Dhezia masih berdiri mematung di depan toserba yang barusaja tutup beberapa saat yang lalu. Tubuhnya lemas, otaknya tidak bisa berpikir. Bagaimana bisa ia sangat ceroboh berbalik dengan tergesa seperti itu dan menabrak laki laki menyebalkan bernama Allen itu. Hingga ponselnya yang berharga puluhan juta itu rusak. Dan Dhezia tidak punya pilihan lain selain menerima syarat keterlaluan dari Allen.
"Arghh!! Kenapa harus cowok nyebelin itu? Kenapa kenapa kenapaaaaaa," gerutunya berkali kali sambil memukul mukul kepalanya sendiri menggunakan tangan.
Mengapa harus Allen? Jika itu Gabriel atau pria lain pasti akan berbaik hati memberikan Dhezia waktu untuk mengganti ponsel itu tanpa harus ada syarat yang gila itu.
Disaat Dhezia tengah sibuk menggerutu, tiba- tiba saja terdengar suara perempuan yang memanggilnya dari arah jalan raya.
“Zia..Dhezia..., Dhezia kan itu??"
Citra berteriak memanggil teman lamanya yang sedang berdiri didepan toserba yang tutup. Mendengar ada yang memanggilnya Dhezia langsung menoleh kearah suara itu.
"Ci-tra??" sahut Dhezia ketika menyadari itu adalah Citra, teman sekaligus tetangga desa yang dulunya satu paguyuban menari dengannya. Ayah Citra dulu pernah menjadi Kepala Desa Bambu.
"Ngapain lo berdiri disitu, Zia?" tanya Citra yang memakai jas hujan pink polkadot. Ketika bertanya pada Dhezia ia masih berada diatas motornya.
Citra kemudian memarkirkan motornya disebelah motor Dhezia, didepan toserba yang tutup. Hujan perlahan mulai berhenti, dan Citra pun melepas jas hujannya, lalu melipatnya dan memasukkannya kedalam jok motornya.
"Tadi abis beli susu beruang, dan ada masalah sedikit, makanya basah kuyup gini, hehe," jawab Dhezia berusaha tertawa.
"Gitu ya, haha," Citra hanya ikut tertawa melihat Dhezia tertawa, tetapi sebenarnya tidak tau bagian mana yang lucu. Setahu Citra, Dhezia sedang bersekolah di luar negeri. Makanya ia sedikit kaget ketika melihat Dhezia sedang berdiri dengan keadaan basah kuyup di depan toserba.
Kemudian Dhezia bertanya pada Citra.
"Lah lo darimana tadi, Tra?" tanyanya sambil menatap teman yang sudah lama tak dilihatnya itu.
"Gue tadi dari balai desa, ini mau beli Autan, tapi malahan toserbanya udah tutup! Huh, padahal tadi gue udah ngebut dijalan, Zia. Gue kasian, orang yang gue suka tidur di balai desa. Disana banyak nyamuk katanya, tadi sih udah sempet mau minta ke abangnya, soalnya katanya abangnya beli autan. Tapi ternyata abangnya dia yang beli itu balik ke balai desa gak bawa apa apa, dan badannya basah kuyup terguyur hujan."
Citra menjelaskan panjang lebar maksud tujuannya ke toserba. Dan mendengar penjelasan Citra, Dhezia syok seketika.
"Ba-sah ku-yup?" Dhezia bertanya dengan terbata. Jangan jangan yang dimaksud Citra itu Allen.
"Iya basah semua tadi bajunya Allen," jawab Citra.
Deg! Seketika nafasnya berhenti sejenak. Dhezia masih saja tak percaya
dengan apa yang menimpa dirinya barusan. Ponselnya Allen rusak karena ulahnya.
“Tuh kan bener, yang dimaksud Citra adalah Allen,” batin Dhezia.
Kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya pada Citra.
"Lo tau Allen?" tanya Dhezia penasaran.
"Ya jelas taulah,Zia..., Allen, Rigel, Severius, dan yang paling deket sama gue Candra," sahut Citra dengan antusias
"Gue...gue..sebenernya terlibat masalah sama Allen, Tra..," ucap Dhezia bercerita kepada Citra.
"Hah? Serius lo?! Masalah apaan?"
"Gue gak sengaja nabrak dia yang lagi ngangkat telfon, terus ponselnya yang dia pegang itu kelempar ke tengah jalan, mungkin dia juga kaget, dan parahnya ponselnya itu rusak, IPhone 14."
Dhezia menjelaskan kepada Citra dengan nada sedihnya.
"Hah, mampus lo Zia, lo tau gak Allen itu siapa??? Dia itu anak pemilik Xander Group, punya perusahaan, mall dan beberapa restoran di Semarang! Bisa berabe kalo berurusan sama dia, Zia!" cerocos Citra.
Dhezia yang bercerita pada Citra bukannya beban pikirannya berkurang tetapi malahan tambah buruk!
"Terus gue harus gimana dong, Tra? Sebenarnya Allen mau ngasih gue waktu buat gantiin Iphone 14 nya dia sih, tapi dia ngajuin syarat," ucap Dhezia pada Citra akhirnya.
Citra tampak mendelik kearah Dhezia.
"Allen? Ngajuin syarat? Pasti syarat itu hal yang diluar nalar, kan?"
Citra menebak dengan pasti.
"I-iya, dia nyuruh gue..gue..,"
Dhezia tampak bingung mengatakan syarat yang diajukan Allen itu padanya.
"Lo apa?"
"Gue disuruh cium dia setelah ini di perpustakaan Balai Desa" ucap Dhezia tak berdaya
"Tuh kan bener, pasti Allen itu ngajuin syarat yang aneh aneh, terus?Lo setuju?"
" I-iya gue gak ada pilihan lain, Tra" kata Dhezia pasrah.
"Haha, yaudah gapapa lo lakuin aja, tapi jangan sampai diluar batas ya, ntar bilang sama gue kalo Allen macem macem bisa gue laporan ke bokap gue biar dia diekspor ke Semarang, wkwk," ucap Citra. Kemudian tertawa.
“Ketawa? Lo piker lucu, Tra?” kesal Dhezia.
“Upss, sorry sorry, Zia. Hihi,”
“Tau ah gue kesel sama lo,” sahut Dhezia lagi.
“Yeee jangan kesel kesel gitu dong calon gebetannya Allen, haha,” goda Citra.
“Idih, gak ya! Na to the jis!” umpat Dhezia.
Karena ayahnya mantan kades, Citra sekarang menjadi salah satu staff di balai desa. Jadi Citralah yang mengurus semua keperluan Tim Satgas Covid sekarang, termasuk sarapan pagi, makan siang, dan malam. Dan dampaknya Citra bisa dekat dengan mereka, terutama Candra. Dulu sama seperti Dhezia. Citra sama
sama tergabung di paguyuban menari di desa. Citra dan Dhezia juga sempat menyandang gelar Puteri Desa 2019, Citra juara pertama dan Dhezia juara kedua, saat mereka masih duduk di bangku sekolah menengah dulu, sebelum akhirnya Dhezia kemudian melanjutkan kuliahnya di Amerika.
“Hahahaha…,” Citra masih saja tertawa mendengar Dhezia dikerjain abis- abisan sama Allen.
"Lo bukannya tolongin gue malahan ketawa lo, " seru Dhezia kesal kepada Citra.
"Haha lah gimana habisnya menarik si, lo mau cium Allen dengan keadaan basah gini baju lo?" tanya Citra melihat Dhezia yang belum kering juga bajunya, meski sudah kena angin malam.
"Duh gimana ya, ini gue juga belum ngasihin obat bapak gue juga, tapi ntar kalo pulang kerumah dulu pasti ibuk nanyain kalo gue mau keluar temuin Allen, gue harus bilang apa ke ibuk?" ucap Dhezia kebingungan.
"Yaudah lo pulang aja sekarang, ganti baju sama ngasihin obat itu, gue tunggu disini, kalo udah chat gue, ntar gue jemput lo gue ajak ke balai desa, ntar gue yang bikin alasan, lo tenang aja" kata Citra pada Dhezia.
"Gitu? Lo gapapa jemput gue?"
"Iya gapapaaaaaaa Nooonaaaa Dheziasia," sahut Citra dengan nada yang dibuat buat.
Sebenarnya Citra juga ingin melihat Candra di Balai Desa, makanya ia dengan senang hati mau mengantar Dhezia kesana.
"Yaudah gue kerumah dulu bentar ya," kata Dhezia pada Citra.
"Iya, cepet," jawab Citra.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments