Siang ini, waktu istirahat Ajeng gunakan untuk pergi ke Bank, dekat rumah sakit tempatnya bekerja, ya walaupun tetap harus menggunakan angkutan umum.
Tidak banyak antrian, hanya menunggu sekitar dua orang , customer service pun bukan hanya satu tapi ada lima. Tentu saja ini Kantor Cabang, bukan Cabang Pembantu, dan Area yang menangani segala cabang di kota ini, orang kepercayaan Aksa pun menjabat sebagai Area Head.
Ajeng dibantu salah satu customer service melakukan pengecekan siapa pengirim dana itu, karena melalui aplikasi tidak terlihat dari mana sumbernya. Cetak rekening Koran pun dilakukan, dan secara sistem memang tidak terdeteksi siapa pengirimny.
“Tolong di bantu ya mba, saya tidak ada transaksi apapun, jual tanah juga tidak, tapi uang itu masuk ke rekening saya.” Ajeng cemas karena dia melihat sendiri di layar komputer hanya tertulis pendapatan.
Padahal transaksi umumnya akan diketahui siapa pengirim dan sumbernya, sekalipun melalui aplikasi.
Petugas bank mengalihkan bantuan pada Supervisor, jawaban sama diberikan. Akhirnya Rahajeng pulang tanpa mendapat kepastian, ia putuskan tidak akan menggunakan uang itu, merasa bukan haknya. Memilih membuka rekening baru dan mengambil uang sisa tabungannya saja.
Sampai kapanpun Ajeng tidak akan tahu bahwa Aksara sengaja mengirimnya uang bulanan, sebab IT khusus dari perusahaan pusat di berikan tugas untuk menghapus jejak pengiriman.
Dia juga tidak tahu memiliki saham dalam jumlah fantastis, namun nama Rahajeng Prameswari tercatat di badan Kustodian Efek.
.
.
.
Sudah enam bulan sejak Aksa pergi meninggalkan tanah air, semua masih sama tapi tidak pada beberapa tempat, tanah kosong yang semula di beli oleh Aksa ditumbuhi rumput liar dan pohon kecil.
Tapi hari ini seorang arsitek terkenal menyambangi tanah yang telah bersih dari rumput, sesuai mandat sang bos, ia memiliki waktu kurang dari satu bulan untuk menyelesaikan tugasnya. Puluhan pekerja dikerahkan, dibantu alat berat, sebab beberapa hari lagi pondasi harus terpasang. Material bangunan pun mulai diturunkan, semua berkualitas nomor satu.
Hal ini menjadi tontonan warga sekitar, karena sepengatahuan mereka tanah itu milik keluarga Aji, tiba-tiba didatangi orang asing dan mencuri perhatian siapapun.
‘Bos, lokasinya sangat bagus. Sesuai rencana, semua selesai sebelum Bos kembali kesini.’
“Lakukan tugasmu.” Suara bariton terdengar jelas oleh telinga sang arsitek.
Hari-hari pun berlalu, bahkan bangunan itu telah kokoh dan kuat hanya perlu sedikit sentuhan cat untuk memperindah penampilannya.
Danang yang sudah merasa menjadi bos besar, sebab beberapa waktu lalu usahanya ramai sehingga ia jarang datang ke coffe shop. Saat ini mengeluh, omset perlahan menurun awalnya hanya 2% tapi semakin hari terus berkurang, pria pongah itu pun kembali mengunjungi coffe shopnya, dia terkejut merasa dipermainkan.
“Apa-apaan kalian ini? Kenapa tiba-tiba mengundurkan diri, hah? Kalian itu tidak tahu terima kasih. Dasar barista bodoh.” Danang naik pitam, niatnya untuk memperbaiki masalah tapi mendapat ujian lebih. Dua barista andalannya mengundurkan diri secara mendadak, kemana lagi dia harus mencari para barista berbakat.
‘Maaf Pak. Tapi kami barista bukan marketing, tidak bisa merangkap pekerjaan’
‘Mohon maaf Pak Danang’
Keduanya pun pergi dari dalam bangunan seluas 100 meter. Amarah Danang semakin jadi melihat coffe shop kosong melompong, tidak ada seorang pun sejak siang yang datang membeli minuman.
Kepalanya semakin sakit mendapati bangunan kokoh, luas dan estetik di seberang jalan. Tersedia area parkir luas, untuk mobil dan motor tidak seperti coffe shop-nya hanya memiliki parkir untuk satu mobil dan beberapa motor.
“Heh, siapa itu yang mau membuka usaha di sana? Bukannya itu tanah Aji, jangan-jangan dia mau jadi pesaingku. Tidak bisa ini, awas saja Aji kalau sampai berani mengambil usahaku.” Danang menendang pintu kaca di depannya hingga pecah.
PRANG
“Aduh, kenapa lagi pintu itu? Dasar bahan murah, usaha lagi sepi tapi rusak, hah.” Marah Danang, terpaksa mengambil dana tabungannya untuk memperbaiki pintu. Benar-benar sial nasibnya sejak awal bulan lalu.
Usaha Maya pun sepi, sebab toko baru yang bekerja sama dengan pedangan lain, hanya Maya tidak ikut andil dalam toko itu.
