IQRO

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena, Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq: 1-5).

Sesuai dengan ayat diatas. Hafsah mulai bisa mengerjakan sedikit demi sedikit usahanya memberantas buta huruf hijaiyah ini.

Hafsah telah menyebar flyer di masjid dekat rumahnya. Kios kecil telah ia rubah sedemikian rupa. Kini ia tengah menggunting kertas origami membentuk huruf-huruf Hijaiyah.

"Sayang, assalamualaikum!" Hafsah menoleh.

"Oh Abang ... mashaallah!" seru wanita itu kaget.

Ia menoleh dinding di mana jam menempel. Sudah jam setengah dua belas.

"Maaf Bang, aku nggak lihat-lihat waktu jadi ...."

"Tidak apa-apa sayang," ujar Noval tak masalah.

Setelah menutup rolling toko. Hafsah dan Noval berjalan menuju rumah. Hanya lima langkah saja, mereka sampai.

Noval mencuci tangan, ia memilih duduk di kursi makan. Hafsah meletakkan teh hangat di sana.

"Makasih sayang," ujar Noval.

"Bang ... perkara Febi apa sudah di selesaikan baik-baik?" tanya Hafsah hati-hati.

"Ini sudah lebih tiga hari loh," ujarnya memperingati.

"Besok dia bebas kok. Aku sudah minta polisi mengantarkan dia sampai terminal setempat," jawab Noval.

Hafsah mengangguk tanda mengerti. Ketika hendak berjalan ke wastafel. Noval menarik tangannya sampai terduduk di pangkuan suaminya.

"Bang!" kikik Hafsah kegelian ketika Noval menciumi leher istrinya dengan membuka kerudung Hafsah.

"Bang ...."

"Allahuakbar Allahuakbar!" suara. adzan terdengar.

"Ssshhhh!" Hafsah menempel jari telunjuknya di bibir.

Noval mengecup jari yang menempel itu dan memagutnya. Hafsah harus menahan agar tak bersuara. Hingga ketika adzan selesai.

"Bang ... sholat dulu ya!" ajak Hafsah.

Keduanya pun pergi ke teras belakang yang biasanya untuk berwudhu. Noval sengaja menciptakan mushola mini di mana mereka bisa beribadah bersama. Usai sholat keduanya pun makan siang.

"Ini makanan kesukaan Abang semua nih!" seru Noval semringah ketika melihat makanan yang dimasak oleh istrinya.

"Semoga suaka ya Bang," ujar wanita itu tersenyum manis.

"Aku pasti suka masakan istriku!" jawab Noval tegas.

Usai makan, Noval harus bergegas ke kantornya. Ia kembali mencium bibir Hafsah.

"Aku pergi lagi ya," pamit Noval.

"Hati-hatilah Bang!" ujar Hafsah yang mengantar suaminya.

Tangannya melambai sampai.kendaraan Noval menghilang. Wanita itu kembali ke dalam untuk mencuci bekas makan mereka tadi.

Hafsah kembali meneruskan pekerjaannya. Kali ini ia tak membuka rolling tokonya.

Tak terasa sudah masuk ashar. Baru seluruh pekerjaannya selesai. Ia menatap ruangan yang telah ia hias sedemikian rupa.

"Alhamdulillah, tinggal pembukuannya. Kalo bisa sukses, aku bisa buka pesantren sendiri!" tekadnya.

Impian Hafsah yang begitu tinggi. Ia ingin memiliki satu badan pendidikan berbasis agama Islam.

"Bismillahirrahmanirrahim! Semoga dimudahkan ya Allah! Aamiin ya rabbal alaamin!" doanya penuh harap.

Selesai ashar, ia memilih mandi dan bersolek untuk sang suami. Wanita itu ingin menyambut suaminya dengan wajah ceria dan penuh suka cita.

Benar saja, Noval pulang dengan wajah lelah. Setelah Febi dipecat dan kini masuk hotel prodeo untuk menjalani hukumannya. Ia terpaksa bekerja sendiri.

"Assalamualaikum," ujarnya memberi salam ketika masuk rumah.

"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!"

Hafsah mencium punggung tangan suaminya dengan takzim. Ia juga meletakkan telapak tangan sang suami ke kepalanya dan meminta doa.

"Makasih Bang," Noval mencium lembut kening sang istri mesra.

""Mashaallah, istri Abang cantik banget!" puji Noval.

"Makasih bang," Noval menahan laju istrinya.

"Ketika nanti punya anak. Abang yakin kau tidak berdandan cantik seperti ini. Dan saat itu datang, Abang tak akan pernah kecewa!" ujarnya memberi ketegasan pada istrinya.

Hafsah tersenyum, ia mencium pipi sang suami untuk pertama kalinya. Mata Noval membesar. Ia tersenyum lebar.

"Nanti kita bikin dede bayi ya!" pinta pria itu. Hafsah mengangguk.

"Alhamdulillah!" seru Noval sambil mengangkat kedua tangan lalu mengusapnya di wajah.

Hafsah mencebik manja. Tak terasa mereka sudah berada di satu ranjang dan satu selimut.

Terdengar nafas keduanya menderu. Baik Noval dan Hafsah begitu bergelora menikmati percintaan intim mereka di atas ranjang ini.

Pagi menjelang, Hafsah mengantar suaminya. Noval meminta sang istri untuk membawakan makanan siang untuknya.

"Baik Bang!" sahut wanita itu menurut.

Hafsah menghela napas panjang ketika mobil suaminya berlalu. Ia menatap toko kecil yang ada di halaman rumahnya.

"Kapan selesainya ini?" keluhnya.

"Astaghfirullah. Aku kufur nikmat!" serunya beristighfar.

Hafsah menyesal tak mensyukuri dengan apa yang telah Allah berikan padanya selama ini.

"Masak cumi asin balado cabe ijo, ayam goreng, sayur tumis buncis .... sama apa lagi ya?" Hafsah melihat isi lemari pendingin.

"Ah ... tempe mendoan!" serunya ceria.

Ia pun segera memasak dengan cepat. Butuh waktu satu jam setengah untuk menyelesaikan semuanya.

"Alhamdulillah selesai!" ujarnya ketika memasukkan makanan terakhir dalam rantang.

Usai mandi, wanita itu menenteng rantang dan juga tasnya. Masuk mobil setelah mengunci pintu.

Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai kantor sang suami. Sampai sana ia disambut oleh resepsionis. Ia hanya tinggal menunjuk identitasnya.

"Silahkan Bu, Bapak udan nungguin. Katanya cacing di perutnya sudah berdemo," ujar resepsionis sambil berseloroh.

"Wah ... harus cepat nih sebelum demonya berlanjut!" kekeh Hafsah.

Wanita itu tentu menaiki lift khusus, Sebelum lift turun dan terbuka. Tiba-tiba bahunya ditepuk, ia pun menoleh.

"Oh ini dia gadis kampung yang begitu berani ke kantor!" sindir Puspa nyinyir.

Hafsah mengerutkan keningnya, ia lupa sosok Puspa.

"Maaf, saya sudah punya aksesnya ya!" ujar Hafsah menunjukkan kartunya.

"Kau mencurinya!" tuduh Puspa lalu merampas kartu itu.

Di sana ia melihat foto Hafsah. Ia tentu kesal bukan main. Ia yang telah bekerja selama ini, sangat sulit mendapatkan kartu akses khusus itu.

"Bangsat ... kau merayu siapa sampai bisa dapatkan ini?!" bentak Puspa.

"Bisa kembalikan itu pada saya?!" pinta Hafsah sopan.

"Emang kenapa kalo nggak dikembalikan?" sinis Puspa menatap wanita yang tingginya sepantaran itu.

Dengan gerak cepat, Hafsah menunjuk perut Puspa. Secara refleks, Puspa menurunkan tangannya untuk melindungi perut. Secepat itu Hafsah mengambil kartunya.

"Bangsat kau!" bentakan Puspa terdengar seiring lift yang ada di belakang Hafsah terbuka.

"Bu Noval?"

"Sayang?"

"Pak Hardi ... perempuan ini kok dapat kartu khusus itu. Aku udah bekerja selama lima tahun di sini, tak bisa masuk akses lift itu!" tunjuk Puspa sambil merengek manja.

"Hanya orang dekat dan istri-istri kami para staf tinggi saja yang memiliki akses untuk naik ke sini Puspa!" tukas Hardianto tegas.

"Istri Pak Bagas juga punya," sahut Noval.

"Sayang, ayo masuk!" ajak Noval.

"Saya pergi ke kantin!" pamit Hardi.

Mereka membiarkan Puspa yang hanya berdiri menatap mereka. Ketika sadar, ia menghentakkan kakinya kesal.

"Sialan!"

bersambung.

wkwkwk!

next?

Terpopuler

Comments

@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸

@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸

idih. tinggal ini yg blom ke hotel paradeo 🤣🤣🤣

2023-05-11

2

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§

ih Puspa tak getok kamu 🔨🔨🔨🔨🔨

2023-05-05

1

aidernia_Novelia

aidernia_Novelia

fighting hafshah

2023-05-04

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!