupi perutnya, lalu mengangkat tusuk rambutnya untuk menepis belati yang akan dilayangkan ke arahnya.

Matanya terbelalak, melihat sosok pria dengan pakaian serba hitam berdiri di samping tempat tidurnya sambil mengangkat belati tinggi-tinggi, bersiap menembus badannya.

Trang!

Tangkisan Huang Mingxiang berhasil, kemudian dengan cepat bangkit dari tidur dan melompat menjauhi kasur. Sial, saat hendak berbaring tadi dia lupa melepas pakaian luarnya. Karena ini pergerakannya menjadi lambat sebab pakaian pengantin yang sangat berat.

Pembunuh itu berlari ke arah Huang Mingxiang, membuat debaran jantung Huang Mingxiang meningkat. Dia tidak terlalu pandai bela diri, hanya bisa melakukan bentuk pertahanan diri ringan seperti menangkis dan menghindar.

Huang Mingxiang berlari menjauh menuju peti mahar yang telah dia bawa dari kediaman Huang. Dengan gesit tangannya membuka penutup peti dan mengambil satu botol kaca kecil berisi bubuk misterius. Bubuk itu adalah racun yang membuat pandangan mata menjadi kabur dan panas, lalu perlahan melemahkan otot-otot korban. Dia mendapatkan ini dari Huangtaihou untuk berjaga-jaga.

Prang!

Suara botol kaca pecah itu terdengar nyaring, kepulan bubuk racun pun menyebar ke seluruh ruangan.

Huang Mingxiang menutup hidungnya rapat dengan kain bajunya, kemudian menendang pintu kamarnya. Dua penjaga yang bertugas di depan pintu kamarnya pun terkejut, pasalnya mereka tadi sedang bermimpi indah, namun sekarang mendengar tendangan pintu dari kamar Huang Mingxiang.

"Cepat lari dari sini, racun itu akan menyebar kemari!" Huang Mingxiang memberi peringatan sambil terus berlari menuju halaman depan kediamannya. Tetapi, belum sempat kedua penjaga itu memahami apa yang Huang Mingxiang katakan, mereka sudah terlanjur terpengaruh oleh racun bubuk Huang Mingxiang.

"Pembunuh!" Salah satu penjaga kamar Huang Mingxiang berseru sebelum akhirnya matanya tertutup dan pingsan.

Karena seruan tadi, seisi kediaman menjadi gempar. Su Mama dengan gesit keluar dari kamarnya mencari Huang Mingxiang.

"Wangfei! Wangfei! Di mana Wangfei?! Cari yang mulia! Kita harus melindungi Wangfei!"

Huang Mingxiang yang mendengar suara Su Mama pun segera berteriak. "Su Mama! Saya di sini!"

Su Mama yang juga mendengar suara Huang Mingxiang segera berlari cepat menuju halaman depan, matanya berkaca-kaca menahan tangis, tubuhnya gemetar.

"Wangfei ... anda ... anda selamat? Astaga, syukurlah. Terima kasih Dewa, terima kasih ...." Su Mama bersimpuh di tanah, menangis.

Huang Mingxiang tertegun, reaksi Su Mama benar-benar sangat mengkhawatirkan dirinya. Hal ini membuat hati Huang Mingxiang sedikit tersentuh.

Terpopuler

Comments

Dyah Shinta

Dyah Shinta

xiao muqing namanya, xiao wangye gelarnya ... yeee... akhirnya aku tau...👏

2023-06-09

0

Dyah Shinta

Dyah Shinta

oh jadi wangfu itu nama kediaman wangye yah... mengerti

2023-06-09

0

Dyah Shinta

Dyah Shinta

maaf author...
malas baca lagi ke atas.
beda xiao wangfu dengan xiao wangye tuh apa?
xiao wangfei itu gelar untuk huang mingxiang sebagai istri xiao wangye kan
ya?
jadi xiao wangfu itu namanya dan xiao wangye itu gelarnya?

2023-06-09

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Dekrit Pernikahan Dengan Xiao Wangye
2 Bab 2. Xiao Wangfu Dikepung Pembunuh!
3 Bab 3. Mengunjungi Xiao Muqing
4 Bab 4. Meyakinkan Xiao Wangye
5 Bab 5. Bakpao Untuk Xiao Wangye
6 Bab 6. Pembunuh 2
7 Bab 7. Saya Akan Membuat Xiao Wangfu Bersinar
8 Bab 8. Hanya Orang-Orang Terpilih Yang Dapat Tinggal Di Xiao Wangfu
9 Bab 9. Apakah Anda Mencintai dan Menyayangi Wangye Dengan Tulus, Wangfei?
10 Bab 10. Berbincang-Bincang Dengan Huangtaihou
11 Bab 11. Menghina Huang Mingxiang, Sama Dengan Menghina Xiao Muqing!
12 Bab 12. Perasaan Xiao Jihuang, Sang Kaisar
13 Bab 13. Kalian Tidak Akan Bisa Membunuh Suamiku!
14 Bab 14. Rong Wangxia
15 Bab 15. Sudah Mengakui Keberadaannya Di Sini Sebagai Wangfei?
16 Bab 16. Perasaan Yang Ragu
17 Bab 17. Baili Ruyi Yang Ceria
18 Bab 18. Rencana Perjodohan Yang Telah Gagal
19 Bab 19. Mantan Tunangan Rong Wangxia?
20 Bab 20. Wangfei Menangis
21 Bab 22. Menjalani Semuanya Sendirian Memang Lebih Baik
22 Bab 22. Bunga Tua Terakhir Huang Fu
23 Bab 23. Menjalin Bisnis Dengan Wu Guifei
24 Bab 24. Patuhilah Seluruh Perkataanku, Xiang'er ....
25 Bab 25. Tradisi Memakan Buah Suci
26 Bab 26. Penolakan Para Bangsawan Terang-Terangan
27 Bab 27. Jika Wangfei Meminta Kekaisaran Ini Terbalik, Maka Wangye Akan Melakukan
28 Bab 28. Jika Ingin Menjadi Jahat, Maka Jadilah Jahat Sepenuhnya
29 Bab 29. Istana Tidak Akan Bisa Menjangkau Nyawanya, Bahkan Helai Rambutnya
30 Bab 30. Karena Anda, Wangfei
31 Bab 31. Saya Mencintai Anda, Wangye
32 Bab 32. Tenang! Aku Di Sini!
33 Bab 33. Pagi Yang Panas
34 Bab 34. Surat Wu Zeyuan
35 Bab 35. Wangfei Yang Sibuk
36 Bab 36. Bagaimana Jika Saya Mati?
37 Bab 37. Kekayaan Xiao Wangfu
38 Bab 38. Kesepakatan Bisnis Bersama Rong Wangxia
39 Bab 39. Salju Akhir Tahun Yang Dinanti
40 Bab 40. Sang Kunci
41 Bab 41. Perasaan Kacau Rong Xuan
42 Bab 42. Cinta Itu Buta
43 Bab 43. Menjadi Istri Xiao Muqing Yang Sesungguhnya
44 Bab 44. Menikah Denganku, Apalagi?
45 Bab 45. Pandai Memainkan Kondisi dan Kesempatan
46 46. Wangye Berjanji Akan Bertanggung Jawab
47 Bab 47. Keyakinan Hati
48 Bab 48. Peraturan Kecil Wajib Istana
49 Bab 49.Wanita Yang Dia Cintai dan Wanita Yang Memegang Masa Depan Kekaisaran-nya
50 Bab 50. Posisi Sulit Xiao Jihuang
51 Bab 51. Masa Lalu 1: Janji Menjadi Huanghou
52 Bab 52. Masa Lalu 2: Dekrit Pertunangan Xiao Jihuang dan Rong Xuan
53 Bab 53. Cerita Menarik Tuan Muda Rong Yang Patah Hati
54 Bab 54. Aku Tidak Memiliki Hati Untuk Melukaimu, Sayang
55 Bab 55. Entah Saya Yang Gila Atau Dunia Yang Sudah Gila
56 Bab 56. Perubahan
57 Bab 57. Salju dan Kita
58 Bab 58. Tikus-Tikus
59 Bab 59. Aku Akan Menghancurkanmu!
60 Bab 60. Hadiah Salju Akhir Tahun
61 Bab 61. Wanitanya
62 Bab 62. Melupakan Luka Lama
63 Bab 63. Pedang Legendaris Xiao Muqing
64 Bab 64. Dendam Yang Harus Terbayar!
65 Bab 65. Berhasil Mengurus Satu Badai Besar
66 Bab 66. Panas di Musim Dingin
67 Bab 67. Tekad
68 Bab 68. Jantung Tao Tie
69 Bab 69. Anda lah Yang Pertama Kali Merusaknya!
70 Bab 70. Masa Lalu 3 Huang Mingxiang & Huang Liyue
71 Bab 71. Masa Lalu 4 Siapa Yang Akan Menjadi Istri Pangeran Kelima?
72 Bab 72. Masa Lalu 5 Awal Keretakan dan Kebencian
73 Bab 73. Cinta Yang Dewasa
74 Bab 74. Rahasia Kita Berempat
75 Bab 75. Tawa dan Senyum Bahagia
76 Bab 76. Bagaimana Jika Besok Saya Menghilang?
77 Bab 77. Persiapan Menuju Gunung Lang Tao
78 Bab 78. Menguji Cinta Mereka
79 Bab 79. Gunung Lang Tao
80 Bab 80. Latar Belakang Yui
81 Bab 81. Naga Shenlong
82 -VISUAL-
83 Bab 82. Manusia Pilihan Kesayangan Tuhan
84 Bab 83. Kebingungan Para Penduduk
85 Bab 84. Cinta Yang Tulus
86 Bab 85. Bunga Gold God dan Setengah Nyawa
87 Bab 86. Ucapan Cinta Yang Pertama Kali
88 Bab 87. Mengubah Target
89 Bab 88. Tanda Bukti Ketulusan
90 Bab 89. Berdebat di Istana
91 Bab 90. Tidak Akan Pernah Membenci Apa Yang Kamu Sukai
92 Bab 91. Demi Huang Mingxiang
93 Bab 92. Wanita Tercantik di Ibu Kota
94 Bab 93. Terus Menggigit
95 Bab 94. Aku Menyukai Wanita Sepertimu
96 Bab 95. Cantik Seperti Bunga
97 Bab 96. Akhir Yang Bahagia
98 Bab 97. Chen Taifei Agung
99 Bab 98. Air Mata Pertama Yang Diizinkan Muncul
100 Bab 99. Tangan Yang Memberikan Kasih Sayang
101 Bab 100. Perang Sesungguhnya Akan Segera Dimulai
102 Bab 101. Rong Lingxie
103 Bab 102. Ingin Menggunakan Orang Lain Untuk Bertarung Denganku?
104 Bab 103. Permaisuri-ku
105 Bab 104. Kamu Akan Berakhir!
106 Bab 105. Sidang Pengadilan
107 Bab 106. Tanda Cinta Pertama
108 Bab 107. Tunas Baru
109 Bab 108. BonChap: Rong Xuan
110 Bab 109. BonChap: Rong Xuan 2
111 Bab 110. BonChap: Rong Xuan 3
112 Bab 111. BonChap: Rong Xuan 4
113 TERIMA KASIH
114 THE NEXT OF PHOENIX
Episodes

