Setelah ibunya dan Laura berlalu meninggalkan kamarnya, Dhezia memakan makanan yang barusaja diambilkan oleh ibunya itu. Sebenarnya Dhezia tidak berselera makan, lidahnya terasa pahit, tetapi Dhezia memaksa tetap memakan makanannya agar cepat sembuh.
Disaat Dhezia tengah memakan makanannya ponselnya berbunyi, terdapat notifikasi dari ponselnya itu, menandakan ada pesan Whatsapp yang masuk. Dhezia dengan cepat membukanya.
["Zia, maaf kemarin malem lo harus pulang sendiri,"] sesal Citra lewat pesan singkat di Whatsappnya.
["Gak mau, ngambek gue, lo pasti lagi seneng seneng kan tadi malem sama Candra, sampe lupa nganterin gue pulang!"] gerutunya melalui pesan Whatsappnya.
[“Yah, Zia..Jangan gitu napa, yaudah biar lo gak ngambek lagi yok gue baliin sate ayam kesukaan lo, gue jemput ya"] bujuk Citra.
[“Gausah, lain kali aja, Cit. Bukannya gue nolak tapi gue lagi sakit gak berselera makan, gue minta tolong isiin data
gue aja di balai desa, warga yang berasal dari luar negeri, gue si udah vaksin waktu di Amerika, udah Rapit
test juga waktu di Bandara Los Angeles, lo isi aja tapi jangan bilang kalo gue sekarang sakit ya,"] ucap Dhezia panjang lebar memberikan perintah pada Citra.
["Terus gue harus tulis gimana keadaan lo?"] tanya Citra memastikan apa yang harus ia tulis nanti.
["Ya lo tulis sehat lah dodol! Pake nanya lagi, udah gitu pokoknya gue mau makan dulu terus tidur, gue pengen cerita banyak sama lo tapi ntar aja kalo gue udh mendingan,"] balas Dhezia.
["Oke, Zia.. GWS yaa...,"] ketiknya membalas pesan Dhezia.
Setelah WA dari Citra itu Dhezia segera memaksa dirinya untuk menghabiskan makanannya. Lalu meminum obat, dan kembali menenggelamkan dirinya di tempat tidur. Hutang ciumannya ke Allen untuk jatah siang dan sore sudah di bayarnya semua pagi buta tadi. Dhezia bisa memulihkan diri dengan tenang.
***
Sementara itu, kegiatan Allen di Balai Desa tampak agak sedikit sibuk, tidak seperti biasanya yang hanya berkeliling menyemprotkan disinfektan. Hari ini Allen harus memasang baliho dan spanduk peringatan bahaya COVID-19 yang disuru pak Babin atas instruksi Pak Lurah.
Dan sejak kejadian semalam, Pak Lurah memilih berdamai dengan Allen, ia takut akan ancaman Allen dan pandangan masyarakat terhadap dirinya menjadi buruk. Pak Lurah juga bersikap seolah tidak ada yang terjadi semalam antara dirinya, Allen dan Dhezia. Soal kaca mobilnya yang pecah, Pak Lurah hanya
bilang jika ia kecelakaan. Tidak membeberkan bahwa Allen lah yang telah memecahkan kaca mobilnya itu demi menyelamatkan Dhezia dari hal busuk yang akan dilakukannya. Terlebih lagi, Pak Lurah mengetahui, jika putri tunggalnya Bianca sangat menyukai Allen.
Allen, Rigel, Severius dan Candra memasang baliho dan spanduk itu mulai dari depan lapangan sepak bola desa. Namun, ketika mereka sedang melakukan aktivitasnya, datanglah geng The Eve's girl, diikuti dengan suara cempreng para gadis anggota geng The Eve's girl itu.
"Alleeeeeen," teriak Bianca turun dari mobil sedan camry-nya dan dengan manja menghampiri Allen.
"Apa?" sahut Allen ketus.
"Ih my sweetheart, jangan jutek jutek gitu dong, nih aku bawain pizza buat kamu," kata Bianca sambil menyodorkan pizza pada Allen.
"Makasih," ucapnya datar.
