Jam menunjukkan pukul 5 sore, sepertinya tugas memasang banner di sepanjang jalan Desa Bambu yang diberikan oleh Pak Babin sedikit lagi selesai.
"Mer, kamu pegangin sebelah situ ya, saya ikat talinya sebelah sini," ujar Severius yang sedang memasang banner.
"Ke kiri lagi bang, tali di pohon yang sebelah situ aja," Merta menunjuk sebuah pohon.
"Pohon yang itu aja? oke," Severius menarik talinya kemudian akan mengikatnya di pohon yang ditunjuk oleh Merta itu.
"Sebelah sini?" tanya Severius.
"Ke atas dikit, bang!" ucap Merta.
"Gini?"
"Ke atas lagi," sahut Merta memberikan instruksi
"Udah ini," ujar Severius
"Gak gituuu, lebih ke atas lagi, ah abang tentara kok pasang banner aja susah si," ledek Merta
"Apa tadi kamu bilang?"
"Engga, engga, udah cepet ini yang terakhir, Bang!" jawab Merta.
Sementara Allen, Rigel, dan Candra hanya duduk bersila menyaksikan mereka yang mulai dekat.
"Gini ya, Mer," tanya Severius yang yang telah selesai memasang banner terakhir mereka.
"Oke sip, huft! Akhirnya selesai juga" sahut Merta sambil menghembuskan nafasnya.
"Makasih ya, Mer," ucap Severius
"Makasih aja? jadian ngga? haha" sahut Merta
"Jadian- jadian, butuh waktu buat dapetin hati seseotang, Mer," jelas Severius pada Merta.
"Bisa jadi kamu cuma cinta sesaat aja sama saya, Mer. Sebentar lagi juga kita akan balik ke Semarang," ujar Severius memberikan peringatan jika tidak lama lagi ia dan para tentara yang ditugaskan PAM di Kota Kudus akan ditarik lagi ke Semarang.
Meski awalnya Merta adalah anggota geng Bianca yang manja, tetapi kini Merta mau mau saja ketika disuruh oleh para tentara itu membantu mereka memasang banner. Mungkin karena perasaan tulusnya pada Severius, hingga sifat yang biasanya manja itu kini mendadak hilang.
"Gak kerasa ya, usah selesai aja, makasih Merta," ucap Rigel.
"Gak kerasa, gak kerasa, saya sama bang Severius ini yang capek! kalian mah dikit doang pasang bannernya," protes Merta pada Rigel.
Memang dari awal Severius dan Merta lah yag memasang banner paling banyak.
"Heh, kita kan memberi lo kesempatan buat bisa PDKT sama Severius, malah protes," ucap Allen ketus.
"Iyaaaaa, makasih ya atas kesempatan PDKTnya bang, tapi sorry ya tangan sama kaki saya jadi pegel gegara bantuin kalian," ucap Merta
"Abis ini kamu pulang biar dianter sama Severius, ya" usul Candra.
"Hah?! saya?" sahut Severius
"Ya, iyalah kamu, siapa lagi orang Merta sukanya sama kamu kok, kalo sukanya sama saya ya tak anterin saya, iya ngga, mbak Mer?" Goda Rigel
"Merta dianterin Severius aja, bang," pilih Merta
"Yaudah, Sav. Lo anterin Merta pulang ya, pakai motor dinas itu," perintah Allen.
Severius merasa tidak enak jika harus menolak perintah abangnya itu, terlebih lagi Merta telah membantu mereka mengerjakan tugasnya. Akhirnya terpaksa ia harus menyetujui perintah abangnya itu.
"Yaudah ayok, Mer. Saya anterin kamu pulang," ajak Severius.
Kemudian Merta dengan senyum yang terluas dibibirnya segera membonceng Severius dan menunjukkan arah kerumahnya.
"Tidak apa apa gak dijadiin anggota geng Bianca lagi, asalkan bisa memeluk punggung Severius seperti ini," batin Merta.
***
Allen, Rigel, dan Candra masih menunggu Severius yang sedang mengantarkan Merta pulang kerumahnya. Sekitar beberapa menit kemudian Severius segera kembali.
"Tuh Severius udah balik. Lex, kamu telfon Pak Babin dulu laporan kalo kita udh selesai pasang semua bannernya," perintah Rigel
"Kamu aja yang telfon," tolak Allen
"Nanti kalo saya yang telfon, kita bisa dikasih tugas lagi, ini udh jam segini gak capek apa kamu, masa iya harus nugas lagi," jelas Rigel
"Yaudah bentar, gue telfon," kata Allen akhirnya.
Allen kemudian tampak mengeluarkan ponsel dari balik saku celana lorengnya.
Tuuutt...tuuutt...
Panggilannya berdering, dan sesaat kemudian Pak Babin mengangkatnya.
["Halo Pak! Ini saya Allen! Ijin laporan, kami sudah selesai melaksanakan tugas!"] ucap Allen tegas di telfon.
["Ya, sip! Jatah makan malam sudah tersedia di Balai Desa, makan dulu saja, kalo butuh apa apa ada Citra di Balai Desa, bilang sama Citra saja ya"] ujar Pak Babin di telfon.
[" Siap, pak. Terimaksih"] ucap Allen menutup pembicaraan.
Sesaat kemudian Pak Babin juga menutup telfonnya.
"Kita disuruh makan dulu di Balai Desa," kata Allen pada ketiga temannya itu.
"Nah kan, kalo kamu yang telfon kita langsung disuruh makan," kata Rigel.
"Gak enak mungkin mau nyuruh PEWARIS UTAMA XANDER GROUP," kata Candra menegaskan kalimatnya.
"Gue sama aja cuma prajurit biasa," kata Allen merendah.
"Tapi kasian juga ya nyokap bokap kamu, Lex. Punya dua anak cowok semua gak ada yang mau jadi pewaris perusahaan orang tua. Kamu jadi tentara dan adekmu Yovien jadi polisi," ucap Rigel merasa iba.
Allen sebenarnya enggan menyahuti ucapan Rigel. Menjadi tentara adalah cita-citanya sedari kecil. Dan ketika ia dengan susah payah perjuangan sampai pada akhirnya ia meraih cita citanya, akankah Allen melepaskannya begitu saja?
"Udah gausah bahas hidup gue, Gel. Apa belum cukup selama ini lo kenal gue, Gel? Harusnya lo tau posisi gue," lirih Allen.
"Ya tapi setidaknya kamu harus kunjungin mereka sekali kali, Len," desak Rigel.
"Lo gatau rasanya jadi gue, Gel! Terakhir kali gue temuin mereka waktu ada cuti, mereka cuma ngasih undangan rapat pemegang saham perusahaan! Mereka sama sekali gak tanya gimana keadaan gue, apa gue sehat apa gue sakit mereka gak tanya, Gel. Bahkan dulu aja saat upacara penutupan pendidikan tentara gue mereka gak datang!" jelas Allen dengan emosi sedihnya.
Kini tak terasa matanya berkaca-kaca.
"Iya, Len. Sorry Len. Saya cuma ngasih tau aja, jangan sampai menunjukkan rasa sayang yang terlambat seperti saya, Len. Saya gak mau kamu jadi seperti saya. Saya bahkan masih tugas, tidak bisa pulang saat ibu saya satu satunya itu sakit, saat beliu meninggal saya baru bisa pulang," jelas Rigel yang kini juga matanya berkaca-kaca.
"Itulah resiko menjadi tentara, Bang," lirih Severius sambil memegang pundak Rigel.
"Udah udah, bang Allen, Bang Rigel. Kita makan dulu yok, Sav. Ayok," ajak Candra berusaha mencairkan suasana sembari mencubit lengan Severius.
"Kalian ke Balai Desa aja dulu, gue nyusul nanti," pamit Allen pada mereka. Kemudian berlalu menggunakan motor dinas dari Balai Desa.
"Baaaang....bang Allen, mau kemanaaaa," teriak Candra.
"Udah biarin Allen sendiri dulu, ini motor kita naikin bertiga aja," ajak Rigel.
Candra yang awalnya membonceng Allen kini ikut menaiki motor yang dibawa Rigel juga. Jadi, satu motor dinaiki oleh tiga orang. Rigel, Severius, dan Candra. Kemudian mereka berlalu menuju Balai Desa untuk makan malam.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments