"Mana sih ini si Dhezia Anastasya? Lama sekali!" omel Allen sembari menyapu ruangan.
"Aku disini," jawab Dhezia yang tiba tiba muncul dari arah pintu Ruang Isolasi.
Ruang Isolasi terlihat sepi, hanya ada Dhezia dan Allen disana. Dalam suasana pagi buta yang masih dingin itu, Dhezia melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.
"Mau kubantu?" tanya Dhezia
"Nih!"
Allen langsung menyodorkan sapu yang dipegangnya kepada Dhezia.
"Sapu semuanya sampai bersih! Saya mau tidur!" perintah Allen.
Memang benar firasat Dhezia, jika tidak menjadi baik, maka Allen akan berubah menyebalkan kembali seperti sebelumnya.
“Tau gitu semalam gausah selamatin aku!” gerutu Dhezia dalam hati. Namun kemudian, ia menyesali perkatannya. Jika bukan karena Allen yang menolongnya, pastilah Dhezia telah kehilangan keperawanannya saat ini. Ia harus
berterimakasih pada Allen, meski sifatnya berubah menyebalkan kembali. Namun, Allen telah berjalan pelan menuju pintu keluar ruangan itu. Dhezia buru- buru mencegahnya.
"Heh?! Gabisa gitu lah, ini kan tugas kamu, aku cuma mau bantu, kenapa aku jadi yang ngerjain semuanya? Aku sudah lelah sejak kejadian semalam dan kau menelfonku pagi pagi buta, kau tau? Aku dari rumah kesini berlari! Apa kau teg-"
Belum sempat Dhezia menghabiskan omelannya, Allen segera berbalik. Menatap Dhezia tajam dan berjalan kearah Dhezia yang masih berdiri mengomel. Dhezia tidak melanjutkan kata katanya. Hanya diam terpaku melihat Allen yang tiba tiba berbalik ke arahnya dan menatapnya tajam.
Allen telah sampai didepan tubuh Dhezia, tetapi ia terus melangkahkan kakinya seakan ingin mendesak Dhezia.
Dhezia yang melihat tingkah Allen seketika menggerakkan kakinya mundur. Dan benar, Allen terus melangkahkan kakinya, mendesak gadis itu mundur. Kini Dhezia telah berada di dekat sudut dinding ruangan isolasi itu. Tidak ada lagi celah baginya untuk mundur.
Allen masih saja menatap matanya tajam, sementara jantung Dhezia berdegup kencang. Kini tubuh dan wajah Allen tepat berada 2 cm di depan Dhezia, Dhezia tidak bisa berkata kata. Jantungnya masih saja berdegup kencang.
Dalam keheningan suasana malam menjelang pagi itu, dan hawa dingin terasa menusuk sampai di tulang. Di sudut ruangan, Allen menempelkan ujung hidungnya pada ujung hidung Dhezia. Sementara Dhezia masih terdiam terpaku. Jantungnya berdegup semakin kencang. Kini ia dapat dengan jelas merasakan hembusan nafas Allen.
"Jangan lupa kamu masih berhutang ini padaku," desah Allen.
Hidung mancungnya masih menyentuh hidung Dhezia, seperti adegan Butterfly Kiss.
"A-apa? Ja-jangan seperti ini," sahut Dhezia gugup dan berusaha mencairkan suasana.
Dhezia berharap Allen sedikit menjauhkan wajahnya. Kini Allen beralih mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Dhezia.
"Aku menagih hutangmu, jangan lupa Anastasya." bisik Allen.
Anastasya? Dhezia luluh seketika. Mengapa Allen harus memanggilnya Anastasya? Dhezia menjadi teringat akan cintanya yang ditolak oleh Gabriel. Mungkin memang benar, sehabis patah hati, akan ada cinta yang lebih baik. Mungkinkah Allen menyukainya?
Dhezia memberanikan diri untuk menatap mata Allen. Mata tajam itu kini berubah menjadi hangat.
Cup! Dhezia mencium pipi kiri Allen sekilas.
"Belum cukup, siang nanti aku sibuk, jadi aku memintanya sekarang," desis Allen.
Dan lagi, Dhezia sedikit mendongakkan wajahnya dan mencium kening Allen sekilas. Cup!
"Satu lagi, untuk hutang sore hari, mungkin aku masih akan sibuk, cium disini…," desisnya sambil menunjuk ujung bibirnya.
"Hah?! Masa iya harus disitu? Bibir itu aku harus menciumnya?" sahut Dhezia syok.
"Lah mau cium dimana lagi? Di pipi kanan sudah, di pipi kiri juga sudah, dan di dahi juga sudah. Tinggal satu tepat lagi yang tersisa," sahut Allen datar.
Dhezia memberanikan diri menatap bibir Allen. Tampak tipis. Beranikah Dhezia melakukannya?
"Huh, ibu maafin Dhezia harus cium cowok sebelum menikah," sesalnya.
Allen mendengar dengan jelas perkataan Dhezia, tetapi ia tidak mempedulikannya. Dhezia memejamkan mata, entah mengapa ia malu dan tidak ingin melihat--
Dan, Cup! Dhezia berhasil mencium bibir Allen sekilas. Ada aroma manis bercampur mint di bibir itu.
"Akhirnya, selesai juga," batin Dhezia.
Perasaannya kini tidak menentu, Dhezia berusaha mendorong sedikit tubuh Allen. Berharap lelaki itu memberi jarak terhadap tubuhnya.
Tetapi, diluar dugaan Allen justru menahan tengkuk Dhezia, sehingga membuat Dhezia sulit untuk mendorong tubuh Allen mundur.
"Len...."
Dhezia memanggil nama lelaki di depannya itu. Dan tangan Dhezia berusaha mendorong tubuh Allen yang semakin memojokannya ke dinding.
Tetapi, Allen sedikitpun tidak mempedulikannya. Allen malahan menahan tangan Dhezia yang berusaha ingin mendorongnya, dengan cepat Allen kembali mengecup bibir Dhezia, menggigit, menjilat dan **********.
“Eumm…Eumm….”
Rasanya pasokan oksigen Dhezia berkurang drastis, hingga perlakukan Allen terhadap bibirnya itu sepenuhnya membuat Dhezia lemas tak bertenaga. Entah sudah berapa menit lamanya, tetapi hisapan Allen tak kunjung berhenti, dan malahan terdengar eraman dari lelaki itu. Ini kah yang dinamakan The Bite Kiss? Seperti perilaku kebanyakan laki laki di Amerika yang ingin memiliki hak penuh atas perempuannya. Tetapi Dhezia bukanlah perempuannya sekarang. Allen belum pernah menyatakan cintanya, Allen juga belum pernah mengatakan jika ia menyukai Dhezia.
Jika mungkin dirinya saat ini berada di Amerika, pastilah Dhezia segera mengetahui jika lelaki di depannya itu menyukainya. Tetapi, Dhezia sedang berada di Indonesia sekarang. Kebanyakan di Indoensia, perbuatan Allen padanya saat ini lebih memberikan penilaian terhadap Dhezia bahwa ia adalah cewek murahan.
Entah mengapa, Dhezia merasa kecewa dengan Allen. Dhezia merasa lelaki itu sedang mempermainkan harga dirinya. Tanpa terasa air mata mulai membasahi pipinya.
Merasakan air mata yang membasahi pipi Dhezia, barulah Allen kembali tersadar apa yang telah dilakukannya terhadap perempuan cantik didepannya itu.
"A-anastasya..So-Sorry Bukan maksud saya..itu..tadi itu...." Allen dengan gugup menjelaskan kekhilafannya.
Namun, Dhezia terlanjur kecewa. Semudah itukah Allen mempermainkannya? Dan
PLAAKK!
Dhezia menampar Allen. Entah mendapatkan keberanian darimana, Dhezia menampar pipi Allen. Begitu kuat, hingga wajah Allen tertoleh kesamping. Dhezia yakin Allen merasakan sakit, karena tangan yang ia pakai untuk menampar Allen terasa panas.
"Serendah inikah aku dimata kamu, Allen? Terimaksih sudah memberiku kesempatan waktu buat ganti ponsel kamu, maaf, aku pasti akan ganti secepatnya," ucap Dhezia sembari menyeka air matanya.
“Jangan menangis! Mengapa kau menamparku? Aku bahkan merelakan tanganku sakit untuk menyelamatkanmu! Aku hanya ingin menciummu! Apa sekeras itukah responmu terhadapku?” tanya Allen lirih.
"Aku mau pulang," pamitnya lirih. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Allen dan air mata masih mengalir membasahi pipinya.
Dhezia kemudian mendorong tubuh Allen menjauh dan keluar dari ruangan isolasi itu.
***
Candra yang tengah berada di depan Aula selesai mengepel, mendapati Dhezia keluar dari pintu Ruang Isolasi. Dhezia mengabaikan Candra yang seolah penasaran dengan apa yang terjadi antara Dhezia dan abangnya itu, Allen.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments