Dreeett...dreeettt...
Terdengar bunyi getar ponsel yang berada di sebelahnya. Membuat Dhezia terbangun dari tidurnya. Siapa yang meneleponnya? Dhezia merasa sepertinya dia baru tidur sebentar.
“Apa ini sudah pagi?” pikirnya dengan mata yang masih terpejam.
Dengan jiwa yang belum sadar sepenuhnya, Dhezia berusaha membuka matanya. Dhezia meraih ponselnya, melihat layar ponsel siapa yang menelfonnya. Tertera jelas nomor yang ada di layar ponsel yang bergetar itu. Nomor Allen!
Sejak kejadian semalam, mulai dari IPhone 14 yang hancur, first kiss di perpustakaan, sampai dengan tragedi Pak Lurah yang katanya akan mengantarkan ia pulang tetapi ada niat jahat dibalik kebaikan pura-puranya. Dhezia belum sempat menyimpan nomor Allen. Namun, Dhezia dapat mengingat ekor nomor yang tertera di layar ponselnya itu.
Dan juga, Dhezia ingat dengan betul. Dalam malam yang basah, angin malam yang terasa lebih sendu dari biasanya, semalam Allen lah yang menyelamatkannya, memeluknya dan mengantarkannya pulang.
Dalam perjalanan pulang, Dhezia bahkan memeluk punggung Allen, menumpahkan segala ketakutannya mengenai kejadian yang terjadi padanya.
Tetapi, setelah sampai didepan rumah Dhezia semalam Allen malahan menyuruh Dhezia langsung turun dan berlalu meninggalkannya, belum sempat Dhezia mengucapkan terimaksih pada Allen, tetapi Allen sudah terburu buru pergi. Ia tak tau apa yang dipikitkan oleh pria yang masih mengenakan seragam loreng itu ketika mengantakannya pulang. Allen bahkan menolak Dhezia ketika Dhezia menawarkan diri untuk mengobati luka di tangan kanan Allen.
“Tidak usah.”
Semalam hanya itulah yang Allen katakan. Dhezia benar benar belum bisa memahami sifat Allen sepenuhnya. Akankah hari ini Allen menjadi menyebalkan kembali? Ataukah Allen berubah menjadi baik sejak kejadian semalam? Dhezia kemudian melirik jam dinding yang berada di kamarnya. Sementara jam dinding masih menunjukkan pukul 3 dini hari.
Dan telfonnya, belum sempat Dhezia mengangkatnya, ponselnya sudah berhenti bergetar, dan sesaat kemudian bergetar kembali.
“Argh! Ngapain sih telfon malam malam begini? Allen sedang butuh bantuan? Atau dia dalam bahaya? Dia diancam oleh Pak Lurah? Ah, tapi tidak mungkin! Jelas jelas tadi malem Allen lah yang menang!” pikir Dhezia dalam hati.
Dreettt....Dreeett...
Dhezia merasa sepertinya ia harus segera mengangkatnya. Tanpa berpikir panjang Dhezia segera mengangkat telfon itu.
(“Selamat malam menjalang pagi, Lex.”) sapa Dhezia di telfon dengan suara yang terdengar masih setengah sadar.
("Angkat telfon saja lama! datang ke balai desa sekarang!”) perintah Allen.
Kemudian menutup telfonnya.
"Hah?! Ke balai desa?Sekarang? Pukul 3 pagi?" batinnya. Dhezia masih tidak percaya dengan apa yang barusaja dikatakan Allen di telfon. Dhezia kemudian segera menelfon balik nomor tersebut. Dan nomor Allen sudah tidak aktif.
“Apa Allen sudah gila?! Pukul 3 pagi?!” pekiknya dalam hati.
Tetapi, jika ia tidak menuruti keinginan Allen, ia takut kalo saja sifat Allen tiba tiba berubah menjadi menyebalkan seperti sebelumnya. Dhezia kemudian segera membuka selimut yang membaluti tubuhnya, kemudian duduk ditepi ranjang.
"Huft!" keluh Dhezia.
“Bagaimana mungkin perlakuan seseorang bisa mendadak berubah dalam beberapa jam?” tanya Dhezia dalam hati.
“Akankah hari ini Allen kembali menyebalkan seperti sebelumnya? Ataukah dia akan baik padaku? Ah, aku juga belum bisa mengganti ponselnya yang rusak!” pekik Dhezia dalam hati.
