Cuaca diluar memang gerimis. Tetapi Dhezia tidak mau mengenakan jas hujannya, karena jas hujannya yang kebesaran dan membuatnya tampak seperti orang orangan sawah jika Dhezia memakainya. Jarak antara rumah Dhezia dan apotek tidak jauh, hanya sekitar sepuluh menit. Sampai di apotek nya Mbak Yatun, Dhezia mengantri untuk membeli obat sesuai barisan.
“Banyak sekali orang yang sakit ternyata, harus cepet,nih. Bapak menunggu obatnya,” gumamnya dalam hati.
Setelah mengantri hampir satu jam sampailah pada giliran Dhezia berkata pada penjaga apotek itu.
"Obat demam ya mbak," kata Dhezia.
"Iya mbak, Separo nopo setunggal (setengah atau satu)?" tanya penjaga apotek itu.
"Separo mawon (setengah saja), Mbak." balas Dhezia memakai bahasa jawa.
Petugas apotek segera mengambil obat yang Dhezia pesan dan Dhezia menyerahkan uang kepada petugas apotek itu.
“Obat sudah, apalagi ya? Oiya susu beruang!” Dhezia keluar dari apotek mengingat titipan ibunya.
Langit masih saja gerimis, Dhezia segera melajukan motornya menuju toserba untuk membeli susu beruang.
Setelah sampai di toserba, Dhezia memarkirkan motornya, kemudian masuk dan mengambil 4 kaleng susu beruang, lalu mengantri di kasir untuk membayar susu itu.
Sementara itu, pada saat yang bersamaan tampak dari luar toserba Allen memarkirkan motornya tepat di sebelah motor Dhezia. Allen hendak membeli handbody anti nyamuk alias Autan, Soffel, atau yang lainnya agar ia bisa tidur
nanti malam, juga tidak digigit oleh nyamuk. Maklum saja, para petugas satgas itu tidurnya di kawasan balai desa, dan tentu saja banyak sekali nyamuk. Sesudah memarkirkan motornya, Allen mengingat-ingat apa yang tadi dipesan Rigel, teman satu lettingnya. Tetapi usahanya itu tak membuahkan hasil, sia sia. Allen masih saja lupa. Akhirnya dengan frustasi Allen menelfon Rigel.
(Tuuutt... tuuuttt)
Whatsapp nya berdering tetapi Rigel tak mengangkat telponnya.
“Rigel sialan! Nyuruh nyuruh gue! Jadi lupa kan, nitip apaan tadi tuh anak!” umpat Allen dalam hati.
Menunggu telfon yang tak diangkat itupun Allen ganti menelfon Candra, adik lettingnya.
(tuuutt...)
Barusaja tombol call di Whatsappnya dipencet langsung terdengar suara dari arah yang dituju. Memang tradisi adik letting yang harus sigap jika berurusan dengan abangnya.
("Halo, Can! Tadi Rigel nitip apaan? Tanyain sekarang ini saya sudah didepan toko!") kata Allen dengan suara lantang layaknya komandan upacara yang sedang memimpin barisan.
("Nitip kertas kado, lem sam-a do-uble-tip,") jawab Candra melalui telfon.
Tetapi sialnya, jaringan jelek dan suara Candra terputus-putus.
("Halo??!! Candra?!! Hei Can! Can! Macan! Nitip apa tadi?") kesal Allen mengubah asal nama panggilan adek lettingnya itu.
(“Haloooooo”) teriak Allen melalui telfon. Dan-
Tuuutt...sambungan terputus!
Allen tampak kebingungan dan juga kesal menerjemahkan ucapan Candra tadi di telfon. Sementara itu, langit yang awalnya gerimis menjadi hujan.
Dan dari dalam toserba, Dhezia yang menyadari jika diluar hujan itupun setelah membayar di kasir bergegas berlari keluar. Dhezia lupa jika ia meninggalkan obat bapak di motornya.
"Hujan, obat bapak...!!!!" Dhezia berlari keluar menuju motornya dengan tergesa. Tanpa hati hati, Dhezia mengambil obat yang berada di motornya dan akan kembali kedalam toserba untuk berteduh terlebih dahulu, tetapi saat Dhezia berbalik-,
BRUUKKKKKKKK!!
Dhezia berbalik dengan tergesa kemudian menabrak seorang pria berseragam loreng yang sedang menerima telfon di depan toserba itu.
Dan naas nya, ponsel merek Iphone 14 yang digenggam pria berseragam loreng itu pun terlempar ke tengah jalan raya kemudian terlindas oleh mobil picanto yang sedang melaju kencang malam itu.
"Hp saya!!!" teriak pria berseragam loreng itu.
"Arghh!! Picanto sialan!! Dan Kau!!" Pria itu menatap Dhezia dengan tatapan tajam.
''LAKUKAN APA YANG SAYA PERINTAHKANN!!!" Pria itu berkata dengan mata tajam dan menyala, membuat Dhezia ketakutan.
Dhezia yang melihat pria di depannya itu langsung menyadari bahwa itu adalah pria yang berurusan dengannya tadi siang. Allen.
"So-sorry Len. A-aku gak sengaja," Ditengah derasnya hujan, Dhezia berkata dengan terbata.
Dhezia kemudian bergegas mengambil ponsel Iphone 14 Allen yang terlindas itu. Dan ponselnya hancur! Layarnya retak, benar benar tidak bisa hidup!
"Buat apa kamu ambil, hah?! Percuma, udah hancur!" Allen menatap tajam Dhezia.
Kini mereka berdua telah basah karena hujan yang mengguyur malam itu.
"So-Sorry, Len. Tadi aku bener bener gak sengaja, bakalan tak ganti kok, beneran..." ucap Dhezia dengan suara bergetar.
"Mau ganti pakai apa?!!!! Kamu kerja dua bulan aja belum tentu cukup buat gantiin!!!" Allen terus menyerang Dhezia.
"Bisa kasih aku waktu buat ganti?" Dhezia mencoba menawarkan negosiasi dengan suara yang bergetar.
"Baik, saya kasih kamu waktu buat ganti, tapi ada syaratnya."
Allen tersenyum licik.
"A-apa syaratnya?"
Jantung Dhezia berdegup kencang, kakinya lemas harus berhadapan dengan Allen lagi.
"Lakukan semua yang saya perintahkan, selama saya disini!! Yang pertama cium saya setiap pagi, siang, sore, dan malam hari! yang kedua, kamu harus ada setiap saya butuh!" jawab Allen enteng, ia tampak tersenyum menang.
“Mampus lo! Masuk juga kan ke perangkap gue ning cewek!” batin Allen dalam hati.
Dhezia syok seketika. Rasanya ingin menghilang saja dari dunia ini. Bagaimana mungkin ia harus mencium laki laki yang sama sekali tidak punya perasaan terhadapnya dan Dhezia juga tidak mencintainya. Mereka bahkan baru
bertemu tadi siang.
"Kok, kok gitu si syarat nya?" ucap Dhezia masih syok.
"Kalo gak setuju, silahkan ganti hp saya sekarang, dua puluh juta aja tidak apa-apa,"
Dhezia melongo seketika mendengar nominal yang disebutkan Allen.
"Aku, aku gabisa kalo ganti sekarang, kasih waktu ya..please..," Dhezia memohon pada Allen.
"Saya kasih waktu dengan syarat tadi," Ucap Allen datar, kemudian meraih ponselnya yang rusak ditangan kiri Dhezia, sekaligus mengambil ponsel Dhezia di tangan kanan gadis itu.
"Saya minta nomor kamu, karena kamu harus bertanggung jawab atas insiden ini!" kata Allen ketus.
Allen mengeluarkan ponsel lain miliknya dari dalam jok motornya dan segera menyimpan nomor Dhezia.
"Itu kamu kan masih punya ponsel lagi yang lain," protes Dhezia.
"Tadi Iphone 14, dan hancur! Akan lebih parah jika saya tidak memiliki ponsel yang lain, kamu jangan coba coba kabur dan lepas tanggung jawab!" ucap Allen memperingatkan Dhezia.
"I-iya, tidak mungkin aku kabur," jawab Dhezia pasrah.
"Oke, Syarat saya dimulai dari malam ini!" jawab Allen tersenyum menang.
"Ma-lam ini?!!"
"Lima menit lagi jam 9 malam, toserba ini akan tutup, dan kita sudah basah kuyup diguyur hujan, tunggu apalagi? Cium saya sekarang." ucap Allen enteng.
"Se-sekarang, bagaimana jika ada yang melihat?" ucap Dhezia gugup.
Allen tampak menengok kanan kiri, memang masih ada beberapa orang yang lewat, dan Allen juga masih mengenakan seragam.
“Haaahhh!!” Allen tampak berdecak kesal.
"Yaudah, dua jam lagi temuin saya di perpustakaan desa," ucap Allen kemudian berlalu meninggalkan Dhezia yang masih berdiri terpatung di depan toserba.
“Dua jam lagi?! Mampus gue!” pekik Dhezia dalam hati.
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Azzahra
Semangat kakak nulisnya, rajin" up ya🤗
2023-04-03
0