Rudi marah-marah, istrinya yang tidak tahu apapun menjadi sasaran tangan kasarnya. Dia bahkan mendorong wanita muda itu hingga terjerembab ke lantai, untungnya kedua orangtua Rudi ada di tempat, segera menolong menantu mereka.
‘Kamu itu kenapa Rud? Ada masalah di tempat kerja jangan marah sama istri’
“Argh … Aksa si@l4n. Tapi dia sekarang pengangguran, seharusnya semakin miskin. Oh apa melamar kerja jadi sopir?” Rudi seperti orang kehilangan akal, dia tertawa sendirian dan mengacak rambut klimisnya.
“Tenang Rud, mana mungkin itu Aksa, dia itu hanya gembel. Kehidupannya tidak lebih baik dari aku.” Kata hati Rudi berusaha menenangkan dirinya sendiri yang dilanda panik.
Bagaimana tidak panik, Rudi tercengang melihat Aksa dalam keadaan baik-baik saja bahkan sangat baik, ditambah pakaian yang dikenakan semua merk terkenal. Harganya tentu Rudi tahu, dia sering mencari barang-barang keinginannya, dengan harapan bisa membeli suatu hari nanti.
Belum lagi mobil mewah itu, biasanya Rudi hanya melihat di aplikasi berlogo ‘Y’ tapi sore ini Aksa mengendarainya, ya kalau bukan sopir, mana mungkin pemiliknya kan? Pikir Rudi.
**
Di sisi lain
Aksa sedang duduk dalam pesawat, melihat ke arah luar, langit Asia sebentar lagi gelap, benar-benar gelap. Jujur dia berat meninggalkan Ajeng, kalau boleh, pasti membawa istrinya pergi jauh, tapi mengingat banyak kesalahpahaman diantara mereka, Aksa merasa perlu menyelesaikan satu per satu.
Tidak mungkin membawa istrinya dalam kemelut yang ada. Dia juga tak ingin Maya dan Danang mengetahui identitasnya, ya jangan sekarang. Cukuplah Aksara dikenal sebagai menantu sampah yang terkenal di komplek perumahan kalangan menengah itu.
“Tuan, ada sesuatu yang salah?” Elang menoleh, memperhatikan bosnya, dia juga bertanya-tanya apa yang ada di pikiran seorang Aksara.
“Aksa, apa yang kau pikirkan? Jangan bilang istrimu. Ck, wanita lagi, jauhi wanita itu Aksa, dia hanya akan membuatmu lemah, kau harus kuat. Cwell Group membutuhkanmu, nasib jutaan pegawai ada di tanganmu Aksa.” Tegas Elang, terus berusaha agar Aksa lupa akan istrinya. Ya karena ada masalah jauh lebih penting dibanding perempuan.
“Istriku, keadaannya sangat kacau. Status kami masih suami istri, aku tidak bisa lepas tanggung jawab.” Aksa menyandarkan kepala, wajah sendu Ajeng terpatri kuat dalam kepalanya.
“Ck, menikah itu memang berat.” Gumam Elang turut menyandarkan kepala, mengikuti jejak bosnya.
.
.
.
“Tuan Muda Caldwell selamat datang kembali.” Pria paruh baya memeluk Aksa, asisten pribadi Henry Caldwell dan putranya sebelum meninggal dunia.
Kedua orangtua Aksara Kaisar meninggal dunia, sejak Aksa masih sangat kecil. Batita baru bisa berjalan itu harus kehilangan kasih sayang. Nyonya muda Caldwell meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat, setelah menghilang selama dua hari, jenazah ibu muda itu ditemukan dengan Aksa yang menangis dan kelaparan.
Sedangkan Tuan Muda Caldwell tewas ditembak oleh orang tak dikenal bertepatan dengan lahirnya Aksara Kaisar ke dunia. Kakek Aksa sangat menjaga cucu satu-satunya, mengerahkan kekuatan dengan kekuasaan yang dimiliki. Aksa sangat menyayangi Kakek, bagi Aksa lelaki sepuh itu segala-galanya.
“Terima kasih paman.” Aksa tersenyum, menyisir setiap sudut mansion. Terakhir kali dia di sini, malam meninggalkan kakek.
“Dia tidak tinggal di sini lagi Aksa, pengadilan memutuskan dirinya tidak berhak menempati, mengubah mansion ini. Tapi setelah Tuan Besar meninggal, selama dua tahun dia bersikukuh menjadi pemilik tanah dan bangunan ini, dan itu tidak mudah Aksa, pengadilan minta bukti tertulis dari kepolisian, jika pewaris tunggal benar-benar meninggal dunia maka seluruh harta ini menjadi miliknya tapi karena kamu menghilang, nasibnya sekarang bisa kita permainkan.” Tutur Ayah kandung Elang.
Mengetahui kuatnya posisi Aksara, Elang dan Ayahnya serta beberapa orang kepercayaan Henry Caldwell memutuskan mencari keberadaan Aksa sampai pelosok.
Pedalaman sekalipun mereka singgahi. Akhirnya tepat satu tahun pencarian, Aksa ditemukan dan mereka bersyukur Tuan Muda dalam keadaan cukup baik.
“Oh. Paman tahu saja aku mencarinya.” Aksa memasuki ruang rahasia, melihat-lihat ke dalam. Hanya ada debu dan sarang laba-laba, tidak ada yang tahu tempat ini kecuali Henry.
Setelah Aksa kembali pada jati dirinya, dia harus menjalani banyak pendidikan dan pelatihan. Sejumlah materi dipersiapkan, Elang setia mendampingi Aksa, dirinya pun sama tetap belajar.
“Kenapa aku belajar lagi? Ayah tidak adil.” Elang menatap lesu buku-buku tebal, dan ebook pada MacBook.
“Tugasmu belajar bukan protes.” Balas Aksa telak pada asisten pribadinya.
Dua orang sahabat itu menerima pelatihan khusus, tapi sebelum mulai, Pengacara Keluarga Caldwell menyambangi kediaman megah itu, mendengar kabar pulangnya Sang Pewaris yang hilang.
Wasiat rahasia Henry Caldwell harus disampaikan di depan Aksa bukan orang lain, dan saat ini pengacara tengah menyampaikan poin demi poin.
Aksa ditemani Elang dan Ayahnya menyimak tanpa menyela. Henry Caldwell mewariskan ratusan juta lembar saham di berbagai sektor baik itu perbankan, farmasi, consumer goods, telekomunikasi, konstruksi, energi dan pertambangan. Tersebar di New York Stock Exchange, Shanghai, Euronext, London bahkan Indonesia. Tanpa bekerja pun Aksa bias terus menikmati semua uang yang mengalir dari saham, tapi Henry memberinya tugas untuk memimpin langsung Cwell Group, agar tidak jatuh ke tangan yang salah.
“Bagaimana Tuan? Besok datanglah ke sekuritas, aku akan mengganti atas nama Aksara Kaisar Caldwell.” Tukas pengacara keluarga. Akhirnya tugas yang selama ini cukup berat, bisa diselesaikan, dia tidak lagi menjaga wasiat rahasia Henry Caldwell.
“Baik, besok pagi aku datang.” Tegas Aksa, berdiri dan kembali masuk perpustakaan.
**
Didampingi oleh Elang, Aksa mengunjungi sekuritas anak perusahaannya. Semua persiapan telah dilakukan, hanya menunggu sang pewaris menandatangani persetujuan.
Ketika ujung pena hampir menyentuh lembaran kertas, Aksa teringat akan istrinya. Ya Rahajeng Prameswari, yang sangat ia cintai, selama menikah belum pernah memberi hak Ajeng dengan baik, selalu di penggal oleh ibu mertua.
“Paman Pengacara Aku ingin merubah 50% saham ini atas nama istriku, bisa kan? Aku masih suaminya, aku tidak mau meninggalkannya tanpa apapun.” Pinta Aksa, menatap dalam sosok pria tambun di depannya.
“Bisa Aksa, tapi apa kamu yakin? 50% itu sangat fantastis. 10% saja sudah membuatnya kaya raya.” Konfirmasi pengacara, ia berhak menasehati Aksa dan melindungi keturunan terkahir Keluarga Caldwell ini.
“100% yakin, Paman.” Aksa begitu kukuh dan ingin memberi yang terbaik bagi Ajeng.
Menempel dalam benaknya bagaimana Danang dan Maya merendahkan Ajeng, karena dianggap gagal meraih cita-cita, tidak seperti Rayana berhasil menjadi seorang dokter.
Aksa masih memiliki sedikit hati nurani untuk membalas jasa kebaikan Ajeng. Setidaknya suatu hari nanti Maya, Danang dan Rayana bisa menghormati dan menghargai Ajeng meskipun semua atas dasar materi.
“Anggap saja itu sebagai uang bulanan untuknya, tapi jangan sampai dia tahu bahwa aku yang memberikan semua ini.” Aksa memandang lurus ke luar jendela, sepintas kumpulan awan di langit biru membentuk wajah manis Ajeng.
TBC
***
bantu ya subscribe
like dan komentarnya ditunggu 🙏😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
satu kata utk mc kita" BENGAK alias BODOH' bin OON...
2024-05-15
0
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
ah Aksa bego, istrinya sih emang udh cinta ma Aksa tp gampang terpengaruh. dia ga bs membela kamu didepan kluarganya. apaan tuh
2023-04-11
2
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
wakehe. aku dikasih satu to mas Aksa
2023-04-11
1