Noval akhirnya selesai mengerjakan semua tugasnya. Ia sedikit membantu karena sang istri tadi membantunya.
"Noval!' pria itu menoleh.
Puspa berjalan begitu anggun, ia memang bisa membuat semua orang terpukau padanya. Noval sedikit tertegun.
"Nov ... aku numpang mobilmu ya," ujar Puspa dengan suara seksi menggoda.
Jari lentiknya merayap menyusuri kemeja, tambah lama tambah turun. Puspa mengigit bibir bawahnya secara sensual. Wanita itu benar-benar membuat siapa saja menahan gejolak.
Greb! Tangannya dicekal oleh Noval ketika mulai merayap ke resleting celana Noval.
"Nov, kau pasti menyukai ini," des.ahnya dengan tatapan sayu.
"Tidak ... aku tak mau mengotori diriku dengan dosa!" ujar Noval lalu menepis tangan kurus itu.
"Jangan munafik. Semua orang suka dosa. Atau, kita bisa menikah siri dan melakukan apa saja tanpa takut dosa!' tawaran menggiurkan diberikan oleh wanita cantik itu.
"Tapi aku tak tertarik!" tolak Noval.
Pria itu berjalan gegas menuju lift. Puspa mengejarnya, ia juga mau naik tempat persegi empat itu agar tak berhimpitan dengan karyawan lain.
"Keluar Puspa!" usir Noval.
"Pak ... please. Aku akan memberikanmu sebuah servis yang pasti membuatmu senang!" ujar wanita itu lagi-lagi menawarkan sesuatu.
"Keluar Puspa! Sebelum aku melemparmu!" usir Noval sekaligus mengancam.
Tatapan tajam dan ekspresi datar diperlihatkan. Puspa harus keluar sebelum ia benar-benar dilempar oleh pria tampan itu.
Pintu lift baru tertutup setelah Puspa keluar. Wanita itu menghentakkan kedua kakinya kesal.
"Bodoh!" teriaknya.
Hardianto baru keluar ruangan. Puspa berdecak, satu pria yang pasti sulit ia goda.
"Pak ...."
"Pergi ke lift karyawan, Puspa!" tekan Hardianto tak peduli.
Wanita itu mengerucutkan bibirnya. Hardianto tak acuh melihatnya. Ia masuk setelah lima menit menunggu.
"Kau mau apa Pus?" wanita itu menoleh.
Bambang adalah salah satu petinggi perusahaan yang mendapat fasilitas lift khusus itu.
"Pak saya ikut bapak ya. Nanti saya kasih yang lezat-lezat!" ujar gadis itu kembali menawarkan hadiah yang pasti menggiurkan para pria.
"Tawaranmu memang menarik dan sangat menggoda Puspa. Tapi aku masih sayang nyawa, pekerjaan dan juga istriku," terang pria itu panjang lebar.
"Nggak ada yang tau Pak!" rengek Puspa.
"Ada kamera pengintai di lift itu dan juga cctv paling setia!" ujar Bambang tersenyum.
Puspa terdiam, ia memajukan bibirnya. Bambang masuk dan menatap wanita cantik itu.
"Bertaubatlah Nak. Aku memberi nasihat sebagai seorang ayah," ujarnya.
Pintu tertutup, Puspa tertegun. Tak lama ia berdecak kesal dan pergi ke lift karyawan.
Noval mengendarai mobilnya. Ia cukup lelah karena sekretarisnya belum juga didapatkan.
"Untung tadi istriku membantu. Padahal kalau dia melamar jadi sekretarisku, aku pasti senang sekali,' gumamnya.
Tak butuh waktu lama, kendaraannya sudah sampai di depan halaman rumahnya. Turun dari mobil dan membuka pintu gerbang.
Setelah memasukkan kendaraannya. Ia menutup pagar dan menggemboknya.
"Assalamualaikum!" sapanya ketika masuk rumah.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Hafsah dengan senyum indah.
Noval berbinar melihat istrinya yang tampil beda. Hafsah tak memakai gamis dan penutup kepala lebar yang biasa ia kenakan.
"Mashaallah ... kau cantik sekali istriku," puji Noval.
Hafsah tersipu malu. Wanita itu mendekat dan mencium punggung tangan sang suami.
"Wanginya," Noval menghirup rakus aroma tubuh istrinya.
"Bang, bersihkan diri dulu ya, nanti makan udah itu kita sholat jamaah," ujar Hafsah lembut.
Noval mengangguk setuju. Inilah yang membuatnya tak bisa berpaling dari istrinya. Hafsah seakan tau bagaimana ia menempatkan diri sebagai istri. Noval pun tak pelit menggelontorkan uang untuk perawatan istrinya itu.
Usai makan dan sholat isya. Keduanya kini dalam satu selimut dan gelora cinta yang panas.
Pagi menjelang, Noval memutuskan untuk berolahraga di sekitar taman masjid.
Hafsah menyiram bunga. Halamannya sudah penuh dengan tanaman hias dan juga herbal. Tangan wanita itu sangat dingin hingga membuat semua tumbuhan itu tumbuh subur.
"Sayang," Noval datang dengan peluh bercucuran.
Pria itu mengecup kening istrinya. Lalu ia masuk ke dalam. Hafsah menyusul kemudian.
Setelah kepergian Noval. Hafsah bergerak cepat memasak. Kali ini menunya sup dan balado telur. Jadi dirinya tak perlu berkutat lama di dapur.
Usai memasak, Hafsah membersihkan diri dan menyiapkan materi belajarnya. Wanita itu telah mendapat murid-murid baru untuk kelasnya.
"Assalamualaikum, ustadzah!"
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh," balas Hafsah tersenyum ramah.
"Ayo masuk-masuk!"
Lima anak dengan usia sekitar lima tahunan duduk. Dua laki-laki dan tiga perempuan. Mereka duduk manis, bahkan salah satu diantara mereka masih beringus.
"Kita kenalan dulu ya!" ujar Hafsah lagi.
"Iya Bu ... srrufffh!" sahut salah satu bocah sambil menarik ingusnya.
Hafsah tak berhenti tersenyum. Memang anak-anak yang belajar datang dari kalangan menengah ke bawah. Ibu dan ayah mereka sangat antusias ada pelajaran mengaji di dekat tempat tinggal mereka.
"Mudah-mudahan putra saya bisa jadi hafidz!" harap sang ayah ketika mendaftarkan putranya.
"Arman!' panggil Hafsah.
"Saya Bu!' jawab bocah lagi-lagi sambil menarik ingusnya dalam-dalam.
"Amlan ... tamuh jolot amat sih!" protes gadis kecil yang duduk di sebelahnya.
"Saya itu lagi filek!' sungut Arman kesal lalu menarik lagi ingusnya.
Hafsah mengambil tisu, mendekati bocah itu dan meminta Arman membangkiskan semua lendir di hidungnya.
"Nanti ikut ibu ke dokter ya,"
"Nggak mau Bu!" tolak Arman sampai membesarkan matanya.
"Aku nggak mau disuntik!" lanjutnya takut.
"Tidak sampai disuntik sayang, percaya sama ibu," ujar Hafsah menenangkan bocah itu.
"Oke, kita lanjut ya," semua anak mengangguk.
Pelajaran iqro satu berjalan dengan tertib, karena begitu antusias. Para orang tua sampai menyusul mereka.
"Ah ... masih belajar toh. Saya kira mereka main," ujar salah satu ibu lega.
"Mashaallah Bu. Mereka semua cerdas dan cepat belajar loh!" puji Hafsah dengan tatapan berbinar.
Semua anak tersipu dipuji sedemikian rupa oleh guru mereka. Seperti janji Hafsah, ia membawa Amran ke dokter anak untuk diperiksa.
"Sedikit gejala gizi buruk dan rupanya ingusnya bukan karena influenza. Tetapi memang virus kotor dan akan hilang sendirinya setelah ia kebal akan penyakit itu," jelas dokter ketika memeriksa tubuh kurus Amran.
Hafsah sedih, ia menebus obat untuk bocah itu. Sang ayah mengucap terima kasih.
"Makasih ya Ustadzah,"
"Sama-sama Pak," ujar wanita itu.
Ketika sampai rumah ternyata Noval sudah sampai. Dengan langkah lebar Hafsah masuk rumah. Ia takut kena marah suaminya itu.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumusalam! Dari mana?" tanya Noval dengan pandangan menyelidik..
"Maaf Bang ... maaf," ujar Hafsah lalu bersimpuh di kaki suaminya.
Ia tadi lupa minta ijin pada suami untuk mengantarkan Amran ke dokter. Noval tentu terkejut melihat hal itu, ia segera merengkuh bahu istrinya dan mengangkatnya.
"Hai ... aku hanya bertanya sayang," ujarnya.
"Maaf bang ... tadi aku pergi tanpa minta ijin ...," Hafsah menceritakan kemana ia pergi hingga tak menyambut suaminya.
"Oh ... ya sudah, aku ijinkan kau mengurus anak-anak didikmu nanti ya," ujarnya mengerti .
"Makasih, Bang ... makasih!"
Noval memeluk istrinya. Ia begitu terharu, baru kali ini ada seorang wanita yang sangat takut akan kemarahan suami akibat tak minta ijin padahal itu untuk kebaikan.
Bersambung.
Dari Saad bin Abi Waqosh RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu." (HR. Bukhari dan Muslim). Selain itu, suami juga wajib untuk mencukupi kebutuhan istri secara tidak bakhil..
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
linamaulina18
cwe g tau malu y gini😡😡😡
2023-05-20
1
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
kau sempurna sekali hasfah 😱😱😱😱🥰🥰🥰🥰
2023-05-05
1
🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛
semoga selalu kuat Noval dalam menghadapi godaan dari ular'keket
2023-04-18
2