Dhezia segera bangkit dari tepi ranjang nya. Ia melirik kearah Laura yang masih tertidur di ranjang springbed sebelah kanan di dekat tembok. Dhezia memang sekamar dengan Laura. Tetapi, ada dua ranjang di kamar mereka. Dhezia tidur di ranjang spring bed sebelah kiri dan Laura tidur di ranjang spring bed sebelah kanan.
Dengan hati hati, Dhezia segera mengambil tasnya, di dalamnya terdapat badak, lipstik, dan parfum. Dhezia membuka pintu kamarnya. Sepertinya ibu dan bapak juga masih tidur. Dan untung saja, ibunya semalam juga sudah tidur, jadi tidak tahu jika Allen lah yang mengantarkan Dhezia pulang, bukan Citra.
Dhezia bergegas ke kamar mandi membersihkan mukanya dan menggosok gigi. Kemudian berdandan. Ya, Ia bahkan harus berdandan di kamar mandi. Karena, jika ia berdandan di kamarnya, ia takut Laura akan bangun, Laura pasti akan bertanya padanya dan Dhezia pasti akan kesusahan mencari-cari alasan kemana ia akan pergi.
Setelah selesai berdandan, Dhezia keluar dari kamar mandi dan segera menyelinap keluar rumah lewat pintu dapur. Karena takut membangunkan laura, ibu, dan bapak, Dhezia pun tidak menaiki motornya. Dengan mengenakan sepatu flat shoes, masih memakai baju tidur yang dilapisi cardigan rajut, dan rambut yang terurai dengan poni, Dhezia pun memilih berlari ke balai desa.
Jarak antara rumah Dhezia ke balai desa mungkin 20 menit jika berjalan, dan 15 menit jika ia berlari.
"Huh...huh..huh....fiuhh fiuhh…"
Suara hembusan nafas Dhezia.
Sebenarnya capek juga berlari, tetapi tidak ada pilihan lain, karena itu Allen yang menyuruhnya datang. Bukan orang lain.
Setelah 15 menit berlari, dengan keringat yang membasahi dahinya di malam menjelang pagi itu, akhirnya Dhezia sampai di Balai Desa.
Di Kawasan itu, tampak Rigel Severius dan Candra sedang bersih bersih Aula Balai Desa. Rigel dan Severius tampak sedang menyapu, sementara Candra tampak sedang mengepel lantai Aula.
“Mereka bersih bersih jam segini?!” batin Dhezia dalam hati.
Serajin itu kah para tentara? Lalu dimana Allen? Dhezia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke Aula Balai Desa. Karena, jika ia terlalu lama, sepertinya Allen akan marah padanya.
"Selamat pagi, mas?" sapa Dhezia pada mereka.
"Lihat bang siapa ini yang datang!" seru Severius.
"Gadisnya Allen!" celetuk Rigel
"Cari abang Allen yang jutek itu ya mbak, hahaa," goda Severius
"Gadisnya bang Allen? Kok saya ketinggalan berita bang?" sahut Candra penasaran
"Kamu kan tadi malam lagi asyik asyikan sama Citra kan palingan, makanya ketinggalan berita!" cibir Rigel
"Siap, salah bang!" kata Candra.
"Jangan sering sering, Ndra, ntar kering! Hahahaa," celetuk Rigel.
"Btw, gimana rasanya, ndra?" tanya Severius ke Candra.
"Citra? Ya manis, apalagi saya sayang sama dia, hahaha," jawab Candra.
Sementara Dhezia tampak tidak enak mendengar candaan mereka.
"Gausah di dengerin ya mbak, kita ini emang gini" kata Rigel pada Dhezia.
"Hehe iya mas, jadi dimana Allen?" tanya Dhezia pada mereka.
"Tuh kan bener cari mas Allen, haha," sahut Severius.
"Wah, bang Allen ini pasti yang nyuruh nemuin pagi pagi buta gini mau diapain ya, hahaha," celetuk Candra
Wajah Dhezia mendadak masam mendengar perkataan Candra barusan.
"Biasa ya mbak, cuma bercanda adek saya ini, itu bang Allen nya lagi nyapu di ruang isolasi, kalo mbak kesana palingan disuruh bantuin," jelas Rigel pada Dhezia.
"Iyaa mbak, padahal ruang isolasi gak ada pasiennya, tapi kita tetep disuruh bersih bersih tiap hari!" keluh Candra.
"Hehe, yang semangat ya mas, saya ke ruang isolasi dulu," pamit Dhezia seraya menundukkan kepala kepada mereka.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments