16. Dhezia Menangis

Setelah keluar dari pintu gerbang kawasan balai desa itu, Dhezia berlari sekencang mungkin.

Prok! Prok! Prok! Prok!

Bunyi sepatu Dhezia.

Sama seperti ketika ia berangkat ke Balai Desa tadi, yang membedakannya hanyalah perasaannya saja, Dhezia terlanjur kecewa dengan Allen. Andai saja cowok itu mengatakan jika ia mencintai Dhezia, maka Dhezia mungkin tak akan  sekecewa ini. Sebab, Dhezia menilai perbuatan Allen semata hanya untuk memuaskan nafsunya dan memainkan perasannya.

“Apa yang kamu harapkan dari dia, Zia? Di aitu kaya, punya pangkat dan profesi yang bagus, mana mungkin dia menyukaimu, itu hanya caranya untuk menghukum dan merendahkan harga dirimu.”

Berkali- kali Dhezia merutuki dirinya sendiri sambal terus berlari.

Prok! Prok! Prok! Prok!

Setelah dirasa cukup jauh dari Kawasan Balai Desa, Dhezia memperlambat langkah kakinya, nafasnya tersenggal. Ia mengelus lututnya. Tanpa terasa air matanya menetes membasahi sepatunya. Kemudian ia melanjutkan jalan nya kembali.

"Seperti ini kah rasanya kecewa karena harga  dirimu dipermainkan? Ah lemah sekali kamu Dhezia. Hiks hiks," isak Dhezia dalam tangisnya.

Ditengah ia berjalan kaki, Dhezia melihat ada toko yang masih tutup. Karena ia tak mungkin pulang dalam keadaan yang seperti ini, Dhezia memilih berhenti di depan toko yang masih tutup itu. Dhezia terduduk di depan toko itu, sambil menelungkupkan tangannya menyembunyikan wajahnya yang dihiasi air mata.

Jam menunjukkan pukul 5 pagi, hawa dingin masih sangat terasa menusuk di tulang. Namun, sesaat kemudian tangis Dhezia terhenti. Ia mendongakkan kepalanya, karena suara klakson yang meraung-raung di dekatnya.

Dan benar saja, ketika Dhezia mendongakkan kepalanya, ada tiga orang perempuan  turun dari mobil sedan camry itu. Memakai high heels, celana jeans, dan jaket kulit bertulisan The Eve's girl.

Geng yang beranggotakan Bianca, Cyntia, dan Merta. Dan Bianca sendiri yang merupakan ketua geng itu adalah anak dari Pak Lurah Desa bambu.

Sebenarnya, banyak orang di kampung Dhezia yang sudah tau dengan keberadaan yang itu. Tetapi Dhezia belum mengenal mereka karena ia baru pulang dari Amerika.

Salah satu dari mereka mendekati Dhezia, dan langsung berkata,

"Jangan coba coba deketin Allen! Atau kamu akan tau akibatnya!!" ancam Bianca, cewek ketua geng itu.

Dhezia mencium bau alkohol yang keluar dari bibir gadis itu ketika mengancamnya. Mungkin mereka barusaja minum- minum, mabuk, atau hal semacamnya.

"Siapa kalian?" tanya Dhezia penasaran.

"Wuahh... wah gatau kita nih dia bos," sahut Cyntia yang juga anggota dari The Eve's girl.

"Cewek macam kamu mana pantes deketin Allen! Eeeuuuwwhh....," ledek Cyntia lagi.

Dhezia juga mencium bau alkohol yang sama dari cewek yang barusaja meledeknya itu. Setengah tahun di Amerika cukup membuatnya dengan mudah mengenali orang orang yang terkontaminasi dengan alkohol.

"Kalian tidak lebih baik dariku," jawab Dhezia datar.

Lalu Dhezia melirik cewek ketiga dari geng itu, Merta. Tetangga sebelah rumahnya sendiri. Merta hanya diam tak ikutan meledek Dhezia, tetapi Merta juga memakai jaket The Eve's girl. Dhezia pura pura tidak tau saja jika itu Merta yang ia kenal. Mungkin hampir satu tahun di Amerika membuat Dhezia tidak terlalu lagi mengenal sifat dan watak para tetangganya.

"Berani lo lawan kita hah?! Punya apa lo? Emang punya modal lo buat deketin Allen?" hina Bianca.

Duarr!

Mendengar perkataan Bianca menjadikan Dhezia serasa disambar petir. Memang dari awal itulah masalahnya, perbedaan isi kantong, jika saja Dhezia adalah wanita yang kaya raya, ia pasti akan langsung mengganti Iphone Allen saat ini juga. Dan Allen juga tidak akan mungkin mempermainkan harga dirinya. Dan Allen lah yang membuatnya menangis seperti sekarang ini.

Tetapi bukan Dhezia namanya jika ia hanya diam saja tak melawan perkataan busuk Bianca. Dhezia dengan cepat menyeka air matanya, berusaha tenang dan menjawab perkataan Bianca.

"Dia memang ditakdirkan untukku, meski aku tidak punya apa apa!" tegas Dhezia.

"Berani- Berani lo!" teriak Bianca murka.

Bianca akan menampar Dhezia. Bianca dengan murka mengangkat keatas tangan kanan nya dan hendak mendaratkan telapak tangannya itu ke pipi Dhezia. Tetapi, dengan sigap Dhezia menangkis tangan Bianca, sehingga tangan Bianca tertahan dan tidak jadi menamparnya.

"Pastikan diri lo udah penuh persiapan kalo mau lawan gue," hina Dhezia pada mereka.

Dhezia kemudian berlalu meninggalkan mereka yang masih berdiri geram penuh dengan api di raut wajah mereka.

***

Pembelajaran berharga dirinya ketika melihat Brielle cekcok dengan Nicole di Amerika kini bermanfaat juga di Indonesia. Dhezia bisa dengan mudah mengalahkan perkataan Bianca si ketua geng The Eve's girl itu.

Dhezia kemudian melanjutkan langkah kakinya pulang kerumah. Matahari mulai menampakkan sinarnya, jalanan mulai ramai. Barusaja ia berjalan kurang lebih lima menit, terdengar suara motor mengikuti dengan pelan do belakangnya. Dhezia sontak meleleh kearah belakang. Dan itu Allen.

Tetapi, Dhezia tidak mempedulikannya meski ia tau itu adalah Allen. Dhezia mempercepat langkah kakinya.

"Naik! Saya antar kamu pulang!" perintah Allen.

Kini motornya melaju pelan di samping Dhezia yang sedang berjalan.

"Gausah, Len. Makasih!" tolak Dhezia dingin.

"Saya gak terima penolakan!"

"Kalo ada apa apa sama kamu, bagimana saya akan tanggung jawab! Sebagai cowok yang nyuruh kamu ke balai desa temuin saya!" imbuhnya.

“Cih! Tanggung jawab? Sebagai cowok? Kamu bahkan tidak tau tadi aku dikeroyok oleh para geng The Eve's girl yang sangat memuja dirimu,” batin Dhezia.

Allen yang tidak sabar dengan gadis itu langsung melajukan motornya ke depan dan berhenti tepat didepan Dhezia yang hendak melangkah.

"Naik!!" perintah Allen

"T-tapi.....,"

"Saya bilang naik!" tegasnya.

Allen yang dengan kasar menyentak tangan Dhezia membuat cewek itu mengikutinya dengan langkah terseok.

Dhezia kini membonceng Allen. Ia hanya terdiam dibalik punggung cowok itu.

"Kenapa si, Len? Bahkan setelah gue nampar lo sekeras tadi, lo masih peduliin gue? Lo bahkan cium gue seakan akan gue ini cewek lo Len, lo suka gue? Atau apa maksud semua ini?" batin Dhezia.

"Kenapa juga tadi gue harus nyebut lo itu takdir gue, lo cuma main main

sama gue atau apa? Kenapa lo gak jadi cowok gue aja si, Len?" batinnya lagi.

Bagimana bisa ia begitu plin plan ketika berhadapan dengan Allen. Padahal, tadinya Dhezia merasa begitu kecewa dengan perbuatan Allen, tapi kini Allen menyusulnya dan lagi lagi mengantarkannya pulang.

Allen yang merasakan Dhezia hanya diam terpaku kemudian melirik Dhezia dari kaca spion motornya.

"Wajah kamu pucat banget! Kamu sakit?"

Dhezia hanya menggeleng sekilas, ia memalingkan mukanya tidak ingin Allen memantaunya dari pantulan kaca spion. Dhezia belum bisa dikatakan sakit, ia hanya syok dengan apa yang menimpanya sejak ia pulang ke Indonesia.

***

Episodes
1 1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2 2. Dhezia Frustasi
3 3. Ditolak Gabriel
4 4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5 5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6 6. Cekcok Allen dan Dhezia
7 7. Membeli Obat Demam
8 8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9 9. Bertemu Citra
10 10. First Kiss with Allen
11 11. Allen Tersenyum Licik
12 12. Lurah Jahat
13 13. Menyelamatkan Dhezia
14 14. Telfon dari Allen
15 15. The Bite Kiss
16 16. Dhezia Menangis
17 17. Diantar Pulang Allen
18 18. Pujaan Hati Allen
19 19. Allen Sedih
20 20. Dhezia Sakit
21 21. Kembalinya Allen ke Semarang
22 22. Dhezia ke Semarang
23 23. Perjanjian dengan Yovien
24 24. Kota Lama Semarang
25 25. Stasiun Tawang
26 26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27 27. Allen Menemui Dhezia
28 28. Allen Marah
29 29. Kedatangan Yovien
30 30. Sandal Jepit Maut
31 31. Payung untuk Allen
32 32. Kissing Under Umbrella
33 33. Jatuhnya Selimut Allen
34 34. Makan 10 Detik
35 35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36 36. Flash Back in Bali 1
37 37. Flash Back in Bali 2
38 38. Flash Back in Bali 3
39 39. Flash Back in Bali 4
40 40. Flash Back in Bali 5
41 41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42 42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43 43. Permintaan Nyonya Clarista
44 44. Melacak Keberadaan Allen
45 45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46 46. Memesan Taxi Online
47 47. Bunga Aster
48 48. Trans Semarang
49 49. Xander Japanesse Food
50 50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51 51. Curhat dengan Rigel
52 52. Membeli Roti untuk Dhezia
53 53. Gold Eksekutif Room
54 54. Allen Terpesona
55 55. Makan dengan Allen
56 56. Hidangan Mahal
57 57. Kejahatan Novia
58 58. Menggendong Dhezia
59 59. Kejadian di Xander Mall
60 60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61 61. Menunggui Acre di RST
62 62. Perhatian Sementara
63 63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64 64. Pesan dari Brielle
65 65. Menyuapi Dhezia
66 66. Membantu Dhezia Mandi
67 67. Mendekap Erat Allen
68 68. Penjelasan Allen
69 69. Mencubit Pipi Dhezia
70 70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71 71. Kamar Mess Dhezia
72 72. Menciumi Dhezia
73 73. Severius dan Candra
74 74. Simpang Lima Semarang
75 75. Candra dan Severius ke Club
76 76. Mengetahui yang Sebenarnya
77 77. Allen dan Yovien Bertengkar
78 78. Titik Terang Kesalahpahaman
79 79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)
Episodes

Updated 79 Episodes

1
1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2
2. Dhezia Frustasi
3
3. Ditolak Gabriel
4
4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5
5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6
6. Cekcok Allen dan Dhezia
7
7. Membeli Obat Demam
8
8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9
9. Bertemu Citra
10
10. First Kiss with Allen
11
11. Allen Tersenyum Licik
12
12. Lurah Jahat
13
13. Menyelamatkan Dhezia
14
14. Telfon dari Allen
15
15. The Bite Kiss
16
16. Dhezia Menangis
17
17. Diantar Pulang Allen
18
18. Pujaan Hati Allen
19
19. Allen Sedih
20
20. Dhezia Sakit
21
21. Kembalinya Allen ke Semarang
22
22. Dhezia ke Semarang
23
23. Perjanjian dengan Yovien
24
24. Kota Lama Semarang
25
25. Stasiun Tawang
26
26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27
27. Allen Menemui Dhezia
28
28. Allen Marah
29
29. Kedatangan Yovien
30
30. Sandal Jepit Maut
31
31. Payung untuk Allen
32
32. Kissing Under Umbrella
33
33. Jatuhnya Selimut Allen
34
34. Makan 10 Detik
35
35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36
36. Flash Back in Bali 1
37
37. Flash Back in Bali 2
38
38. Flash Back in Bali 3
39
39. Flash Back in Bali 4
40
40. Flash Back in Bali 5
41
41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42
42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43
43. Permintaan Nyonya Clarista
44
44. Melacak Keberadaan Allen
45
45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46
46. Memesan Taxi Online
47
47. Bunga Aster
48
48. Trans Semarang
49
49. Xander Japanesse Food
50
50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51
51. Curhat dengan Rigel
52
52. Membeli Roti untuk Dhezia
53
53. Gold Eksekutif Room
54
54. Allen Terpesona
55
55. Makan dengan Allen
56
56. Hidangan Mahal
57
57. Kejahatan Novia
58
58. Menggendong Dhezia
59
59. Kejadian di Xander Mall
60
60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61
61. Menunggui Acre di RST
62
62. Perhatian Sementara
63
63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64
64. Pesan dari Brielle
65
65. Menyuapi Dhezia
66
66. Membantu Dhezia Mandi
67
67. Mendekap Erat Allen
68
68. Penjelasan Allen
69
69. Mencubit Pipi Dhezia
70
70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71
71. Kamar Mess Dhezia
72
72. Menciumi Dhezia
73
73. Severius dan Candra
74
74. Simpang Lima Semarang
75
75. Candra dan Severius ke Club
76
76. Mengetahui yang Sebenarnya
77
77. Allen dan Yovien Bertengkar
78
78. Titik Terang Kesalahpahaman
79
79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!