Huang Mingxiang masih belum bisa berpikir jernih. Siapa pria yang merangkul pinggangnya ini? Dia tiba-tiba ditarik naik ke atas kuda dan dibawa menjauh dari para pembunuh itu.
Saat kuda itu terus melaju menjauh, Huang Mingxiang melihat pria berambut perak itu menoleh ke belakang. Bibirnya terlihat menyunggingkan senyum setelah memastikan para pembunuh itu gagal mengejar mereka.
Pria itu mulai mengerutkan keningnya saat merasakan Huang Mingxiang mulai memberontak dari pelukannya. Dia segera menghentikan laju kudanya, tak lama Huang Mingxiang melompat turun.
"Siapa kau?" tanya Huang Mingxiang, keningnya mengerut dalam. Dia tidak terbiasa berada di pelukan sembarang laki-laki. Xiao Muqing suaminya saja belum pernah memeluknya, tetapi pria entah siapa namanya ini berani melakukan hal itu. Jika pria itu adalah penduduk asli kekaisaran Timur, seharusnya dia mengenali Huang Mingxiang.
Pria itu menaikkan alis kirinya. "Justru seharusnya aku yang bertanya seperti itu. Siapa nama anda, Gunniang? Sehingga para pembunuh itu mengejar anda."
Ah ... Benar. Pria itu memang tidak mengenal Huang Mingxiang, sepertinya dia adalah orang asing.
"Itu adalah bisnis milik saya, Tuan. Maaf, saya tidak bisa memberitahukan anda jawabannya. Tetapi terima kasih karena anda telah menolong saya," jawab Huang Mingxiang.
Pria itu mengangguk. "Dilihat dari pakaian mereka, mereka sepertinya pembunuh kelas kakap. Mereka seharusnya disewa oleh orang-orang kaya, wajar jika saya penasaran dengan apa yang anda miliki sehingga orang-orang kaya itu sampai menyewa pembunuh bayaran."
Huang Mingxiang tersenyum tipis, kepalanya menggeleng pelan. "Saya tidak memiliki sesuatu yang berharga, anda tidak perlu penasaran. Tetapi, selain anda yang penasaran, saya juga demikian. Siapa anda? Mengapa tiba-tiba menolong saya?"
Pria berambut perak itu bergegas turun dari kuda, lalu melemparkan senyum lembut ke arah Huang Mingxiang. Rambut panjang berwarna perak milik pria itu berkibar indah karena terpaan angin.
"Nama saya Rong Wangxia, kebetulan saya baru kembali dari negara Barat dan melihat anda diserang oleh para pembunuh, untuk menolong anda mengapa tidak? Itu sebuah kebajikan." Rong Wangxia menyebutkan namanya, membuat Huang Mingxiang tertegun. Tunggu ... marga Rong? Dan ... siapa nama lengkapnya? Rong Wangxia?!
Rong Wangxia, pria itu adalah pewaris tunggal keluarga Rong yang melakukan pendidikan di negara Barat. Kepulangannya ke Timur hanya dua tahun sekali, membuat dirinya jarang dikenali secara fisik, hanya sebatas nama. Tetapi walaupun demikian, kabar mengenai wajahnya yang tampan dan warna rambut pria itu yang indah seperti salju tetap menjadi topik favorit para gadis-gadis.
"Rong? Berarti anda adalah kerabat Huanghou?" tanya Huang Mingxiang.
Rong Wangxia tertegun, dia tidak menyangka bahwa Huang Mingxiang mengetahui ini. Dia kita Huang Mingxiang hanya seorang gadis biasa, tidak mengenal marga-marga para bangsawan. Mendengar ini, Rong Wangxia menyadari bahwa sepertinya Huang Mingxiang juga seorang bangsawan.
Rong Wangxia tersenyum, kepalanya mengangguk lembut. "Benar, saya adalah adik laki-laki Huanghou."
Mendengar jawaban Rong Wangxia, Huang Mingxiang menghela napas. Takdir macam apa ini? Dia diincar pembunuh yang dikirim oleh orang-orang yang tidak senang akan kehadirannya, Huanghou adalah kemungkinan salah satu dari mereka. Tetapi, kini dia ditolong oleh adik musuhnya sendiri?
Melihat Huang Mingxiang menghela napas dengan berat, Rong Wangxia bingung. Ada apa? Apa menjadi adik laki-laki dari seorang Huanghou adalah sebuah keanehan sekarang? Ini reaksi yang tidak pernah dia temukan, karena biasanya orang-orang akan langsung terkejut dan berusaha mendekatinya dengan maksud tertentu.
Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar derap langkah kaki kuda. Rong Wangxia mengesampingkan pikirannya yang barusan, beralih membalik badannya dan menatap penuh waspada ke arah gerombolan kuda yang mendekat.
"Gunniang, mohon tetap di belakang saya."
"Tidak perlu."
"Eh?"
Rong Wangxia menoleh, terkejut. Pasalnya Huang Mingxiang langsung berjalan maju, keluar dari perlindungannya.
Huang Mingxiang, wanita itu hanya memasang raut wajah acuh tak acuh sambil berkata,"Tuan muda Rong, sebaiknya anda kembali ke rumah dan beristirahat. Gunakan ilmu yang kau pelajari di dunia barat dengan baik di sini."
"Wangfei!!" Suara Su Mama berteriak memanggilnya terdengar, para pasukan yang dipimpin oleh Gu Sinjie itu mulai semakin dekat.
Su Mama segera bersimpuh di tanah, menggenggam kedua tangan Huang Mingxiang dan menangis. Dia berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada Dewa.
Gu Sinjie turun dari kuda, kemudian menarik pedangnya dan berdiri di hadapan Huang Mingxiang, lalu menatap tajam Rong Xuan.
"Turunkan pedang anda, Tuan Gu. Dia orang yang menolong saya," ujar Huang Mingxiang, menghentikan kesalahpahaman Gu Sinjie.
Gu Sinjie dengan cepat mengangguk, kemudian memasukkan kembali pedangnya. Gu Sinjie lalu membungkuk ke arah Rong Wangxia. "Terima kasih banyak, Tuan. Pihak Xiao Wangfu pasti akan membalas kebaikan Tuan."
"Xiao Wangfu?" tanya Rong Wangxia, terkejut.
Gu Sinjie mengerutkan keningnya, kemudian mengangguk singkat. "Benar, Xiao Wangfu. Karena anda telah menyelamatkan Wangfei kami, maka pasti kami akan memberikan--" Belum selesai Gu Sinjie bicara, Rong Wangxia memotong dengan nada berseru tertahan.
"Xiao Wangfei??" Mata Rong Wangxia bergeser ke arah Huang Mingxiang. Huang Mingxiang yang ditatap oleh mata Rong Wangxia hanya memasang raut wajah acuh tak acuh.
Gu Sinjie menatap aneh ke arah Rong Wangxia, pria itu kini memilih untuk mengabaikan Rong Wangxia dan beralih membalikkan badannya untuk melihat Huang Mingxiang. Gu Sinjie membungkuk ke arah Huang Mingxiang. "Salam Wangfei, maafkan bawahan ini karena telat menolong anda."
Huang Mingxiang mengangguk singkat. "Tidak masalah, Tuan Gu. Lebih baik ayo kita kembali, sebentar lagi langit akan menjadi gelap, semakin berbahaya."
Gu Sinjie balas mengangguk juga, kemudian berjalan membukakan pintu kereta kuda untuk Huang Mingxiang.
Penampilan Huang Mingxiang sudah sangat berantakan. Kain hanfu yang kotor, sanggul rambut yang berantakan, serta ada beberapa perhiasannya yang hilang. Salah satu tusuk rambut emas miliknya hilang, tetapi tidak mungkin Huang Mingxiang memaksa mencari tusuk rambut itu di situasi seperti ini. Dia lebih memilih mengikhlaskan tusuk rambut tersebut.
Saat Huang Mingxiang telah masuk ke dalam kereta kuda, Gu Sinjie menutup rapat pintunya, setelah itu berjalan ke arah Rong Wangxia dan bertanya,"Jika saya boleh tahu, siapa nama anda, Tuan? Agar Xiao Wangfu dapat mengirim imbalannya ke kediaman anda."
