Noval menggelar pesta pernikahan keduanya. Pria itu mengundang banyak kolega penting dan juga petinggi maupun staf perusahaan. Aminah juga ada di sana bersama Rando.
"Bu, Pa'lek," Hardianto menjabat keduanya bergantian dengan senyum lebar.
Pria itu juga membawa istri dan putra tunggalnya yang masih sekolah dasar.
"Ayo cium tangan Kakek dan Nenek," perintahnya pada sang putra.
Ardian menurut, bocah berusia delapan tahun itu sangat tampan seperti ayahnya.
"Silahkan duduk Tuan, nanti pengantinnya keluar kok," suruh Rando lalu meletakkan Hardianto dan keluarga di ruang vvip bersama tamu penting lainnya.
Akhirnya pasangan yang ditunggu datang. Keduanya masuk dengan begitu serasi. Hafsah tentu sangat cantik dengan gamis yang dibeli oleh Noval. Sedang pria itu memilih memakai pakaian formal warna hitam
"Selamat menempuh hidup baru untuk Pak Noval dan istri. Semoga Allah memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat. Sakinah, mawadah, warahmah!" ujar Hardianto memberi selamat pada pengantin.
Senyum bahagia keduanya tak pernah surut. Genggaman tangan Noval tak pernah lepas menaut jemari istrinya.
Febi tentu hadir di sana. Ia penasaran dengan sosok yang berhasil mengambil hati pria idamannya.
"Pantas Pak Noval sayang dan cinta istrinya. Cantik banget!" pujinya bergumam.
Selama pesta, Hafsah bersolawat dalam hatinya. Ia sebenarnya kurang suka dengan dandanan berlebihan seperti ini.
Namun, Hafsah memang sangat cantik walau hanya memakai riasan sederhana.
Puspa datang dengan gaun terbaiknya. Ia menunjukkan kelasnya sebagai wanita kota.
"Félicitations pour votre mariage," (Selamat atas pernikahan kalian berdua!). ujarnya memberi selamat pada Noval.
Wanita itu hendak mencium pipi Noval. Tapi langsung dicegah karena Noval menarik mukanya menjauh.
"Oh really?" sindir Puspa sinis.
"Mungkin kemarin aku khilaf. Tapi sekarang aku tidak mau lagi!" jawab Noval santai.
Puspa berdecih, wanita itu enggan menyalami Hafsah yang hanya diam saja mengamati.
Noval tak memperdulikan kelakuan Puspa. Ia bersyukur tidak menyatakan perasaannya dulu pada wanita cantik di kantornya.
Semua menikmati hidangan lezat. Noval memanjakan lidah tamunya. Rando pamit untuk pulang.
"Paklik," Hafsah sedih ditinggal paman yang selalu menjaganya itu.
Hafsah memeluk tubuh pria jangkung itu. Rando pria tampan dan penuh karisma. Puspa sampai harus menyeka salivanya ketika melihat pria itu.
"Paklik pergi ya Nak. Jaga dirimu sebagai wanita muslimah. Kau harus menurut pada suamimu. Karena surga hanya ada pada kaki suamimu sekarang!" nasihat Rando.
"Iya Paklik," jawab Hafsah menurut.
'Noval, Paklik titip Hafsah. Kini seluruh dirinya adalah tanggung jawabmu. Jika kau tak mencintainya lagi. Segera kembalikan pada Paklik!" ujar Rando penuh penekanan.
"Saya akan menjaga dan mencintainya sampai akhir hayat Paklik!' jawab Noval tegas.
Rando pamit pada Aminah selalu ibu dari Noval. Wanita itu juga menjanjikan kenyamanan Hafsah bersama putranya.
"Assalamualaikum!" pamit Rando.
"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas semua orang.
Rando keluar gedung. Tugasnya sebagai paman telah selesai. Ia akan pergi berdakwah keliling Nusantara bersama beberapa ustadz muda yang masih lajang lainnya.
"Kenapa sih Paklik nggak mau ceramah di tivi?" tanya Noval pada Hafsah.
"Nggak tau," jawab Hafsah sambil mengendikkan bahu.
Noval pun tak penasaran lagi. Pria itu berhenti bertanya perihal paman dari istrinya itu.
Dua jam berlalu, pesta telah usai. Kini keduanya pulang bersama. Aminah tentu ikut dengan mereka.
"Ibu nginep?" tanya Hafsah.
"Tidak sayang. Ibu harus pulang. Sawah sudah mulai menguning. Jadi ibu harus ada di sana," jawab Aminah menolak permintaan menantunya.
Hafsah dan Noval melambaikan tangan mengiringi mobil mewah milik Aminah yang perlahan keluar dari perumahan cluster tersebut.
"Masuk yuk sayang," ajak Noval.
Keduanya pun masuk ke dalam rumah. Namun, tiba-tiba sebuah klakson mengagetkan mereka.
"Noval!"
Pria itu menoleh, Puspita turun setelah memarkir mobilnya. Wanita cantik itu tidak lagi mengenakan gaunnya. Ia memakai mini dres warna shock pink tanpa lengan.
Kulitnya yang kuning langsat benar-benar membuatnya begitu mempesona.
"Mba Pus ... ada apa ya?" tanya Noval bingung.
'Kamu nggak ngajak aku masuk?" tanya wanita itu.
Noval mempersilahkan Puspa masuk. Wanita itu duduk dengan anggun di sofa, dengan menumpangkan sebelah kakinya ke atas kaki lainnya.
"Sebentar saya panggilkan istri saya dulu," ujar Noval.
Memang, Hafsah memilih masuk terlebih dahulu tadi.
"Hei ... kenapa tamumu ditinggal?!" hardik Puspa merasa tersinggung.
"Aku rekan kerjamu jika kau lupa!" lanjutnya berdecih.
Noval akhirnya memilih duduk berseberangan dengan Puspa. Hafsah hadir membawa tiga cangkir teh dan juga kudapan.
"Silahkan Mba," tawarnya lalu duduk di sebelah sang suami.
"Oh ya ... apa bisa tinggalkan kami. Saya ingin bicara berdua saja dengan Noval!" usir Puspa langsung pada Hafsah.
Hafsah menatap suaminya. Noval menautkan jemarinya di antara jemari sang istri.
"Kamu boleh bicara di depan istri saya!" tekan Noval menatap mesra istrinya.
"Kau yakin ... ini tentang masalalu kita," ujar Puspa lalu menyandarkan punggungnya.
Pahanya terekspose sempurna. Tidak ada mata yang bisa beralih dari suguhan yang ia bawa.
"Kita tak punya masalalu selain rekan sekantor. Bahkan divisi kita berbeda Mba Puspa!" sahut Noval mulai tak nyaman dengan kehadiran sekretaris bossnya itu.
"Kau yakin?" tanya Puspa meledek.
"Aku sempat kedapatan dirimu melihatku penuh napsu," lanjutnya santai.
"Dulu aku belum beristri ... sekarang tentu beda lagi Mba!" ujar Noval tetap memberi penekanan pada Puspa sedang matanya tetap pada sang istri.
"Oh ... ayolah ..."
"Maaf Mba ... sepertinya anda sudah kelewatan jika terus memaksa suami saya mengakui hubungan dengan anda di masa lampau!" sela Hafsah tiba-tiba.
"Jangan berkata keras di depanku. Kau bukan tandinganku," ujar Puspa menyeringai pada Hafsah.
"Tandingan apa nih?" Hafsah mulai terpancing emosi.
"Saya tentu lebih menang segalanya dari anda Nona Puspa!" lanjutnya menantang.
Hafsah berdiri, sebenarnya tinggi wanita itu 170cm meter, hanya beda 10cm lebih pendek dari suaminya.
"Kau hanya wanita yang dijodohkan. Jangan berkhayal melawanku Hafsah!" sentak Puspa lalu ikutan berdiri.
Baik Puspa dan Noval tentu kaget mendengar hal itu. Hafsah sangat yakin tidak ada yang tau perihal perjodohan dirinya dengan pria di sisinya sekarang kecuali ....
Hafsah menatap Noval yang langsung dijawab dengan gelengan.
"Aku hanya mengatakan itu pada Febi. Mungkin dia hanya curi dengar!" aku Noval.
Hafsah tentu memilih perkataan suaminya. Karena sang suami telah menceritakannya beberapa hari lalu.
"Noval ... ayo kita keluar ... di sini benar-benar membuatku tak nyaman!" ajak Puspa.
"Pergilah sendiri Puspa. Aku tak mau!" tolak Noval berang.
"Nov ...."
"Jangan saya sampai mengusir anda secara kasar dari dalam rumah kami Nona Puspa!" bentak Hafsah yang membuat Puspa berjengkit kaget.
"Keluar!" bentak Hafsah lagi.
Noval menenangkan istrinya. Ia juga mengusir Puspa dengan kata-kata kurang menyenangkan disertai ancaman.
"Jabatanku lebih tinggi darimu di perusahaan Puspa! Ingat itu!"
Puspa pun pergi dengan menghentakkan kakinya. Hafsah mengelus dadanya.
"Gila! Kukira pelakor itu hanya di dunia halu. Ternyata di dunia nyata ada juga!"
Hafsah berkacak pinggang, ia menatap Noval.
"Jangan ragukan aku!" pinta pria itu penuh ketegasan.
"Aku tidak meragukanmu Bang!" jawab Hafsah tenang.
"Tapi perlu Abang ingat. Aku akan mundur teratur jika Abang mulai berkhianat dariku!" lanjutnya setengah mengancam.
"Aku tidak akan mengkhianati cintaku padamu sayang!" ujar Noval berjanji.
Hafsah memilih percaya dengan janji yang diucapkan suaminya itu.
Bersambung.
Percaya saja dulu Hafsah. Jika salah, pergi jauh.
Next?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
k⃟K⃠ B⃟ƈ ɳυɾ 👏🥀⃞༄𝑓𝑠𝑝⍟𝓜§
semoga Noval kaga macem-macem yah 😁😁😁😁
2023-05-01
2
🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛
kmu masa lalu yg belum terbentuk Puspa 🤭
2023-04-12
1
mesti harus waspada kadang wanita kayak Puspa menghalalkan seribu cara 🤩
2023-04-07
1