KEMBALI KE KOTA

Setelah subuh Hafsah memasukkan baju-bajunya dalam koper. Gadis itu memang belum banyak pakaian yang ia miliki hanya beberapa potong gamis dan beberapa pakaian tidur. Selebihnya adalah produk perawatan kulit.

Noval membantu istrinya memasukkan sendiri pakaiannya dalam koper.

"Sudah jangan dibawa semua. Nanti kita beli baru di sana," ujar Noval ketika Hafsah kebingungan dengan sisa bajunya.

"Iya Bang," sahut Hafsah.

Lalu Noval membawa dua koper ke luar dan dimasukkan ke bagasi mobilnya. Beberapa tetangga datang mengantar mereka kembali.

"Ih Bu Aminah nggak bilang kalo punya anak cowo ganteng!" kekeh salah satu ibu menggoda Noval.

"Datang-datang malah langsung dikawinin sama Hafsah!" lanjutnya masih menyindir.

"Ya suka-suka saya dong Bu, kan anak, anak saya!" sahut Aminah keki.

"Hush ... udah ah Bu, nggak usah diladenin. Nambah dosa," peringat Hafsah menenangkan mertuanya itu.

Aminah cemberut, lalu sepasang pengantin baru itu memeluknya erat. Aminah menciumi keduanya dengan penuh kasih sayang.

"Sampai sana langsung kasih kabar ya!" pinta wanita itu.

"Iya Bu, maaf ngerepotin sampai tujuh hariannya emak," ujar Hafsah sedih.

"Ssstt ... jangan gitu ngomongnya ah. Ibu sekarang adalah ibu kamu juga, jadi jangan sungkan ya. Ibu pasti akan adakan acara selamatan ini sampai seratus hari kepergian ibumu," janji Aminah.

Mobil bergerak keluar halaman besar itu. Beberapa tetangga ikut melambaikan tangannya. Mereka hadir untuk membantu Aminah menyiapkan acara pengajian hingga lima hari ke depan.

Hafsah menatap hamparan padi di sisi kirinya. Kampung halaman yang penuh kenangan bersama ibunya. Ayahnya meninggal diusianya masih balita.

"Sayang, jangan nangis ... nanti kita pasti ke sini lagi kok!" ujar Noval menjulurkan tangannya lalu membelai kepala sang istri yang terbungkus hijab.

"Iya Bang. Aku hanya mengingat kenangan ku di sini," ujar Hafsah lalu menghapus cepat air matanya.

Noval tersenyum, ia tentu tau apa yang dirasakan istrinya sekarang. Tadi sebelum subuh, ia bertanya pada sang ibu kenapa memilih Hafsah untuk dijadikan istrinya.

"Karena Ibu langsung terpesona pada kealiman dan juga kecantikannya. Mashaallah, ibu sampai nggak bisa tidur demi menjaga namanya terukir dan menjadikan menantu ibu!" jawab Aminah.

"Kenapa ibu yakin aku mau menerimanya?" tanya Noval kemudian.

"Masa kamu nolak gadis cantik seperti Hafsah?" Aminah balik bertanya.

Noval tentu menggeleng cepat. Ia sangat mengenal teman masa kecilnya itu. Walau Hafsah anak yang sangat tomboi dan bar-bar. Hafsah murid teladan dan juga pintar dalam pendidikannya.

"Kamu juga kenapa langsung mau menikah dengan Hafsah?' tanya Aminah.

Noval tersadar dari lamunannya. Ia menatap sang istri yang kini coba memejamkan mata. Wanita yang masih gadis itu memang sangat cantik. Tutur katanya lembut dan suaranya merdu.

Noval masih penasaran dengan gadis yang ia nikahi itu. Tapi yang ia sangat yakin adalah jika Hafsah sangat cantik.

"Dia cantik," gumamnya.

"Abang bilang sesuatu?" Hafsah bertanya dengan suara lembut.

Noval meminggirkan mobilnya. Ia memang tak bisa jika tak mengecup bibir istrinya. Hafsah sampai harus menghentikan aksi suaminya itu.

"Bang," rengeknya.

Bibir Hafsah sudah bengkak akibat perbuatan Noval, suaminya. Ia mengelus wajah tampan yang telah sah ia sentuh.

"Aku cinta kamu!" ungkap Noval jujur.

Hafsah menatap netra pekat di depannya. Ia tentu tak yakin dengan perasaan yang baru saja diungkapkan oleh Noval.

"Secepat itu?" tanyanya lirih.

"Apa mesti ada waktu?" tanya Noval kini.

"Aku tidak tau kapannya. Tapi aku yakin jika aku jatuh cinta sama kamu! Teman kecilku!" Noval kembali mengecup bibir istrinya.

"Bang," rengek Hafsah yang mulai terbuai dengan kelakuan suaminya.

"Tunggu besok ya," ujarnya.

"Aku akan menyerahkan penuh pada Abang," lanjutnya lirih.

Noval mengangguk, ia memang tak tahan untuk tidak menyentuh istrinya. Dalam perjalanan ke kota, sudah lebih dari sepuluh kali ia berhenti hanya sekedar mencium pipi sang istri.

Butuh waktu dua jam lebih. Mobil masuk dalam perumahan cukup elit. Tentu saja gaji Noval mampu membayar hunian yang berharga satu miliar itu. Terlebih orang tuanya juga terbilang cukup kaya di desanya.

Mobil masuk carport. Halaman Noval tanpa pagar karena semua rumah memang tak berpagar. Seperti rumah-rumah di luar negeri.

Hanya ada tembok pembatas saja antara tetangga. Mereka turun dari mobil bersamaan.

Noval membuka pintu, Hafsah masuk dan mengucap salam.

"Assalamualaikum!"

"Wa'alaikumusalam!" sambut Noval tersenyum.

Hafsah melihat dekorasi dengan warna domina abu-abu. Benda-benda hiasan ruang yang diatur sesuai ukuran. Noval adalah pria perfeksionis.

Pria itu tentu begitu teliti menjaga tempat tinggalnya sedemikian rupa.

'Jika kau memimpikan hunian yang lain, kau bisa merubahnya sayang," ujar Noval lalu memeluk istrinya dari belakang.

Hafsah menggeleng. Mendapat hunian sendiri tanpa mengontrak membuatnya bersyukur. Ia tak perlu susah payah membagi penghasilannya untuk membayar kontrakan.

"Aku suka Bang," ujarnya senang.

Setelah menyusun semua baju dalam lemari. Noval yang memasak memanggil istrinya.

'Kok Abang yang masak?" tanya Hafsah malu sendiri.

"Loh bukankah suami bertugas untuk memberi makan istrinya? Ini adalah salah satu tugas suami," jawab Noval.

Hafsah tersenyum lebar. Ia senang sang suami tau apa kewajibannya sebagai kepala rumah tangga. Memastikan istrinya cukup sandang, papan dan pangan.

"Kalau begitu nanti-nanti, biar aku ikut andil ya Bang. Aku juga mau masuk surga karena melayani suami," ujar gadis itu.

Noval mengecup mesra kening istrinya. Ia adalah pria berpikiran terbuka. Tak masalah baginya pekerjaan rumah tangga ia kerjakan juga.

"Kita kerjakan sama-sama sayang. Aku tak akan membebanimu," ujarnya menjanjikan kenyamanan bagi wanita yang baru ia nikahi beberapa hari lalu itu.

Keduanya makan dengan tenang, kadang saling suap. Hafsah merasa dihargai dan sangat dicintai di sana.

"Aku bertekad membuatmu jatuh cinta padaku sayang!" ujar Noval mencium punggung tangan istrinya lembut.

"Aku pasti mencintaimu Bang ... aku pasti mencintaimu!" ujar Hafsah meyakinkan sang suami.

"Terima kasih sayang," ujar Noval.

"Aku mau siram halaman ya," ujar Hafsah.

"Nggak usah. Ganti bajumu. Kita lapor ke RT RW setempat," ajak Noval.

Setelah bercanda karena menggoda satu sama lainnya. Keduanya berangkat ke tempat ketua RT untuk melaporkan kedatangan Hafsah sebagai istri Noval.

"Oh, jadi Pak Noval kemarin pulang itu menikah toh!" seru Toto semringah ketika memperkenalkan Hafsah.

'Iya Pak, ini istri saya," ujar Noval memperkenalkan istrinya.

Hafsah mengatup dua tangan di dada sebagai perkenalan. Tentu saja Toto sedikit kikuk karena ia tadi mengulurkan tangannya.

"Eh iya Bu Noval!' kekeh pria itu.

'Jadi nanti kartu KK nya nggak Pak Noval sendiri, tapi udah ada istri ya?" lanjutnya.

Setelah berbincang sedikit mereka pun pamit pulang. Hafsah diberi surat untuk kepengurusan KTPnya.

"Alhamdulillah, akhirnya bisa meluk kamu tanpa takut digerebek warga!" seloroh Noval.

'Ih ... abang ah!" cebik Hafsah manja.

Bersambung.

next?

Terpopuler

Comments

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

dengan bersyukur nanti rezeki tambah banyak

2023-05-04

1

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

samawa yak..

2023-05-04

1

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

ka ada Noval nya lagi kaga ka 🤔🤔🤔🤔🤔 aku mau satu buat di bawa pulang 😂😂😂😂😂🙈

2023-04-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!