Wanita paruh baya ini terlalu congkak, dia tak ingin bergabung dengan toko asing untuk menyuplai baju, dan akhirnya satu per satu pelanggan menghilang. Untuk membayar biaya sewa yang jatuh tempo dalam dua bulan lagi pun ketar ketir.
Tapi dua orang ini masih menganggap hanya fenomena dalam bisnis, kadang pasang dan surut. Sikapnya masih tetap sombong di mana pun berada.
Danang pulang ke rumah dalam keadaan emosi, sudah jatuh tertimpa tangga. Dalam perjalanan, kendaraan roda empat kebanggaannya mogok, akibat terlalu lama tidak di servis. Terpaksa menghubungi mobil derek dan pulang menggunakan ojek online.
“Ada apa Pak? Kusut banget macam baju belum di setrika.” Ucap Maya sembari menyantap donat yang dibawa Rayana sebagai buah tangan.
“Diam Bu, berisik. Suara Ibu bikin sakit kepala.” Sahut Danang enggan melihat wajah istri yang selalu ia puji cantik dan menarik.
“Bapak kamu kenapa Rayana? Berangkat kusut, pulang semakin kusut, bukannya kasih uang untuk Ibu. Bulan lalu alasannya gaji karyawan, apa iya sekarang ibu harus pakai tabungan lagi, dasar suami tidak berguna.” Umpat Maya dengan suara kecil, khawatir Danang mendengarnya.
“Ibu, namanya usaha wajar kadang naik dan turun, Rayana bantu ya bu, tapi bulan ini saja. Besok-besok minta Ajeng, setidaknya untuk bayar listrik, aku masih punya cicilan mobil dan tas branded.” Tukas Rayana, berat hati membantu masalah orangtuanya.
“Iya iya, kamu tenang. Nanti Bapakmu ganti semua, jangan takut. Kamu sabar ya Rayana.” Ucap Maya mengelus pipi putri sulung yang sangat bisa diandalkan, sebab gajinya sebagai dokter di dua rumah sakit cukup besar tidak seperti Ajeng, sangat kecil sebatas upah minimum.
“IBU … Maya, di mana makanan? Aku lapar ini May.” Teriak Danang melengking. Pria itu menjadi pemarah sejak omset penjualannya menurun.
“Aduh, bagaimana ini Rayana. Ibu lupa masak, bahan makanan di kulkas habis. Kamu bantu Ibu belanja ya, beli daging dan aneka sayuran jangan lupa bumbu juga.” Titah Maya, dengan takut berdiri menghampiri suaminya di meja makan.
“Berisik Pak, malu sama tetangga.” Sahut bibir yang begitu percaya diri mengucapkannya.
“Apa? Malu sama tetangga? Memang perut kita di beri makan tetangga? Sekarang masak Bu, suami pulang tidak ada makanan apapun.” Danang duduk manis sembari membuka tutup kerupuk, lagi-lagi bernasib sial. Bukannya renyah tapi kerupuk itu sudah masuk angin.
“Maaf Pak, beras habis, persediaan di kulkas habis.” Maya menunduk, jujur ini kesalahannya tidak bisa mengatur keuangan, semua uang pemberian suami dia habiskan untuk arisan dan membeli tas atau sepatu model terbaru.
Danang yang kesal memilih ke kamar untuk tidur, daripada lepas kendali pada istrinya. Sama sekali tidak menyangka hasil kerja kerasnya dihamburkan begitu saja.
“Dasar istri tidak tahu untung kamu Maya.” Gerutu Danang, membenamkan kepala di atas bantal.
**
Dua minggu kemudian
Coffe shop milik Danang sepi, hanya ada dua atau tiga pelanggan itu pun masing-masing membeli satu cup kopi dengan harga paling murah.
Ayah kandung Rahajeng Prameswari menekuk wajah dan menatap marah pada Well Coffe Shop. Bagaimana tidak marah? Dua barista andalannya, kini bekerja di bangunan seberang jalan yang jelas-jelas mengambil semua pelanggannya.
Danang kesal, sebab konsep coffe shop sangat unik, tempatnya cocok untuk anak muda menghabiskan waktu atau pegawai mengadakan rapat.
Baru satu minggu resmi dibuka, sudah dipenuhi oleh mobil mewah dan para selebgram yang rela mengantri untuk mempromosikan coffe shop terbaru ini.
“Siapa orang yang berani melawanku itu?” Danang menatap tulisan besar tepat di atas rooftop coffe shop.
TBC
***
siapa yang mau lihat Danang menuju kehancuran?
sabar ya heheheh
ditunggu like dan komentarnya🙏😁terima kasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
bukanya insyaf udah tua banyakin ibadah siapa tau umur gak panjang
2023-08-14
2
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
udah pasti itu Aksa pak. salah sendiri membuang menantu kaya
2023-04-11
1
Defi
Menantumu yang kamu anggap sampah selama ini. Nyesal kan pastinya lihat Aksa kaya raya 😜🤣🤣.. Aku thor ga sabar lihat 5 serangkai (Danang, Maya, Rayana, Aji dan Rudi) hancur bagai debu
2023-04-07
1