Sepulang mengantar Laura membeli buku dan terlibat insiden basah kuyup, Dhezia memasuki kamar dan mengganti pakaiannya, lalu membentangkan tubuhnya di tempat tidur.
"Huuuhhh...," Dhezia melepaskan nafas beratnya.
Dhezia memikirkan semua peristiwa yang terjadi padanya hari ini. Biasanya di Amerika, setiap terjadi peristiwa yang kurang mengenakkan Dhezia selalu menemui Brielle kemudian bercerita kepada Brielle. Lalu Brielle memeluknya.
Tetapi sekarang jarak memisahkan Dhezia dan Brielle. Tidak ada yang menjadi teman curhat Dhezia lagi sekarang. Dhezia bahkan terakhir kali sebelum meninggalkan Amerika belum sempat bercerita kepada Brielle kalo ia menyatakan perasaannya kepada Gabriel kekasih Nicole, tetapi berakhir dengan Gabriel menolaknya.
Ya setidaknya Gabriel masih laki laki yang baik, menolak dengan cara yang halus dan memeluknya. Gabriel bahkan rela berjalan mengikuti Dhezia ketika melihat Dhezia menyeka Air matanya. Ah, Dhezia masih saja belum bisa melupakan Gabriel meski ia sudah di Indonesia sekarang. Kemudian Dhezia teringat kembali kejadian yang menimpanya barusan.
“Bagaimana bisa ya ada laki laki menyebalkan sekali seperti itu di dunia ini,” gerutu Dhezia dalam hati.
“Bukannya minta maaf, malahan gak mau salah. Coba aja tadi cowok itu minta maaf sama aku, pasti aku langsung memaafkannya, huh!” gerutunya lagi.
Dhezia memang perempuan yang menyukai kata "maaf" yang terucap dari bibir seseorang terutama seorang laki laki. Rasanya langsung luluh seketika ketika ia mendengar kata "maaf" dari seorang laki laki. Seperti perkataan maaf Gabriel terakhir kali saat menolak cintanya. Dhezia bisa menerimanya dengan ikhlas karena Gabriel mengatakan maaf kepadanya.
Tiba- tiba saja Dhezia merasa ingin melihat wajah Gabriel. Dengan segera, ia meraih ponselnya kemudian membuka aplikasi IG yang ada di ponselnya itu. Dhezia mengetik nama Gabriel di kolom pencarian, bermaksud mencari Instagram Gabriel. Dan benar saja, dalam sekejap Instagram Gabriel langsung muncul di
layer ponselnya. Dhezia kemudian melihat profil Instagram Gabriel. Sangat menarik ternyata. Terlihat banyak foto- foto Gabriel terpampang dengan medali kejuaraan renang yang diperolehnya. Dhezia tersenyum melihatnya. Ia melanjutkan men-scroll kebawah Instagram Gabriel. Dan, tatapannya ke layer ponselnya itu berubah sedih seketika begitu mendapati foto Gabriel bersama Nicole yang diunggah di Instagram Gabriel beberapa hari yang lalu.
“Mungkin memang benar, menaruh hati kepada seseorang yang bukan milik kita lebih terasa sakitnya,” gumamnya pada diri sendiri.
“Aku ingin mencintai seseorang yang juga mencintaiku. Pasti jauh lebih menyenangkan rasanya. Sepertinya aku harus melupakanmu, Briel.” ucap Dhezia di sela sela tatapannya pada foto yang terpampang mesra itu.
"Kak Ziaaa..., makan siang dulu kak, ini sudah di tungguin sama Laura..!" Bu Ratia dari ruang makan berteriak memanggil Dhezia yang tadi pamitnya ganti baju sebentar tetapi malah merebahkan dirinya di tempat tidur.
Mendengar Ibunya memanggilnya, ia segera menutup ponselnya, kemudian menaruhnya diatas meja belajarnya, "Iyaa buk, bentar" jawab Dhezia.
Dhezia kemudian keluar kamar menuju ruang makan.
"Ini ibuk masakin kesukaan kamu sama Laura kak, tumis cumi cumi," kata Bu Ratia.
"Iyaa kak ini enak banget loh," sahut Laura.
"Iyaa makasih ya buk," Dhezia tersenyum kepada ibunya.
"Tadi siapa yang bikin kamu basah kuyup begitu, kok gak langsung cerita sama ibuk?" tanya bu ratia dengan nada khawatir kepada putrinya.
"Gapapa buk, cuma basah, gara gara petugas pengamanan Covid desa itu yang menyemprot salah arah, jadi Dhezia berangkat cantik pulang kusut deh!" kesalnya.
Mendengar jawaban Dhezia, Bu Ratia sontak tertawa, "hihihihi.. siapa yang nyemprot salah arah itu? Pak Babin?"
"Bukan buk, tentara muda, gatau siapa, tadi sih tulisan di bajunya Allen Xander gitu, temen temennya manggil dia Allen. Tapi orangnya nyebelin sekali buk, masa iya abis buat Dhezia basah kuyup gitu gak bilang sepatah kata maaf," sahut Dhezia mengadu pada ibunya.
"Tentara yang satgas covid desa kita ini kan ada 4, dikirim dari Semarang semua kan, Kak Zia. Dan katanya salah satu dari mereka ada yang anak pemilik Mall besar di Semarang," kata Bu Ratia menjelaskan pada Dhezia.
"Masa sih buk? Anak pemilik Mall besar kok mau disuruh nyemprot jalanan?!" Dhezia bertanya dengan keheranan mendengar penjelasan ibunya.
"Ya mungkin saja kan, ingin mengabdikan dirinya kepada negara, uang kan sudah tidak berarti baginya," kata Bu Ratia.
"Hah, ada ada saja ibu ini. Mana ada uang gak berarti," sahut Dhezia sambil mengangkat kedua bahunya tanda heran.
"Tadi kak Dhezia beliin mereka minum buk," tiba tiba Laura menyahut.
"Mereka? Tentara yang buat kamu basah kuyup itu?" Bu Ratia tampak bertanya heran pada Dhezia.
"Bukan dia aja, ada 3 orang temannya juga yang Dhezia kasih minum, habisnya mereka tampak lelah dan haus buk," Dhezia memberikan penjelasan kepada ibunya.
"Iya tidak apa apa, tetaplah jadi orang yang baik, Kak. Meski kita disakiti," Bu Ratia tersenyum sembari memberi nasehat kepada kedua putrinya itu.
“Oh, siap ibuk,” kata Dhezia sambil memeluk Ibunya. Kemudian pandangannya beredar ke seluruh sudut ruang makan itu, "Bapak kemana buk?"
Dhezia bertanya kepada ibunya, rasanya ia belum melihat bapaknya sepulang dari mengantar Laura ke Toserba tadi.
"Bapak sepertinya kecapean, badannya agak demam, ibu juga khawatir, tolong nanti malam belikan obat di apotek buat bapak ya kak," kata Bu Ratia meminta tolong kepada Dhezia.
"Dhezia belikan sekarang aja buk, sehabis makan ini,"
"Masih tutup kak Apotek nya Mbak Yatun, bukanya nanti sehabis maghrib karena ini hari jumat, setiap jumat baru buka habis maghrib," kata ibunya
" Dhezia beliin di apotek lain aja, gimana buk?" tawar Dhezia.
"Nanti aja kak kalo apotek nya Mbak Yatun sudah buka, bapak itu cocok kalo minum obat racikan dari apoteknya mbak yatun, kalo apotek lain kadang gak cocok kak sama dosisnya," kata Bu Ratia kepada Dhezia.
"Iya sudah kalo begitu Dhezia nurut ibuk aja," ucap Dhezia akhirnya.
***
Waktu menunjukkan Pukul 19.00 WIB. Dhezia ingat kalo ia harus membelikan obat demam untuk bapaknya. Dalam waktu beberapa menit Dhezia sudah bersiap akan pergi ke Apotek nya Mbak Yatun untuk mengantri obat untuk disana. Ia mengenakan sweater, celana jeans, dan sepatu flat shoesnya, tak lupa Dhezia mengurai rambutnya juga membuat poni dan memakai masker.
"Buukk, Dhezia ke apotek dulu ya," pamit Dhezia kepada ibunya yang sedang di kamar memijit bapak sambil menonton televisi.
"Iyaa kak zia, hati hati yaa, jangan lupa pakai jas hujan, diluar mendung," kata Bu Ratia mengingatkan.
"Laura ikut kaaaakk," teriak laura kepada kakaknya.
"Gausah Laura, diluar mendung. Laura dirumah aja besok kan daring, Nak. Udah kak, Laura biar mengerjakan PR saja dirumah, Kak. Gak usah ikut," kata Bu Ratia pada Dhezia.
" Dirumah aja, dek!” ucapnya pada Laura.
“Iya udah deh, Kak. Gak jadi ikut,” sesal Laura.
“Yaudah bu, Dhezia ke apotek dulu ya.., tunggu sebentar ya, Pak. Dhezia beliin obat dulu," ucap Dhezia pada Bu Ratia dan Pak Abu.
"Iyaa. Hati hati, bapak sebenarnya sudah agak baikan. Ibu yang memaksa buat tetep minum obat," jelas Pak Abu.
"Iya betul, Pak. Biar sehat full 100 persen pak, hehe," kata Dhezia pada Pak Abu.
"Nanti sekalian susu beruang ya, Zia." perintah Bu Ratia.
"Baik buk, Dhezia pergi dulu ya," ucap Dhezia berpamitan pada Bu Ratia dan Pak Abu.
"Hati hati, Kak Zia," pesan ibu.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments