Senin pagi datang, Noval sudah rapi. Hafsah merapikan dasi suaminya. Sebuah kecupan ringan di bibir keduanya lalu dua sudut ditarik ke atas.
"I love you my wife!"
"I love you too my hubby!"
"Ah ... aku nggak masuk ya!" rengek Noval.
"Ih ... Abang," rengek Hafsah juga.
Keduanya berpelukan sambil saling menggoyangkan badan lalu tertawa bersama.
Dengan hati dan langkah berat. Noval akhirnya pergi ke kantor. Hafsah melambaikan tangannya seiring perginya kendaraan Noval.
"Bismillahirrahmanirrahim, semoga dipermudah ya Allah!" harap Hafsah.
Wanita itu mulai memasak. Sebuah hidangan lezat tercipta dua jam kemudian. Noval akan pulang untuk makan siang, jadi Hafsah tak perlu datang ke kantor suaminya.
Dua jam selesai masak. Hafsah membersihkan rumah, dari menyapu dan mengepel, cuci baju dan menjemur. Selesai ia mulai menyetrika pakaian yang sudah menggunung.
"Mashaallah ... ternyata seberat ini menikah ya ... pekerjaan yang tadi ada gaji tapi ganjarannya syurga-Nya Allah bagi yang ikhlas," monolognya.
Hafsah merentangkan otot-otot di tubuhnya. Menggosok pinggang yang sedikit sakit karena menggosok pakaian.
"Mashaallah sudah jam sebelas?!" teriaknya kaget ketika melihat benda bulat yang menempel di dinding.
"Belum mandi lagi!" keluhnya.
Bayang-bayang bisa mengajar ngaji setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah perlahan menghilang. Hafsah menghela napas panjang.
"Mandi dulu, sambut suami lebih penting dari apapun!" lagi-lagi ia bermonolog.
Hafsah memilih bajunya. Setelah mengenakan gamis yang bagus. Ia pun mulai bercermin sambil berdoa.
Allahumma kamaa hassanta kholqii fahassin khuluqii.
Artinya: "Ya Tuhanku, sebagaimana telah Kau baguskan kejadianku, maka baguskanlah perangaiku."
Dengan sedikit berdandan, ia mencium seluruh tubuhnya. Mengerutkan keningnya.
"Nggak bau kan?" tanyanya pada diri sendiri.
Wanita itu bersiap untuk menyambut sang suami dengan hati berbunga dan senyum yang cerah.
Tik ... tok ... tik ... tok ... tik ... tok!
Jam berlalu, hingga adzan dhuhur selesai. Noval belum juga pulang. Hafsah ingin segera sholat. Tapi takut ketika suaminya datang malah ia tak menyambutnya.
"Tunggu sebentar lagi mungkin ya, baik sholatnya jamaah," lagi dan lagi ia bermonolog.
Hingga jarum pendek dan panjang menyentuh angka satu. Noval belum juga datang.
Hafsah pun gegas mengambil wudhu. Ia sangat yakin jika suaminya tak pulang untuk makan siang.
Sedang di kantor. Noval harus bekerja dua kali lipat karena laporan yang dibuat sekretarisnya salah semua.
"Kau ini seperti baru belajar berhitung atau apa!" bentaknya.
Febi hanya menunduk, ia meremas jemarinya. Gadis itu memakai kemeja putih lengan pendek dan juga rok span.
Sengaja memperlihatkan ruam-ruam yang membekas di tubuhnya dengan maksud sang atasan bersimpati padanya.
Namun, hingga makan siang datang. Noval sama sekali tak menanyakan hal itu.
"Kamu masih mau bekerja di sini tidak!" bentak Noval keras.
Map tebal berisi laporan asal milik Febi dibanting hingga menimbulkan bunyi berdebam.
"Keluar kau dari ruangan saya!" usir Noval berteriak.
Febi bergeming, kaki gadis itu gemetaran. Ia terisak perlahan.
"Malah nangis lagi! Keluar!" bentak Noval kejam.
Febi perlahan keluar. Ia benar-benar menangis pilu ketika sampai di luar ruangan. Beberapa karyawan menenangkan gadis itu.
"Udah ... jangan nangis. Ini pertama kali loh kamu dimarahin sedemikian rupa sama boss Noval,"
"Emang kenapa sih?" tanya salah satu mulai kepo.
"Eh .. ini biru-biru kenapa ... kamu dipukuli siapa?" tanya lainnya lagi.
"Ini nggak mungkin Boss Noval pelakunya!" sahut lainnya lagi.
"Ada apa ini?" Hardianto datang menggandeng istri dan putranya.
"Eh ... nangis?" Cassy mendekati Febi dan menenangkan gadis itu.
Hardianto adalah sosok yang tidak mau kinerja bawahannya tak sesuai. Pria itu menyuruh istrinya pergi ke ruangannya.
"Aku menemui Noval dulu!" ujarnya menjelaskan.
Pria itu masuk, ia melihat Noval yang mengurut pelipisnya. Hardianto juga melihat bagaimana kekesalan Noval melihat file di tangannya.
"Tenang dulu Bro ... ada apa?" tanya Hardi lalu mendekati Noval.
"Lihat kerjaannya si Febi!" Noval menyerahkan berkas laporan gadis itu.
"Astaga ... apa dia tidak bisa berhitung?" Hardianto sangat terkejut setelah melihat laporan itu.
"Febi ... masuk kamu!" teriak Haridanto.
Febi menutup mata. Berniat untuk mencegah Noval pulang. Malah ia kini mendapat masalah besar.
Gadis itu masuk, Hardianto menatap sekretaris itu dengan pandangan kesal. Ia mengambil gagang interkom di meja Noval.
"Halo Puspa ... datang ke ruangan Noval sekarang!" perintahnya.
Puspa datang lima menit kemudian. Dua tumpuk file berada di tangan wanita itu.
"Kerjakan itu dan selesaikan semuanya sebelum waktu pulang!" perintahnya.
"Tuan ... ini kan bukan bagian saya!" rengek Puspa manja.
Hardianto melotot, Puspa mengigit pelan bibirnya.
"Kerjakan sebelum kau kupecat!" ancam Hardianto tak main-main.
Pria itu pergi, Puspa melihat berkas di tangannya.
"Hell ****!" teriaknya tak percaya.
Puspa mendengkus ketika menatap Febi.
"Apa kau anak TK?" cibirnya bertanya.
Febi hanya bisa menunduk malu. Ia bukan tandingan Puspa jika bicara. Kini mereka harus segera mengerjakan berkas itu sebelum waktu pulang.
"Akhirnya!" seru Noval menghela napas lega.
Tepat sepuluh menit ia dan dua sekretaris mengerjakan kesalahan fatal yang dibuat Febi.
"Aku pergi!" ujar Puspa lalu meninggalkan ruangan itu.
Noval kembali memeriksa laporan yang baru dikerjakan tadi. Febi mendekat pria itu lalu ....
Grep! Gadis itu memeluk pinggang Noval dari belakang. Pipinya ia tempelkan di punggung pria pujaannya itu.
"Pak aku mencintaimu ... tolong lihat aku Pak!" ujarnya lirih.
Lingkaran tangan Febi dicekal dan dilepaskan dari pinggang Noval. Pria itu berbalik.
"Kau mulai kurang ajar ya?" ujarnya dengan muka merah padam.
"Pak ... apa bagusnya dia ... aku lebih baik dari dia!" sentak Febi mulai seperti orang kesurupan.
"Maksudmu?"
"Kau tau ... kemarin malam, aku sangat butuh pertolonganmu!" Noval mengerutkan keningnya.
"Tapi perempuan itu justru yang mengangkat telepon dariku! Aku sangat yakin jika dia tak bilang jika aku menangis saat itu!" lajunya menuduh.
"Febi ...."
"Aku mencintaimu Noval. Dari awal aku melihatmu aku sudah mencintaimu!"
"Febi!" bentak Noval marah.
Febi seperti orang stress. Gadis itu tiba-tiba berjinjit dan hendak mencium bibir Noval. Dengan gesit Noval menghempas Febi hingga terjatuh.
Di saat itu bersamaan Hardianto datang. Febi memutar otak cepat.
"Aku sudah bilang jika aku tidak mau, Pak ... tapi kenapa kau melakukannya!" teriaknya sambil menatap Noval dengan pandangan berkaca-kaca.
"Nov?" Hardianto mendekat.
"Pak ... Pak Noval hendak melecehkan saya!" lapor Febi langsung.
"Itu fitnah Pak!" sanggah Noval langsung.
Febi histeris, Cassy datang bersama putranya. Wanita itu langsung panik. Hardianto menggendong putranya. Kejadian begitu cepat.
Cassy membawa Febi yang meraung. Sedang Noval seperti bingung. Terdengar teriakan Hardianto memanggil Noval.
"Sebelum masalah ini selesai kau harus beri penjelasan!" tekan Hardi.
"Baik Pak!' ujar Noval tegas.
Sedang di rumah, Hafsah tampak cemas. Wanita itu melihat jam yang ada di dinding.
"Ya Allah ... lindungilah suamiku!"
bersambung.
Weh?
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
si Feby nyari gara-gara doa , bosan hidup lah 🤔🤔🤔🤔
mencintai seseorang boleh , tapi kaga baik Kao terlalu berlebihan 😁😁😁😁😁
2023-05-05
2
aidernia_Novelia
jago akting juga nih pelakor
2023-05-04
1
aidernia_Novelia
pentingnya CCTV nih
2023-05-04
1