14. Telfon dari Allen

Dreeett...dreeettt...

Terdengar bunyi getar ponsel yang berada di sebelahnya. Membuat Dhezia terbangun dari tidurnya. Siapa yang meneleponnya? Dhezia merasa sepertinya dia baru tidur sebentar.

“Apa ini sudah pagi?” pikirnya dengan mata yang masih terpejam.

Dengan jiwa yang belum sadar sepenuhnya, Dhezia berusaha membuka matanya. Dhezia meraih ponselnya, melihat layar ponsel siapa yang menelfonnya. Tertera jelas nomor yang ada di layar ponsel yang bergetar itu. Nomor Allen!

Sejak kejadian semalam, mulai dari IPhone 14 yang hancur, first kiss di perpustakaan, sampai dengan tragedi Pak Lurah yang katanya akan mengantarkan ia pulang tetapi ada niat jahat dibalik kebaikan pura-puranya. Dhezia belum sempat menyimpan nomor Allen. Namun, Dhezia dapat mengingat ekor nomor yang tertera di layar ponselnya itu.

Dan juga, Dhezia ingat dengan betul. Dalam malam yang basah, angin malam yang terasa lebih sendu dari biasanya, semalam Allen lah yang menyelamatkannya, memeluknya dan mengantarkannya pulang.

Dalam perjalanan pulang, Dhezia bahkan memeluk punggung Allen, menumpahkan segala ketakutannya mengenai kejadian yang terjadi padanya.

Tetapi, setelah sampai didepan rumah Dhezia semalam Allen malahan menyuruh Dhezia langsung turun dan berlalu meninggalkannya, belum sempat Dhezia mengucapkan terimaksih pada Allen, tetapi Allen sudah terburu buru pergi. Ia tak tau apa yang dipikitkan oleh pria yang masih mengenakan seragam loreng itu ketika mengantakannya pulang. Allen bahkan menolak Dhezia ketika Dhezia menawarkan diri untuk mengobati luka di tangan kanan Allen.

“Tidak usah.”

Semalam hanya itulah yang Allen katakan. Dhezia benar benar belum bisa memahami sifat Allen sepenuhnya. Akankah hari ini Allen menjadi menyebalkan kembali? Ataukah Allen berubah menjadi baik sejak kejadian semalam? Dhezia kemudian melirik jam dinding yang berada di kamarnya. Sementara jam dinding masih menunjukkan pukul 3 dini hari.

Dan telfonnya, belum sempat Dhezia mengangkatnya, ponselnya sudah berhenti bergetar, dan sesaat kemudian bergetar kembali.

“Argh! Ngapain sih telfon malam malam begini? Allen sedang butuh bantuan? Atau dia dalam bahaya? Dia diancam oleh Pak Lurah? Ah, tapi tidak mungkin! Jelas jelas tadi malem Allen lah yang menang!” pikir Dhezia dalam hati.

Dreettt....Dreeett...

Dhezia merasa sepertinya ia harus segera mengangkatnya. Tanpa berpikir panjang Dhezia segera mengangkat telfon itu.

(“Selamat malam menjalang pagi, Lex.”) sapa Dhezia di telfon dengan suara yang terdengar masih setengah sadar.

("Angkat telfon saja lama! datang ke balai desa sekarang!”) perintah Allen.

Kemudian menutup telfonnya.

"Hah?! Ke balai desa?Sekarang? Pukul 3 pagi?" batinnya. Dhezia masih tidak percaya dengan apa yang barusaja dikatakan Allen di telfon. Dhezia kemudian segera menelfon balik nomor tersebut. Dan nomor Allen sudah tidak aktif.

“Apa Allen sudah gila?! Pukul 3 pagi?!” pekiknya dalam hati.

Tetapi, jika ia tidak menuruti keinginan Allen, ia takut kalo saja sifat Allen tiba tiba berubah menjadi menyebalkan seperti sebelumnya. Dhezia kemudian segera membuka selimut yang membaluti tubuhnya, kemudian duduk ditepi ranjang.

"Huft!" keluh Dhezia.

“Bagaimana mungkin perlakuan seseorang bisa mendadak berubah dalam beberapa jam?” tanya Dhezia dalam hati.

“Akankah hari ini Allen kembali menyebalkan seperti sebelumnya? Ataukah dia akan baik padaku? Ah, aku juga belum bisa mengganti ponselnya yang rusak!” pekik Dhezia dalam hati.

Dhezia segera bangkit dari tepi ranjang nya. Ia melirik kearah Laura yang masih tertidur di ranjang springbed sebelah kanan di dekat tembok. Dhezia memang sekamar dengan Laura. Tetapi, ada dua ranjang di kamar mereka. Dhezia tidur di ranjang spring bed sebelah kiri dan Laura tidur di ranjang spring bed sebelah kanan.

Dengan hati hati, Dhezia segera mengambil tasnya, di dalamnya terdapat badak, lipstik, dan parfum. Dhezia membuka pintu kamarnya. Sepertinya ibu dan bapak juga masih tidur. Dan untung saja, ibunya semalam juga sudah tidur, jadi tidak tahu jika Allen lah yang mengantarkan Dhezia pulang, bukan Citra.

Dhezia bergegas ke kamar mandi membersihkan mukanya dan menggosok gigi. Kemudian berdandan. Ya, Ia bahkan harus berdandan di kamar mandi. Karena, jika ia berdandan di kamarnya, ia takut Laura akan bangun, Laura pasti akan bertanya padanya dan Dhezia pasti akan kesusahan mencari-cari alasan kemana ia akan pergi.

Setelah selesai berdandan, Dhezia keluar dari kamar mandi dan segera menyelinap keluar rumah lewat pintu dapur. Karena takut membangunkan laura, ibu, dan bapak, Dhezia pun tidak menaiki motornya. Dengan mengenakan sepatu flat shoes, masih memakai baju tidur yang dilapisi cardigan rajut, dan rambut yang terurai dengan poni, Dhezia pun memilih berlari ke balai desa.

Jarak antara rumah Dhezia ke balai desa mungkin 20 menit jika berjalan, dan 15 menit jika ia berlari.

"Huh...huh..huh....fiuhh fiuhh…"

Suara hembusan nafas Dhezia.

Sebenarnya capek juga berlari, tetapi tidak ada pilihan lain, karena itu Allen yang menyuruhnya datang. Bukan orang lain.

Setelah 15 menit berlari, dengan keringat yang membasahi dahinya di malam menjelang pagi itu, akhirnya Dhezia sampai di Balai Desa.

Di Kawasan itu, tampak Rigel Severius dan Candra sedang bersih bersih Aula Balai Desa. Rigel dan Severius tampak sedang menyapu, sementara Candra tampak sedang mengepel lantai Aula.

“Mereka bersih bersih jam segini?!” batin Dhezia dalam hati.

Serajin itu kah para tentara? Lalu dimana Allen? Dhezia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke Aula Balai Desa. Karena, jika ia terlalu lama, sepertinya Allen akan marah padanya.

"Selamat pagi, mas?" sapa Dhezia pada mereka.

"Lihat bang siapa ini yang datang!" seru Severius.

"Gadisnya Allen!" celetuk Rigel

"Cari abang Allen yang jutek itu ya mbak, hahaa," goda Severius

"Gadisnya bang Allen? Kok saya ketinggalan berita bang?" sahut Candra penasaran

"Kamu kan tadi malam lagi asyik asyikan sama Citra kan palingan, makanya ketinggalan berita!" cibir Rigel

"Siap, salah bang!" kata Candra.

"Jangan sering sering, Ndra, ntar kering! Hahahaa," celetuk Rigel.

"Btw, gimana rasanya, ndra?" tanya Severius ke Candra.

"Citra? Ya manis, apalagi saya sayang sama dia, hahaha," jawab Candra.

Sementara Dhezia tampak tidak enak mendengar candaan mereka.

"Gausah di dengerin ya mbak, kita ini emang gini" kata Rigel pada Dhezia.

"Hehe iya mas, jadi dimana Allen?" tanya Dhezia pada mereka.

"Tuh kan bener cari mas Allen, haha," sahut Severius.

"Wah, bang Allen ini pasti yang nyuruh nemuin pagi pagi buta gini mau diapain ya, hahaha," celetuk Candra

Wajah Dhezia mendadak masam mendengar perkataan Candra barusan.

"Biasa ya mbak, cuma bercanda adek saya ini, itu bang Allen nya lagi nyapu di ruang isolasi, kalo mbak kesana palingan disuruh bantuin," jelas Rigel pada Dhezia.

"Iyaa mbak, padahal ruang isolasi gak ada pasiennya, tapi kita tetep disuruh bersih bersih tiap hari!" keluh Candra.

"Hehe, yang semangat ya mas, saya ke ruang isolasi dulu," pamit Dhezia seraya menundukkan kepala kepada mereka.

