Karena kesibukan Rando mengurusi keponakannya, Mirna, istrinya uring-uringan.
Padahal Rando selalu menyempatkan diri membantunya membereskan beberapa pekerjaan rumah.
"Dari mana bang?" tanya Mirna istri Rando.
"Tadi nganterin Hafsah ke pesantren,” jawab Rando.
Matanya terpejam erat, tak membayangkan kaki Hafsah jika harus di amputasi. Rando memang selalu memberitahu apa saja kegiatannya pada sang istri.
"Oh, jadi gara-gara nolong Hafsah, abang gak jadi beli minyak goreng?" sindir Mirna mencibir, "kenapa gak di biarin aja sih, orang emang anaknya badung."
"Ya gak bisa gitu dong dek," ucap Rando pelan menenangkan kegusaran istrinya.
“Sebagai paman, abang memiliki kewajiban untuk mengurusi keponakan abang,” lanjutnya menjelaskan.
“Halah ... ngurusin keponakan apa ibunya yang janda?” tanya Mirna dengan nada menyindir.
“Astagfirullah dek?” tegur Rando beristighfar.
“Minyak udah abang beli kok, terus udah abang tempatin di wadahnya,” lanjutnya memberi tahu.
Mirna tetap mendumal panjang pendek, wanita itu sangat menyesal setelah menikah dengan rando. Pria tampan yang berprofesi sebagai ustadz. Ia mengira hidupnya akan enak dan dikelilingi ketenaran.
Rando seorang pria tampan dengan postur tubuh tinggi, senyumnya lembut. Dulu ia berkenalan dengan suaminya itu di sebuah perusahaan di mana ia bekerja. Rando mengisi acara tausiyah di sana.
Mengira dirinya seperti istri-istri ustadz ternama yang berseliweran di televisi. Ia dulu membayangkan jika Rando memiliki mobil mewah dan juga harta yang melimpah.
“Nyesel gue kawin sama dia,” dumalnya pelan.
"Tolong buatin abang kopi dek," pinta Rando lembut.
"Hmmm ... Enak ya nyuruh-nyuruh!" ujar Mirna kesal, "bikin sendiri sana!"
"Astaghfirullah... !"
Rando menghela napas panjang setelah Mirna meninggalkannya ke kamar sambil membanting pintu. Pria itu sedikit terjengkit akibat kaget.
Ia mengelus dada melihat kelakuan istrinya. Memang ia menikahi Mirna karena desakan. Sebagai ustadz lajang, ia takut berkhalawat terlalu lama dengan lawan jenis, terlebih banyak jemaah perempuan yang menggandrunginya.
"Ngapain sih, kamu ngurusin janda ama anaknya itu!" seru Mirna keluar dari kamar.
Rando menatap istrinya tajam, ada sedikit ketakutan ketika melihat mata suaminya itu.
Mirna sangat tahu, kisah almarhum abang suaminya itu. Bagaimana pengorbanan sang abang kepada adiknya yang kini menjadi suaminya. Namun itu wajar menurut pikiran Mirna.
Wanita itu menuju dapur dan membuatkan kopi untuk sang suami. Mulutnya tak berhenti mengomel panjang pendek. Rando menebalkan telinganya.
"Setiap hari ngurusin mereka!" seru Mirna lagi sambil menaruh gelas kopi sedikit keras, hingga bunyi berdenting dan air kopi sedikit tumpah.
"Itu sudah tanggung jawabku dek," jawab Rando santai.
"Tanggung jawab, tanggung jawab..." Mirna masih mengoceh, "mestinya banyak orderan ceramah yang kau dapatkan, malah ngurusin orang yang gak jelas!"
"Yang kuurusi itu jelas dek, ponakan sendiri, yatim lagi," Rando memberi penekanan pada kata-katanya.
"Haaalaah...!" sentak Mirna, "belain aja terus janda gatel ama anak gak tau di untung itu!"
"Mirna!" sentak Rando lagi, "sudah berapa kali aku jelaskan pengorbanan mereka pada kita? Hah?!"
"Bahkan rumah yang kita tempati ini mestinya milik mereka," lanjut Rando dengan mimik haru.
"Sudah lah bang!" sentak Mirna lagi, "gak ada benernya aku di matamu ini!"
Lalu Mirna masuk kamar, diambilnya tas dan dimasukkannya pakaiannya ke dalam koper. Wanita itu sudah memutuskan semuanya.
"Jika begini terus, aku minta cerai!" bentak Mirna lagi.
"Istighfar dek, jangan begitu," Rando menyusul istrinya ke kamar.
