KE KANTOR SUAMI

Febi, memberikan laporan pada Noval. Sebagai manager HRD. Pria itu menangani sumber daya manusia yang ada di perusahaan. Beberapa data karyawan ada di tangannya. Noval memiliki kekuasaan penuh dalam memindahkan juga memecat karyawan yang tak berkompeten di bidangnya.

Febi menatap atasannya itu dengan pandangan memuja. Gadis itu masih berharap jika Noval memperhatikannya.

"Kau boleh pergi Febi!' perintah Noval yang melihat sekretarisnya bergeming di tempatnya.

"Febi!" sentak Noval yang melihat Febi tak beranjak dari tempatnya.

Febi berjengkit kaget. Gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. Terlihat kemarahan Noval.

"Pergi!" usir Noval lagi.

Febi mundur dengan langkah gemetar. Noval dari dulu tegas, tetapi pria itu tak pernah memperlihatkan kemarahannya.

"Sekali lagi kau berprilaku aneh ...!" Noval menghentikan ucapannya.

"Aku akan memindahkan mu ke kantor cabang yang jauh!" lanjutnya mengancam.

Febi tak menjawab apa-apa. Pekerjaan ini sangat penting baginya. Dipindahkan ke kantor cabang tentu tidak dalam posisinya sebagai sekretaris.

Febi segera mendekati mejanya. Ada satu pembatas yang memisahkan keduanya. Hal itu memang sengaja agar Febi tak selalu melihat Noval bekerja.

Tak lama istirahat tiba. Noval gegas merapikan meja. Istrinya ia suruh mengantar makan siangnya. Ia mau menjemput sang istri yang ada di lobi.

"Pak ... tung ...."

Noval tak mendengar panggilan sekretarisnya itu. Pria itu mempercepat langkahnya menuju lift khusus di sana.

"... nggu ...!' lirih suara Febi melanjutkan kata-katanya yang terpotong tadi.

Gadis itu menghela napas panjang. Bermaksud ingin bersama di lift. Sementara Noval langsung masuk kotak yang ada di depannya.

"Tunggu Pak!" teriak Hardianto.

Noval menahan laju pintu lift. Hardi mempercepat langkahnya.

"Lobi pak?" tanya Noval.

"Iya!" jawab Hardi.

Pintu lift tertutup, di sana Puspa menghentakkan kakinya. Sebagai sekertaris utama ia juga tak memiliki hak untuk masuk dalam lift khusus itu.

Wanita itu melangkah anggun menuju lift yang lainnya. Di sana banyak karyawan yang mau turun bersama.

"Cis ... menjijikkan!" umpatnya pelan sekali.

Sementara itu, Hafsah duduk di sofa tak jauh dari resepsionis. Ia memang sudah tau di mana letak perusahaan suaminya itu.

"Wah, Mba Hafsah rajin masak ya," ujar sosok cantik berbalut dress keluaran butik ternama.

"Iya Bu, demi menyenangkan suami. Saya mau mendapat syurga-Nya Allah," jawab Hafsah dengan senyum indah.

"Wah, saya nggak sempet masak. Maklum, saya juga pekerja. Ini saja mau pergi makan siang di restoran terdekat," ujar Cassy, istri dari Hardianto.

Hafsah hanya tersenyum, tentu ia tak memiliki hak untuk menasihati wanita modern yang cantik ini. Hardianto datang bersama dengan Noval.

"Sayang," panggil Hardianto lalu mencium kening sang istri.

"Kami pergi ya!" pamit Cassy.

"Silahkan Nyonya!" ujar Noval dan Hafsah berbarengan.

"Ayo ke ruangan ku. Kita makan di sana!" ajak Noval.

Pria itu lebih dulu mendatangi resepsionis. Ia meminta jika istrinya datang langsung diantar ke ruangannya.

"Baik Pak!" angguk Desi mengerti.

Hafsah difoto dan akan diberi sebuah kartu identitas khusus agar bisa masuk akses ke lift khusus. Sebenarnya Cassy juga bisa. Tetapi karena mereka hendak pergi maka Hardianto turun.

Noval dan Hafsah berjalan bergandengan. Febi, Puspa dan lainnya baru saja keluar dari lift biasa.

"Noval!" panggil Puspa.

Sayang, pria itu tak menanggapi panggilan wanita cantik itu. Ia tetap membawa istrinya ke lift yang menuju ruangannya.

"Sialan!" gerutu Puspa kesal.

Tak beberapa lama, Noval dan istrinya sampai di lantai paling tinggi di perusahaan tersebut. Hafsah berdecak melihat rancangan yang tersaji di depannya. Begitu mewah dan berkelas.

"Mashaallah ... indahnya!" puji Hafsah kagum.

"Terima kasih sayang," ujar Noval tersenyum.

Keduanya masuk ruangan. Hafsah makin terkagum-kagum dengan semuanya. Kini mereka duduk di sofa. Hafsah menyiapkan makanan untuk suaminya itu.

"Mashaallah ... enaknya masakan istriku!" puji Noval ketika menyuap makanan ke mulutnya.

Hafsah tersipu, wanita itu juga kadang disuapi oleh suaminya. Tak lama makanan habis. Hafsah membersihkan bekas makan mereka.

"Istirahat masih lama sayang," ujar Noval memeluk istrinya.

Hafsah menyandarkan kepalanya di dada sang suami. Tangan keduanya menaut. Noval menciumi wajah sang istri.

"Aku mencintaimu," ungkap Noval jujur.

"Aku juga mencintaimu," sahut Hafsah.

Bibir keduanya saling memilih satu dan lainnya. Noval ingin segera menikmati tubuh halal yang ada dalam pelukannya itu.

"Bang!" peringat Hafsah.

"Kita ada di kantor," lanjutnya dengan napas menderu.

Noval menatap netra coklat gelap milik istrinya. Hidungnya menempel di hidung istrinya. Tak terasa waktu istirahat selesai, tapi Noval tak menyadari.

Febi masuk dan melihat pemandangan intim itu. Hatinya berdenyut sakit.

"Ssshhh!" desisnya.

"Ehem!" dehemnya.

Hafsah terkejut, ia menoleh dan melihat Febi seperti menatapnya penuh permusuhan. Dahinya mengkerut.

"Eh ... ada Mba Febi Bang!' ujar Hafsah mengingatkan suaminya.

Noval melirik sekretarisnya kesal. Ruangan ini cukup besar. Febi bisa langsung masuk ke dalam biliknya yang kecil tanpa mengganggu dirinya yang tengah bermesraan.

"Aku harus pulang Bang!" ujar Hapsah.

"Sayang," rengek pria itu.

"Sayang ... tidak baik menunjuk kemesraan, terlebih ini kantor," peringat Hafsah.

Noval masih merengek, tetapi sebuah kecupan sayang mendarat di pipinya. Hafsah tersenyum dengan pipi memerah, sedang Febi masih setia menonton kemesraan atasannya itu.

"Sayang," Noval tersenyum dan membalas kecupan lama di pipi istrinya.

Hafsah terkekeh, Noval berdiri dan membantu istrinya. Ia menautkan tangan pada tangan sang istri.

Tak mempedulikan tatapan Febi. Hafsah menatap angkuh gadis yang memandanginya penuh kebencian itu.

Tak lama mereka sampai di lobi. Hafsah diantar sampai depan mobil yang memang dibelikan Noval untuknya. Wanita itu sudah bisa menaiki kendaraan itu. Karena di pesantren ia juga mengemudikan kendaraan roda empat milik kepala yayasan.

Mobil itu meluncur. Puspa menelan pedal gas hendak menabrak mobil Hafsah. Sayang, niat jahatnya digagalkan.

Brak! Dengar suara teriakan banyak orang. Noval yang masih ada di lobi ikut berlari.

"Istriku!" teriaknya.

Pria itu lega setelah melihat bukan mobil Hafsah. Keningnya berkerut.

"Kenapa Puspa? Mau kemana dia sampai menabrak pembatas parkir?" gumamnya bertanya.

Pria itu memilih pergi masuk ke ruangannya. Sedang Puspa shock dan dibawa ke rumah sakit.

Sedang di dalam kendaraan lain. Hafsah menjalankan mobilnya dengan bershalawat. Hanya butuh waktu dua puluh menit ia sampai depan rumahnya.

"Alhamdulillah, udah sampai!" ujarnya ketika turun dari kendaraan roda empatnya.

"Wah ... yang baru punya mobil dibeliin suaminya!" sebuah suara penuh ledekan terdengar.

Di sana beberapa wanita berpakaian daster tengah berbisik satu dan lainnya.

Hafsah menghela nafas panjang. Ia menggubris perkataan para wanita yang bekerja sebagai asisten rumah tangga itu.

"Bikin cape di hati," gumamnya pelan.

"Astaghfirullah hal adzim!" ujarnya beristighfar.

Wanita itu masuk dalam rumah diiringi sorakan para perempuan yang mestinya menghormati kaum sesamanya itu.

Bersambung.

Yah ... namanya tinggal di komplek.

next?

Terpopuler

Comments

@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸

@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸

beneran , kirain cuma omongan orang² aja, klo komplek , kolpolan orang melek 😂😂😂

2023-05-11

1

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

syukur lu Puspa 😂😂😂😂😂
Yah begitu lah kalau orang-orang sirik bin kepo Hafsah , kita nya harus banyak-banyak ngelus dada 😁😁😁😁

2023-05-01

1

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

perlu sabar yang meluber Hafsah 😅😅

2023-04-12

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!