“Aku pikir kamu marah?” tanya Aksa singkat dan sengaja mengacuhkan istrinya yang masuk kembali ke kamar. Pria berperawakan tinggi dengan hidung bangir ini memilih membaca beberapa buku non fiksi milik Ajeng.
“Ngantuk, mau tidur.” Ketus Ajeng, memutari ranjang. Berbaring memunggungi suami, mengurung diri dalam selimut tipis.
Jangan tanya kenapa tipis, karena udara di kota ini cukup panas dan gerah malam hari.
Aksa menyimpan buku di atas rak kayu dengan penyangga besi, sengaja tidak naik ke atas kasur. Dia memilih duduk di atas lantai, menyandarkan kepala pada pintu lemari kayu jati. Ditatap lekat-lekat punggung Ajeng.
“Ajeng? Kamu belum tidur kan? Mari kita bicara, apa yang kamu inginkan. Tidak baik terus marah, kamu ingin aku kerja kantoran seperti suami teman-teman kamu?” tanya Aksa, menggulir layar ponsel mengirim pesan pada seseorang yang sangat penting.
“Aku perlu bantuan, jangan menolak. Kalau tidak habis kamu.”
Tak berselang lama Aksa mendapat balasan, dari orang itu. Dia membaca sekilas tanpa membalasnya.
“Siap, apapun untukmu”
Ajeng membalik badan menghadap Aksa, kelopak mata dengan bulu lentik mengedip memandang lurus. Sudah lelah ia menjalani hari-hari pernikahannya yang selalu berjalan di tempat, tidak ada kemajuan sama sekali, mundur mungkin iya.
Ajeng adalah wanita yang menggunakan perasaan sebagai sumber pengambilan keputusan, jujur dia ingin setara dengan semua teman-temanya. Selalu malu dan terpojok ketika membahas para suami di sela-sela waktu senggang. Kumpul bersama keluarga pun sering ia lewati, semua terkena hasutan Maya, memusuhi Aksa.
“Iya, aku ingin hidup kita berubah Aksa, tidak seperti ini. Aku lelah, kamu, ibu, bapak, kakak termasuk rekan kerja membuat kepalaku pusing. Cerai adalah pilihan yang tepat, aku bukan istri yang baik Aksa. Kamu pun sama bukan suami idaman yang baik.” Tutur Ajeng, kali ini suaranya melemah, hanya ada sedikit tangis di sudut mata.
“Semua karena uang? Aku bisa kerja kantoran, mungkin melebihi suami teman-temanmu itu.” Sambar Aksa, kukuh tidak ingin bercerai. Karena Ajeng lah membuat hidup Aksa semangat dan tidak terkurung dalam kesedihan mendalam.
“Ya, aku bukan munafik Aksa. Kamu kerja di mana? Ijazah saja tidak punya. Kantoran mana yang mau menerima pegawai seperti kamu. Kelengkapan administrasi sebagai penduduk saja tidak ada. Jangan mengkhayal Aksa!” Sahut Ajeng merendahkan suaminya.
Lagipula ijazah apa? Dia tidak perlu itu semua.
Aksa menghela napas, entah cara apalagi yang digunakan untuk memperbaiki hubungannya. Aksa melirik kamar luas ini serta beberapa furniture mahal, dan bingkai foto Ajeng berama kedua orangtuanya.
“Aku ingin kita hidup mandiri tanpa bayang-bayang keluarga kamu, bisa mengontrak rumah kecil. Setelah aku mendapat pekerjaan baru kita pindah.” Telak Aksa, tidak mau rumah tangga berakhir perceraian dan akhirnya saling menyakiti diri sendiri, karena termakan hasutan orang lain termasuk keluarga.
Ajeng nampak berpikir, meninggalkan rumah ini adalah hal yang tak pernah terlintas dalam benaknya sekalipun. Tinggal berdua dengan Aksa, harus siap melepas fasilitas di rumah dan hidup sederhana mungkin kesusahan.
“Tapi … tapi aku takut Aksa, kamu belum jelas. Maksudku penghasilannya, apa kamu bisa menjamin aku hidup berkecukupan?” tentu saja Ajeng masih memikirkan diri sendiri.
Setidaknya di rumah ini walau tak menyenangkan, dia tetap bisa merasakan tidur nyaman tidak kepanasan, tidak juga menahan lapar akibat kurangnya gaji suami.
“Bagaimana Ajeng? Kamu setuju? Kita keluar dari rumah ini setelah aku dapat penghasilan sebagai pegawai kantoran.” Tegas Aksa, terus menatap Ajeng tanpa mengalihkan sedetikpun, karena yang keluar dari bibir istrinya itulah keputusan mereka.
“Ya Aksa. Selama kamu bisa menjamin hidupku tidak kekurangan.” Jawab Ajeng setengah hati.
Setelah mendapat kesepakatan itu, Aksa dan Ajeng mulai mencari rumah kontrakan dekat rumah sakit yang layak huni.
Aksa pun menunggu sesuatu sampai ke tangannya, sebagai salah satu bukti dia bisa mewujudkan impian Ajeng.
**
Sementara di rumah
Kebetulan Maya tengah bersantai di pekarangan menikmati secangkir teh dan aneka kue kering yang dibelinya dari tetangga. Wanita paru baya ini terkejut mendapat sebuah kiriman paket dari seseorang, bukan ditujukan kepada anggota keluarga, melainkan utuk Aksa.
Di amplop tertera logo perusahaan internasional yang memiliki gurita bisnis, terutama luar negeri sebagai kantor pusat.
“Apa ini? Untuk Tuan Aksara K. C, oh menantu gembel itu melamar pekerjaan di sini? Masih berusaha dia. Tapi jangan harap kamu bisa bertahan dengan Ajeng.” Maya tidak senang bila hidup putri dan menantunya semakin baik serta bahagia. Belum pasti juga Aksa memberinya kepuasaan materi sebab bekerja sebagai karyawan biasa.
Dalam pikiran, Maya mengatakan bahwa Aksa melamar pekerjaan sebagai office boy atau juru parkir, tidak mungkin manusia rendahan seperti Aksa duduk di balik meja dengan satu unit komputer di tangannya.
“Enak saja kamu Aksa, pasti kamu mau membawa Ajeng keluar dari sini, mimpi kamu.” Geram Maya, kaki keriputnya melangkah menuju dapur, membakar surat panggilan kerja untuk menghilangkan bukti.
.
.
Sementara Aksa heran mengapa surat untuknya belum juga datang, ia khawatir jatuh ke tangan Maya atau Danang, kemudian mereka berdua mengetahui sesuatu atau mungkin merusak surat.
Tidak tinggal diam, Aksa bertanya baik-baik pada mertuanya, namun respon yang diberikan seperti biasa. Maya meradang, mengadu pada Ajeng bahwa menantunya ini sengaja memarahi ibu mertua.
“Katakan saja bu, jujur, jangan bersembunyi. Apa surat itu diterima oleh ibu? Kalau iya sebaiknya kembalikan. Itu bukan barang ibu.” Beritahu Aksa pada ibu mertua yang sangat kerasa kepala tiada tandingan.
“Eh Aksa kamu menuduh saya? Dasar menantu tidak tahu diri kamu.” Maya terus mengeluarkan segala cacian, tanpa digubris satupun oleh menantunya.
Dengan wajah datar dan tetap tenang Aksa masuk kamar, menyambar kain handuk, namun suara panggilan istri mengalihkannya.
“Aksa ada telepon, dari orang tidak dikenal, sudah sepuluh menit. Mungkin penting, kamu terima.” Ajeng menyerahkan ponsel butut, layar depannya pun tampak retak dan anti gores yang mulai terkikis.
“Ok”
Aksa menerima telepon di hadapan sang istri, keningnya mengkerut, mendapat tawaran kerja salah satu cabang perusahaan produksi ikan kalengan. Dia merasa tidak melamar ke perusahaan itu melainkan tempat lain.
Semula Aksa ingin menjawab, tapi Ajeng lebih dulu mencari tahu keberadaan kantor tersebut, dan ya letaknya sangat jauh. Berbeda pulau dan provinsi pasti. Itu artinya jika Aksa menerima, maka mereka akan hidup terpisah selamanya, karena alasan pekerjaan.
Ajeng menggeleng lemah, menolak tawaran itu, ia tidak mau jauh dari suaminya. Akhirnya Aksa minta waktu untuk mempertimbangkan jawaban.
“Ajeng kamu tahu kan ini yang kita tunggu, mendapat pekerjaan tetap, bisa membebaskan kita dari kesulitan ekonomi.” Alasan Aksara masuk akal, hanya Ajeng sebagai wanita menolak keras.
“Tapi jauh Aksa, cari yang dekat saja. Aku … nanti aku sendirian di rumah.” Cicit Ajeng memelas kepada suaminya.
“Kalau begitu kamu ikut, kita tinggal di sana berdua.” Sahut Aksa percaya diri, sembari memeriksa kiriman pesan di ponsel.
Ajeng ragu menyetujui ini, bukan tanpa alasan, Aksa baru saja kerja jadi mereka belum pasti hidup layak di pulau lain, dan Ajeng keberatan.
Kalaupun ikut pindah artinya karir sebagai perawat harus pupus, ia tinggalkan demi mengikuti suami yang belum jelas penghasilan serta karirnya.
TBC
***
jangan lupa dukungannya kakak
boleh like dan komen
gift dan vote ditunggu 😁😁😁😁🙏
terima kasih banyaj
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Sulis Tiyono
kedamaian membawa kebahagiaan bahagia bawa keberkahan jgn takut tuk hijrah tuk memulai LBH baik
2023-08-14
1
EL Shawieto
Aksa GUOBLOK nya parah!!
2023-05-16
1
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
Thornya pengen tak sianida, gemes masak suratnya dibakar. trus yg diterima malah yang lamaran lain nnti masalah lagi ahhh gemes
2023-04-05
1