Hafsah menyiram tanaman. Wanita itu mulai merapikan halaman rumah suaminya dengan berbagai tanaman dan bunga. Kumis kucing dan juga daun bidara.
"Wah ... sore Bu Noval!" sapa tetangga yang lewat.
"Sore juga Bu!" balas Hafsah ramah.
"Wah ... udah berubah aja nih halaman Pak Noval. Udah makin berseri setelah adanya ratu di rumahnya," puji wanita itu.
"Makasih Bu Lia," sahut Hafsah ramah.
"Mari Bu," pamit tetangga itu .
"Mari ...," Hafsah mengangguk dengan senyum lebar.
Setelah menyiram bunga. Wanita itu merapikan lagi selang. Sang suami belum pulang. Masih dua jam lagi kemungkinan malam baru tiba karena jalanan yang macet.
"Macet sayang. Aku sampe kesal!" gerutu sang suami malam itu.
"Ya, Abang kan pulang pas jam kerja. Coba pulangnya agak sedikit lambat atau maghriban dulu di mana. Jadi nggak kelewatan," ujar Hafsah.
Hafsah tersenyum dan meraba perutnya yang masih rata. Ia baru saja dua minggu jadi seorang istri. Tentu berlebihan jika menginginkan seorang anak dalam rahimnya.
"Nikmati aja Mba," celetuk seseorang tiba-tiba.
Hafsah menoleh, rupanya Pak RT sedang berjalan-jalan dengan hewan peliharaannya, anjing.
"Eh ... Pak!" sapa Hafsah ramah.
"Pak Noval masih belum pulang Bu?"
"Ya, belum pak mungkin sebentar lagi," jawab Hafsah.
Hafsah memakai gamis warna hijau army. Ia sangat yakin telah menutup baik auratnya. Tetapi mata pak RT seakan-akan ingin menelanjanginya. Hafsah sedikit risih.
"Saya tinggal ke dalam ya Pak!" pamitnya memutuskan pusat pandangan pak RT.
"Eh!"
Hafsah buru-buru masuk dan menutup pintu. Wanita itu mengelus dada. Ia tak mau berburuk sangka.
"Mungkin Pak RT merasa aneh dengan pakaianku," gumamnya tak peduli.
Sedang di luar pak RT tampak mencibir wanita yang baru saja masuk ke dalam.
"Coba nggak pake jilbab," gumamnya bermonolog.
Pria itu pun pergi setelah hewannya membuang hajat di sana.
Sementara di kantor. Noval harus berjibaku dengan susunan laporan kuartal. Ia akan pulang terlambat.
"Kasih tau istri dulu deh,"
Noval mengambil benda pipih nan canggih itu dan meletakkannya di telinga.
"Halo assalamualaikum sayang!" ujarnya langsung ketika sambungan telepon diangkat.
"Wa'alaikumusalam, iya Bang!" sahut Hafsah di seberang telepon.
"Sayang ... aku cuma mau bilang kalo aku bakalan lembur dan pulang malam," lapornya pada sang istri.
"Oke bang," sahut Hafsah.
Setelah sambungan telepon selesai. Febi menatap Noval atasannya. Pria itu makin tampan setelah menikah. Tubuhnya yang dulu kurus kini mulai berisi dan dandanannya rapi.
Febi menopang dagunya dengan lengan kiri. Menatap sang atasan dari meja kerjanya.
"Bapak makin ganteng," pujinya bergumam.
"Pak ... saya itu dari dulu naksir bapak. Tapi, bapak nggak liat saya padahal saya dandan habis-habisan loh!" lanjutnya masih bermonolog.
Noval yang merasa dirinya diperhatikan langsung melihat siapa yang memandanginya. Rupanya, Febi sang sekretaris tak memalingkan wajahnya.
Febi mengigit bibir bawahnya secara sensual. Gaya yang sama ia lakukan dulu ketika Noval menatapnya.
"Kau kenapa Feb?" tanya pria itu.
Febi bergeming, rupanya gadis itu masih asik dalam fantasi liarnya. Noval mengerutkan keningnya.
Untuk pertama kali ia melihat Febi secara intens. Febi cantik, berkulit kuning Langsat. Hidungnya bangir dengan rambut diwarnai ala blonde. Tubuhnya berisi dengan aset yang sedang.
"Feb!" panggil Noval meninggikan suaranya.
"Eh ... iya pak!" sahutnya tersentak.
"Ngelamun apa kamu sambil melihat saya!?" tanya Noval jijik.
"Saya ... saya ...."
Noval gusar, ia sangat tidak tenang. Dulu ketika bujangan, tak ada satu gadis yang mendekatinya.
"Kalian benar-benar aneh!" sindirnya.
Mereka kembali bekerja secara profesional. Akhirnya, pekerjaan selesai bahkan para direksi sangat puas dengan perhitungan yang dibuat oleh Noval.
"Pak, boleh nanya secara personal nggak?" tanya Febi hati-hati.
"Ada apa Feb?" sahut Noval.
Mereka merapikan meja kerja. Noval sudah rindu istri di rumah.
"Bapak dulu nggak pernah deket sama perempuan. Bahkan di kantor Bapak nggak punya pacar. Tapi pas pulang kok mendadak nikah. Bahkan, sepertinya Bapak kaget dikirim paket undangan nikah dari kampung?" tanya Febi panjang lebar.
"Oh ... aku pulang emang disuruh nikah sama ibuku," jawab Noval cepat.
"Oh dijodohin gitu?" Noval mengangguk.
"Masih jaman ya? Kok mau?" Febi makin kepo.
"Ibu menyuruh, pengantin ada, penghulu siap. Ya, mau diapain lagi. Nikah langsung," jawab Noval.
"Lagian, istri saya adalah teman masa kecil saya," lanjutnya.
"Duluan ya," ujar Noval meninggalkan Febi yang sepertinya ingin bertanya lagi.
"Bapak nggak cinta dong sama istri bapak!" teriak Febi bertanya.
"Cinta ... cinta banget malah!" jawab Noval juga berteriak.
Mobil yang dipakai Noval bergerak. Febi menatap kendaraan itu berlalu begitu saja. Noval benar-benar menjaga jarak dengannya.
Puspa melewati Febi dan masuk ke mobil miliknya sendiri. Gadis itu juga tak begitu dekat dengan rekan kerja wanita manapun di perusahaan ini.
"Oh, jadi Noval dijodohkan," gumam Puspa dalam hati.
Gadis itu hanya mendengar apa yang mau ia dengar. Ia memilih menulikan telinganya dengan pernyataan Noval yang mencintai istrinya.
"Aku akan merebutmu Noval," gumamnya lagi pada diri sendiri.
Pagi menjelang, Hafsah ingin sekali membeli motor untuk bisa pergi ke pasar.
"Boleh ya Bang," pintanya memohon pada suaminya.
"Belanja di sini aja sih Sayang," ujar Noval.
"Ih, harganya masa mahal banget Bang. Tempe di pasar dapet lima ribu satu plastik. Di sini delapan ribu!"
"Sesuai lah sayang, kan dia bawa dari pasar ke sini pake modal," ujar Noval.
Hafsah berhenti meminta. Noval telah melarangnya, maka ia pun menuruti apa kata suaminya.
"Aku nggak suka sama ibu-ibu yang sarapannya makan bangkai saudaranya sendiri," cicitnya yang terdengar di telinga Noval.
"Abaikan saja. Atau kamu bisa minta nomor tukang sayurnya agar disiapkan sebelumnya lalu kamu ambil tinggal bayar," jawab Noval santai.
'Bang ... tukang sayurnya itu laki-laki. Masa iya aku simpen nomor laki-laki selain suami aku?" ungkapnya protes.
"Ya atur sebisa kamu menghindar penggosip itu lah," sahut Noval yang tak lagi dibantah Hafsah.
Noval berangkat kerja, para perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga mulai ribut.
"Bu Noval ... mesra amat ya sama suaminya," ledek salah satu perempuan berdaster.
Hafsah tak menanggapi. Tadinya Noval menawari dia seorang asisten untuk membantunya bekerja di rumah, tapi langsung ia tolak.
"Sayur!"
Seorang pria dengan gerobak berisi banyak sayuran datang. Hafsah langsung mengambil daging, ayam, kentang dan bumbu-bumbu. Setelah membayar ia langsung masuk rumah.
Sementara di kantor, Febi makin berani memakai pakaian seksi begitu juga Puspa. Entah apa yang ingin dipamerkan keduanya.
"Ganti baju kalian!" bentak Hardianto pada dua sekretaris perusahaan itu.
"Ini perusahaan. Bukan bordir!" lanjutnya berang.
Bersambung.
Namanya di komplek mah gitu Sah.
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸
untung atasan nya waras 🤦🏻♀🤦🏻♀
2023-05-11
1
@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸
bakalan di sikat kok ma dek hapsah
2023-05-11
1
Bundanya Robby
lh malah tambah calon bibit nya nov
2023-04-30
1