"Mbak, maaf ya mbak tadi memang abang saya tidak sengaja," ucap Severius membela abangnya, tetapi kemudian meminta maaf atas nama abang lettingnya itu, Allen.
“Oh, lo belain dia? Gak lihat apa gue basah kuyup gini?” Dhezia masih saja emosi.
Kini bergantian Rigel berpangkat pratu yang meminta maaf atas nama teman lettingnya itu, Allen.
“Mbak, tolong maafin ya. Tadi mungkin memang teman saya Allen ini tidak sengaja, tolong jangan di perpanjang lagi ya, Mbak. Nanti saya cuciin bajunya mbak yang basah itu, ya. Gimana?” tawar Rigel.
"Eh gausah, Mas. I- iya saya maafin,” jawab Dhezia terbata. Dhezia langsung tampak canggung mendengar tawaran dan permintaan maaf dari Rigel.
"Ngapain lo repot- repot mau nyuciin, Gel? Juga gausah minta maaf, cewek ini yang salah," sahut Allen ketus.
"Apa lo bilang? Gue yang salah?!" cerocos Dhezia. Emosinya kembali menaik mendengar perkataan Allen barusan. Bukannya minta maaf Allen malahan bersikap seperti tidak punya salah!
“Ya iyalah, Nona yang salah! Masa iya sih saya?” Allen berkata dengan nada menyindir.
“Dasar cowok nyebelin!” maki Dhezia sambil mengangkat tangannya hendak memukul pundak Allen yang berdiri tepat di depannya itu.
Allen dengan sigap segera menahan tangan Dhezia, sehingga kini pergelangan tangan Dhezia berada dalam genggaman tangannya.
“Lepas!” ronta Dhezia.
Allen tersenyum menang. Kemudian melanjutkan, “Kalo gue cowok nyebelin terus lo apa?” Kini Allen menatap mata Dhezia. Dan tangannya masih menahan erat tangan Dhezia yang tadi hendak memukulnya.
“Lepas gue bilaaaang!” Dhezia mulai frustasi menghadapi tingkah Allen.
Melihat Allen dan Dhezia semakin ribut, Candra segera melerai mereka.
"Bang Allen, lepasin tangannya. Udah bang ayok! nanti kita dicari-cari pak Babin kalo kelamaan disini, maaf ya mbak," kata Candra pada mereka berdua, kemudian menyeka keringat yang membasahi dahinya dibawah baret
hijaunya.
Dhezia yang melihat Candra meminta maaf sambil menyeka keringatnya pun emosinya kian menurun dan berfikir 'kasian juga, mungkin mereka capek dan haus, makanya gak lihat aku dipinggir jalan' batinnya.
Kemudian, tampak Laura keluar dari Toserba dan terkejut karena baju kakaknya basah kuyup.
"Kakak kenapa basah gitu?" tanya Laura
"Tuh gara gara mas ini! kakak kena semprot cairan disinfektan, huh dek dek kakak baru sehari di Indonesia udah kena semprot bahan kimia!" gerutu Dhezia panjang lebar kepada Laura sambil jemari telunjuknya menunjuk Allen.
"Minta maaf sama kakakku!!!" Laura kecil dengan emosi matanya melotot ke arah para lelaki berseragam loreng itu.
"Gak! Cuma basah bentar lagi juga kering!" tolak Allen ketus.
Sementara Rigel spontan menginjak kaki Allen karena berkata demikian kepada Laura yang masih kecil.
“Apa sih, Gel? Lo temen gue atau temen ini cewek?” oceh Allen pada Rigel karena kesal kakinya diinjak.
"Udah udah kakak gapapa, bentar lagi juga kering, dek kakak minta tolong beliin teh pucuk 4 ya dek didalam toserba, yang dingin ya," perintah Dhezia pada Laura
"Buat?" Laura bertanya penasaran
"Udah beli dulu aja, cepet!" seru Dhezia.
Laura yang bingung tiba tiba diperintah kakak nya yang tengah basah kuyup, hanya mengiyakan kemudian berlari masuk ke dalam toserba lagi.
"Maaf mbak, kalo mbak sudah memaafkan kejadian tadi, bolehkah kita pamit sekarang?" tanya Severius dengan hati hati.
"Tunggu sebentar," jawab Dhezia menahan mereka.
"Mbak maaf, soalnya kita buru- buru ak-" Belum sempat Candra menyelesaikan kalimatnya datang Laura dengan membawa teh pucuk dingin. Dhezia segera mengambil teh itu dan memberikan kepada keempat tentara itu.
"Iya, ini untuk kalian, kayaknya capek sekali, sekarang boleh pergi, aku udah maafin kok," kata Dhezia pada mereka.
Rigel, Severius, dan Candra melongo seketika. Bagimana mungkin cewek yang sudah di jahili Allen sangat mudah memaafkan dan bahkan membalasnya dengan kebaikan?
"Terimaksih banyak ya mbak, tau saja kalo kami haus, kami pamit melanjutkan tugas kami" kata Rigel berpamitan pada Dhezia.
"Makasih!!" ucap Allen dingin.
Kemudian melanjutkan, “benar- benar gadis yang aneh! Tadi marah marah gak jelas! Ini malahan beliin minum!” gerutu Allen yang masih dapat didengar oleh Dhezia Laura dan teman temannya. Kemudian Allen segera membalikkan badan mendahului teman temannya yang masih berdiri di depan Dhezia dan Laura.
Dhezia yang masih basah kuyup hanya memandangi punggung Allen yang berlalu menuju motor yang tadinya dipakainya untuk berkeliling menyemprot disinfektan.
“Udah biarin, Mbak. Allen memang begitu, terimakasih ya, Mbak.” kata Rigel tersenyum pada Dhezia.
Sementara Dhezia hanya mengangguk dan mengiyakan. Rigel, Severius, dan Candra kemudian berlalu meninggalkan Dhezia dan Laura, lantas menuju kearah motor mereka yang telah terdapat Allen disana.
Dan Laura, tampak bingung melihat apa yang dilakukan kakaknya barusan, lantas bertanya, "Kakak kan dibuat basah kuyup, kok malahan beliin mereka minum?"
"Gapapa dek, dengan begitu kita akan diingat orang sebagai pribadi yang baik," kata Dhezia pada Laura.
"Tapi tadi kakak sempat marah- marah ya?” tanya Laura penuh selidik pada Dhezia.
“Eh, iya kakak Cuma marah dikit, abisnya kesel sih, Dek!” gerutu Dhezia.
“Abis kesel beliin minum? Memang benar! Kakak mempunyai kepribadian yang aneh!” cecar Laura pada kakaknya.
“Aneh darimana coba, ih,” sahut Dhezia sewot.
“Tau deh! Yaudah yuk pulang kak, daripada kesal disini, ganti baju dulu dirumah, Kak," ajak Laura akhirnya.
“Yaudah ayok, udah basah gini juga,” jawab Dhezia.
Dhezia kemudian mengendarai motornya, dan membonceng Laura pulang kerumah.
***
Sementara Allen tampak kesal kejahilannya gagal. Andai saja Allen terlibat insiden dengan cewek itu lebih lama selesainya, hari ini Allen tidak perlu lagi keliling keliling menyemprot disinfektan ke jalanan. Karena memiliki alasan terlibat insiden yang tidak disengajanya, eh ralat, yang disengaja.
“Harusnya tadi tuh gue mau ngasih pelajaran ke tuh cewek!” omel Allen yang sedang membonceng dibelakang punggung Severius.
“Mau diapain lagi, Bang? Kasian udah basah kuyup gitu. Kita juga tadi dibeliin minum sama dia kan, Bang.” sahut Severius.
“Lo gak liat tadi tuh cewek mau mukul gue?” Allen tampaknya masih sangat kesal.
“Iya, saya lihat, Bang. Tapi abang juga sepertinya tadi sengaja buat dia basah kuyup!” ledek Severius.
“Kok gue jadi kesel juga sama lo ya. Abis ini sampai Balai Desa sikap tobat dulu!” sahut Allen asal.
“Siap salah, Bang!” kata Severius pada abangnya itu.
“Udah berani ini kamu sama saya ya? Udah kuat rahang kamu, hm?” sahut Allen di belakang punggung adek lettingnya yang sedang mengendarai motor itu.
“Siap salah, Bang!” kata Severius lagi.
“Cewek tadi itu cantik- cantik menyebalkan ternyata!” gerutu Allen pada diri sendiri. Dan lagi- lagi Severius menyahut.
“Dia tidak menyebalkan kalo abang gak jahil sama dia, Bang.”
“Udah fokus aja mengendarai motor! Gak usah banyak bicara!” sahut Allen ketus.
“Siap salah, Bang.”
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments