Beberapa hari ini, Rando sibuk mengurusi keponakannya, ia berencana memindahkan sekolah Hafsah ke pondok pesantren tempat ia menimba ilmu dulu.
Berkali-kali Aida memohon untuk di pertemukan pada putrinya, namun selalu di tolak oleh Rando.
"Buat apa mpok nemuin Hafsah?" tanya Rando dengan mimik garang, "mau mukulin dia lagi?"
"Ya, Allah Ndo, aye begitu juge ade alasannye," jawab Aida memelas.
"Apapun alasannya, Mpok Aida mestinya tak sejahat itu," ucap Rando mengindahkan permintaan Aida, kakak iparnya.
Sedangkan pada Hafsah, Rando pun berlaku sama, tak mengijinkan ponakannya bertemu ibunya.
"Buat apa?" tanya Rando ketus, "biar bisa panjat pohon lagi?"
Rando bertekad memisahkan keduanya, walau dibilang biang tega oleh kakak ipar juga ponakannya. Namun ia sangat yakin jika Hafsah dan Aida tidak akan merubah perangainya.
Hafsah sudah sembuh kakinya. Ia boleh pulang, tetapi Rando tak membawanya pulang ke rumah ibuya ia menitipkan anak perempuan itu ke pondok pesatren di mana dulu ia menimba ilmu.
"Pokoknya, kalian gak boleh ketemu, sebelum kalian merubah sifat kalian!" seru Rando penuh penekanan.
"Aye janji Ndo," ujar sang kakak ipar sambil berurai airnata.
"Bohong!" seru Rando dan pergi meninggalkan Aida sambil menghiraukan teriak dan tangisannya.
“Rando!” bentak Aida marah.
“Aida!” Rando membalas bentakan bentakan kakak iparnya itu.
“Saya mau pergi besok selama dua minggu. Saya nggak bisa menjamin keselamatan Hafsah di tangan Mpok Aida. Karena baru saja kakinya sembuh. Anak itu sudah mau manjat pohon rumah sakit demi layangan,” jelas Rando sambil menghela napas panjang mengingat kelakuan keponakan semata wayangnya itu.
“Ape ... anak itu ya! Belum puas apa gue gebukin kakinya!” teriak Aida mulai emosi.
Rando menatap datar perempuan yang masih saja cantik itu. Entah berapa banyak bujang maupun duda melamarnya. Aida selalu punya cara menolaknya. Selain ia yang bersifat bar-bar.
“Eh ... maksud gue bukan gitu, Ndo,” ralatnya dengan senyum kikuk.
“Udah ... saya udah paham dengan kelakuan kalian berdua,” tekan pria itu lalu meninggalkan Aida.
Wanita itu tercenung, ia memang terlalu keras dengan putrinya, ia sangat takut dengan tanggung jawab, terlebih Hafsah adalah anak perempuan.
“Ya Allah ... ape aye terlalu keras ama anak aye?” monolognya.
“Tapi aye takut anak aye Hafsah salah jalan,” lanjutnya lagi lalu titik bening.
Perempuan itu sangat yakin jika adik iparnya itu akan memenuhi janjinya memisahkan ia dan putrinya, Hafsah.
“Ya Allah Nak ... emak kangen. Tapi kalo liat kelakuan kamu yang belingsatan. Aye nggak janji buat nggak mukulin Lu Sah,”
Aida duduk di sofa tua miliknya. Akan lama ia bersua dengan sang putri karena sekali lagi ia yakin. Rando akan membuat persyaratan berat pada putri badungnya itu.
Sementara itu di pesantren, Rando menghela napas berat. Ia baru saja mendapat laporan akibat perbuatan keponakannya itu. Hafsah berhasil menyabet seorang santri laki-laki hingga berdarah kakinya.
“Kamu kenapa sih Nak?” tanyanya gusar.
Hafsah hanya menunduk, sedang santri yang berseteru dengannya menangis. Kakinya diobati oleh salah seorang ustadz.
“Sebenarnya Nanda Hafsah tidak salah. Ia membela diri,” ujar salah satu ustadzah membela gadis yatim itu.
“Assalamu’alaikum!”
Seorag pria sepuh datang, ia melihat keadaan cucu laki-lakinya. Ia tersenyum lembut dan menatap Hafsah yang menunduk. Dengan penuh kasih sayang, ia belai kepala Hafsah yang terbungkus hijab.
Jangan tanya keadaan gadis itu, baju gamisnya kotor akibat berkelahi dengan santri yang kini menangis ketika diobati lukanya.
“Cengeng amat sih!” gerutu Hafsah sangat pelan.
“Nak!” peringat Rando.
Pria sepuh itu terkekeh mendengarnya, memang cucunya itu sangat manja. Padahal tak ada yang memanjakannya. Semua diperlakukan sama oleh para pengajar yang juga ayah dan ibu anak itu.
“Apa kamu kapok Adam? Dia lawan kamu yang paling tangguh?” ujar pria sepuh yang biasa dipanggil Yai Burhan.
“Ya sudah. Sana sama Paklik mu Hafsah,” peribtahnya lembut.
Rando membawa keponakannya yang nyentrik itu. Kini mereka ada kamar asrama. Ia melihat tempat tidur Hafsah yang rapi. Walau tomboy, soal kebersihan. Hafsah jangan diragukan, bahkan ia bisa memasak.
“Kamu bareng siapa saja di sini nak?” tanya Rando lalu duduk di kursi rias milik keponakannya.
Usia Hafsah memang baru tiga belas tahun, jika anak gadis seumurannya sudah mulai banyak mengenakan kosmetik, seperti bedak, pelembab bibir, handbody amupun parfum.
Tapi tidak dengan Hafsah, meja gadis itu bersih dari alat-alat kosmetik. Hafsah duduk di pinggir ranjangnya. Ketika Rando hendak membuka laci gadi itu.
“Jangan Paklik!” larang Hafsah.
Rando menatap sang keponakan dengan pandangan datar dan tetap membuka laci itu. Ia sangat terkejut dengan isinya.
“Kelereng?” keningnya berkerut lalu mengalihkan pandangan ke arah sang keponakan.
“Apa kau memukul cucu Yai Burhan gara-gara ini?” tanyanya lirih.
“Dia nggak terima kalah!” sahut Hafsah tentu kesal.
“Ini gimana ibumu nggak mukulin kamu Hafsah?” gadis itu menunduk, ia memang salah.
“Paklik,” panggilnya setelah sekian lama terdiam.
“Hmmm,” sahut Rando seperti melamun.
“Mau ketemu Emak,” ujar gadis itu lirih. “Hafsah kangen emak.”
Rando menutup matanya. Ia memang tergolong kejam, tetapi baru saja ia diperlihatkan jika keponakannya itu tak akan merubah tabiatnya.
"Paklik gak akan jemput kamu pulang sebelum kamu hafal limabelas juz ayat al-qur'an," ucap Rando yang membuat Hafsah menganga.
“Paklik ... mana bisa gitu!” rengek Hafsah yang keberatan dengan syarat yang diajukan pamannya itu.
"Hafsah kangen emak paklik...huu..uuu!" ucap Hafsah sambil menangis.
Rando menghela napas. Hafsah mendatanginya dan bersimpuh di depan pria itu. Rando membelainya kepala keponakan yang telah yatim itu.
"Paklik tahu, tapi ini semua buat kebaikan Hafsah," ujar Rando dengan suara berat.
Hafsah masih setia dengan tangisannya. Ia memang sangat nerindukan ibunya. Walau sang ibu sangat keras, tetapi perempuan itu satu-satunya tempat kasih sayang sejatinya.
“Hafsah janji nggak nakal lagi ... hiks!”
“Setelah melihat kelakuanmu tadi?” kekeh Rando lalu menggeleng.
“Paklik mau pergi selama dua minggu ini. Paklik nggak bisa mengawasi kalian. Paklik takut, kamu kumat badungnya dan ibu kamu dirasuki setan karena melihat kelakuanmu itu,” ujarnya berat disertai rengekan sang keponakan.
"Paklik akan datang dan mempertemukanmu dengan ibumu," ucap Rando kemudian.
"Paklik janji?" tanya Hafsah lagi.
"Iya, tapi syaratnya kamu harus hafal, paling sedikit 5 juz al-qur'an dan 200 hadist," jawab Rando tegas.
Hafsah menelan saliva. Namun akhirnya ia mengangguk menyetujui persyaratan itu. Rando tersenyum, ia sangat yakin jika keponakannya itu sanggup dan bahkan melebihi syarat yang ia ajukan.
“Buktikan kamu jadi anak sholehah Nak. Buktikan sama emak kamu jika kamu akan jadi anak kebanggaannya,” lanjutnya.
“Ini hari terakhir Paklik datang, karena besok paklik akan pergi. Jaga baik-baik nama paklik ya,” Hafsah mengangguk.
Gadis tanggung itu menatap pria yang selalu menjadi pelindungnya di saat sang ibu sudah mulai sangat keras padanya.
“Pak ... apa bapak kayak paklik?” ujarnya dengan tatapan menerawang sambil mengingat wajah sang ayah.
Bersambung.
Next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
𝓓𝓮𝓪
sifat mana bisa di ubah
2023-05-18
1
𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡
walah syarat yang berat aku pun belum tentu bisa menghafal
2023-05-16
1
𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡
ya ampun kelereng toh kowe rep dolanan dir diran jan bener-bener kaya lanang kowe
2023-05-16
1