“Tuan Muda sudah waktunya anda kembali ke rumah.” Ucap Elang asisten pribadi Keluarga Caldwell.
“Pulang?” kening Aksa mengkerut, dirinya masih belum berpikir untuk meninggalkan tanah air. Kalau mengikuti Elang, artinya Aksa benar-benar meninggalkan Ajeng, entah itu berapa lama yang jelas bukan hanya satu atau dua bulan, mungkin satu bahkan bertahun-tahun.
“Come on Aksa, kau itu terlalu lama larut dalam kesedihan. Kamu melarikan diri ke tempat yang salah.” Gerutu Elang, jujur dia pun merasa tidak berguna sebagai asisten pribadi sekaligus sahabat.
Pasalnya Elang dan Ayahnya serta semua orang kepercayaan Henry Caldwell, kakek Aksara dipukul mundur oleh paman Aksara. Hingga tidak ada lagi yang bisa melindungi Aksa muda waktu itu.
“Kau tahu Elang, dia melakukannya tepat di depan kedua mataku. Kau lihat ini, salah satu ukiran dari pisaunya masih membekas di bahuku.” Aksa menunjukkan maha karya kekejaman pamannya.
“Maaf Aksa seharusnya, aku dan Ayah berani menentang perintah orang itu.” Elang menundukkan pandangan, kabar kematian Tuan Henry Caldwell kala itu menjadi berita mencengangkan, bahkan kasusnya langsung ditutup begitu saja.
Tapi Elang yakin yang membuat Aksa betah di sini yaitu keberadaan istrinya, demi apapun Elang tidak menyukai sosok Ajeng, karena dia Aksa jadi orang yang berbeda, keluarganya berani menindas menantu sendiri. Inilah alasan Elang tidak ingin jatuh cinta, sebab membuat para pria menjadi lemah, menuruti keinginan wanitanya.
Lupakan itu, Elang pun pernah patah hati, kekasihnya memilih menikahi pria lain. Malang juga nasib kamu Elang.
Elang menyampaikan semua perlakuan buruk mertua Aksa, tidak tanggung-tanggung bahkan dia mencatat semuanya dan menyebutkan satu per satu, sampai hal kecil. Dan Elang bingung sahabatnya ini bertahan hingga lebih dari dua tahun. Padahal jika Aksa kembali pulang, dia bisa memilih wanita manapun bukan satu tapi sepuluh atau seratus mungkin.
Tidak hanya keburukan mertua dan ipar, Elang juga menjabarkan segala kebaikan dirinya belakangan ini, diam-diam membantu Aksa, tidak dikenali oleh bosnya sendiri. Pamrih memang, tapi tidak apalah, supaya Aksa sadar siapa yang selama ini ada di pihaknya, bukan istri atau mertua melainkan keluarganya sendiri.
Buyutnya Elang memiliki hubungan kekerabatan dengan leluhur Aksa, dan keluarganya telah puluhan tahun bahkan empat generasi mengabdi pada klan Caldwell.
“Kau itu memang manusia yang selalu mencatat kebaikan dan keburukan orang ya.” Aksa merebut buku catatan dari tangan asistennya, menutup benda itu. Dia merenung dan membenarkan semua penuturan Elang.
Aksa menyadari bahwa hanya keluarganya lah yang benar-benar peduli. Orang lain selalu memandangnya sebelah mata karena dianggap miskin.
Semua tidak menyadari, bahwa Ajeng dan keluarganya menjadi sangat beruntung karena terikat hubungan dengan Tuan Muda Caldwell, tapi sayang Danang dan Maya malah menggali kuburannya secara perlahan, tanpa mereka tahu semakin lama kian dalam.
“Ok Elang, siapkan semua keperluanku. Kapan aku keluar dari rumah sakit ini?” Aksa meneguk satu botol air mineral. Dia yakin kejadian kemarin ada seseorang yang jahat, menyimpan obat di dalam botol minum.
“Serius? Baiklah. Apapun untuk sahabatku yang patah hati ini.” Sahut Elang menghubungi anak buahnya untuk mengambil obat Aksa dan mencari dokter, memastikan kondisi Tuannya sebelum mereka terbang melintasi daratan dan lautan.
“Aksa kau tahu, teman sekolah mu. Maksudnya, perempuan yang dulu kau sukai, sekarang dia sangat cantik, kabarnya belum menikah dan yah pernah bertanya keberadaanmu.” Ucap Elang menghasut Aksara agar melupakan cintanya pada Ajeng, tapi keputusan akhir tetap ada di tangan bosnya ini.
“Oh Catlin.” Tanggapan dingin Aksa, enggan mengenang masa lalu.
“Elang, sebelum pulang. Aku ingin melakukan sesuatu. Kau bawa semua kartu identitas ku bukan?” Aksa meremukkan botol air, dan menyeringai, ada beberapa rencana dalam otaknya hari ini.
“Tentu saja bawa, tapi sayang aku tidak bisa menggunakannya.” Kelakar Elang menyerahkan dompet berisi kartu, segala bank, kepesertaan bursa efek, anggota organisasi VVIP, dan masih banyak lagi.
.
.
Dengan supercar yang dikendarainya, Aksa membelah jalanan kota kecil ini, semua mobil menyingkir sebab baru pertama melihat kendaraan yang hanya diproduksi beberapa unit di dunia.