Namun Mirna tetap teguh pada pendiriannya. Ia sudah muak dengan suaminya. Ia tak mau hidup hanya sederhana saja. Mirna pernah mendengar Rando menolak sebuah tawaran siaran di televisi.
“Aku malas hidup miskin denganmu!” teriaknya lagi.
"Aku mau cerai dari kamu, ustadz!" sentak Mirna sambil menghentakkan kakinya keluar.
"Mirna, aku tak ridho jika kau keluar rumah sekarang!" seru Rando tegas.
"Aku gak peduli!" bantah Mirna sambil mendelik.
Dengan langkah tegap Mirna keluar dari rumah lalu menghentikan sebuah ojek lalu menaikinya. Rando terpekur, ia terus beristighfar, di satu sisi, ia merasa gagal mendidik istrinya.
Rando mengingat kembali kala ia membawa Mirna kehadapan almarhum abangnya Nando.
"Apa kau yakin dengan pilihanmu Ndo?" tanya Nando serius.
"InsyaAllah bang," jawab Nando mantap.
"Kau tahu siapa Mirna kan?" tanya Nando kemudian.
Rando sadar, Mirna adalah wanita modern yang tak begitu dekat dengan agamanya. Namun ketika cinta bicara, Rando yakin dengan ilmu yang di dapat dari mondoknya, bisa ia ajarkan sedikit demi sedikit untuk merubah Mirna.
"Iya bang, tapi insya Allah aku bisa," jawab Rando tegas.
Dan dilangsungkannya pesta pernikahan yang meriah sesuai keinginan Mirna. Kala itu Nando belum menikah.
"Abang mau kemana? Kok bawa koper?" tanya Rando ketika melihat abangnya tengah menyeret koper berukuran besar.
"Aku tak mungkin tinggal satu atap denganmu," jawab Nando, "nanti timbul fitnah."
"Tapi mestinya aku yang pergi bang, bukan abang," ujar Rando mencegah kepergian Nando.
"Lalu, apakah kau sudah punya rumah?" tanya Nando tersenyum. Rando menggeleng, matanya mulai menggenang.
"Dengar, kau baru saja di kenal sebagai ustad muda, kau belum bisa menghidupi Mirna jika harus mengontrak," ucap Nando memberi penjelasan.
Nando memeluk tubuh Rando yang mulai bergetar dan hendak menangis. Nando menenangkan adiknya itu.
"Sudah... Sudah..." ucap Nando menenangkan adiknya, "hiduplah bahagia dengan istrimu."
Lalu dengan langkah tegap, Nando pun melangkah keluar rumah. Rando sangat berterima kasih pada kakak kandungnya itu.
"Mirna, ternyata dugaan abangku benar," ucap Rando pelan.
"Atau aku yang terlalu sombong?" lanjutnya terkejut sendiri.
Rando segera beristighfar dalam hati. Ia yang merasa pintar dengan keilmuannya, ia yang merasa sanggup membimbing ribuan jemaah dalam kekhusyukan, dia yang merasa sudah begitu dekat dengan Rabb nya.
"Astaghfirullah ... Ampuni hamba-Mu ini yaaa Rabb!" ujarnya lirih sambil terisak.
Rando tak mampu mengangkat kepala, ia gagal mendidik istrinya karena sombong dengan ilmunya. Mirna seorang gadis modern, ketika menikah ia siap dengan segala resiko bahkan menerima ketika Mirna tak memberikan kesuciannya.
“Kenapa sih bang, nggak mau nerima tawaran tivi itu!?” tanya sang istri gusar di suatu hari.
“Abang takut nggak amanah Dek,” itu alasan Rando menolak tawaran yang bayarannya jauh lebih besar.
“Ilmu Abang dari Allah. Sebisa mungkin semua yang Abang dapat itu diridhoi Allah,” lanjutnya waktu itu.
“Ya kalo gitu terima mobil yang dikasih sama Tuan Tamaguci!” seru Mirna kesal.
“Takut Dek. Abang dihisab karena menerima barang yang tidak jelas bagaimana uang yang didapat ketika membelinya,” jawab Rando lagi.
“Sayur ... Mpok Mirna ... sayur nggak?” lamunan Rando buyar.
“Libur dulu ya Mang!” ujar Rando dan tukang sayur itu pun pergi.
Rando menghela napas, istrinya benar-benar pergi. Ia memang telah gagal mendidik istri.
“Maaf Dek, abang terpaksa menalak kamu,” monolognya pelan.
Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
𝓓𝓮𝓪
wah pesantren 😍
2023-05-18
1
aidernia_Novelia
paklik nggak salah.. pola pikir nya beda
2023-05-04
1
aidernia_Novelia
berarti jodoh paklik. sudah selesai.. moga dapat istri yang lebih baik ya
2023-05-04
1