BERTEMU

Cuti Noval masih lama. Senin mendatang ia baru mulai bekerja. Sore hari ia mengajak istrinya berbelanja kebutuhan sehari-hari.

"Nggak ke pasar aja?" tanya Hafsah yang turun.

Mereka pergi ke sebuah mall besar di sana. Noval ingin mengganti beberapa perabotan seperti lemari dan tempat tidurnya. Ia telah mengatakan hal itu pada istrinya.

"Kan beli yang lain juga sayang," jawab Noval.

Keduanya bergandengan tangan. Noval memilih pergi ke peralatan rumah tangga. Hafsah langsung dimintanya memilih.

"Tempat tidur di rumah juga masih bagus sayang," ujar wanita itu.

"Terlalu kecil untuk kita berdua sayang," ujar Noval.

"Ini?" tunjuk Hafsah pada sebuah ranjang kayu yang sederhana tapi elegan.

"Ini bagus Nyonya. Harganya juga lumayan, satu set dengan kasur busanya yang juga terbaik!" jelas pramuniaga antusias.

"Saya beli ini!' ujar Noval.

"Baik Tuan!"

Setelah membeli kasur. Mereka pergi ke butik. Gaji Noval yang menyentuh lima digit tentu mampu membelikan istrinya barang-barang bermerek.

"Jangan yang mahal-mahal Bang," tolak Hafsah.

"Nanti dihisapnya lama," lanjutnya takut.

"Kita harus berpenampilan terbaik juga ketika menghadap Allah kan?" Hafsah mengangguk.

"Jadi tak masalah kok!" ujar Noval.

Dua set gamis berada di tangan Hafsah. Sebenarnya Noval menyuruh istrinya membeli lagi tapi ditolak keras.

"Dibeliin baju mahal kok nggak mau!" sindir salah satu pramuniaga berbisik.

"Liat aja, itu gamis entah model kapan. Ketinggalan jaman banget!" bisik salah satunya lagi.

Hafsah menatap dirinya di cermin. Gamis yang ia pakai adalah pemberian istri pemilik pesantren. Memang terkesan tua, tapi masih bagus di mata Hafsah.

"Sudah biarkan saja, yang penting di mata Allah ... bukan manusia!" ujar Noval menenangkan istrinya.

Keduanya pun berlanjut membeli barang-barang lainnya. Noval mengajak istrinya makan di sebuah restoran ternama.

"Ayo sayang," Noval memberinya menu.

Hafsah memesan makanan yang menurutnya mampu mengganjal perutnya.

"Baik, satu porsi soto ayam dan nasi lalu satu porsi steak minuman orange juice dan air mineral?" ujar pelayan membaca pesanan pelanggannya.

"Nggak nyoba sushi sayang? Di sini enak loh?" tawar Noval yang dijawab gelengan oleh Hafsah.

Menunggu pesanan, keduanya terlibat obrolan ringan. Hingga.

"Nov?" pria itu menoleh.

"Eh ... Mba Pus?"

Puspa yang sedang menunggu seseorang melihat salah satu rekan kerjanya. Ia tak melihat sosok cantik yang berada duduk berhadapan dengan Noval.

"Hai kamu ngapain?" tanya wanita itu lalu cipika-cipiki.

Noval sedikit risih, terlebih ada istrinya di sana. Puspa memang berlaku seperti itu pada semua rekan kantor pria tentunya.

"Saya sedang makan dengan istri saya,' jawab Noval tegas menekan kata istri tadi.

"Apa kamu sudah beristri?" tanya Puspa kaget.

"Iya, ini istri saya!" jawab Noval lalu menunjuk istrinya.

Hafsah berdiri, memang Puspa lebih tinggi karena memakai heels.

"Hafsah!" Hafsah memperkenalkan dirinya.

"Hai ... aku Puspa!" ujar Puspa tak menyambut uluran tangan Hafsah.

Netra Puspa menelisik penampilan Hafsah yang sedikit ketinggalan jaman.

"Quel villageois!" (Kampungan!) sindirnya sinis.

"La France c'était aussi un village Miss!" (Prancis juga tadinya sebuah kampung Nona!) sahut Hafsah.

Noval terbengong, terlebih Puspa. Noval sama sekali tak tau apa yang dibicarakan keduanya.

"Je kunt Frans spreken, nietwaar?" (Kau bisa berbahasa Prancis rupanya?!) ujar Puspa mengganti bahasanya.

"Ik studeer juffrouw!" (Saya belajar Nona!) jawab Hafsah lagi.

Puspa benar-benar tak menyangka jika wanita yang bersama rekan sekantornya ini bisa menimpali bahasanya.

"Well ... you gotta smart wife Nov!' ujarnya masih meledek Hafsah.

"I am flattered!" (Aku tersanjung!) ujar Noval bangga.

Puspa memilih pergi dari sana. Ia membatalkan janji temu entah dengan siapa. Rupanya kepintaran Hafsah membuatnya kena mental.

"Tadi kalian bicara apa?" tanya Noval pada istrinya.

Keduanya telah selesai makan siang. Mereka bergandengan tangan. Ranjang yang mereka beli akan diantar besok hari.

"Dia ngatain aku kampungan Bang," jawab Hafsah frontal dan jujur.

Noval meminta maaf pada istrinya. Hafsah tak masalah. Dirinya yang berasal dari kampung terlebih lulusan pondok pesantren. Tentu membuatnya jauh dari kata pergaulan.

"Aku memang terbatas pergaulan. Tapi aku melek informasi dan juga teknologi. Hanya saja kami para santri diajari mendalami agama dibanding itu semua," jelas wanita yang masih gadis itu.

Mobil perlahan meninggalkan halaman parkir. Hanya butuh lima belas menit mereka sampai di hunian mereka.

Sementara itu Puspa kini duduk di flat mewah miliknya. Wanita itu menghisap rokok dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.

Asap mengepul dan mengotori udara sekitar. Tak lama bel pintunya berbunyi. Ia sedikit malas beranjak membuka pintu unitnya.

'Hai sayang ... kenapa kau malah pulang. Padahal aku sudah hampir sampai tadi!' ujar pria itu lalu keduanya berciuman.

"Aku sedikit malas," jawab wanita itu.

'Ini kita makan dulu, baru kita mulai sesi panas kita ya!' ajak pria itu lalu mengendusi leher jenjang Puspa.

"Sayang," rengek wanita cantik itu.

Keduanya pun makan bersama, lalu tak lama ruangan itu mulai panas akibat aksi keduanya yang saling mencumbu satu dan lainnya.

Dua puluh menit berselang. Si pria tampak lelah dan terkapar di ranjang. Selimut menutupi tubuh gendut pria itu.

Puspa kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. Percintaannya memang panas hingga ia mencapai klimaksnya beberapa kali.

"Kau memang bisa memuaskan aku," gumamnya pelan.

Puspa mengingat siapa Noval. Pria rekan sejawat yang ia kenal. Sosok Noval yang pendiam dan alim tak membuatnya tertarik.

Selama Noval bujang. Puspa tak melihat sama sekali pria yang tadi ditemuinya.

'Kenapa dia tampan sekali?" tanyanya dalam hati.

Lalu ia teringat sempat mendapati beberapa kali tatapan Noval padanya.

"Sepertinya dulu ia menyukaiku?" lagi-lagi ia bergumam dalam hati.

Ditatapnya pria yang tengah mendengkur di sisinya itu. Jien Chia adalah pria keturunan Tionghoa. Ia memang masih lajang diusianya yang telah kepala tiga.

"Sepertinya menarik jika menggoda pria beristri?" gumam Puspa lagi sambil tersenyum penuh arti.

Sementara itu, Hafsah baru saja keramas. Ia sudah bersih dari siklusnya. Bahkan ia meminta Noval menjadi imamnya saat sholat isya berjamaah untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri.

"Bang," Hafsah mencium punggung tangan pria yang telah halal itu.

Noval mengecup mesra pucuk kepala istrinya itu.

"Bang setor hafalan!' ujar wanita itu yang membuat Noval menggaruk pelipisnya.

"Sayang ...," panggilnya sedikit malu.

"Jujur aku hanya hafal juz amma'," lanjutnya lirih.

"Ya nggak apa-apa, aku setor juz amma'," sahut Hafsah bersikukuh.

Noval mengangguk, Hafsah memulai baca surah yang umum yakni Al-Ikhlas. Tentu suara Hafsah merdu terdengar. Tak ada yang salah karena memang Noval tidak mengerti.

"Tidak apa-apa Bang. Kita belajar sama-sama ya," ujar Hafsah menenangkan suaminya.

bersambung.

Wah ... ada ulet bulu nih.

next?

Terpopuler

Comments

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

hafshah pintar banget.. kena mental tuh sni mpus 🤣🤣

2023-05-04

1

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

ilmu agama dan melek teknologi penting banget jaman sekarang.. jangan sampe karena terlalu pintar Kita sombong gitu

2023-05-04

1

linamaulina18

linamaulina18

kapok kmu MK nya jgn d liat dr cassing nya aja,

2023-05-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!