Aksa menghela napas melihat penuhnya area parkir, sebenarnya bisa saja dia masuk sebab ada kawasan khusus, tapi memilih menyimpan mobilnya di luar pintu gerbang.
Pria ini menaiki undakan tangga, melangkah masuk ke dalam bank terbesar di Asia dan Eropa. Seperti bisa garda terdepan, satpam memang selalu ramah, mengembangkan senyum selebar mungkin. Suaranya terdengar merdu, membimbing seorang Aksara, untuk mengantri. Namun dia datang bukan untuk menunggu giliran.
Aksara Kaisar Caldwell menunjukkan kartu nasabah prioritas, dan semua di sana tercengang, apalagi ada logo khusus keluarga Caldwell, tidak sembarang orang memiliki itu, dan sudah enam tahun mereka tidak pernah melihat atau mendengar kabar keberadaan sang pemilik Bank.
Melihat penampilan Aksa yang hanya menggunakan celana dan kaos lusuh serta tas ransel robek, satpam ini masuk ke salah satu ruangan khusus nasabah prioritas.
Dua petugas menyambangi Aksa, secara tidak langsung menolak, sebab mana mungkin gembel sepertinya bisa memiliki kartu sakti. Bisa jadi seorang pencuri, bahkan berniat membuat laporan pada pihak berwajib.
‘Nasabah yang memiliki kartu prioritas bukan orang sembarangan, kamu tidak boleh ke sana. Begini saja, katakan ini milik siapa? Tidak mencurinya kan?’
‘Kami bisa melaporkan kamu ke kantor polisi, sebaiknya jujur sekarang juga’
“Kalian tidak percaya? Buktikan saja, bukannya bank ini canggih?” sarkas Aksa, masih tetap duduk santai.
Petugas pun menghela napas, Aksa tidak diizinkan masuk ke ruang prioritas, dianggap tidak pantas. Bahkan melakukan pengecekan pun berlangsung cukup lama, hingga dia digiring ke ruang supervisor.
Samar-samar Aksa mendengar pegawai mencemooh dirinya yang mimpi memiliki semua uang dalam akun Aksara Kaisar Caldwell. Melihat penampilannya saja seperti orang kesusahan, memiliki uang 500 ribu dalam rekening pun sudah untung.
‘Ada ya gembel macam itu’
‘Halu sih boleh tapi jangan keterlaluan’
‘Haha … masa iya uangnya banyak tapi penampilan buruk rupa’
Hinaan seperti itu sudah biasa bagi Aksa, dia tidak sakit hati hanya saja keterlaluan menilai seseorang berdasarkan covernya.
Supervisor di depannya ini malas menyentuh jemari Aksara , terkesan menjijikan. Ya Tuan Muda Caldwell tengah sidik jari untuk memberikan identitas, selain itu tanda tangan pun di bubuhkan pada alat khusus.
Menunggu proses pengunduhan data nasabah selesai, sekitar lima menit pria di depannya melotot melihat komputer. Beberapa kali pandanganya berpindah dari Aksa ke layar terus begitu. Ia tercengang foto sang pemilik Bank sama persis dengan wajah lelaki kumal.
Semua data cocok, sidik jari dan tandatangan tidak ada perbedaan sedikitpun.
‘Maafkan saya Tuan, mari kita ke ruang prioritas untuk melakukan tarik tunai.’
Mendengar suara supervisor bergetar bahkan sekarang berjalan membungkuk, semua yang menghina Aksara bungkam, saling melirik satu sama lain. Mendekati Aksa, mengiba memohon maaf atas lancangnya mulut mereka.
Aksa menghubungi direktur utama Bank, langsung bicara sangat tegas, dengan kekuasaan yang kembali ke tangannya, merotasi pegawai ke daerah terpencil karena berani menghina orang. Pelajaran bagi mereka agar tidak menilai orang dari penampilan luar.
‘Jangan Tuan’
‘Maaf kami salah, bagaimana keluarga kami di sini Tuan?’
“Aku tidak memecat kalian, hanya memberi suasana baru.” Sahut Aksa tanpa menoleh kemudian berjalan keluar dibantu satpam membawa tas berisi uang tunai. Para pengawal sudah sigap melindungi Tuannya.
Aksa pergi ke tempat tujuan berikutnya, langkah kedua yang harus diselesaikan hari ini juga.
TBC
**
dukungannya ditunggu untuk author receh ini. like dan komen sangat berarti🙏
gift dan vote boleh sekali 😁
ini yang minta visual 😅 tolong jangan bully, aku ga siapin visual untuk cast novel ini ya
kita mulai dari Aji, susah cuy carinya tapi hanya ilustrasi ya
dr. Rayana Prameswari
Rahajeng Prameswari
Elang (dia blasteran ya ceritanya Mak Asia, Babeh Eropa) tapi koq bule, sekali lagi hanya ilustrasi 🙏
Aksara Kaisar Caldwell (ini Aksa setelah kembali pulang wkwkkw sebelumnya tanpa jenggot ya)
jangan minta Danang dan Maya yah 😅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Dulkarim Muda
Aksa ketuaan
2023-09-04
1
Diah Susanti
kalo danang sama maya disuruh duet lagu india aja
2023-08-29
1
Aceng Lee
makin seruuuu....
2023-04-07
1