Hafsah mulai tak betah tinggal di komplek suaminya. Ia merindukan kampung halaman. Semua tetangga memang orang desa. Tetapi adab dan perilaku mereka sangat baik dan menghargai sesama.
"Bang," Hafsah menatap resah suaminya.
Hari sabtu memang libur. Jadi Noval bersama istrinya. Hafsah memang jarang keluar rumah. Sekalinya keluar membeli sayuran. Seluruh perempuan yang bekerja sebagai maid meledeknya.
"Kelonan terus!" ledek para perempuan itu sambil cekikikan.
Hafsah diam saja, tak ada kata yang keluar dari mulut kecuali muka datar.
"Udah nggak usah diladeni Buk Noval. Bisa stress. Maklum, mereka jauh dari suami jadi ya gitu!" ujar tukang sayur yang tak enak hati dengan Hafsah.
"Udah semua Pak?" tanya Hafsah.
"Udah, totalnya seratus dua puluh tiga ribu," jawab tukang sayur.
Setelah membayar, Hafsah masuk dalam rumah. Ia juga risih dengan kotoran hewan peliharaan milik pak RT.
"Kenapa Dik?" tanya Noval membuyarkan lamunan istrinya.
"Kita cari tempat baru yuk!" ujar Hafsah resah.
"Kenapa?" tanya Noval dengan kening berkerut.
Hafsah segera mengeluarkan keresahannya. Mulai ledekan para maid dan juga kotoran anjing milik pak RT.
"Hmmm ... cukup sulit untuk cari tempat baru di kota besar," ujar Noval.
"Nanti aku cari tempat di sekitar kampung dekat kantor," lanjutnya.
Noval memeluk istrinya, untuk pertama kalinya Hafsah sedih dan menangis.
"Sabar ya sayang ... dulu aku hanya sekedar beli rumah saja. Jadi tak memikirkan hal lain," ujar Noval menenangkan istrinya.
"Bagaimana kalau kita browsing dulu?" ajaknya.
Hafsah menghapus jejak basah di pipinya. Ia pun mengangguk setuju. Keduanya kini berbaring di sofa.
"Ini sayang sepertinya bagus?' ujar Noval melihat satu rumah sederhana di sebidang tanah.
'Harganya bang!" sahut Hafsah.
'Woh, setengah miliar hanya untuk ukuran tanah 150cm²? Luas bangunan juga 100cm²," Noval berdecak melihat harganya.
"Tapi aksesnya sampai empat jalan besar dan sangat strategis. Terus ada bekas warungnya," ujar Noval lagi ketika melihat rumah itu.
"Aku bisa jual rumah ini, seharga 750 juta. Pasti banyak yang mau!'
"Kita lihat dulu bang," saran Hafsah.
"Oke sayang," sahut Noval lalu mengecup pucuk kepala istrinya.
"Kita makan di luar aja yuk!" ajak pria itu.
"Kamu kan belum jalan-jalan sebelumnya," lanjutnya.
"Boleh!" angguk Hafsah antusias.
Setelah berganti baju, mereka keluar rumah. Hafsah mengunci pintu.
"Wah ... nggak jadi masak Bu?" tanya salah satu tetangga kepo.
"Nggak Mba Ninis. Saya mau ajak istri saya jalan-jalan!" jawab Noval.
"Wah ... enak ya kalo udah punya suami ... mau dong diajak jalan-jalan!" sahut Ninis dengan nada menggoda.
"Makanya cari suami Mbak!" ketus Hafsah kesal.
Ninis hanya meringis, ia mencibir kepergian sepasang suami istri itu.
"Huh ... baru kawin. Jadi masih anget-angetnya," ujarnya meledek.
"Ntar lagi juga cere kek gue lu!" lanjutnya menyumpahi Hafsah.
Noval memanjakan istrinya. Pria itu membawa ke wahana bermain yang pastinya hanya dilihat Hafsah dalam televisi.
"Kamu seneng sayang?" tanya Noval.
"Iya sayang!" pekik Hafsah tak berhenti memuja kebesaran Allah.
"Mau uji adrenalin?" tantang Noval.
"Boleh!" angguk Hafsah setuju.
Keduanya bergerak ke arah wahana rollercoaster. Mereka duduk berdampingan. Setelah dipasang pengaman. Kereta bergerak pelan.
Makin lama kereta melaju makin kencang terutama di bagian menurun. Hafsah memekik, ia menumpahkan seluruh kegundahannya dengan teriakan-teriakan.
Hanya satu putaran, lalu mereka turun. Senyum tak pernah pudar dari wajah cantik wanita berjilbab lebar itu.
"Aku lapar, makan yuk!" ajak Noval.
Ketika duduk di sebuah restoran, Hafsah membelalak melihat menu. Di sana tertulis harga makanan yang fantastis.
"Bang ... mahal, kita makan di rumah. Atau makan di warung makan aja!" bisik wanita itu.
"Sudah nggak apa-apa. Kamu pesan apa?" tawar Noval.
Hafsah sedikit sulit menentukan karena melihat harga. Noval memilihnya, sebuah steak tenderloin dan minuman jus jeruk.
Makanan terhidang, Noval membantu istrinya memotong daging hingga ukuran kecil-kecil. Sedang pria itu memilih makan steak t-bone.
"Enak sayang?"
"Nggak pake nasi ...," jawab Hafsah cemberut.
Noval terkekeh, pria itu mengelus pipi sang istri. Setelah makan dan membayar keduanya pun pulang.
'Ih makanan tadi lebih mahal dibanding belanja tadi pagi," keluh Hafsah.
"Sudah ah ... itu sesuai dengan harga dan tempat!' ujar Noval.
Hafsah pun diam, walau berat melihat harga makanan yang tadi mereka makan. Ia pun hanya bisa diam.
Gaji Noval tentu tak mempermasalahkan istrinya makan apapun. Keduanya pun naik mobil dan meninggalkan restoran dan pulang.
Hari sudah beranjak sore. Noval menghentikan mobil di masjid terdekat untuk melakukan sholat maghrib.
Hafsah yang sedang tidak sholat. Memilih duduk di taman dekat masjid. Ia melihat-lihat.
"Eh ... ini seperti rumah yang tadi deh?" gumamnya.
Bangunan persegi dengan warna biru laut ada di seberang taman masjid. Hafsah memilih mendekati bangunan itu.
Noval selesai sholat langsung kecarian istrinya. Pria itu mendapatkan Hafsah tengah mengamati bangunan. Ia merasa familiar.
"Sayang?" panggilnya.
"Bang, rumah ini bang!" sahut Hafsah antusias.
"Deket masjid dan fasilitas lainnya. Rumah sakit, kantor polisi dan juga pasar!"
Noval mengangguk, ia juga menyukai tempat itu. Terlebih lagi jaraknya lebih dekat ke kantor.
"Biar Abang telepon!" ujarnya.
Noval menelepon, tak lama terjadi pertemuan. Si pemilik rumah hendak pindah kota jadi menjual rumahnya.
"Saya bayar DP 10% dulu ya Pak. Nanti pelunasan di notaris!" ujar Noval.
"Baik Pak!" ujar pria itu antusias.
Akhirnya, sebuah Nota diterima Noval. Dua minggu pembayaran akan dilaksanakan di notaris yang ditunjuk penjual.
"Memang Abang punya duit sebanyak itu?" tanya Hafsah.
"Jangan khawatir sayang. Abang sudah siapkan, kalo kurang Abang pinjem sama Ibu,"
Hafsah tersenyum, ia lega tak lagi tinggal di perumahan yang bisa membuatnya stres berkepanjangan itu.
Sebelum isya mereka sudah sampai rumah. Keduanya pun lanjut makan malam. Setelah isya mereka tidur.
Pagi menjelang, Noval tengah berolahraga di halaman rumahnya.
Tak ada yang berani mengganggu pria itu. Dari dulu, semua perempuan yang bekerja sebagai maid hanya berani menatap pria itu dari jauh. Para majikan juga ada di rumah jadi semua maid takut untuk keluar.
"Pagi Pak Noval!' sapa Pak RT membawa hewan peliharaannya.
"Pagi Pak ... oh ya Pak. Tolong jangan biarkan peliharaan anda mengotori halaman saya ya!" tukas Noval tegas.
"Eh ... iya ... iya! Tapi anjing saya nggak pernah pup di sini ...."
Belum juga selesai, hewan berkaki empat itu sudah mengendus halaman milik Noval, binatang itu mulai mengorek di sana.
"Itu Pak. Tolong dibawa ya!" peringat Noval lagi.
Pak RT terpaksa menyeret binatangnya yang hendak buang hajat.
"Astaghfirullah!" ujar Noval lalu mengelus dadanya.
Merasa cukup, pria itu masuk dalam rumah. Hafsah keluar ketika tukang sayur lewat. Ia lupa membeli garam.
"Wah ... yang kemarin jalan-jalan. oleh-olehnya mana nih?" sindir Ninis mencibir Hafsah.
"Ye ... emang Bu Noval deket gitu Ama kamu Nis?" balas tukang sayur pedas.
Ninis cemberut, ia kembali masuk rumah majikannya.
"Yang sabar ya Bu Noval,"
bersambung.
Iyaa sabar aja Hafsah ... ntar lagi pindah kok!
next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
@ꪶꫝ༄Cherry🍒Chubby༄💕🇵🇸
ih untung bukan aq , udah ku lempar ma sayuran 🤓
2023-05-11
1
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
emang begitu hafsah Kao punya tentang yang mulut nya kaya kaleng rombongan 😁😁😁😁
jngan di pusingin diemin ajah , entar cape juga diem 😁😁😁
2023-05-05
1
aidernia_Novelia
omg pantas ninis dicerai gitu sih.. nggak usah ngomong jelek balik ke lo sendiri dah
2023-05-04
1