"Jadi kamu dimasukkan ke pesantren sama Paklik Rando, pas kelas dua?" tanya Noval mengeratkan pelukannya.
Sungguh pria itu sangat candu dengan bau tubuh wanita yang telah satu hari jadi istrinya. Walau ia belum bisa menikmati layaknya pengantin baru.
Tetapi mencumbu sang istri sudah jadi kegiatannya setiap malam.
"Iya, gara-gara aku buka jilbab terus manjat pohon buat ambil layangan," jawab Hafsah terkekeh.
"Habis kamu badung banget dulu," cebik Noval.
"Ya jiwaku seperti itu dulu," kekeh Hafsah lagi.
"Jadi Emak meninggal lima belas menit setelah kamu datang?" tanya Noval lagi.
'Ih ... jangan cium-cium dulu ... geli tau!" rengek Hafsah ketika Noval menciumi wajahnya.
"Tapi aku suka sayang," rengek Noval.
Bibirnya menyambut bibir sang istri dan memagutnya pelan. Lambat laun menjadi ciuman panjang.
"Bang ...."
Hafsah harus segera menghentikan cumbuan sang suami sebelum mereka kebablasan.
Nafas keduanya menderu. Sungguh, Noval masih tak percaya istrinya dulu adalah sosok gadis kecil yang berkulit dan rambut terbakar matahari.
"Kenapa Ibu memilihmu jadi istriku ya?" tanya Noval bingung.
"Soal itu aku nggak tau Bang, apa kamu menyesal?" Noval menggeleng cepat.
"Ya nggak lah ... hanya saja kenapa ibuku memilihmu?"
"Entahlah, ketika aku datang. Emak lagi sakaratul maut, beliau ingin aku segera menikah. Lalu ibu langsung menjanjikan kalau dia yang akan menjadikanku menantunya," jawab Hafsah menjelaskan panjang lebar.
"Apa kamu sempat bertemu emak seperti janji Paklik?" tanya Rando.
"Iya, setelah tiga bulan aku mondok dan hafal delapan juz dan tiga ratus hadist," jawab Hafsah lirih.
"Wah ... istriku seorang ustadzah ini!" seru Noval senang.
Hafsah menguap lebar. Ia mengantuk, tubuhnya disekap erat oleh laki-laki yang dulu adalah seorang bocah yang alim.
"Dulu kamu gendut, kemana lemakmu?" tanyanya meledek.
"Aku bukan gendut ... tapi aku itu montok!" sanggah Noval menolak dikatakan gendut.
"Iya mana perut balonmu?" tanya Hafsah lalu terdengar pekikan kecil karena Noval menggelitik istrinya.
"Bang ... ampun bang!" Hafsah terengah ketika menahan laju kelitikan suaminya.
'Masih ngatain aku gendut?"
"Aku kan nanya ... bukan ngatain!' tawa Hafsah lepas.
Tiba-tiba ....
"Hafsah ... Noval ... tidur, udah malam!' teriak Aminah ibu Noval di luar kamar.
Wanita itu sedikit kesal karena sepasang pengantin itu sangat berisik jika malam. Memang tak melakukan apa-apa, obrolan mereka sampai di telinganya.
"Bikin nggak bisa tidur aja!" gerutunya pelan.
Namun lambat laun senyum terukir di wajahnya. Aminah bahagia mendapat Hafsah sebagai menantunya.
Wanita itu pun ke kamar tamu yang lokasinya sedikit jauh dari kamar pengantin baru itu. Memang kamarnya dan kamar Noval berdekatan. Jadi ia bisa mendengar apa yang terjadi di kamar sebelahnya.
"Jika di sini kan nggak kedengaran!' kekehnya.
Aminah merebahkan dirinya setelah memasang ruang pendingin. Ia mengingat bagaimana ia melihat Hafsah di suatu pondok pesantren.
"Dia jadi seperti kupu-kupu cantik," lanjutnya bermonolog sambil memuji menantunya.
Aminah mengingat bagaimana ia bertemu dengan Hafsah. Waktu itu ia dan kumpulan ibu-ibu pengajian tengah mendatangi sebuah pondok pesantren. Aida juga ikut serta.
Waktu itu ada acara keagamaan di sana. Makanya tempatnya dihias meriah.
"Anak aye mondok di mari loh," ujar Aida memberitahu.
'Siapa Bu? Hafsah?" tanya salah satu ibu.
"Iye!" jawab Aida sambil mengangguk antusias.
"Masa sih? Kita kenal Hafsah yang begajulan nggak jelas gitu, bisa masuk sini?" ujar salah satu ibu lain tak.percaya.
"Bise lah ... ntar liat aje ye ...!" dengkus Aida kesal dengan para ibu-ibu yang meremehkan putrinya.
Tadinya Aminah juga tak percaya. Hingga ketika acara demi acara dimulai. Putri yang dimaksud Aida muncul dan mempersembahkan satu lantunan ayat suci Al-Quran.
"Noh tuh ... anak aye!" tunjuk Aida semangat.
Semua tentu tak percaya gadis cantik yang tengah melantunkan ayat suci Al-Quran itu adalah Hafsah.
Hafsah gadis bengal yang selalu diteriaki dan dipukuli ibunya. Hafsah yang selalu berlari dan memanjat pohon demi layangan. Yang selalu berjalan tanpa alas kaki.
"Jangan boong ah Bu!" sergah salah seorang ibu tak percaya.
"Ish ... kagak percaya amat dah. Ntar ya aye buktiin kalo itu Hafsah anak aye!" ujarnya ikutan kesal pada ibu-ibu.
Diujung acara, ternyata ada pemangilan wali murid yang hadir. Semua membelalak tak percaya ketika Aida didaulat maju ke depan. Hafsah memberikan mahkota mainan di kepala ibunya sebagai tanda ia telah menjadi hafidzah.
"Mashaallah ... beneran itu Hafsah!" teriak para ibu-ibu berbinar.
Mereka mengerubungi Hafsa dan Aida termasuk Aminah. Wanita itu tersenyum lebar ketika melihat Hafsah yang cantik dan berkulit halus.
"Mashaallah kalo kamu kek gini, kita bakalan lupa masa kecil kamu!" kekeh salah seorang ibu yang membuat pipi Hafsah merona.
Aminah benar-benar terpesona dengan kecantikan dan kepintaran Hafsah. Lalu pikirannya terbesit untuk menjodohkan putri dari teman pengajiannya itu untuk putranya.
"Mpok ... saya benar-benar beruntung mendapatkan berlian yang paling bersinar di antara semuanya," gumamnya bermonolog.
Aminah mengingat setelah pertemuan pertama itu. Ia mulai sholat istikharah, wanita itu benar-benar menginginkan Hafsah menjadi istri dari putranya.
Hingga di mana hari Aida jatuh sakit dan berada dalam sakaratul maut. Aida meminta siapa yang mau menikahkan putrinya sekarang juga.
"Saya yang mau jadikan Hafsah menantu saya!" sahut Aminah pada saat itu.
Rando tengah berdoa dan membimbing salah satu ibu yang membisikkan kalimat tauhid di telinga Aida.
"Aye mau Hafsah ada nyang jagain ... aye belum tenang matinye kalo nggak liat anak aye menikah!" ujar Aida di sela-sela sakaratul mautnya.
Hafsah datang dengan berurai air mata. Tak ada ratapan pulu keluar dari mulut gadis itu. Hafsah yang membisikkan kalimat tauhid di telinga ibunya.
"Mpok, putra saya Noval pasti bersedia menikah dengan Hafsah. Saya menjamin itu dengan nyawa saya sendiri!" ujar Aminah sangat tegas.
"Bener Bu?" tanya Aida lemah.
"Iya bener Mpok!" jawab Aminah tegas.
'Nak ... Hafsah ...," panggil Aida lemah pada putrinya.
"Iya Mak," sahut Hafsah lirih.
"Lu nurut ye apa kata mertua lu nanti ... jangan bangor lagi kek dulu!" pinta sang ibu dengan sangat lirih.
"Iya Mak," jawab Hafsah menahan tangisnya.
"Ndo ... Rando!" panggil Aida pada adik iparnya.
"Saya Mpok!" sahut Rando.
"Lu jaga keponakan lu Ampe dia nikah ye ... jangan sampe dia betingkah kek dulu lagi!" perintah Aida pada Rando.
"Iya Mpok!" jawab Rando tegas.
"Hafsah ... nurut lu ya jadi anak," pinta Aida lagi pada putrinya.
"Iya Mak ...,"
"Cium emak Sah ... cium emak," pinta Aida.
Hafsah mencium lembut pipi ibunya. Buliran bening jatuh membasahi pipi sang ibu.
"Bapak lu udah jemput ... emak pamit ... assalamualaikum," ujar Aida lagi lalu mengucap takbir.
Hafsah menahan tangisnya. Aminah langsung memeluk gadis itu erat. Keduanya bertangisan l.
"Innalilahi wa innailaihi radjiun!" ujar Rando menarik kain jarik menutup wajah Aida yang telah menutup mata selamanya.
Bersambung.
Next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸
😭😭😭😭 ingat mamah kak thor, waktu mama meninggal aq gak ada di samping mamah😭😭😭, sampai skrg berasa rela gak rela , mamah ninggalin aq, malah sejak gak ada mamah baik saudara paman dan bibi , jahat thor, sumpah thor , nyesek banget
2023-05-11
2
aidernia_Novelia
hafshah beruntung ada di samping bundanya..
2023-05-04
1
aidernia_Novelia
😭😭😭😭
2023-05-04
1