15. The Bite Kiss

"Mana sih ini si Dhezia Anastasya? Lama sekali!" omel Allen sembari menyapu ruangan.

"Aku disini," jawab Dhezia yang tiba tiba muncul dari arah pintu Ruang Isolasi.

Ruang Isolasi terlihat sepi, hanya ada Dhezia dan Allen disana. Dalam suasana pagi buta yang masih dingin itu, Dhezia melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu.

"Mau kubantu?" tanya Dhezia

"Nih!"

Allen langsung menyodorkan sapu yang dipegangnya kepada Dhezia.

"Sapu semuanya sampai bersih! Saya mau tidur!" perintah Allen.

Memang benar firasat Dhezia, jika tidak menjadi baik, maka Allen akan berubah menyebalkan kembali seperti sebelumnya.

“Tau gitu semalam gausah selamatin aku!” gerutu Dhezia dalam hati. Namun kemudian, ia menyesali perkatannya. Jika bukan karena Allen yang menolongnya, pastilah Dhezia telah kehilangan keperawanannya saat ini. Ia harus

berterimakasih pada Allen, meski sifatnya berubah menyebalkan kembali. Namun, Allen telah berjalan pelan menuju pintu keluar ruangan itu. Dhezia buru- buru mencegahnya.

"Heh?! Gabisa gitu lah, ini kan tugas kamu, aku cuma mau bantu, kenapa aku jadi yang ngerjain semuanya? Aku sudah lelah sejak kejadian semalam dan kau menelfonku pagi pagi buta, kau tau? Aku dari rumah kesini berlari! Apa kau teg-"

Belum sempat Dhezia menghabiskan omelannya, Allen segera berbalik. Menatap Dhezia tajam dan berjalan kearah Dhezia yang masih berdiri mengomel. Dhezia tidak melanjutkan kata katanya. Hanya diam terpaku melihat Allen yang tiba tiba berbalik ke arahnya dan menatapnya tajam.

Allen telah sampai didepan tubuh Dhezia, tetapi ia terus melangkahkan kakinya seakan ingin mendesak Dhezia.

Dhezia yang melihat tingkah Allen seketika menggerakkan kakinya mundur. Dan benar, Allen terus melangkahkan kakinya, mendesak gadis itu mundur. Kini Dhezia telah berada di dekat sudut dinding ruangan isolasi itu. Tidak ada lagi celah baginya untuk mundur.

Allen masih saja menatap matanya tajam,  sementara jantung Dhezia berdegup kencang. Kini tubuh dan wajah Allen tepat berada 2 cm di depan Dhezia, Dhezia tidak bisa berkata kata. Jantungnya masih saja berdegup kencang.

Dalam keheningan suasana malam menjelang pagi itu, dan hawa dingin terasa menusuk sampai di tulang. Di sudut ruangan, Allen menempelkan ujung hidungnya pada ujung hidung Dhezia. Sementara Dhezia masih terdiam terpaku. Jantungnya berdegup semakin kencang. Kini ia dapat dengan jelas merasakan hembusan nafas Allen.

"Jangan lupa kamu masih berhutang ini padaku," desah Allen.

Hidung mancungnya masih menyentuh hidung Dhezia, seperti adegan Butterfly Kiss.

"A-apa? Ja-jangan seperti ini," sahut Dhezia gugup dan berusaha mencairkan suasana.

Dhezia berharap Allen sedikit menjauhkan wajahnya. Kini Allen beralih mendekatkan mulutnya ke telinga kiri Dhezia.

"Aku menagih hutangmu, jangan lupa Anastasya." bisik Allen.

Anastasya? Dhezia luluh seketika. Mengapa Allen harus memanggilnya Anastasya? Dhezia menjadi teringat akan cintanya yang ditolak oleh Gabriel. Mungkin memang benar, sehabis patah hati, akan ada cinta yang lebih baik. Mungkinkah Allen menyukainya?

Dhezia memberanikan diri untuk menatap mata Allen. Mata tajam itu kini berubah menjadi hangat.

Cup! Dhezia mencium pipi kiri Allen sekilas.

"Belum cukup, siang nanti aku sibuk, jadi aku memintanya sekarang," desis Allen.

Dan lagi, Dhezia sedikit mendongakkan wajahnya dan mencium kening Allen sekilas. Cup!

"Satu lagi, untuk hutang sore hari, mungkin aku masih akan sibuk, cium disini…," desisnya sambil menunjuk ujung bibirnya.

"Hah?! Masa iya harus disitu? Bibir itu aku harus menciumnya?" sahut Dhezia syok.

"Lah mau cium dimana lagi? Di pipi kanan sudah, di pipi kiri juga sudah, dan di dahi juga sudah. Tinggal satu tepat lagi yang tersisa," sahut Allen datar.

Dhezia memberanikan diri menatap bibir Allen. Tampak tipis. Beranikah Dhezia melakukannya?

"Huh, ibu maafin Dhezia harus cium cowok sebelum menikah," sesalnya.

Allen mendengar dengan jelas perkataan Dhezia, tetapi ia tidak mempedulikannya. Dhezia memejamkan mata, entah mengapa ia malu dan tidak ingin melihat--

Dan, Cup! Dhezia berhasil mencium bibir Allen sekilas. Ada aroma manis bercampur mint di bibir itu.

"Akhirnya, selesai juga," batin Dhezia.

Perasaannya kini tidak menentu, Dhezia berusaha mendorong sedikit tubuh Allen. Berharap lelaki itu memberi jarak terhadap tubuhnya.

Tetapi, diluar dugaan Allen justru menahan tengkuk Dhezia, sehingga membuat Dhezia sulit untuk mendorong tubuh Allen mundur.

"Len...."

Dhezia memanggil nama lelaki di depannya itu. Dan tangan Dhezia berusaha mendorong tubuh Allen yang semakin memojokannya ke dinding.

Tetapi, Allen sedikitpun tidak mempedulikannya. Allen malahan menahan tangan Dhezia yang berusaha ingin mendorongnya, dengan cepat Allen kembali mengecup bibir Dhezia, menggigit, menjilat dan **********.

“Eumm…Eumm….”

Rasanya pasokan oksigen Dhezia berkurang drastis, hingga perlakukan Allen terhadap bibirnya itu sepenuhnya membuat Dhezia lemas tak bertenaga. Entah sudah berapa menit lamanya, tetapi hisapan Allen tak kunjung berhenti, dan malahan terdengar eraman dari lelaki itu. Ini kah yang dinamakan The Bite Kiss? Seperti perilaku kebanyakan laki laki di Amerika yang ingin memiliki hak penuh atas perempuannya. Tetapi Dhezia bukanlah perempuannya sekarang. Allen belum pernah menyatakan cintanya, Allen juga belum pernah mengatakan jika ia menyukai Dhezia.

Jika mungkin dirinya saat ini berada di Amerika, pastilah Dhezia segera mengetahui jika lelaki di depannya itu menyukainya. Tetapi, Dhezia sedang berada di Indonesia sekarang. Kebanyakan di Indoensia, perbuatan Allen padanya saat ini lebih memberikan penilaian terhadap Dhezia bahwa ia adalah cewek murahan.

Entah mengapa, Dhezia merasa kecewa dengan Allen. Dhezia merasa lelaki itu sedang mempermainkan harga dirinya. Tanpa terasa air mata mulai membasahi pipinya.

Merasakan air mata yang membasahi pipi Dhezia, barulah Allen kembali tersadar apa yang telah dilakukannya terhadap perempuan cantik didepannya itu.

"A-anastasya..So-Sorry Bukan maksud saya..itu..tadi itu...." Allen dengan gugup menjelaskan kekhilafannya.

Namun, Dhezia terlanjur kecewa. Semudah itukah Allen mempermainkannya? Dan

PLAAKK!

Dhezia menampar Allen. Entah mendapatkan keberanian darimana, Dhezia menampar pipi Allen. Begitu kuat, hingga wajah Allen tertoleh kesamping. Dhezia yakin Allen merasakan sakit, karena tangan yang ia pakai untuk menampar Allen terasa panas.

"Serendah inikah aku dimata kamu, Allen? Terimaksih sudah memberiku kesempatan waktu buat ganti ponsel kamu, maaf, aku pasti akan ganti secepatnya," ucap Dhezia sembari menyeka air matanya.

“Jangan menangis! Mengapa kau menamparku? Aku bahkan merelakan tanganku sakit untuk menyelamatkanmu! Aku hanya ingin menciummu! Apa sekeras itukah responmu terhadapku?” tanya Allen lirih.

"Aku mau pulang," pamitnya lirih. Ia tak mampu menjawab pertanyaan Allen dan air mata masih mengalir membasahi pipinya.

Dhezia kemudian mendorong tubuh Allen menjauh dan keluar dari ruangan isolasi itu.

***

Candra yang tengah berada di depan Aula selesai mengepel, mendapati Dhezia keluar dari pintu Ruang Isolasi. Dhezia mengabaikan Candra yang seolah penasaran dengan apa yang terjadi antara Dhezia dan abangnya itu, Allen.

***

Episodes
1 1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2 2. Dhezia Frustasi
3 3. Ditolak Gabriel
4 4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5 5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6 6. Cekcok Allen dan Dhezia
7 7. Membeli Obat Demam
8 8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9 9. Bertemu Citra
10 10. First Kiss with Allen
11 11. Allen Tersenyum Licik
12 12. Lurah Jahat
13 13. Menyelamatkan Dhezia
14 14. Telfon dari Allen
15 15. The Bite Kiss
16 16. Dhezia Menangis
17 17. Diantar Pulang Allen
18 18. Pujaan Hati Allen
19 19. Allen Sedih
20 20. Dhezia Sakit
21 21. Kembalinya Allen ke Semarang
22 22. Dhezia ke Semarang
23 23. Perjanjian dengan Yovien
24 24. Kota Lama Semarang
25 25. Stasiun Tawang
26 26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27 27. Allen Menemui Dhezia
28 28. Allen Marah
29 29. Kedatangan Yovien
30 30. Sandal Jepit Maut
31 31. Payung untuk Allen
32 32. Kissing Under Umbrella
33 33. Jatuhnya Selimut Allen
34 34. Makan 10 Detik
35 35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36 36. Flash Back in Bali 1
37 37. Flash Back in Bali 2
38 38. Flash Back in Bali 3
39 39. Flash Back in Bali 4
40 40. Flash Back in Bali 5
41 41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42 42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43 43. Permintaan Nyonya Clarista
44 44. Melacak Keberadaan Allen
45 45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46 46. Memesan Taxi Online
47 47. Bunga Aster
48 48. Trans Semarang
49 49. Xander Japanesse Food
50 50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51 51. Curhat dengan Rigel
52 52. Membeli Roti untuk Dhezia
53 53. Gold Eksekutif Room
54 54. Allen Terpesona
55 55. Makan dengan Allen
56 56. Hidangan Mahal
57 57. Kejahatan Novia
58 58. Menggendong Dhezia
59 59. Kejadian di Xander Mall
60 60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61 61. Menunggui Acre di RST
62 62. Perhatian Sementara
63 63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64 64. Pesan dari Brielle
65 65. Menyuapi Dhezia
66 66. Membantu Dhezia Mandi
67 67. Mendekap Erat Allen
68 68. Penjelasan Allen
69 69. Mencubit Pipi Dhezia
70 70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71 71. Kamar Mess Dhezia
72 72. Menciumi Dhezia
73 73. Severius dan Candra
74 74. Simpang Lima Semarang
75 75. Candra dan Severius ke Club
76 76. Mengetahui yang Sebenarnya
77 77. Allen dan Yovien Bertengkar
78 78. Titik Terang Kesalahpahaman
79 79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)
Episodes

Updated 79 Episodes

1
1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2
2. Dhezia Frustasi
3
3. Ditolak Gabriel
4
4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5
5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6
6. Cekcok Allen dan Dhezia
7
7. Membeli Obat Demam
8
8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9
9. Bertemu Citra
10
10. First Kiss with Allen
11
11. Allen Tersenyum Licik
12
12. Lurah Jahat
13
13. Menyelamatkan Dhezia
14
14. Telfon dari Allen
15
15. The Bite Kiss
16
16. Dhezia Menangis
17
17. Diantar Pulang Allen
18
18. Pujaan Hati Allen
19
19. Allen Sedih
20
20. Dhezia Sakit
21
21. Kembalinya Allen ke Semarang
22
22. Dhezia ke Semarang
23
23. Perjanjian dengan Yovien
24
24. Kota Lama Semarang
25
25. Stasiun Tawang
26
26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27
27. Allen Menemui Dhezia
28
28. Allen Marah
29
29. Kedatangan Yovien
30
30. Sandal Jepit Maut
31
31. Payung untuk Allen
32
32. Kissing Under Umbrella
33
33. Jatuhnya Selimut Allen
34
34. Makan 10 Detik
35
35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36
36. Flash Back in Bali 1
37
37. Flash Back in Bali 2
38
38. Flash Back in Bali 3
39
39. Flash Back in Bali 4
40
40. Flash Back in Bali 5
41
41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42
42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43
43. Permintaan Nyonya Clarista
44
44. Melacak Keberadaan Allen
45
45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46
46. Memesan Taxi Online
47
47. Bunga Aster
48
48. Trans Semarang
49
49. Xander Japanesse Food
50
50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51
51. Curhat dengan Rigel
52
52. Membeli Roti untuk Dhezia
53
53. Gold Eksekutif Room
54
54. Allen Terpesona
55
55. Makan dengan Allen
56
56. Hidangan Mahal
57
57. Kejahatan Novia
58
58. Menggendong Dhezia
59
59. Kejadian di Xander Mall
60
60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61
61. Menunggui Acre di RST
62
62. Perhatian Sementara
63
63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64
64. Pesan dari Brielle
65
65. Menyuapi Dhezia
66
66. Membantu Dhezia Mandi
67
67. Mendekap Erat Allen
68
68. Penjelasan Allen
69
69. Mencubit Pipi Dhezia
70
70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71
71. Kamar Mess Dhezia
72
72. Menciumi Dhezia
73
73. Severius dan Candra
74
74. Simpang Lima Semarang
75
75. Candra dan Severius ke Club
76
76. Mengetahui yang Sebenarnya
77
77. Allen dan Yovien Bertengkar
78
78. Titik Terang Kesalahpahaman
79
79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!