KISAH MASA LALU

"Sah...!" seru sang ibu pada gadis kecil yang tengah menyusun buku-bukunya kedalam tas.

"Ya Mak!"

"Lu udah siapin buku lu Sah?" tanya emak.

"Udah Mak!" jawab Hafsah.

"Ya udah, tunggu bentaran, Emak mo ke warung!" seru emak lagi.

"Iya Mak!" jawab Hafsah lagi, sambil mengingat bahwa tak satupun buku yang tertinggal.

Setelah memastikan, Hafsah keluar dari kamarnya, menuju ruang tamu sambil menunggu Emak pulang dari warung. Kebetulan hari ini Hafsah masuk siang, usai dhuhur baru ia berangkat sekolah.

Namun tiba-tiba pandangannya tertuju pada pohon mangga depan rumah, di lihatnya sebuah layang-layang tersangkut di sana. Jiwa bandel Hafsah tiba-tiba muncul.

"Emak masih lama gak ya?" tanyanya dalam hati.

Kemudian secara perlahan ia keluar rumah melihat kanan kiri, takut Emaknya tiba-tiba muncul. Setelah Hafsah yakin Emaknya masih lama di warung, Hafsah melepas jilbab yang menutupi kepalanya.

Lalu dengan cekatan, ia menaiki pohon mangga, ia angkat tinggi-tinggi roknya, hingga betisnya yang putih terlihat. Sampai di atas, tangannya menjulur menggapai layang-layang.

"Hup... Kena..." layang-layang berada di tangannya.

"Hafsah!!!"

Deg!

"Turun luh!"

Buru-buru Hafsah turun. Setengah melompat dari pohon mangga yang tingginya satu meter.

"Hup!"

Kaki Hafsah mendarat mulus di tanah. Lalu di tatap wajah Emaknya yang memerah menahan amarah dan sedang memegang jilbab yang tadi di lepasnya.

Dengan langkah lebar, Emak langsung menggapai tubuh Hafsah dan menarik bajunya. Setengah terseret, Hafsah terjajar mengikuti langkah emaknya.

Gedebuk!

Hafsah terjatuh. Lalu dengan cepat Emak menyambar sapu.

Dan di pukulinya kaki Hafsah yang putih itu berkali-kali, di bawah terik matahari.

Tiap mulut Hafsah mengaduh maka makin keras pukulan yang ia dapatkan di kakinya.

Hafsah hanya memejamkan mata dan mengigit bibirnya menahan sakit luar biasa.

"Lu tuh, gue sekolahin biar bener, tapi gini balasan lu ke gue??!" sentak Emaknya, "elu berani, buka jilbab lu demi layangan, udah itu elu angkat erok lu, ampe keliatan kulit lu!"

Pukulan demi pukulan terus di rasakan Hafsah di kaki hingga ia tak sadarkan diri. Entah berapa lama ia pingsan ketika dipukuli emaknya.

Mata Hafsah mengerjap, kakinya terasa kebas dan linu. Ia mencoba menggerakkan kakinya, namun terasa sakit sekali. Hafsah mencoba bangkit.

"Ssst... Berbaring aja Sah, jangan banyak bergerak," suara berat yang Hafsah kenali.

Hafsah menatap wajah yang menahan pundaknya, agar tetap berbaring.

"Paklik?" tanya Hafsah.

"Iya," jawab Ustadz Rando lembut, "kakimu mengalami pembengkakan Sah."

"Emak mana Paklik?" tanya Hafsah ketika menyadari bahwa dirinya berada di UGD.

"Emak ada di rumah," ucap Ustadz Rando lembut.

"Mau ke emak aja Paklik, Hafsah gak mau di sini," ujar Hafsah sambil berlinang air mata.

"Udah, sembuh dulu ya," ucap Ustadz Rando menenangkan Hafsah.

"Mak... Emak...huuu... !"

"Ssst...sss... Udah tidur, biar cepat sembuh," ucap ustad Rando sambil membaca doa lalu meniupkan di pucuk kepala Hafsah yang langsung tertidur pulas.

Sedangkan di rumah, sang emak nampak terpekur melihat telapak tangannya yang bergetar. Jika saja Ustadz Rando tak datang mungkin kaki Hafsah bisa tak utuh lagi.

"Ya Allah... Aye apain anak aye ya Allah...?" tanyanya lirih dengan suara bergetar sambil bercucuran airmata.

Ya, Ustadz Rando tengah ke warung untuk membeli minyak goreng, namun niatnya teralihkan ketika melihat kakak iparnya memukuli kaki ponakannya yang tak bergerak dan terbaring di pekarangan rumah.Dengan berlari, ia langsung merampas sapu yang di pegang kakak iparnya.

"Astaghfirullah Mpok Aida!" serunya.

"Biarin! Biar die tau rasa!" seru Emaknya Hafsah.

"Mpok mau Hafsah gak punya kaki!" seru Rando langsung berlari ke arah Hafsah yang bergeming.

"Sah... Sah..." ucap Rando, "astaghfirullah, Hafsah pingsan."

Lalu di gendongnya Hafsah, matanya menatap wajah Aida Harun dengan tajam.

Aida tercekat, tubuhnya terhuyung kebelakang.

"Jika sampai kaki Hafsah dipotong, saya nggak segan-segan bawa Mpok Aida ke kantor polisi!" ujar Rando geram.

Lalu Rando berlari membawa Hafsah, beruntung ada tetangga yang lewat menggunakan motor, lalu mereka pun berlalu dengan kecepatan tinggi ke UGD di puskesmas.

Para tetangga langsung mendatangi Aida yang jatuh bersimpuh. Menolongnya untuk masuk rumah lalu meninggalkannya yang kemudian ia menjerit histeris.

Aida menatap pigura yang berisi foto mediang suaminya. Tak menyangka kekerasannya mengakibatkan sang putri harus dirawat inap selama beberapa hari. Adik iparnya yang mengurus semua.

“Mpok!” panggil pria yang bergelar ustadz itu.

Rando Ahmad Setiawan tiga puluh delapan tahun. Usianya tua dua tahun dari Aida Hasan, ibunya Hafsa. Pria itu juga telah memiliki istri namun belum dikaruniai anak. Rando menghela napas melihat kondisi kakak iparnya.

“Kenapa sampai begini sih Mpok?” tanya Rando miris.

“Aye gelap mata Ndo,” jawab Aida lirih, air matanya tak berhenti turun.

Rando duduk di teras, sedang Aida ada di ruang tamu. Rumah mendiang Nando Rahmat. Rumah sederhana yang dibangun secara bertahap semenjak Nando meninggalkan rumahnya sendiri untuk diberikan pada sang adik.

“Masuklah Ndo,” suruh Aida.

“Maaf Mpok. Saya di luar aja,” tolak pria itu.

Aida diam, ia sangat suka bagaimana adik iparnya itu menghormati dirinya yang sudah janda. Nando hanya sesekali menengok ia dan putrinya. Terkadang pria itu menyelipkan uang untuk jajan Hafsah.

“Dokter bilang kaki Hapsa mengalami pembengkakan Mpok,” ujar pria itu memberitahu.

Aida memejamkan matanya. Sungguh seribu sesal mendera hatinya. Bermaksud ingin mengajari sang putri dengan didikan yang keras malahan membuat anaknya cacat nantinya.

“Beruntung tidak merusak jaringan apapun, sepertinya kulit Hafsah sudah kebal dipukuli ibunya sendiri,” lanjut Rando sedikit berkelakar.

“Nggak lucu Ndo!” sengit Aida malu.

“Maaf,” ujar pria itu pelan namun masih didengar telinga Aida.

“Gue mau jenguk anak gue Ndo,” ujar Aida lagi.

“Buat apa? Buat mukulin dia lagi?” tanya Rando menyindir.

“Ya lu gila aje Ndo. Masa gue tega kek gitu!” seru Aida tak terima.

“Lah tadi sampai anak pingsan dipukuli di bawah terik matahari itu siapa ya?” sindir Rando lagi.

Aida menangis, ia benar-benar menyesal. Tetapi Rando memiliki rencana lain untuk keduanya agar berubah dan menjadi lebih baik.

“Saya akan pisahkan Mpok sama Hafsah,” ujarnya yang membuat tangisan Aida berhenti.

“Apa Lu bilang?” tanyanya sesenggukan.

“Kalian harus dipisahkan sampai kalian sadar dan belajar jika semuanya salah!” terang pria itu lagi.

“Lu mau bawa lari anak gue!?” teriak Aida lagi.

“Iya ... dari pada anak itu mati di tangan ibunya sendiri!” sentak Rando yang membuat Aida bungkam.

“Saya sebentar lagi mau keluar kota selama beberapa minggu. Saya nggak bisa nengokin kalian. Saya takut, Hafsah kembali badung dan Mpok malah membunuhnya!” lanjutnya mulai takut akan pikiranya sediri.

“Ndo!’

“Saya akan masukkan Hafsah ke pesantren!”

“Apa!?”

Bersambung.

Next?

Terpopuler

Comments

kalea rizuky

kalea rizuky

emak gila

2024-05-12

1

𝓓𝓮𝓪

𝓓𝓮𝓪

ati ati mak je warung

2023-05-18

1

𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡

𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡

aduh si emak yang udah mulai marah pengen ketawa tapi takut dosa hihi ✌️

2023-05-16

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!