19. Allen Sedih

Jam menunjukkan pukul 5 sore, sepertinya tugas memasang banner di sepanjang jalan Desa Bambu yang diberikan oleh Pak Babin sedikit lagi selesai.

"Mer, kamu pegangin sebelah situ ya, saya ikat talinya sebelah sini," ujar Severius yang sedang memasang banner.

"Ke kiri lagi bang, tali di pohon yang sebelah situ aja," Merta menunjuk sebuah pohon.

"Pohon yang itu aja? oke," Severius menarik talinya kemudian akan mengikatnya di pohon yang ditunjuk oleh Merta itu.

"Sebelah sini?" tanya Severius.

"Ke atas dikit, bang!" ucap Merta.

"Gini?"

"Ke atas lagi," sahut Merta memberikan instruksi

"Udah ini," ujar Severius

"Gak gituuu, lebih ke atas lagi, ah abang tentara kok pasang banner aja susah si," ledek Merta

"Apa tadi kamu bilang?"

"Engga, engga, udah cepet ini yang terakhir, Bang!" jawab Merta.

Sementara Allen, Rigel, dan Candra hanya duduk bersila menyaksikan mereka yang mulai dekat.

"Gini ya, Mer," tanya Severius yang yang telah selesai memasang banner terakhir mereka.

"Oke sip, huft! Akhirnya selesai juga" sahut Merta sambil menghembuskan nafasnya.

"Makasih ya, Mer," ucap Severius

"Makasih aja? jadian ngga? haha" sahut Merta

"Jadian- jadian, butuh waktu buat dapetin hati seseotang, Mer," jelas Severius pada Merta.

"Bisa jadi kamu cuma cinta sesaat aja sama saya, Mer. Sebentar lagi juga kita akan balik ke Semarang," ujar Severius memberikan peringatan jika tidak lama lagi ia dan para tentara yang ditugaskan PAM di Kota Kudus akan ditarik lagi ke Semarang.

Meski awalnya Merta adalah anggota geng Bianca yang manja, tetapi kini Merta mau mau saja ketika disuruh oleh para tentara itu membantu mereka memasang banner. Mungkin karena perasaan tulusnya pada Severius, hingga sifat yang biasanya manja itu kini mendadak hilang.

"Gak kerasa ya, usah selesai aja, makasih Merta," ucap Rigel.

"Gak kerasa, gak kerasa, saya sama bang Severius ini yang capek! kalian mah dikit doang pasang bannernya," protes Merta pada Rigel.

Memang dari awal Severius dan Merta lah yag memasang banner paling banyak.

"Heh, kita kan memberi lo kesempatan buat bisa PDKT sama Severius, malah protes," ucap Allen ketus.

"Iyaaaaa, makasih ya atas kesempatan PDKTnya bang, tapi sorry ya tangan sama kaki saya jadi pegel gegara bantuin kalian," ucap Merta

"Abis ini kamu pulang biar dianter sama Severius, ya" usul Candra.

"Hah?! saya?" sahut Severius

"Ya, iyalah kamu, siapa lagi orang Merta sukanya sama kamu kok, kalo sukanya sama saya ya tak anterin saya, iya ngga, mbak Mer?" Goda Rigel

"Merta dianterin Severius aja, bang," pilih Merta

"Yaudah, Sav. Lo anterin Merta pulang ya, pakai motor dinas itu," perintah Allen.

Severius merasa tidak enak jika harus menolak perintah abangnya itu, terlebih lagi Merta telah membantu mereka mengerjakan tugasnya. Akhirnya terpaksa ia harus menyetujui perintah abangnya itu.

"Yaudah ayok, Mer. Saya anterin kamu pulang," ajak Severius.

Kemudian Merta dengan senyum yang terluas dibibirnya segera membonceng Severius dan menunjukkan arah kerumahnya.

"Tidak apa apa gak dijadiin anggota geng Bianca lagi, asalkan bisa memeluk punggung Severius seperti ini," batin Merta.

***

Allen, Rigel, dan Candra masih menunggu Severius yang sedang mengantarkan Merta pulang kerumahnya. Sekitar beberapa menit kemudian Severius segera kembali.

"Tuh Severius udah balik. Lex, kamu telfon Pak Babin dulu laporan kalo kita udh selesai pasang semua bannernya," perintah Rigel

"Kamu aja yang telfon," tolak Allen

"Nanti kalo saya yang telfon, kita bisa dikasih tugas lagi, ini udh jam segini gak capek apa kamu, masa iya harus nugas lagi," jelas Rigel

"Yaudah bentar, gue telfon," kata Allen akhirnya.

Allen kemudian tampak mengeluarkan ponsel dari balik saku celana lorengnya.

Tuuutt...tuuutt...

Panggilannya berdering, dan sesaat kemudian Pak Babin mengangkatnya.

["Halo Pak! Ini saya Allen! Ijin laporan, kami sudah selesai melaksanakan tugas!"] ucap Allen tegas di telfon.

["Ya, sip! Jatah makan malam sudah tersedia di Balai Desa, makan dulu saja, kalo butuh apa apa ada Citra di Balai Desa, bilang sama Citra saja ya"] ujar Pak Babin di telfon.

[" Siap, pak. Terimaksih"] ucap Allen menutup pembicaraan.

Sesaat kemudian Pak Babin juga menutup telfonnya.

"Kita disuruh makan dulu di Balai Desa," kata Allen pada ketiga temannya itu.

"Nah kan, kalo kamu yang telfon kita langsung disuruh makan," kata Rigel.

"Gak enak mungkin mau nyuruh PEWARIS UTAMA XANDER GROUP," kata Candra menegaskan kalimatnya.

"Gue sama aja cuma prajurit biasa," kata Allen merendah.

"Tapi kasian juga ya nyokap bokap kamu, Lex. Punya dua anak cowok semua gak ada yang mau jadi pewaris perusahaan orang tua. Kamu jadi tentara dan adekmu Yovien jadi polisi," ucap Rigel merasa iba.

Allen sebenarnya enggan menyahuti ucapan Rigel. Menjadi tentara adalah cita-citanya sedari kecil. Dan ketika ia dengan susah payah perjuangan sampai pada akhirnya ia meraih cita citanya, akankah Allen melepaskannya begitu saja?

"Udah gausah bahas hidup gue, Gel. Apa belum cukup selama ini lo kenal gue, Gel? Harusnya lo tau posisi gue," lirih Allen.

"Ya tapi setidaknya kamu harus kunjungin mereka sekali kali, Len," desak Rigel.

"Lo gatau rasanya jadi gue, Gel! Terakhir kali gue temuin mereka waktu ada cuti, mereka cuma ngasih undangan rapat pemegang saham perusahaan! Mereka sama sekali gak tanya gimana keadaan gue, apa gue sehat apa gue sakit mereka gak tanya, Gel. Bahkan dulu aja saat upacara penutupan pendidikan tentara gue mereka gak datang!" jelas Allen dengan emosi sedihnya.

Kini tak terasa matanya berkaca-kaca.

"Iya, Len. Sorry Len. Saya cuma ngasih tau aja, jangan sampai menunjukkan rasa sayang yang terlambat seperti saya, Len. Saya gak mau kamu jadi seperti saya. Saya bahkan masih tugas, tidak bisa pulang saat ibu saya satu satunya itu sakit, saat beliu meninggal saya baru bisa pulang," jelas Rigel yang kini juga matanya berkaca-kaca.

"Itulah resiko menjadi tentara, Bang," lirih Severius sambil memegang pundak Rigel.

"Udah udah, bang Allen, Bang Rigel. Kita makan dulu yok, Sav. Ayok," ajak Candra berusaha mencairkan suasana sembari mencubit lengan Severius.

"Kalian ke Balai Desa aja dulu, gue nyusul nanti," pamit Allen pada mereka. Kemudian berlalu menggunakan motor dinas dari Balai Desa.

"Baaaang....bang Allen, mau kemanaaaa," teriak Candra.

"Udah biarin Allen sendiri dulu, ini motor kita naikin bertiga aja," ajak Rigel.

Candra yang awalnya membonceng Allen kini ikut menaiki motor yang dibawa Rigel juga. Jadi, satu motor dinaiki oleh tiga orang. Rigel, Severius, dan Candra. Kemudian mereka berlalu menuju Balai Desa untuk makan malam.

***

Episodes
1 1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2 2. Dhezia Frustasi
3 3. Ditolak Gabriel
4 4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5 5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6 6. Cekcok Allen dan Dhezia
7 7. Membeli Obat Demam
8 8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9 9. Bertemu Citra
10 10. First Kiss with Allen
11 11. Allen Tersenyum Licik
12 12. Lurah Jahat
13 13. Menyelamatkan Dhezia
14 14. Telfon dari Allen
15 15. The Bite Kiss
16 16. Dhezia Menangis
17 17. Diantar Pulang Allen
18 18. Pujaan Hati Allen
19 19. Allen Sedih
20 20. Dhezia Sakit
21 21. Kembalinya Allen ke Semarang
22 22. Dhezia ke Semarang
23 23. Perjanjian dengan Yovien
24 24. Kota Lama Semarang
25 25. Stasiun Tawang
26 26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27 27. Allen Menemui Dhezia
28 28. Allen Marah
29 29. Kedatangan Yovien
30 30. Sandal Jepit Maut
31 31. Payung untuk Allen
32 32. Kissing Under Umbrella
33 33. Jatuhnya Selimut Allen
34 34. Makan 10 Detik
35 35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36 36. Flash Back in Bali 1
37 37. Flash Back in Bali 2
38 38. Flash Back in Bali 3
39 39. Flash Back in Bali 4
40 40. Flash Back in Bali 5
41 41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42 42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43 43. Permintaan Nyonya Clarista
44 44. Melacak Keberadaan Allen
45 45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46 46. Memesan Taxi Online
47 47. Bunga Aster
48 48. Trans Semarang
49 49. Xander Japanesse Food
50 50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51 51. Curhat dengan Rigel
52 52. Membeli Roti untuk Dhezia
53 53. Gold Eksekutif Room
54 54. Allen Terpesona
55 55. Makan dengan Allen
56 56. Hidangan Mahal
57 57. Kejahatan Novia
58 58. Menggendong Dhezia
59 59. Kejadian di Xander Mall
60 60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61 61. Menunggui Acre di RST
62 62. Perhatian Sementara
63 63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64 64. Pesan dari Brielle
65 65. Menyuapi Dhezia
66 66. Membantu Dhezia Mandi
67 67. Mendekap Erat Allen
68 68. Penjelasan Allen
69 69. Mencubit Pipi Dhezia
70 70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71 71. Kamar Mess Dhezia
72 72. Menciumi Dhezia
73 73. Severius dan Candra
74 74. Simpang Lima Semarang
75 75. Candra dan Severius ke Club
76 76. Mengetahui yang Sebenarnya
77 77. Allen dan Yovien Bertengkar
78 78. Titik Terang Kesalahpahaman
79 79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)
Episodes

Updated 79 Episodes

1
1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2
2. Dhezia Frustasi
3
3. Ditolak Gabriel
4
4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5
5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6
6. Cekcok Allen dan Dhezia
7
7. Membeli Obat Demam
8
8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9
9. Bertemu Citra
10
10. First Kiss with Allen
11
11. Allen Tersenyum Licik
12
12. Lurah Jahat
13
13. Menyelamatkan Dhezia
14
14. Telfon dari Allen
15
15. The Bite Kiss
16
16. Dhezia Menangis
17
17. Diantar Pulang Allen
18
18. Pujaan Hati Allen
19
19. Allen Sedih
20
20. Dhezia Sakit
21
21. Kembalinya Allen ke Semarang
22
22. Dhezia ke Semarang
23
23. Perjanjian dengan Yovien
24
24. Kota Lama Semarang
25
25. Stasiun Tawang
26
26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27
27. Allen Menemui Dhezia
28
28. Allen Marah
29
29. Kedatangan Yovien
30
30. Sandal Jepit Maut
31
31. Payung untuk Allen
32
32. Kissing Under Umbrella
33
33. Jatuhnya Selimut Allen
34
34. Makan 10 Detik
35
35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36
36. Flash Back in Bali 1
37
37. Flash Back in Bali 2
38
38. Flash Back in Bali 3
39
39. Flash Back in Bali 4
40
40. Flash Back in Bali 5
41
41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42
42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43
43. Permintaan Nyonya Clarista
44
44. Melacak Keberadaan Allen
45
45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46
46. Memesan Taxi Online
47
47. Bunga Aster
48
48. Trans Semarang
49
49. Xander Japanesse Food
50
50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51
51. Curhat dengan Rigel
52
52. Membeli Roti untuk Dhezia
53
53. Gold Eksekutif Room
54
54. Allen Terpesona
55
55. Makan dengan Allen
56
56. Hidangan Mahal
57
57. Kejahatan Novia
58
58. Menggendong Dhezia
59
59. Kejadian di Xander Mall
60
60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61
61. Menunggui Acre di RST
62
62. Perhatian Sementara
63
63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64
64. Pesan dari Brielle
65
65. Menyuapi Dhezia
66
66. Membantu Dhezia Mandi
67
67. Mendekap Erat Allen
68
68. Penjelasan Allen
69
69. Mencubit Pipi Dhezia
70
70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71
71. Kamar Mess Dhezia
72
72. Menciumi Dhezia
73
73. Severius dan Candra
74
74. Simpang Lima Semarang
75
75. Candra dan Severius ke Club
76
76. Mengetahui yang Sebenarnya
77
77. Allen dan Yovien Bertengkar
78
78. Titik Terang Kesalahpahaman
79
79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!