Dua minggu setelah pembayaran, Noval mulai mengemas perabotan rumah memakai jasa pindah rumah.
Hafsah tersenyum, bobotnya sedikit turun ketika tinggal di hunian ini. Tak ada yang mendatangi bahkan RT dan RW. Noval sudah menjual rumahnya itu dengan harga yang sedikit rendah dari harga aslinya.
"Jadi rumah ini sudah dibeli Bang?" tanya Hafsah pada suaminya.
"Iya, sudah. Orangnya akan pindah dua minggu lagi. Bentar lagi datang untuk serahin kunci," jawab Noval.
Pria itu melingkarkan tangan di pinggang istrinya.
"Jadi kecil sayang .. maaf ya, kamu jadi makan hati di tempat ini," sesal Noval.
Hafsah hanya tersenyum, ia memaklumi. Sebagai lelaki lajang awalnya, tentu ia hanya mencari tempat hanya untuk istirahat.
Tak lama pembeli rumah datang. Seorang pria muda, keduanya berjabat tangan ketika menyerahkan kunci.
"Saya sudah terima kuncinya ya Pak!" ujar pria itu.
Hafsah mengatupkan tangan di dada ketika menyapa pria itu dengan senyum tipis. Pria itu pun memilih tinggal. Semua barang telah masuk truk.
Noval pamit, ia membawa istrinya ke mobil. Mobil Hafsah sudah ada di rumah barunya. Tak ada perpisahan dengan tetangga, karena memang mereka tak sedekat itu kecuali para art yang heboh.
Kendaraan Noval bergerak meninggalkan perumahan cluster tersebut. Perjalanan menempuh jarak dua puluh menit.
Kini semua sampai di rumah baru. Hafsah sudah memiliki ide besar ketika tinggal di tempat itu. Senyumnya langsung mekar.
"Kamu sepertinya bahagia?" Noval tertular senyum istrinya.
"Alhamdulillah, jika diijinkan. Aku pengen buka kelas iqro di sini Bang," jawab Hafsah.
"Makasih Bang!"
Semua barang telah diatur di tempatnya. Hafsah mengatur semuanya. Setelah selesai dan membayar. Noval memesan makanan online.
"Sayang, yuk makan!" ujar Noval.
"Iya Bang!"
Hafsah mengambil piring dan membantu suaminya menata makanan. Setelah makan, lanjut membereskan semuanya. Butuh waktu dua jam Hafsah dan Noval merapikan semua.
"Alhamdulillah!" seru Hafsah meletakkan pakaian terakhir di lemari.
"Mashaallah capek banget!" lanjutnya lalu merebahkan diri di atas kasur.
"Cape sayang?" Noval merebahkan diri juga di sisi istrinya.
Ia memeluk sang istri. Beruntung keduanya telah mendaftar di kelurahan setempat juga RT dan RW sebagai warga baru.
"Mau mandi ...."
"Bareng,"
Dua netra saling tatap. Noval memang jatuh cinta dengan teman kecilnya itu. Dua bibir tersenyum.
Lalu keduanya masuk bilik mandi dan saling menyabuni di dalam sana. Usai mandi, keduanya saling memakaikan pakaian.
"Ih Bang!" Noval menggoda istrinya.
"Bentar lagi ashar!" lanjutnya mencebik.
"Maaf sayang," kekeh Noval.
Keduanya pun keluar dan bersosialisasi dengan lingkungan. Halaman yang cukup besar dapat menampung dua mobil.
"Jadi toko kecil itu akan kamu gunakan sebagai tempat les mengaji anak-anak?" tanya Noval menunjuk satu bangunan menyempil di halaman rumahnya.
"Iya Bang, aku lihat di sini tidak ada tempat seperti itu. Banyakan les berhitung dan bahasa Inggris, ada juga bahasa Korea," jawabnya.
"Sekalian saja kau gunakan ijasahmu untuk membuka les bahasa Arab sayang!" ide Noval.
"Iya, nanti aku cari tau biar sah dan dapat sertifikat dari kemenag," jawab Hafsah.
"Mashaallah ... alhamdulilah punya istri seorang ustadzah," Noval begitu bangga mengatakannya.
"Alhamdulillah Bang. Berkat ilmu dari Allah dan buah kekerasan almarhumah emak dulu," jawab Hafsah.
Noval tersenyum dan mengangguk setuju. Aida memang sangat keras mendidik Hafsah.
"Emak pasti bangga di atas sana. Beliau pasti tenang di syurga-Nya Allah," ujar pria itu.
"Aamiin Bang, insyaallah. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan emak di tempatkan di tempat yang layak di sisi-Nya," sahut Hafsah.
"Aamiin ya rabbal alaamin!" sahut Noval.
Sore menjelang, Hafsah sudah menyiram halamannya. Wanita itu menyapu latar dari daun-daun yang jatuh. Sebatang pohon jambu air tumbuh di halaman rumahnya.
"Sore Bu Noval, assalamualaikum!" sapa beberapa tetangga yang juga tengah membersihkan halaman mereka.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh, sore juga Bu Anton!" balas Hafsah ramah.
"Udah pindah ya?" tanya wanita berdaster biru tanpa lengan itu.
"Iya Bu, udah pindah," jawab Hafsah lagi.
"Mudah-mudahan betah ya Bu!" sahut Bu Anton.
"Aamiin!"
"Mari Bu!" bu Anton pamit ke dalam.
"Silahkan Bu!" sahut Hafsah.
Hafsah tersenyum, di depannya ada taman masjid. Lokasinya memang strategis untuk ia memulai usahanya.
"Ah, buat brosur dan banner yang menarik agar anak-anak antusias belajar mengaji!" sebuah ide terlintas.
Hafsah gegas ke dalam rumah. Ia mengambil pulpen dan buku. Banyak kata-kata ia susun untuk memulai usahanya.
"Berantas buta hijaiyah. Yuk, belajar ngaji!"
Sebuah kalimat yang mengajak orang untuk belajar mengaji. Dengan optimisme tinggi Hafsah mengucap basmalah.
"Sayang," ia menengadah wajahnya.
Noval tersenyum melihat tulisan yang istrinya buat. Ia akan mendukung apapun yang Hafsah lakukan.
"Ilmu itu harus disebar luaskan. Semoga jadi ladang amal ibadah kita," ujarnya.
"Aamiin ya rabbal alaamin!" sahut Hafsah mengaminkan doa sang suami.
"Oh ya Bang. Di sini tempat percetakan buat baner di mana ya?" tanya Hafsah.
"Ya nggak tau Dek. Coba kamu tanya tetangga. Siapa tau ada yang usaha itu. Jadi nggak perlu jauh-jauh," jawab Noval.
"Anterin," rengek Hafsah meminta.
"Pergi sendiri sayang. Belajar mandiri ya!'
Hafsah menatap suaminya. Pikiran terbuka dan modern tentu menjadi acuan Noval. Berbeda dengan Hafsah.
"Bang ... aku ini seorang istri. Jika keluar maka akan banyak fitnah yang menghantam. Jadi, aku meminta kamu agar aku terhindar dari fitnah itu," ujarnya.
Noval terdiam, ia lupa Hafsah bukan wanita kota.
"Baiklah, tapi aku tak bisa terus menerus menemanimu jika pergi kemana pun," ujarnya.
Hafsah mengangguk, sebisa mungkin ia mengurangi bepergian keluar tanpa suami.
Hanya dengan berjalan kaki, mereka menemukan sebuah ruko di mana bisa membuat apa yang Hafsah inginkan.
Sementara itu. Seorang wanita cantik turun dari mobil sportnya. Ia menatap bangunan yang sepi. Dengan anggun ia melangkah dan mengetuk pintu.
"Spada!" teriaknya.
"Noval!"
"Wah ... Mba, Pak Noval udah pindah!" sahut Ninis.
Puspa menoleh, ia sampai memindai jendela. Kosong. Tanpa kata-kata ia pun pergi.
Wanita itu meninggalkan perumahan cluster yang dulu ditinggali Noval.
"Cis! Bukannya terima kasih. Malah nyelonong aja!" gerutu Ninis sepeninggalan Puspa.
Dalam mobilnya Puspa sangat kesal. Ia tak memiliki nomor ponsel Noval.
"Sial! Pindah kemana dia?!" gerutunya.
Malam tiba, sepasang suami istri selesai makan malam. Noval membantu istrinya membersihkan meja makan.
"Sudah Bang, nggak apa-apa biar aku aja!" ujar Hafsah.
"Nggak apa-apa dek. Nanti kalo kita punya anak, pasti lebih repot kamu. Jadi aku terbiasa mengerjakan ini," ujar Noval.
Hafsah tersenyum, ia sangat menyukai cara suaminya yang tau tanggung jawabnya. Noval pergi mencuci piring.
Ponselnya berdering, Hafsah melihat layar ponsel.
"Febi?" dahinya berkerut.
"Bang ... ada telepon tuh!" ujarnya.
"Siapa?"
"Febi!" jawab Hafsah datar.
"Angkat aja sayang. Aku nggak mau diganggu soal pekerjaan jika hari libur begini," ujarnya.
Hafsah pun mengangkat telepon. Di sana terdengar suara tangisan.
"Pak ... tolong saya Pak!"
"Assalamualaikum Feb ... ada apa ya?" tanya Hafsah langsung.
Tampak hening di seberang telepon. Hafsah mengerutkan keningnya.
"Halo?"
Tuuut! Sambungan telepon terputus.
"Sayang?" Noval mendatangi istrinya.
"Febi nangis tadi," jawab Hafsah.
"Oh," sahut Noval tak peduli.
"Nggak nolongin Bang?"
"Buat apa? Dia nggak minta kan?" Hafsah menggeleng.
"Ya udah, biar kan saja," ujarnya santai.
Sedang di tempat lain. Febi meremas benda pipih yang tadi dibuat menelepon atasannya. Berharap jika sang boss masuk perangkap.
"Kenapa mesti istrinya yang angkat sih!" gerutunya.
Gadis itu memakai kembali pakaiannya yang sengaja ia sobek sana sini. Ada lebam terdapat di tubuhnya.
"Ck ... bodoh!" umpatnya kesal.
Bersambung.
Leh? kok stress sih si Febi?
Next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
Ainiksj💙
ya ampun🤦♀🤦♀🤦♀ga nyerah juga ni cewek.🙄🙄🙄
2023-07-16
2
@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸
🤦🏻♀🤦🏻♀🤦🏻♀ perkumpulan orang setres , padahal gak tinggal di komplek ya, jadi gak semua yg tinggal di komplek itu orang eror
2023-05-11
1
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
kenapa ulet keket pada bertebaran 🤔🤔🤔🤔
kagapunya urat malu yah feb 🤔🤔🤔🤔
2023-05-05
1