Updated 114 Episodes

1
Bab 1. Dekrit Pernikahan Dengan Xiao Wangye
2
Bab 2. Xiao Wangfu Dikepung Pembunuh!
3
Bab 3. Mengunjungi Xiao Muqing
4
Bab 4. Meyakinkan Xiao Wangye
5
Bab 5. Bakpao Untuk Xiao Wangye
6
Bab 6. Pembunuh 2
7
Bab 7. Saya Akan Membuat Xiao Wangfu Bersinar
8
Bab 8. Hanya Orang-Orang Terpilih Yang Dapat Tinggal Di Xiao Wangfu
9
Bab 9. Apakah Anda Mencintai dan Menyayangi Wangye Dengan Tulus, Wangfei?
10
Bab 10. Berbincang-Bincang Dengan Huangtaihou
11
Bab 11. Menghina Huang Mingxiang, Sama Dengan Menghina Xiao Muqing!
12
Bab 12. Perasaan Xiao Jihuang, Sang Kaisar
13
Bab 13. Kalian Tidak Akan Bisa Membunuh Suamiku!
14
Bab 14. Rong Wangxia
15
Bab 15. Sudah Mengakui Keberadaannya Di Sini Sebagai Wangfei?
16
Bab 16. Perasaan Yang Ragu
17
Bab 17. Baili Ruyi Yang Ceria
18
Bab 18. Rencana Perjodohan Yang Telah Gagal
19
Bab 19. Mantan Tunangan Rong Wangxia?
20
Bab 20. Wangfei Menangis
21
Bab 22. Menjalani Semuanya Sendirian Memang Lebih Baik
22
Bab 22. Bunga Tua Terakhir Huang Fu
23
Bab 23. Menjalin Bisnis Dengan Wu Guifei
24
Bab 24. Patuhilah Seluruh Perkataanku, Xiang'er ....
25
Bab 25. Tradisi Memakan Buah Suci
26
Bab 26. Penolakan Para Bangsawan Terang-Terangan
27
Bab 27. Jika Wangfei Meminta Kekaisaran Ini Terbalik, Maka Wangye Akan Melakukan
28
Bab 28. Jika Ingin Menjadi Jahat, Maka Jadilah Jahat Sepenuhnya
29
Bab 29. Istana Tidak Akan Bisa Menjangkau Nyawanya, Bahkan Helai Rambutnya
30
Bab 30. Karena Anda, Wangfei
31
Bab 31. Saya Mencintai Anda, Wangye
32
Bab 32. Tenang! Aku Di Sini!
33
Bab 33. Pagi Yang Panas
34
Bab 34. Surat Wu Zeyuan
35
Bab 35. Wangfei Yang Sibuk
36
Bab 36. Bagaimana Jika Saya Mati?
37
Bab 37. Kekayaan Xiao Wangfu
38
Bab 38. Kesepakatan Bisnis Bersama Rong Wangxia
39
Bab 39. Salju Akhir Tahun Yang Dinanti
40
Bab 40. Sang Kunci
41
Bab 41. Perasaan Kacau Rong Xuan
42
Bab 42. Cinta Itu Buta
43
Bab 43. Menjadi Istri Xiao Muqing Yang Sesungguhnya
44
Bab 44. Menikah Denganku, Apalagi?
45
Bab 45. Pandai Memainkan Kondisi dan Kesempatan
46
46. Wangye Berjanji Akan Bertanggung Jawab
47
Bab 47. Keyakinan Hati
48
Bab 48. Peraturan Kecil Wajib Istana
49
Bab 49.Wanita Yang Dia Cintai dan Wanita Yang Memegang Masa Depan Kekaisaran-nya
50
Bab 50. Posisi Sulit Xiao Jihuang
51
Bab 51. Masa Lalu 1: Janji Menjadi Huanghou
52
Bab 52. Masa Lalu 2: Dekrit Pertunangan Xiao Jihuang dan Rong Xuan
53
Bab 53. Cerita Menarik Tuan Muda Rong Yang Patah Hati
54
Bab 54. Aku Tidak Memiliki Hati Untuk Melukaimu, Sayang
55
Bab 55. Entah Saya Yang Gila Atau Dunia Yang Sudah Gila
56
Bab 56. Perubahan
57
Bab 57. Salju dan Kita
58
Bab 58. Tikus-Tikus
59
Bab 59. Aku Akan Menghancurkanmu!
60
Bab 60. Hadiah Salju Akhir Tahun
61
Bab 61. Wanitanya
62
Bab 62. Melupakan Luka Lama
63
Bab 63. Pedang Legendaris Xiao Muqing
64
Bab 64. Dendam Yang Harus Terbayar!
65
Bab 65. Berhasil Mengurus Satu Badai Besar
66
Bab 66. Panas di Musim Dingin
67
Bab 67. Tekad
68
Bab 68. Jantung Tao Tie
69
Bab 69. Anda lah Yang Pertama Kali Merusaknya!
70
Bab 70. Masa Lalu 3 Huang Mingxiang & Huang Liyue
71
Bab 71. Masa Lalu 4 Siapa Yang Akan Menjadi Istri Pangeran Kelima?
72
Bab 72. Masa Lalu 5 Awal Keretakan dan Kebencian
73
Bab 73. Cinta Yang Dewasa
74
Bab 74. Rahasia Kita Berempat
75
Bab 75. Tawa dan Senyum Bahagia
76
Bab 76. Bagaimana Jika Besok Saya Menghilang?
77
Bab 77. Persiapan Menuju Gunung Lang Tao
78
Bab 78. Menguji Cinta Mereka
79
Bab 79. Gunung Lang Tao
80
Bab 80. Latar Belakang Yui
81
Bab 81. Naga Shenlong
82
-VISUAL-
83
Bab 82. Manusia Pilihan Kesayangan Tuhan
84
Bab 83. Kebingungan Para Penduduk
85
Bab 84. Cinta Yang Tulus
86
Bab 85. Bunga Gold God dan Setengah Nyawa
87
Bab 86. Ucapan Cinta Yang Pertama Kali
88
Bab 87. Mengubah Target
89
Bab 88. Tanda Bukti Ketulusan
90
Bab 89. Berdebat di Istana
91
Bab 90. Tidak Akan Pernah Membenci Apa Yang Kamu Sukai
92
Bab 91. Demi Huang Mingxiang
93
Bab 92. Wanita Tercantik di Ibu Kota
94
Bab 93. Terus Menggigit
95
Bab 94. Aku Menyukai Wanita Sepertimu
96
Bab 95. Cantik Seperti Bunga
97
Bab 96. Akhir Yang Bahagia
98
Bab 97. Chen Taifei Agung
99
Bab 98. Air Mata Pertama Yang Diizinkan Muncul
100
Bab 99. Tangan Yang Memberikan Kasih Sayang
101
Bab 100. Perang Sesungguhnya Akan Segera Dimulai
102
Bab 101. Rong Lingxie
103
Bab 102. Ingin Menggunakan Orang Lain Untuk Bertarung Denganku?
104
Bab 103. Permaisuri-ku
105
Bab 104. Kamu Akan Berakhir!
106
Bab 105. Sidang Pengadilan
107
Bab 106. Tanda Cinta Pertama
108
Bab 107. Tunas Baru
109
Bab 108. BonChap: Rong Xuan
110
Bab 109. BonChap: Rong Xuan 2
111
Bab 110. BonChap: Rong Xuan 3
112
Bab 111. BonChap: Rong Xuan 4
113
TERIMA KASIH
114
THE NEXT OF PHOENIX

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!