***

Episodes
1 1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2 2. Dhezia Frustasi
3 3. Ditolak Gabriel
4 4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5 5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6 6. Cekcok Allen dan Dhezia
7 7. Membeli Obat Demam
8 8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9 9. Bertemu Citra
10 10. First Kiss with Allen
11 11. Allen Tersenyum Licik
12 12. Lurah Jahat
13 13. Menyelamatkan Dhezia
14 14. Telfon dari Allen
15 15. The Bite Kiss
16 16. Dhezia Menangis
17 17. Diantar Pulang Allen
18 18. Pujaan Hati Allen
19 19. Allen Sedih
20 20. Dhezia Sakit
21 21. Kembalinya Allen ke Semarang
22 22. Dhezia ke Semarang
23 23. Perjanjian dengan Yovien
24 24. Kota Lama Semarang
25 25. Stasiun Tawang
26 26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27 27. Allen Menemui Dhezia
28 28. Allen Marah
29 29. Kedatangan Yovien
30 30. Sandal Jepit Maut
31 31. Payung untuk Allen
32 32. Kissing Under Umbrella
33 33. Jatuhnya Selimut Allen
34 34. Makan 10 Detik
35 35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36 36. Flash Back in Bali 1
37 37. Flash Back in Bali 2
38 38. Flash Back in Bali 3
39 39. Flash Back in Bali 4
40 40. Flash Back in Bali 5
41 41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42 42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43 43. Permintaan Nyonya Clarista
44 44. Melacak Keberadaan Allen
45 45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46 46. Memesan Taxi Online
47 47. Bunga Aster
48 48. Trans Semarang
49 49. Xander Japanesse Food
50 50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51 51. Curhat dengan Rigel
52 52. Membeli Roti untuk Dhezia
53 53. Gold Eksekutif Room
54 54. Allen Terpesona
55 55. Makan dengan Allen
56 56. Hidangan Mahal
57 57. Kejahatan Novia
58 58. Menggendong Dhezia
59 59. Kejadian di Xander Mall
60 60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61 61. Menunggui Acre di RST
62 62. Perhatian Sementara
63 63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64 64. Pesan dari Brielle
65 65. Menyuapi Dhezia
66 66. Membantu Dhezia Mandi
67 67. Mendekap Erat Allen
68 68. Penjelasan Allen
69 69. Mencubit Pipi Dhezia
70 70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71 71. Kamar Mess Dhezia
72 72. Menciumi Dhezia
73 73. Severius dan Candra
74 74. Simpang Lima Semarang
75 75. Candra dan Severius ke Club
76 76. Mengetahui yang Sebenarnya
77 77. Allen dan Yovien Bertengkar
78 78. Titik Terang Kesalahpahaman
79 79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)
Episodes

Updated 79 Episodes

1
1.Corona Virus Mengubah Semuanya!
2
2. Dhezia Frustasi
3
3. Ditolak Gabriel
4
4. Pulangnya Dhezia ke Indonesia
5
5. Pertemuan dengan Allen, Basah Kuyup!
6
6. Cekcok Allen dan Dhezia
7
7. Membeli Obat Demam
8
8. Rusaknya IPhone 14 Allen!
9
9. Bertemu Citra
10
10. First Kiss with Allen
11
11. Allen Tersenyum Licik
12
12. Lurah Jahat
13
13. Menyelamatkan Dhezia
14
14. Telfon dari Allen
15
15. The Bite Kiss
16
16. Dhezia Menangis
17
17. Diantar Pulang Allen
18
18. Pujaan Hati Allen
19
19. Allen Sedih
20
20. Dhezia Sakit
21
21. Kembalinya Allen ke Semarang
22
22. Dhezia ke Semarang
23
23. Perjanjian dengan Yovien
24
24. Kota Lama Semarang
25
25. Stasiun Tawang
26
26. Meremas dan Melempar Katsina Doll
27
27. Allen Menemui Dhezia
28
28. Allen Marah
29
29. Kedatangan Yovien
30
30. Sandal Jepit Maut
31
31. Payung untuk Allen
32
32. Kissing Under Umbrella
33
33. Jatuhnya Selimut Allen
34
34. Makan 10 Detik
35
35. Masa Lalu Allen dan Yovien
36
36. Flash Back in Bali 1
37
37. Flash Back in Bali 2
38
38. Flash Back in Bali 3
39
39. Flash Back in Bali 4
40
40. Flash Back in Bali 5
41
41. Kembali ke Masa Sekarang, 2021
42
42. Perdebatan Tuan Xander dan Nyonya Clarista
43
43. Permintaan Nyonya Clarista
44
44. Melacak Keberadaan Allen
45
45. Tak Mampu Mengungkapkan Perasaan
46
46. Memesan Taxi Online
47
47. Bunga Aster
48
48. Trans Semarang
49
49. Xander Japanesse Food
50
50. Memakai Baju Maid (Pelayan)
51
51. Curhat dengan Rigel
52
52. Membeli Roti untuk Dhezia
53
53. Gold Eksekutif Room
54
54. Allen Terpesona
55
55. Makan dengan Allen
56
56. Hidangan Mahal
57
57. Kejahatan Novia
58
58. Menggendong Dhezia
59
59. Kejadian di Xander Mall
60
60. Rumah Sakit Tentara (RST)
61
61. Menunggui Acre di RST
62
62. Perhatian Sementara
63
63. Kecupan Sekilas Allen & Mengakhiri Perjanjian dengan Yovien
64
64. Pesan dari Brielle
65
65. Menyuapi Dhezia
66
66. Membantu Dhezia Mandi
67
67. Mendekap Erat Allen
68
68. Penjelasan Allen
69
69. Mencubit Pipi Dhezia
70
70. Dhezia Boleh Pulang dari RST
71
71. Kamar Mess Dhezia
72
72. Menciumi Dhezia
73
73. Severius dan Candra
74
74. Simpang Lima Semarang
75
75. Candra dan Severius ke Club
76
76. Mengetahui yang Sebenarnya
77
77. Allen dan Yovien Bertengkar
78
78. Titik Terang Kesalahpahaman
79
79. Tamat (Allen Melamar Dhezia)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!