BEKERJA

Noval kembali bekerja. Pria itu berpakaian rapi sesuai dengan sang istri pilihkan.

"Kenapa aku jadi makin tampan ya?" ujarnya sambil terkekeh.

"Ish ... bang istighfar!" peringat sang istri.

"Iya sayang ... astaghfirullah ... hanya Allah yang maha dari segala maha," ujarnya meralat semua ucapannya.

Hafsah tersenyum, ia mengantarkan sang suami ke teras dan mencium punggung tangan Noval dengan takzim. Pria itu mengecup pucuk kepala istrinya.

"Aku berangkat ya, assalamualaikum!" pamit pria itu.

"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!' balas Hafsah.

Wanita itu melambaikan tangannya. Ia pun masuk dengan berjalan sedikit tertatih. Tadi malam ia mempersembahkan diri seutuhnya pada pria yang telah halal.

"Perih ya," keluhnya lalu menggosok pelan intinya yang memang sakit.

Sementara itu, Noval tersenyum bahagia. Pria itu sangat menikmati apa yang ia rasakan.

"Ah ... belum-belum aku udah kangen istri!" rengeknya sendirian di mobil.

Jika saja tak mengingat pekerjaan yang menumpuk. Noval ingin memutar balik kemudinya dan menerjang wanita halalnya dengan cumbuan panas.

Butuh waktu dua puluh menit, kendaraan Noval sampai di tempat kerjanya. lebih lama lima menit dari biasanya.

"Wah ... tumben telat dikit," sapa salah satu pekerja.

"Iya nih," sahut Noval tersenyum.

Tidak begitu terlambat karena masuk jam kantor hanya tinggal beberapa menit lagi. Pria itu langsung menuju ruang kerjanya.

"Pagi Pak. Kita ditunggu di ruang meeting dua menit lagi!" ujar Febi sekretarisnya.

"Baik, makasih!" ujar pria itu.

Febi, gadis itu melirik jari manis atasannya yang telah melingkar cincin warna putih polos. Gadis itu yakin jika itu cincin pernikahan.

"Bapak sudah menikah?" tanyanya.

"Hah?" Noval menatap tajam pada sosok cantik di depannya.

"Bapak sudah menikah?" tanya Febi lagi dengan mata masih melihat cincin di jemari Noval.

"Iya, saya sudah menikah. Nanti datang ya di selamatan pernikahan saya," ujar Noval menjawab.

Pria itu bergegas ke ruang meeting. Beruntung dia sudah menyiapkan semua tadi malam. Yang paling mengejutkannya adalah Hafsah membantu sedikit pekerjaannya sebelum melakukan proses malam pertama.

"Selamat pagi Pak Noval. Wah ... ini dia pengantin baru kita!" sambut Hardianto, atasan Noval.

"Terima kasih Pak, kemarin sempat hadir di pernikahan saya di kampung," ujar Noval tersenyum.

Beberapa staf menyalami pria itu dan mengucap selamat.

"Enak ya, sekarang pulang udah ada yang nungguin?" goda salah satu staf HRD.

"Sudah-sudah jangan gangguin. Kek kalian nggak pernah aja!" kekeh Hardianto melerai candaan karyawannya.

Puspa ada di sana dengan setelan formal terbaiknya. Walau tak pernah ketat. Tapi wanita itu bisa membuat semua mata terbius dengan kecantikannya.

"Ayo kita mulai rapatnya!" perintah Hardianto lalu duduk di kursi pimpinan.

"Silahkan Pak Noval!" suruhnya kemudian.

Noval pun mengangguk, lalu tak lama ia melaporkan data-data perusahaan.

Tak terasa sudah waktunya makan siang. Beberapa karyawan mulai memenuhi kantin perusahaan.

"Nov ...," pria itu menoleh.

Seorang wanita cantik dan seksi berjalan begitu menggoda. Noval tercenung di tempat. Ia tak bergeming seakan menikmati suguhan di depannya.

"Nov ... kok aku baru tau kau tampan ya?" bisik Puspa.

Jemarinya merayap di kemeja Noval. Dada pria itu naik turun. Sebuah senyum terbit menggoda iman semua pria.

"Apa karena sudah menikah maka. ketampananmu baru terpancar?" bisik Puspa.

Harum tubuh wanita itu sangat menenangkan siapapun. Puspa memang gadis terbaik, ia juga cerdas dengan kemampuan empat bahasa asing atau bisa disebut poliglot.

"Aku sebenarnya menyukaimu," ujarnya sedikit mendes.ah.

Noval mencengkram tangan Hapsa yang berani turun ke bawah lalu menepisnya kuat-kuat.

"Nov?"

"Maaf, saya hanya menyukai istri saya!' tekan pria itu dengan tatapan dingin dan datar.

"Oh ... really?" desis Puspa tak percaya.

"Jangan munafik Noval!' ledeknya.

"Kau dipaksa menikah dengan wanita yang tidak kau cintai bukan?" terka Puspa tepat.

"Bukan urusan kamu!" ujar Noval lalu mengambil jasnya.

"Mau kemana kau?!" Puspa menarik tangan Noval.

Pria itu langsung menghempaskan tangan sang gadis yang cantik dan seksi.

"Saya mau makan siang bersama istri saya!" tekan Noval.

"Noval!" panggil Puspa kesal.

Noval berlalu dan meninggalkan wanita itu. Puspa menghentakkan kakinya kesal. Ia benar-benar mencibir Noval.

"Munafik. Aku yakin kau terangsang tadi!"

Kini ia yang terbakar akan gairahnya sendiri. Puspa memilih pergi dan mencari seseorang yang bisa memuaskannya.

Tadinya ia ingin menggoda Hardianto. Tetapi pria itu sangat dingin dan tak tersentuh. Istri pria itu sangat cantik. Puspa diperingati oleh Hardianto untuk tidak menggodanya jika ingin terus berkarir dengan baik.

Noval mengemudikan lagi mobilnya. Pria itu menekan pedal lebih dalam. Hanya butuh sepuluh menit ia sampai.

"Assalamualaikum!"

Noval langsung masuk. Ia mendapati istrinya tengah menyiapkan hidangan di meja. Pria itu langsung menarik sang istri dan mencium bibirnya rakus.

"Bang," rengek wanita itu.

Napas keduanya menderu. Istirahatnya hanya sepuluh menit.

"Nanti malam lagi ya yang," pintanya.

"Masih perih ini bang," cicit Hafsah lirih.

"Nanti aku beli salep untuk itu," ujar Noval.

"Ayo makan Bang. Aku udah masak makanan kesukaan Abang," ajak Hafsah.

Noval pun duduk. Tak lama keduanya makan dengan tenang, Noval memuji masakan istrinya yang benar-benar lezat.

"Makasih atas makan siangnya ya sayang. Besok-besok, aku akan mengajakmu ke kantor. Jadi pas makan siang kamu bawa makanan ke tempat ku," ujarnya..

Noval kembali mencium istrinya penuh napsu. Hafsah harus menghentikan aksi sang suami.

"Nanti terlambat sayang," peringatnya lembut.

Akhirnya Noval pun pergi ke perusahaannya lagi. Ia memang sedikit terlambat. Tapi Hardianto memaklumi.

"Namanya pengantin baru ... pasti lagi anget-angetnya," kekehnya.

Noval mengelus tengkuknya. Ia kikuk. Tak lama mereka pun sibuk dengan setumpuk pekerjaan.

Sore menjelang, Noval harus sedikit lembur karena memang pekerjaannya menumpuk. Febi sekretarisnya tentu bersama pria itu.

"Alhamdulillah!" seru Noval lega.

Akhirnya tumpukan pekerjaan mereka sudah selesai. Bahkan lolos margin. Hardianto puas dengan kinerja bawahannya itu.

"Akhirnya pulang!"

Noval mengambil jas dan meletakkan di lengan. Febi membantu pria itu.

"Pak ... saya numpang sampe halte ya!' pinta Febi.

"Maaf ya Feb. Sekarang saya adalah pria yang sudah menikah. Jadi sebisa mungkin kita tak seperti dulu lagi ya!" tolak Noval langsung.

Febi mengangguk lemah. Walau ketika bujang Noval juga sering menolaknya untuk mengantar. Tapi gadis itu punya seribu alasan untuk membuat Noval mengantarkannya.

Febi menatap mobil Noval yang melaju kencang. Gadis itu menghapus air matanya yang tiba-tiba menitik.

"Ah ... Pak ... apa bapak tak tau jika saya menyukai bapak dari dulu?" tanyanya lirih.

Febi harus berjalan kaki menuju halte. Sedikit jauh dan ia memakai heels. Sedang Noval harus memaki panjang pendek karena jalanan macet.

"Woy ... buruan ... istri gue nungguin nih!" teriaknya kesal.

Bersambung.

Et dah pengantin baru.

Next?

Terpopuler

Comments

Ainiksj💙

Ainiksj💙

kenapa baru sekarang kamu menyadarinya puspa, kalau naoval itu tampan.

2023-05-15

2

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

harus kuat iman ya karena banyak ulet bulu minta disantet online 😂😂

2023-05-04

0

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

buat pelakor suami orang ntu menantang buat dimiliki 😅

2023-05-04

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!