MENAHAN GODAAN

Di mana ada semut pastilah ada gula. Itulah pribahasa bagi orang yang suka dengan keindahan. Jika gula habis, semut pun pergi.

Puspa turun dari mobilnya. Sudah lebih setengah tahun pernikahan Noval. Wanita itu selalu gagal menggoda pria berpangkat manager itu.

"Puspa!" wanita itu menoleh.

"Kau ke ruangan ku dulu ya!" pinta Anton salah satu staf petinggi di perusahaannya.

Wanita itu mengangguk, Puspa sangat paham jika pria itu tergoda dengan dandanannya. Ada beberapa staf nakal yang menikmati suguhan tubuhnya itu.

"Pagi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya saat sudah ada di ruangan Anton.

"Kau bawa ini beberapa berkas laporan untuk Pak Hardi, dan coba periksa dulu!" perintahnya.

Anton duduk dan menarik pinggul Puspa hingga duduk dipangkuannya. Wanita itu langsung menegang dan membuka mulutnya karena sesuatu yang tumpul menggesek di bawah sana.

"Pak ... ah!" racaunya mulai terbuai.

Kegiatan mesum itu terjadi sekitar sepuluh menit. Hingga keduanya melenguh dengan nafas menderu. Anton menyandarkan kepalanya di punggung wanita cantik itu.

"Aaah ... nikmat kan?" Puspa mengangguk.

"Pak," mata wanita itu mengharap lebih.

"Untuk saat ini seperti ini dulu ya," ujar Anton.

"Tapi Pak ..., aku belum puas," rengek Puspa.

Ketika bibirnya hendak menyambar bibir Anton. Pria itu mengelak. Ia sudah cukup puas hanya bermain aman tanpa sentuhan bibir atau rangsangan lainnya.

"Pergilah!" suruh pria itu.

Mau tak mau Puspa harus menahan semua hasratnya. Ia benar-benar tak puas jika hanya bermain di luar. Wanita itu melirik OB yang cukup tampan.

"Kau sini!"

Wanita itu tak peduli, ia menarik OB ke sebuah gudang penyimpanan alat-alat kebersihan. Di sana ia memuaskan hasratnya.

Sedang di ruangan lain. Hardi tampak kesal, laporan dari salah satu staf belum diserahkan oleh Puspa.

"Mana anak itu!" dumalnya kesal.

Pria itu mengecek semua kamera pengintai. Di sana ia melihat Puspa tengah berasik masuk dengan salah satu karyawan pria. Hardi menggeleng, sungguh jika bukan karena kepiawaian Puspa, ia pasti sudah menendang jauh perempuan murahan itu.

Dua puluh menit, Puspa datang dengan wajah segar. Ia masuk dan meletakkan map di meja tanpa rasa bersalah.

"Rupanya dia jago juga!" pujinya pelan.

Sedang ob yang "diperkosa" oleh Puspa hanya sedikit shock. Ia tak percaya menikmati indahnya tubuh gadis paling cantik di kantor ini.

"Loh ... Andi?" salah seorang OB masuk gudang.

Pria itu kaget melihat keadaan rekannya yang setengah bugil. Andi buru-buru membenahi pakaiannya. Ia pun berdiri dengan kaki sedikit lemas.

"Kamu kenapa?" tanya rekannya setengah menyelidik.

"Nggak ... nggak ada apa-apa!" jawab cepat Andi.

"Puspa!" bentak Hardi ketika masuk ruangannya.

Perempuan yang punya nama terkejut, ia sampai mencoret pipinya dengan lipstik karena tadi ia tengah menebalkan pemerah di pipinya.

"Dari mana saja kamu tadi!" bentak Hardi.

"Saya ... saya ...."

"Saya menunggu laporan ini di rapat. Tapi kamu malah tidak bawa. Apa kamu sudah lupa tugasmu Puspa!?" bentak Hardi lagi.

Puspa menunduk, ia benar-benar lupa jika harus membawa laporan itu ke ruang rapat.

"Ini ... ini murni bukan kesalahan saya Pak!" bantah wanita itu membela diri.

"Jadi siapa yang kamu mau salahkan?" tanya Hardianto berdesis.

Puspa hendak membuka mulutnya, tapi ia takut pamornya sebagai wanita anggun akan tercoreng di perusahaan. Ia pun urung berkata-kata.

"Ini peringatan terakhir Puspa. Jika kau begini lagi ... aku tak peduli jika Om Surya menegurku akibat memecatmu!" lanjutnya setengah mengancam.

Puspa memang masih kerabat jauh dari istri sang CEO, Hardianto. Pria itu menerima Puspa jadi sekretarisnya karena permintaan sang istri.

Cassy lebih mempercayai Puspa jadi sekretaris suaminya dibanding perempuan lain. Padahal ia tidak tau bagaimana kerasnya usaha Puspa menggoda Hardi.

Makan siang datang, kali ini Hafsah datang ke kantor membawa sedikit banyak makanan.

"Mba tolong ya!' pintanya pada resepsionis.

Dian mengangguk dan membawa sebagian bawaan Hafsah. Mereka berdua masuk lift khusus. Ketika keluar keduanya berpapasan dengan Puspa.

"Wah ... wah ... wah!" ujarnya bertepuk tangan.

"Sudah jadi pesuruh kau Dian?" tanyanya meledek.

"Loh tugasku kan ini? Bahkan kalau Bu Cassy datang bawa banyak paper bag juga aku bawain kok!" sahut Dian yang membuat Puspa kesal.

"Cis ... itu istri boss! Lah ini ...."

"Bu Noval juga istri boss Noval. Pak Noval adalah manager. Semua atasan itu boss kita Puspa!" sahut Dian kesal dengan mata membesar.

Dian melangkah menjauhi Puspa menyusul Hafsah yang malas bersinggungan dengan Puspa.

Di ruangan Noval, tampak Haridanto duduk dan menanti masakan istri dari managernya itu.

"Silahkan diambil duluan Pak!" ujar Noval mempersilahkan.

"Baik ...!" ujar Hardi semangat.

Ia mengambil nasi berikut lauk dan sayur. Setelah membaca doa ia menyuap makanan itu.

"Emmm ... ini enak!" pujinya.

"Baru sesuap pak," kekeh Hafsah malu.

Makanan habis, Hardi bersendawa setelah minum air putih. Semua terkekeh mendengarnya sambil mengucap hamdalah.

"Besok kalian kuundang makan siang ya. Istriku juga jago masak!" ujar pria itu sambil mengusap perutnya.

"Insyaallah Pak," ujar Noval tersenyum.

"Pamit ya Bang, Pak!" ujar Hafsah setelah merapikan peralatan makan.

"Oke ... makasih ya Bu Noval!" ujar Hardi tersenyum.

"Sama-sama Pak!"

Noval mengantar istrinya. Ia yang membawa rantang yang tadi dibawa sang istri. Mobil berhenti di depan lobi. Hafsah naik setelah menerima kunci dari juru valet.

"Daag sayang!" seru Noval melambaikan tangan.

Mobil bergerak meninggalkan halaman kantor. Selama dua menit keluar, tiba-tiba mobil Hafsah disalib satu mobil dan berhenti di depannya.

Hafsah menginjak rem dalam-dalam sebelum terjadi kecelakaan. Beberapa kendaraan mengklakson akibat hal itu.

"Weh!" teriak semua orang pada pengendara mobil yang menghentikan laju mobil Hafsah.

Puspa turun, melihat yang punya mobil adalah wanita seksi dan cantik. Semua urung memarahinya.

"Turun kamu!" teriaknya sambil menggedor pintu mobil Hafsah.

Hafsah membuka pintu. Tangan Puspa hendak menarik jilbab instant yang dikenakan Hafsah. Tapi belum sampai tangan itu menyambar. Hafsah sudah mencekal kuat lengan lurus itu.

"Dasar pelakor!" teriak Puspa.

Semua tentu heran. Wanita berjilbab diteriaki pelakor. Maka semua mulai bergunjing.

"Wah ... nggak nyangka jilbab aja lebar tapi kelakuan sama saja!"

"Iya ... sekarang baju nggak jamin akhlak!" sahut lainnya lagi.

"Siapa yang pelakor Nona? Saya adalah istri sah!" tentang Hafsah sambil menunjukkan cincin kawinya.

Akibat keributan itu jalanan jadi macet. Bersapa petugas polisi meminta dua wanita cantik untuk menyelesaikan masalahnya.

"Saya tidak ada urusan sama dia Pak!" ujar Hafsah.

Wanita itu menaiki mobilnya lalu pergi meninggalkan Puspa begitu saja.

"Bangsat ... kembalikan kekasihku Noval!" teriak Puspa.

Semua ada yang menggeleng ada yang mengangguk. Entah apa yang dipikirkan mereka.

Hafsah sampai rumahnya. Ia langsung berwudhu dan melakukan sholat taubat. Wanita itu menangis akibat tuduhan Puspa yang pasti membuatnya jadi bahan gunjingan sekarang.

"Ya Allah ... lindungilah aku ... lindungilah aku!"

bersambung.

lah ... kasian Hafsah.

Next?

Terpopuler

Comments

linamaulina18

linamaulina18

berarti bini nya Hardi yg pea percaya aj am wanita murahan kyk puspa

2023-05-27

1

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

idih kaga punya muka lu Puspa 😤😤😤😤

2023-05-05

1

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

moga cepat dipecat yak. mm

2023-05-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!