Rong Wangxia menggelengkan kepalanya, bibir pria itu tersenyum canggung sambil meletakkan kedua tangannya di belakang punggung. "Tidak perlu, saya tulus menolong Xiao Wangfei."
Gu Sinjie mengangguk, bibirnya pun sedikit tersenyum. Ternyata pria di hadapannya ini tidak terlalu aneh. "Ah ... seperti itu, baiklah. Tetapi, bolehkah saya tahu nama anda? Agar saya dapat memberitahukan ini kepada atasan saya, Xiao Wangye."
Saat mendengar gelar Xiao Muqing disebut, pria itu langsung teringat kepada pria itu. Dua tahun lalu saat dia kembali kemari, berita mengenai perseteruan Xiao Muqing dengan Kaisar cukup terasa sengit. Dia sesekali ikut dalam menghadiri pertemuan para pejabat kekaisaran, di sana dia melihat pejabat-pejabat itu terbelah menjadi dua kubu. Kaisar dan Xiao Wangye. Xiao Muqing, walaupun pria itu telah lumpuh saat mempertahankan pasukannya, tetapi aura penekanan serta wibawa seorang pemimpinnya tidak pernah luntur. Tiga bulan kemudian, masalah itu selesai. Sampai di situ, Rong Wangxia tidak tahu menahu lagi mengenai masalah tersebut, karena dirinya harus segera kembali ke negara Barat.
"Tentu. Nama saya Rong Wangxia," jawab Rong Wangxia.
Gu Sinjie yang mendengar nama Rong Wangxia pun sedikit terkejut, kemudian mengangguk singkat. "Oh ... ternyata anda adalah Tuan muda Rong sekaligus adik laki-laki Huanghou. Terima kasih banyak, Tuan muda Rong."
Rong Wangxia tertawa tipis. "Benar, tidak masalah Tuan Gu."
Gu Sinjie membungkuk ke arah Rong Wangxia untuk pamit, karena langit sudah semakin gelap. "Kalau begitu, saya pamit undur diri, Tuan Muda Rong. Sekali lagi terima kasih karena telah menolong Wangfei kami, dan ... hati-hati di jalan menuju kediaman anda."
Rong Wangxia sekali lagi mengangguk dan tersenyum. Setelah Gu Sinjie dan rombongannya pergi membawa Huang Mingxiang, pria itu menatap ke arah kereta kuda Huang Mingxiang. Tangan kanan yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang punggungnya, kini telah ia keluarkan kembali. Kini di telapak tangannya terdapat tusuk rambut emas milik Huang Mingxiang, bibirnya tersenyum tipis menatap tusuk rambut itu.
"Sayang sekali, seorang Wangfei."
"Tetapi, tidak masalah jika kita bertemu kembali, bukan? Kita harus bertemu kembali karena anda harus mengambil tusuk rambut ini," sambung Rong Wangxia, matanya menatap dalam tusuk rambut itu.
"Jingchuan." Rong Wangxia memanggil bawahannya, lalu seketika pria dengan pakaian berwarna hijau tua itu muncul di hadapan Rong Wangxia.
"Saya, Tuan muda."
Rong Wangxia memasukkan tusuk rambut itu ke dalam pakaiannya sambil berkata,"Selidiki mengapa wanita itu diincar oleh pembunuh bayaran, karena ada kemungkinan yang menyewa mereka adalah Jiejie-ku."
"Baik, Tuan muda."
"Ya, kalau begitu aku akan bergegas menuju Istana untuk menemui Jiejie. Langit sudah semakin gelap." Rong Wangxia menaiki kudanya kembali, setelah itu melaju cepat meninggalkan bawahannya. Dia akan menemui Rong Xuan, kakak perempuannya yang kini kerap disapa 'Huanghou'.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 114 Episodes
Comments
Onyah Nie
jgn smpe jtuh cinta sma huang ya.. bhya
ayo paman kaisar sehat lah
hncurkan orng2
2023-04-15
1
Shai'er
maksud lo apaan🤨🤨🤨
2023-04-05
0
Shai'er
lha.... ganteng-ganteng kok tukang ngutil Bang 🤦♀️🤦♀️🤦♀️
2023-04-05
1