"Mau aku bantu my sweetheart? Uluuhh uluuhh loreng nya jadi basah kena keringaaaaattt," ucap Bianca sambil mengelus lengan Allen.
"Jangan pegang pegang! Udah sana kamu, saya gak suka cewek lebay!" bentaknya pada Bianca. Kemudian melanjutkan aktivitas nya memasang baliho itu.
"Ih, my sweetheart kok bentak bentak gitu siiiiii," rengek Bianca.
"Hahaha, Allen emang dingin, sedingin es! Ratu desa ini aja dia tolak," ledek Rigel diiringi dengan tawanya.
Bianca kemudian melotot ke arah Rigel.
"Ih takut saya! Melotot gitu jadi tambah cantik!" goda Rigel pada Bianca.
"Iiiihhh apaan si Rigel, biasa aja tauk," respon Bianca manja.
"Tuh kan, Rigel aja bilangin aku cantik!" responnya lagi. Bianca sambil mengedip ngedipkan kedua matanya.
"Ih gak suka saya malahan lihat cewek genit kayak kamu! " tegas Allen.
"Eh mending neng Bianca sama saya aja ya, asal mau jadi yang kedua setelah Citra, hahahaa," sahut Candra. Kemudian tertawa.
"Ehemm, kalo aku si sukanya sama bang Severius," celetuk Merta tiba tiba.
Sementara Severius pura pura tidak mendengar perkataan Merta.
"Heh, ditembak noh sama si Merta," ujar Candra. Sambil melemparkan finishing banner yang terlepas ke arah Severius.
"Kalo gak ada pizza nya kek punya Bang Allen saya gak mau!" cibir Severius.
"Yee, matre kamu," sahut Candra
"Iyaa deh bang, besok Merta bawain pizza yaaa buat abang Severius yang ganteeeng," sahut merta manja.
"Aaaahh udah udah, kalian kesini kan niatnya bantuin gue deketin Allen, kok jadi malahan lo yang ikutan goda godain si Severius si, Mer!" omel Bianca pada anggota geng nya, Merta.
"Tau nih si Merta, bikin kesel bos Bianca aja," sahut Cyntia yang ikut ikutan menyalahkan Merta.
"Ih, kenapa si gue salah terus, kan gue juga berhak punya rasa suka sama bang Severius, Bi! Daripada gue sukanya sama bang Allen, ntar lo bantai gue lagi" cibir Merta.
Sementara Bianca seketika melotot ke arah Merta begitu mendengar temannya itu menyebut-nyebut Allen.
"Gausah nyebut nyebut Allen yaa! Cuma gue yang pantes nyebut nama dia!" tegas Bianca.
"Alah bos bos, pantes? Buktinya tadi pagi aja Bos kalah tarung sama Dhezia Anastasya yang dari Amerika itu, hahahaaaaa," ledek Merta sambil tertawa pada bos gengnya itu, Bianca.
Allen tampak langsung menoleh dengan cepat begitu mendengar nama Dhezia disebut.
“Dhezia Anastasya? Tadi pagi? Kalian ganggu dia?" respon Allen pada geng The Eve's girl.
Bianca pura pura tidak mendengar pertanyaan yang dilontarkan Allen. Sepertinya Bianca sangat marah terhadap ucapan Merta barusan, raut muka Bianca berubah merah seperti penuh api. Bianca sangat geram mendengarkan perkataan Merta yang menyebut dia telah dikalahkan oleh Dhezia. Merta yang menyadari perubahan raut muka Bianca mendadak bergidik ngeri.
"So-Sorry bos, bukan maksud gue-, g-gue cuma bercanda...," lirih Merta meminta maaf.
Tetapi Bianca sudah terlanjur marah.
"KETERLALUAN!!! Mulai sekarang lo bukan anggota GENG KITA LAGIII!!!" murka Bianca memecat merta dari geng nya.
"Yaah, yaah kok gitu si boss....," rengek Merta yang kini menangis.
"Heh! Udah sana! Jangan ribut disini! Ganggu pekerjaan kita aja kalian!" cibir Allen.
"Yukk Cyn, cabut! Merta tinggalin aja disini!" hardik Bianca.
"I-iya yuk bos!" jawab Cyntia.
Bianca dan Cyntia kemudian memasuki mobil sedan camry nya. Lantas berlalu meninggalkan Merta yang masih berdiri menangis di depan Allen, Rigel, Severius, dan Candra.
"Udah, gausah nangis, ngapain nangis dipecat dari geng gak berguna gitu," ucap Severius yang bermaksud menenangkan Merta.
"I-iya bang," jawab Merta, kemudian mengusap air matanya.
"Ehm, kalian kok bisa tau Dhezia Anastasya?" tanya Allen yang sedari tadi penasaran
"Heh? Dhezia Anastasya?"
"Kamu nyebut nyebut namanya tadi!"
Allen memperjelas maksud pertanyaannya.
"Merta kasih tau tapi bang Allennya jangan marah sama Merta ya bang," ucap merta memohon. .
"Iya, kagak, apa cepet!"
Allen semakin penasaran.
"Gini bang, kemarin itu saya disuruh sama bos Bianca, eh bukan bos lagi sekarang, disuruh sama Bianca buat mata matain mas Allen. Tapi Merta sebenernya males, tapi Merta tuh harus setor informasi tentang Bang Allen ke Bianca, terus waktu malam malam itu saya lihat bang Allen boncengin Dhezia." jelas Merta
"Dimana kamu lihat?" tanya Allen meminta penjelasan lebih.
"Di gang Flamboyan, kan rumah Merta sebelahnya rumah Dhezia. mas Allen nganterin Dhezia pulang tengah malem, nah pas banget kan sama Merta yang butuh bahan buat di setorin ke Bianca. Terus merta bilang deh ke Bianca kalo mas Allen lagi boncengin Dhezia, cewek yang baru pulang dari Amerika itu," jelas Merta panjang lebar.
"Dhezia baru pulang dari Amerika?" tanya Allen semakin penasaran dengan gadis bernama Dhezia yang telah beberapa kali ia cium itu.
"Iya Baru pulang dari Amerika sekitar seketika beberapa hari yang lalu," jelas merta
"Terus?"
"Iya Bianca jelas marah Bang, tadi malem Merta sama Cyntia langsung disuruh ke rumahnya temenin Bianca minum terus paginya mau labrak Dhezia!"
Merta menjelaskan semuanya.
"Lalu? Kalian labrak dia? Tadi pagi?" tanya Allen penuh dengan tanda tanya.
"Tadi pagi kan Dhezia sama saya, kapan dilabraknya?" batin Allen.
"Iya tadi pagi, waktu mau labrak Dhezia di rumahnya, kita malahan lihat dia lagi sembunyiin muka kayak nangis gitu di depan toko yang tutup arah kerumahnya,"
"Nangis? Terus kalian masih labrak dia?"
Allen kawatir, karena Allen tau jika Allen lah yang membuat Dhezia menangis.
"Iya, The Eve's girl langsung labrak Dhezia di depan toko itu, tapi Bianca kalah debat. Dhezia dengan percaya diri bilang 'Allen memang ditakdirkan untukku, meski aku tidak punya apa apa',"
Merta menirukan sama persis seperti nada bicara Dhezia tadi pagi. Allen tampak tersenyum mendengarkan penjelasan dari Merta.
"Wuahh..baru kali ini Merta liat Bang Allen senyum," heran Merta.
"Kayaknya Allen udah nemuin pujaan hatinya, hahaha," sindir Rigel.
"Iya, pujaan hati saya sekarang," ucapnya kemudian kembali melanjutkan memasang baliho.
"Ciee ciee..,kalo Merta pinjaman hati siapa?" ucap merta memancing Severius.
"Pujaan hati Severius, haha," sahut Candra jahil.
"Susah buat dapetin hati saya!" jawab Severius ketus.
"Merta akan berusaha bang" sahut Merta Antusias.
"Nih, mending kamu bantuin kita," ucap Severius menyodorkan tali rafia yang digunakan untuk mengaitkan spanduk ke pohon pohon.
"Oke siap bang," jawab merta dengan senang hati.
Mereka kemudian melanjutkan aktivitasnya sampai selesai.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments