"𝐓𝐨𝐥𝐨𝐧𝐠! 𝐏𝐮𝐭𝐫𝐢 𝐕𝐢𝐯𝐢𝐚𝐧 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐦 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐲𝐚!!"
Hanya dengan satu dialog tanpa bukti dari pelayan itu, para penghuni dalam ruang aula seketika menjadi gempar dan marah, seakan akan putri begitu penting dimata mereka- tidak tapi seakan tuan putri adalah tokoh utamanya dalam kerajaan ini.
"Tunggu apa maksudmu?"
"Seorang pemuda yang datang bersama putri! Dia mengancam tuan putri dan saya. Tapi saya beruntung dapat pergi dari sana karena tuan putri meminta saya pergi, tuan putri dalam bahaya" pelayan itu mencoba menahan air matanya, seakan telah berhadapan dengan moster yang mengerikan.
𝑆𝑎𝑡𝑢 ℎ𝑎𝑙 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑒𝑚𝑝𝑒𝑟ℎ𝑎𝑡𝑖𝑘𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎, 𝑝𝑒𝑙𝑎𝑦𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑏𝑜ℎ𝑜𝑛𝑔.
"Sekarang dimana tuan putri?!" Nikolai berjalan mendekati pelayan itu, tampaknya ia sangat memperhatikan tuan putri. Wah saingan cinta kak Novan nih?
Pelayan itu menyeka air matanya dengan saputangan pemberian Nikolai, saat ia hendak memberikan jawaban "Beliau ada di-" kalimatnya terpotong oleh sebuah suara yang begitu orang-orang tunggu.
"Saya disini"
Tuan putri Vivian datang bersama dengan kak Novan. Keduanya tampak baik-baik saja namun sepertinya semua orang hanya mempercayai ucapan pelayan tadi "Kau! apa yang kau lakukan pada tuan putri?!" seorang prajurit bertanya dengan kasar ke arah kak Novan.
𝑊𝑎ℎ, 𝑎𝑝𝑎 𝑘𝑎𝑘 𝑁𝑜𝑣𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑙𝑎𝑘𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛?
"𝑯𝒆𝒚, 𝒎𝒂𝒌𝒔𝒖𝒅 𝒏𝒂𝒅𝒂 𝒃𝒊𝒄𝒂𝒓𝒂𝒎𝒖 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒑𝒂 𝒉𝒖𝒉?" tanya kak Novan tak kalah sinis.
𝐴ℎ 𝑑𝑖𝑎 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑔𝑖𝑙𝑎 𝑛𝑖ℎ..
"Lancang sekali kau!"
"𝑲𝒂𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒖𝒍𝒂𝒊 𝒅𝒖𝒍𝒖𝒂𝒏 𝒚𝒂!"
Prajurit itu hampir mengeluarkan pedang dari sarungnya sementara kak Novan seakan telah siap untuk memukulnya habis-habisan, namun tuan putri berhasil menghentikan mereka berdua secepat mungkin "Semuanya cukup! Dilarang ada perkelahian di istana ini, apa kalian mengerti?!" tuan putri Vivian berteriak dengan tegas, membuat seluruh penghuni di aula terdiam patuh.
"Cih" tampaknya kak Novan merasa kecewa akan hal itu. Apa ia kau coba bikin keributan lebih besar dari ini?!
"Sekarang saya tanya mengapa anda berteriak pada pegawal peribadi saya, tuan?" tanya putri pada prajurit itu.
"Kami dengar pria itu telah mengancam anda!" Entah telinganya yang bermasalah atau matanya yang rabun, Nikolai malah menjawab pertanyaan tuan putri padahal sang putri bertanya pada orang lain.
𝐾𝑎𝑘𝑎𝑘 𝑢𝑏𝑎𝑛𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑡𝑢 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢ℎ 𝑏𝑒𝑟𝑎𝑛𝑖.
𝑈𝑝𝑠 𝑡𝑎𝑛𝑝𝑎 𝑠𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑘𝑢 𝑚𝑢𝑎𝑙𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑖𝑘𝑢𝑡𝑖 𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑏𝑖𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑘𝑎𝑘 𝑁𝑜𝑣𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝑎𝑙𝑒𝑖𝑑..
Tampaknya tak hanya aku yang geleng-geleng kepala, di belakang putri kak Novan tampaknya berpikir hal yang sama, namun anehnya semua orang mulai mendukung kesaksian itu.
𝐴𝑦𝑜𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑝𝑎 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑔𝑖𝑙𝑎 𝑑𝑖𝑎?
"Apa maksud kalian? Dia itu pengawal saya!!" ujar sang putri.
"Benar mana mungkin saya seberani itu..." Dukung kak Novan dengan wajah seakan kurang meyakinkan.
𝐴𝑘𝑢 𝑡𝑎ℎ𝑢 𝑖𝑎 𝑏𝑖𝑠𝑎..
Meskipun begitu kegaduhan belum usai sama sekali "Tuan putri anda tidak perluh takut! katakan yang sebenarnya pada kami!" Ujar salah seorang bangsawan.
𝑇𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑘𝑒𝑛𝑎𝑝𝑎 𝑚𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑛𝑔𝑜𝑡𝑜𝑡 𝑠𝑒𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎ℎ𝑢 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑑𝑖?
𝐾𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑢𝑠 𝑏𝑒𝑟𝑙𝑎𝑛𝑗𝑢𝑡 𝐾𝑎𝑘 𝑁𝑜𝑣𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑠𝑎 𝑚𝑒𝑙𝑒𝑑𝑎𝑘!
𝐾𝑎𝑙𝑖𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑡𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛𝑛𝑦𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑚𝑒𝑚𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔 𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑒𝑟𝑖𝑎𝑛 𝐾𝑎𝑙𝑒𝑖𝑑 𝑡𝑎𝑑𝑖 𝑝𝑎𝑔𝑖?!
"𝗔𝗽𝗮 𝗸𝗮𝗹𝗶𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗳𝗶𝘁𝗻𝗮𝗵 𝘀𝗮𝗹𝗮𝗵 𝘀𝗮𝘁𝘂 𝗯𝗮𝘄𝗮𝗵𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗿𝗽𝗲𝗿𝗰𝗮𝘆𝗮 𝘀𝗮𝘆𝗮?"
Sebuah suara bariton terdengar dari arah kejauhan, seorang pria berabut biru tuan dengan jubah putih datang memasuki aula, satu hal yang paling mencolok darinya adlaah wajah tampannya yang terppar cahaya lampu begitu cocok dengan atmosfer ruangan ini.
"Semuanya! beri hormat!"
Seorang pria berambut emas berteriak lantang ke hadapan semua orang dan pada saat itu semuanya mendundukan kepala mereka. Kaleid langsung berlari cepat ke hadapan sosok itu dan memberi hormat "Maaf atas keributan ini, Jendral Abdi Akasa"
Bagai elang yang menatap mangsa pemuda itu menatap ke semua orang dengan pandangan mengintimidasi namun itu kemudian tak bertahan lama sebelum pemuda bernama Abdi itu berjalan ke arah tuan putri. Dengan wajah yang tak dapat di jelaskan ia menuju ke arah sana namun alih-alih bertanya kondisi sang putri ia malah menatap ke arah kak Novan.
Sama sepertinya kak Novan tampak terkejut, keduanya memasang wajah yang tak dapat dijelaskan. Seakan sebuah tanda tanya tersirat pada kedua pupil mata mereka.
𝐴𝑝𝑎 𝑖𝑛𝑖? 𝑀𝑒𝑟𝑒𝑘𝑎 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑒𝑛𝑎𝑙..
Namun seakan sadar kalau kini puluhan mata menatap mereka Abdi segera memalingkan wajahnya ke arah sang putri "saya memberi salam pada calon pimpinan tertinggi" ujarnya membungkuk.
Aku terus menatap ke arah mereka sampai tanpa ku sadari kak Novan telah begitu lama menatapku. Ia hendak menghampiri ku namun sang putri menarik tanganya dan bersama dengan Abdi mereka bertiga berjalan pergi ke suatu tempat.
𝑇𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢-𝑡𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢! 𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛𝑘𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑖 𝑔𝑎𝑤𝑎𝑡?!
𝐴𝑘𝑢 𝑚𝑎𝑢 𝑖𝑘𝑢𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝐾𝑎𝑘 𝑁𝑜𝑣𝑎𝑛!!
"Mereka mau kemana?"
Aku ingin berlari ke sana namun Kaleid seakan tak merespon perkataan ku, bagai adegan dalam buku fantasi yang terlewatkan setelah sang tokoh utama pergi semuanya menjadi begitu diam dan hampa bagaikan boneka tanpa dalang. Yang membekas dalam kepalaku hanyalah perkataan isyarat dari mulut kak Novan.
"Kalau tidak salah kakak bilang.. dongeng?"
𝐴𝑝𝑎 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑢𝑑𝑛𝑦𝑎?
Mau sebanyak apa aku berpikir aku tidak mengerti namun ketika seseorang memanggil namaku aku kemudian mulai menyadari arti dari isyarat itu.
"Hey nak, tampaknya kau lelah bagaimana kalau ikut dengan kami ke ruang tamu?"
"Bagaimana anak kecil lemah lembut seperti ini tersesat disini bersama para pengawal?"
Kedua bersaudara Adipati Adian dan Dian Akasa tampak menaruh perhatian padaku, sementara Kaleid pergi entah kemana kedua bersaudara itu merentangkan tanganya dan dengan kata-kata manis mereka tersenyum.
""𝗗𝗶𝘀𝗶𝗻𝗶 𝗯𝘂𝗸𝗮𝗻 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁𝗺𝘂""
.
.
.
.
𝐍𝐨𝐯𝐚𝐧 𝐩𝐨𝐯:
Putri baru saja pergi untuk bersiap dan aku diminta untuk menunggu diruangan khusus yang hanya berisikan buku-buku dan rak yang tinggi. Ini membuatku memikirkan banyak hal, bagaimana nasib Arin ya- tidak bukan itu yang harus di pikirkan!
𝐷𝑖𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑎𝑚𝑎𝑛, 𝐾𝑎𝑙𝑒𝑖𝑑 𝑝𝑎𝑠𝑡𝑖 𝑚𝑒𝑛𝑗𝑎𝑔𝑎𝑛𝑦𝑎..
𝑆𝑒𝑚𝑜𝑔𝑎..
....
𝐾𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑘𝑢 𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑚𝑢𝑘𝑢𝑙𝑛𝑦𝑎.
𝑆𝑢𝑑𝑎ℎ𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑚𝑝𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑛 𝑖𝑡𝑢, 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑖𝑛𝑖 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑑𝑖? 𝑀𝑒𝑛𝑔𝑎𝑝𝑎 𝑑𝑢𝑛𝑖𝑎 𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑒𝑔𝑖𝑡𝑢 𝑎𝑛𝑒ℎ 𝑑𝑎𝑛 𝑠𝑒𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑎𝑙𝑎𝑚𝑖.
𝑃𝑢𝑡𝑟𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑗𝑢𝑛𝑗𝑢𝑛𝑔 𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 𝑑𝑎𝑛 𝑑𝑖 𝑐𝑖𝑛𝑡𝑎𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑛𝑎𝑚𝑢𝑛 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑒𝑘𝑎𝑛..
𝑀𝑢𝑛𝑐𝑢𝑙𝑛𝑦𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑒𝑟𝑘𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑤𝑎 𝐻𝑖𝑛𝑑𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑝𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑗𝑢𝑔𝑎 𝑚𝑒𝑚𝑖𝑙𝑖𝑘𝑖 𝑘𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑤𝑎 𝑃𝑙𝑢𝑡𝑜..
𝑆𝑒𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑑𝑎𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖 𝑏𝑎𝑙𝑖𝑘 𝑖𝑛𝑖 𝑠𝑒𝑚𝑢𝑎..
𝐷𝑎𝑛 𝑗𝑢𝑔𝑎 ℎ𝑎𝑙 𝑎𝑛𝑒ℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑑𝑖 𝑝𝑎𝑑𝑎𝑘𝑢..
Pikiranku kembali tengelam dalam spekulasi yang tak kumengerti, seakan spekulasi itu muncul begitu saja dalam kepalaku.
"Dongeng.. ya.."
𝐵𝑒𝑛𝑎𝑟 𝑑𝑢𝑛𝑖𝑎 𝑖𝑛𝑖 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑠𝑒𝑝𝑒𝑟𝑡𝑖 𝑖𝑡𝑢..
Dongeng, sebuah cerita yang telah lama dibacakan pada anak-anak namun kebenarannya tidak dapat dipastikan. Namun dongeng juga adalah sebuah istilah tentang suatu cerita yang belum tentu kebenarannya dan terkesan dibuat-buat.
Dalam ruangan yang dipenuhi oleh buku dan rak besar aku terdiam sembari bersenderan pada sebuah rak.
"𝑴𝒆𝒏𝒈𝒂𝒑𝒂 𝒌𝒂𝒖 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒅𝒊𝒔𝒊𝒏𝒊?" seseorang bertanya padaku dengan wajah tak percaya.
"Ku tanya bagaimana bisa kau ada di sini Novan?!" Ia berteriak padaku dengan wajah penuh amarah dan kawatir.
"Mengapa kau tidak menjawab?! Apa yang telah terjadi? Mengapa kau bisa masuk di dalam sini padahal kau bisa saja bebas—"
"𝑴𝒂𝒂𝒇 𝒕𝒂𝒑𝒊 𝒂𝒌𝒖 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒎𝒆𝒏𝒈𝒆𝒏𝒂𝒍𝒎𝒖" jawabku singkat. Rupa, wajah, gaya bicara, jangankan nama rasanya baru kali ini aku melihat wajah seperti itu, wajah yang seakan keluar dari sebuah lukisan- yah walaupun Arin dan si putri drama itu juga sama.
"Ini aku! Abdi! Kau ingat kan..?"
"@#$%*!!"
"Huh?!"
𝑇𝑢𝑛𝑔𝑔𝑢- 𝐴𝑝𝑎?
𝑆𝑒𝑛𝑠𝑜𝑟? 𝐷𝑖𝑎 𝑏𝑖𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑎𝑝𝑎 𝑠𝑖ℎ?
Baru saja aku kebingungan karena tidak dapat mendengar dengan jelas.apa yang orang itu katakan sebuah suara tiba-tiba terdengar memeasuki kepalaku dengan kencang hingga membuatku pusing.
"𝐃𝐚𝐬𝐚𝐫 𝐬𝐞𝐫𝐚𝐧𝐠𝒈𝐚"
𝑆𝑢𝑎𝑟𝑎 𝑠𝑒𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎- 𝑖𝑛𝑖 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑠𝑢𝑎𝑟𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚𝑛𝑦𝑎 𝑘𝑢 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑟!
Puluhan Kupu-kupu merang entah dari mana mulai berdatangan dan untuk sesaat aku melihat jam telah terhenti, waktu tak lagi berjalan dan ketika pengelihatanku telah dipehuni oleh kupu-kupu itu aku mendapati diriku berada di sebuah panggung teater.
"𝐁𝐞𝐫𝐛𝐚𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐦𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐠𝐢𝐥𝐦𝐮 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐧𝐢" seorang wanita cantik duduk diatas sebuah taktha, dan tepat di wajahnya sebuah topeng kaca berwarna putih terpasang. "𝐀𝐩𝐚 𝐤𝐚𝐮 𝐭𝐚𝐡𝐮 𝐤𝐨𝐬𝐞𝐤𝐮𝐞𝐧𝐬𝐢 𝐝𝐚𝐫𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐜𝐚𝐮𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐢𝐬𝐚𝐡 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐭𝐞𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐮 𝐛𝐮𝐚𝐭?" dari bawah panggung, tanaman mawar merah merambat keatas dan dengan cepat dan kuat menahan tubuhku.
"𝐇𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐦𝐚𝐭𝐢𝐚𝐧𝐥𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐰𝐚𝐛𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚" Tangkai berduri melilit ke leherku, rasa sakit menjalar pada setiap bagian tubuh yang telah terlilit oleh tunbuhan cantik itu. Darah merah kini menetes bersama dengan bunga mawar merah yang mekar di beberapa bagian tangkai.
𝑆𝑖𝑎𝑙, 𝑏𝑎𝑔𝑎𝑖𝑚𝑎𝑛𝑎 𝑐𝑎𝑟𝑎 𝑚𝑒𝑙𝑒𝑝𝑎𝑠𝑘𝑎𝑛 𝑡𝑎𝑛𝑎𝑚𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖?!
"𝑷𝒆𝒓𝒄𝒖𝒎𝒂, 𝒂𝒕𝒖𝒓𝒂𝒏𝒌𝒖 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒎𝒖𝒕𝒍𝒂𝒌 𝒅𝒊 𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒎𝒊𝒎𝒑𝒊 𝒊𝒏𝒊. 𝑻𝒂𝒏𝒂𝒎𝒂𝒏 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒕𝒆𝒓𝒖𝒔 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒕𝒎𝒖 𝒉𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝒂𝒌𝒖 𝒎𝒆𝒎𝒆𝒓𝒊𝒏𝒕𝒂𝒉𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒓𝒆𝒌𝒂 𝒖𝒏𝒕𝒖𝒌 𝒃𝒆𝒓𝒉𝒆𝒏𝒕𝒊 𝒂𝒕𝒂𝒖 𝑯𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂 𝑲𝒂𝒖 𝑴𝒂𝒕𝒊" Wanita itu tersenyum senang. Indah seperti mawar namun mematikan bagaikan duri pada tangkainya, ia berditi di atas sana tampak menikmati apa yang terjadi di bawah sini.
𝑆𝑒𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑛𝑦𝑎 𝑎𝑝𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑎𝑑𝑖, 𝑠𝑖𝑎𝑝𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑖𝑡𝑢 𝑑𝑎𝑛 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑝𝑎 𝑎𝑘𝑢 𝑡𝑒𝑟𝑗𝑒𝑏𝑎𝑘 𝑑𝑖𝑠𝑖𝑛𝑖?!
𝑀𝑒𝑛𝑔𝑎𝑝𝑎 𝑑𝑖𝑎 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑖ℎ𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑛𝑔𝑎𝑡 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑘𝑚𝑎𝑡𝑖 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑒𝑟𝑖𝑡𝑎𝑎𝑛 𝑖𝑛𝑖?!
"𝑰𝒕𝒖𝒍𝒂𝒉 𝑷𝒂𝒓𝒂 𝑫𝒆𝒘𝒂".
suara asing kembali memasuki kepalaku namun kini ini suara yang sama dengan yang pernah ku dengar. Suara bariton seorang pemuda yang di sertai dengan kicauan gagak.
"𝑰𝒂 𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒎𝒂𝒊𝒏𝒌𝒂𝒎𝒖, 𝒎𝒆𝒏𝒋𝒂𝒏𝒋𝒊𝒌𝒂𝒏 𝒅𝒊𝒓𝒊𝒎𝒖 𝒔𝒆𝒈𝒂𝒍𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒆𝒎𝒖𝒅𝒊𝒂𝒏 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒖𝒂𝒏𝒈𝒎𝒖"
"𝑫𝒊𝒅𝒖𝒏𝒊𝒂 𝒊𝒏𝒊 𝒕𝒊𝒅𝒂𝒌 𝒂𝒅𝒂 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒌𝒂𝒖 𝒑𝒆𝒓𝒄𝒂𝒚𝒂"
Rasa panas menjalar pada dadaku, lambang ular berwarna merah terlihat pada tangan kiriku.
"𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐚𝐝𝐚 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝐩𝐮𝐧. 𝐊𝐞𝐜𝐮𝐚𝐥𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐞𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢"
Samar namun pasti aku merasakan seseorang menyentuh pundakku dan ketika aku menengok aku melihat diriku sendiri yang tengah tersenyum dan meremas mawar merah.
"𝐉𝐚𝐝𝐢 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐲𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐩𝐚𝐝𝐚𝐤𝐮. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐚𝐤𝐮 𝐚𝐝𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐤𝐚𝐮"
[Bersambung]
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments