Wanita berjilbab lebar berhadapan dengan wanita cantik dan seksi. Mereka saling tatap, angin menggulung menerpa wajah keduanya.
Puspa berani mendatangi rumah baru kediaman Noval dan istrinya. Rupanya wanita itu mengikuti Noval ketika pulang kemarin.
"Oh ... pindah ke sini?" decihnya mencibir.
Hafsah mengerutkan kening. Noval tengah mandi, pria itu baru berolah raga. Sebentar siang mereka akan pergi ke rumah atasan Noval karena pria itu mengundang keduanya makan siang bersama.
"Ada perlu apa Mba?" tanya Hafsah basa-basi.
"Noval ... Noval!" teriak Puspa lalu hendak masuk rumah.
Tentu saja Hafsah mencegahnya dengan menghalangi tubuh Puspa.
"Jangan halangi aku perempuan kampung!" hinanya lalu mendorong kuat Hafsah.
Kaki Hafsah yang kuat karena memang ditempuh di pesantren bela diri. Ia bergeming malah tubuh Puspa yang terhuyung karena Hafsah membalik kekuatannya.
"Pergi lah dengan baik-baik Nona ... aku masih menghormatimu sebagai sesama perempuan!" usir Hafsah datar.
"Kurang ajar ... berani-beraninya kau mengusirku!" teriak Puspa.
Wanita itu hendak menyerang Hafsah. Tentu saja istri Noval yang sudah terlalu mengelak dan malah mendorong tubuh Puspa hingga jatuh ke tanah.
"Aarrggh!" pekiknya kesal.
Tenaga Hafsah sangat kuat. Wanita itu menatap datar sesamanya yang memandanginya gusar.
Noval mendengar keributan di luar rumah langsung mendekati sumber. Pria itu melihat Puspa yang terduduk di halamannya, sedang sang istri tampak berdiri dengan tenang.
"Sayang?"
"Noval ... hiks ... hiks ... lihatlah! Perempuan kampungan itu mendorongku!" rengek Puspa.
Mengira Noval akan mendatanginya dengan wajah penuh kekhawatiran. Sayangnya, hal itu hanya ada dipikiran gadis itu.
"Sayang kau tak apa-apa?" tanya Noval pada sang istri.
"Noval!" bentak Puspa tak percaya.
Gadis itu berdiri, ia membersihkan bokongnya. Ia mantap sepasang suami istri itu dengan pandangan kesal.
"Aku bersumpah kau tak akan bahagia Noval!" ujarnya tegas.
Puspa meninggalkan keduanya yang mematung. Ia berharap jika Noval mengejarnya. Tetapi lagi-lagi itu hanya dalam pikirannya saja.
Gadis itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia akan membuat perhitungan dengan Noval terlebih wanita yang menjadi istrinya itu.
"Sudah lama aku tak mengunjungi Mbah Jambrong," gumamnya pelan.
Ia hendak membelokkan ke sebuah kawasan yang cukup sepi. Di sebuah perkampungan pada penduduk. Wanita itu bersiap ingin mengerjai Hafsah dengan bantuan dukun.
Baru saja ia membelokkan kendaraannya ke sebuah jalan berbatu.
"Hueeek!" tiba-tiba ia merasa mual.
Puspa menepikan mobilnya. Ia keluar dan hendak muntah, tetapi yang keluar malah cairan bening yang begitu pahit.
Matanya mendadak berkunang-kunang. Wanita itu memilih masuk mobil. Ia urunh pergi ke rumah dukun yang dulu pernah membantunya untuk mendapat cinta Hardianto, atasannya walau usahanya itu gagal. Karena sampai detik ini Hardianto tak tertarik dengannya.
Sementara itu di rumah Noval. Pria itu menenangkan istrinya. Ia bersumpah jika tak pernah memiliki hubungan khusus dengan wanita cantik di kantornya itu.
"Dulu dia tak pernah mau melihatku!" ungkapnya jujur. "Sama dengan Febi!"
Tiba-tiba ponsel Noval berbunyi. Nomor atasannya tersemat di layar.
"Assalamualaikum Pak?!"
"......?!"
"Iya Pak, kami akan ke sana sebentar lagi!" jawab Noval.
".....!"
"Baik Pak ... wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut pria itu menutup sambungan ponselnya.
"Pak Hardi menanyakan apa kita jadi ke sana?!" ujar Noval.
"Ya sudah ... namanya undangan. Jadi kita harus menghargainya!" angguk Hafsah.
Mereka akhirnya bersiap. Hafsah meminta suaminya untuk mampir ke toko buah. Ia membeli beberapa kilo anggur sebagai buah tangan.
Tak lama, kendaraan Noval memasuki pekarangan mewah kediaman milik Hardianto.
Keduanya disambut tuan rumah dengan ramah.
"Wah jangan repot-repot!" ujar Cassy menerima buah tangan dari Hafsah.
"Wah ... Mama, mau anggur dong!' pinta sang putra.
"Dicuci dulu ya sayang," ujar Cassy lalu menyuruh maid membawa buah itu untuk dibersihkan lalu disiapkan di meja makan.
Ardian sangat antusias memakan buah anggur yang dibawa oleh Hafsah. Wanita itu sampai tersenyum lebar, ia senang pemberiannya dihargai.
"Maaf ya, Adrian memang codot,' ujar Hardianto.
"Tidak apa-apa Pak. Saya malah senang!" ujar Hafsah tersenyum.
Mereka pun memakan buah sambil berbincang. Setelah bercengkrama, mereka pun makan siang bersama.
"Wah ... masakannya mewah sekali!" puji Hafsah.
Udang bakar kecap, lalu ada daging tumis bumbu barbeque. Sayur tumis brokoli dan jagung, ada desert pancake di sana.
"Mari makan-makan!" ajak Hardianto tak sabaran.
Cassy melayani suaminya dan juga putranya. Hafsah mengikuti. Mereka makan dengan tenang tanpa ada yang bersuara.
"Masakannya enak sekali Nyonya!" puji Hafsah jujur.
"Ah .. hanya makanan biasa Hafsah!" ujar Cassy merendah.
Tentu ia tau siapa istri Noval. Setelah makan, Hafsah mencoba membantu membereskan meja. Cassy langsung melarangnya.
"hei ... sudah, biarkan maid yang membersihkannya,"
Cassy membawa Hafsah ke taman bunga miliknya. Di sana Hafsah dimanjakan keindahan dan kerapian tanaman yang berjejer.
"Nyonya ini indah sekali!" puji Hafsah.
"Kau berlebihan Hafsah. Kamu juga bisa membuat ini. Semua ada di internet!" ujar Cassy merendah.
"Ah ... duduk sini. Coba ceritakan bagaimana kau bisa menikahi Noval. Aku dengar, dia pria yang sulit disentuh karena kealimannya," ujar Cassy bertanya.
Hafshah bercerita seperlunya. Ia hanya mengatakan jika dirinya mengenal Noval dari mereka kecil.
"Oh ... jadi kau teman kecilnya Noval?" sahut Cassy semringah.
"Iya Nyonya," ujar Hafshah tersipu.
"Bang Noval memang dari kecil sudah alim," lanjutnya.
Cassy tersenyum, ia memandangi wajah Hafsah yang sangat cantik dan memiliki keteduhan.
"Tante ... kata Om Noval. Tante guru ngaji ya?" tiba-tiba Ardian datang.
"Iya sayang," jawab Hafsah yang memangku Ardian.
"Ajarin aku dong Tante ... aku mau banget bisa ngaji!" pinta bocah tampan itu.
"Boleh. Tante ngajar ngaji setiap hari usai bada ashar," ujar Hasfah senang.
"Nggak mau les bahasa Korea sayang?" tawar Cassy.
"Nggak Ma," jawab bocah itu sambil menggeleng.
"Soalnya nanti pas dikubur yang bertanya pake bahasa Arab bukan Korea," ujar Ardian lagi.
Hafsah hanya tersenyum mendengarnya. Ia tak mau memaksa Cassy untuk mendaftar putranya belajar mengaji di tempatnya. Orang kaya pasti berpikir jika mengaji itu tak penting.
Akhirnya Noval dan Hafsah pamit pulang. Keduanya pergi diantar oleh sepasang suami-isteri itu. Cassy menatap suaminya begitu rupa.
"Ada apa?" tanya pria itu heran.
'Adrian ...," jawab Cassy.
"Kenapa dengan anak itu?" tanya Hardianto lagi.
Adrian tentu sudah tidur siang. Cassy menyuruh putranya.
"Dia mau belajar ngaji di tempat Hafsah mengajar," jawab Cassy.
Hardianto terdiam, ia adalah pria modern. Agama adalah hal kesekian baginya.
"Sudah abaikan saja. Namanya juga anak kecil. Nanti juga dia lupa," ujar pria itu.
"Tapi aku ingin Ardian bisa mengaji ...," ujar Cassy lagi.
Hardianto menatap istrinya. Wanita itu menghela napas panjang.
"Aku ingin Ardian mengajariku mengaji juga nanti," ujarnya lirih.
Bersambung.
Niat baik harus dilakukan ya Mama Cassy!
Next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
1n4
Tambah seru.
2023-06-02
1
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
bagus sekali jawaban Adrian 😁😁😁😁
soa nya yang di bawa mati itu amal ibadah kita dan pahala yang kita perbuat , bukan harta yang kita miliki 🤗🤗🤗🤗🤗
2023-05-05
1
aidernia_Novelia
miris emang jaman sekarang apalagi yang muslim, bayar guru ngaji 200 rb di bilang mahal tapi beli tiket konser keluar sampai jutaan bahkan puluhan juta rido aja tuh 😞😞
2023-05-04
1