DIPECAT

Noval berdiri di hadapan Hardianto. CEO itu tidak semerta-merta menyalahkan managernya yang sangat handal itu.

"Saya tidak melakukan apa yang dituduhkan Pak!" ujarnya.

"Tapi Bapak memang melecehkan saya!" teriak Febi.

"Bapak harus tanggung jawab!" lanjutnya.

"Apa maksudnya tanggung jawab?" tanya Haridanto dengan kening berkerut.

"Maaf Pak!" seorang pria datang dan membawa flashdisk.

"Kemarikan!' pinta Hardianto.

Febi tetap dengan sandiwaranya. Cassy sudah pulang bersama putranya.

"Ini cctv yang ada di ruangan Pak Noval!" ujar pria itu.

Febi terdiam, kini ia menggali kuburannya sendiri. Ia lupa jika ada kamera pengintai di ruangan itu.

Hardianto segera memasangnya. Tampak jelas di sana Febi memeluk pinggang Noval dari belakang dan berusaha mencium pria itu.

"Jadi kaulah yang sebenarnya hendak melecehkan Noval Febi!" geramnya.

"Itu ... itu ...."

"Diam! Aku jebloskan kau ke penjara karena berani mencoreng nama baik perusahaan!" teriak Hardianto marah.

Noval menghela napas lega. Ia memang tak bersalah. Febi berlutut di sana. Ia meminta permohonan maaf.

"Kamu saya pecat Febi!" ujar Hardianto.

"Dan saya black list selama tiga tahun!" lanjutnya.

Febi makin menangis. Gadis itu meminta maaf pada Noval.

"Saya maafkan tapi ini yang terakhir saya melihat anda di kota ini!" tekan Noval.

Febi menangis pilu, kini semua mimpinya hancur. Masa depannya ia rusak sendiri akibat obsesinya pada Noval.

"Pak ... saya tetap mencintai bapak!" ujarnya dalam hati.

Febi dipecat secara tak hormat. Namun Hardi masih berbaik hati membayar gaji gadis itu.

Noval akhirnya pulang dengan wajah lelah. Perutnya perih karena tak diisi sejak siang. Febi mengacaukan semuanya karena salah hitung.

"Assalamualaikum!" Noval pulang dengan muka lelah.

"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh. Masyaallah Bang! Abang kenapa?"

Hafsah langsung mendatangi suaminya yang seperti hendak mau jatuh itu. Ia memapah tubuh besar suaminya.

"Bang?"

"Dek ...!" Noval memeluk istrinya.

Sebuah tangis kekesalan keluar dari mulut pria itu. Gara-gara Febi, ia sampai meninggalkan sholat maghrib.

"Aku malah sampai nggak sholat maghrib dek,"

Noval menceritakan kejadian yang menimpanya. Hafsah pun menenangkan suaminya.

"Besok maghrib di qadha saja. Toh, memang hal yang mendesak, bukan sengaja meninggalkan sholat," ujar Hafsah.

"Aku lapar dek," rengek Noval.

"Minta suapin ya," lanjutnya begitu manja.

Hafsah mengangguk, dengan telaten ia menyuapi suaminya. Lalu membersihkan seluruh tubuh Noval. Pria itu benar-benar tak mau bergerak. Hafsah yang mengurusinya seperti anak kecil.

Noval tertidur karena kelelahan. Hafsah mengusap jejak keringat yang membasahi kening sang suami lalu mengecupnya.

"Pasti berat ya tadi," ujarnya pelan.

Akhirnya Hafsah tertidur di pelukan sang suami. Pagi menjelang, seperti biasa Noval pergi ke kantor. Hafsah mengantarnya dan melambaikan tangan sepeninggalan kendaraan suaminya.

Wanita itu hendak masuk hingga tiba-tiba ....

"Assalamualaikum!"

Hafsah menoleh dan begitu terkejut melihat siapa yang datang. Febi berdiri dengan baju lusuh dan kantung mata panda. Entah apa yang terjadi Hafsah tak tau.

"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab Hafsah.

"Masuklah Mba!' ujarnya lalu mempersilahkan Febi masuk dan duduk di kursi teras.

"Ada perlu apa ya Mba?' tanya Hafsah meletakkan satu cangkir teh di depan Febi.

Gadis itu tak menjawab, ia memilih meminum teh hidangan Hafsah.

"Uhuk ... uhuk!" Febi tersedak.

"Pelan-pelan mbak!' ujar Hafsah.

Setelah menenangkan diri. Febi menyandarkan punggungnya. Keduanya diam selama nyaris setengah jam.

"Mba ...," panggil Febi.

"Ya?"

"Mba tau poligami kan?" ujar Febi yang membuat Hafsah mengerutkan keningnya.

"Kenapa?" tanyanya ingin tau.

"Mba ijinkan saya menjadi madu Mba!" pinta Febi yang membuat Hafsah menganga.

Febi menangis, gadis itu bersimpuh di depan Hafsah.

"Mba ... saya sangat mencintai Noval. Tolong ijinkan saya ikut memilikinya. Bukankah Mba tau jika poligami itu diperbolehkan, jadi saya mohon mba!"

"Maaf ... saya tak bisa memberikan jawaban. Saya harus bertanya pada suami saya. Apa beliau mau berpoligami atau tidak," jawab Hafsah.

"Saya yakin jika Noval menolak. Tapi, mba kan bisa bilang jika ini diperbolehkan!" paksa Febi.

"Maaf mba. Saya memang tau jika poligami itu tidak dilarang. Tapi, saya enggan untuk melakukan itu dan saya yakin suami saya juga menolak!" jawab Hafsah.

"Dasar perempuan egois!" sentak Febi lalu berdiri di depan Hafsah.

"Dengar ya, aku itu lebih pantas dari kamu. Kamu itu apa? Hanya anak kampung yang menjebak Noval, pria kota yang sukses!" teriaknya sambil mengacungkan telunjuknya pada Hafsah.

"Aku yakin kau hanya perempuan yang ingin hidup enak di kota!"

Hafsah berdiri, Febi harus mendongak karena tinggi Hafsah melebihi tinggi badannya.

"Lalu apa bedanya dengan anda Nona?" ketus Hafsah.

"Aku berpendidikan strata satu. Kau paling lulusan sekolah menengah atas!" ledek Febi menghina.

"Nona ... aku lulusan pesantren yang kurikulumnya setara dengan pendidikan agama di Madinah. Saya bergelar ustadzah!" Hafsah beristighfar dalam hati ketika menyebut itu.

"Cis ... apa hebatnya?" sinis Febi.

"Sebaiknya anda pergi selama saya masih waras Nona!" usir Hafsah.

"Kau mau apa memangnya?!' tantang Febi.

Gadis itu hendak menyerang Hafsah, tetapi sebuah tangan besar menangkap dan menariknya hingga terjatuh. Gadis itu terkejut karena Noval menatapnya dengan kemarahan luar biasa.

"Nov ... dia menghinaku ... dia ngatain aku!" Febi lagi-lagi memfitnah Hafsah.

"Diam kau!" bentak Noval.

"Pak tangkap dia karena mengganggu!" tunjuk Noval.

Satu pria dan wanita berseragam polisi mengambil Febi. Gadis itu tentu berteriak histeris.

"Bang ... kok Abang bisa datang lagi?" tanya Hafsah bingung.

"Iya, karena aku lihat Febi datang di kaca spion mobil. Makanya aku langsung panggil polisi," jawab pria itu.

"Hafsah ... apapun yang dikatakannya aku harap kau tidak mempercayainya sama sekali!" tekan Noval.

"Tentu Bang. Kan Abang sudah cerita ke aku!" jawab Hafsah.

"Alhamdulillah, aku urus dia dulu ya!" Hafsah mengangguk.

Wanita itu menghela napas panjang. Beberapa tetangga tampak bubar setelah tadi mendapat tontonan gratis.

"Bu .. Bu Noval!' panggil salah satu tetangga.

"Ya Bu?"

"Itu tadi siapa? Pelakor?" tanya wanita itu kepo.

Hafsah menjawab dengan senyum tipis. Ia memilih masuk rumah dan memasak.

Sementara di kantor polisi. Febi menangis dan meminta ampun pada Noval.

"Saya tidak mau mencabut laporan saya. Biar dia dipenjara agar ada efek jera!" tukas pria itu tak mau tau.

Akhirnya Febi harus menanggung kesalahannya sendiri dan berada di balik jeruji besi.

Bersambung.

Hahaha!

next?

Terpopuler

Comments

@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸

@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸

dapat tenang dikit thor, soal nya masih ada si puspa 🤓

2023-05-11

1

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

udah stres kali Thor , cepat-cepat bawake rumah sakit jiwa Thor 😁😁😁😁
dari pada bikin ulah Mulu 😁😁😁😁😁

2023-05-05

1

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

moga dipenjara bisa tobat ya

2023-05-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!