Hahaha
Elang tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan Aksa, apa yang terjadi di bank memang lucu. Bahkan surat tugas pun langsung turun, ya tidak selamanya atau bertahun-tahun, cukup enam bulan mereka mendapat lingkungan baru dalam bekerja.
“Aksa, ini. Gantilah pakaianmu, satu hari menggunakan yang sama. Badanmu tidak gatal? Gantilah, pesawat sudah siap. Ayah menunggu mu di mansion.” Elang menyerahkan satu set lengkap pakaian untuk bosnya.
“Elang ada sesuatu yang harus kau tangani. Aku ingin semuanya selesai hari ini juga.” Titah Aksa, dia berdiri meraih pakaian, kemudian berlalu ke toilet cafe.
Dalam ruangan sempit ini, dirinya memandang sinis pada tubuh yang kurus, ya kehilangan hampir 70% ototnya, lagipula siapa yang bisa menjaga bentuk tubuh dalam kondisi kekurangan nutrisi, kurang tidur dan beban pikiran sangat banyak.
“Kau akan mendapatkannya lagi Aksa.” Gumam Aksa, gegas menggunakan baju barunya dan membawa semua pakaian lama, tidak dibuang, karena bersejarah dalam hidup.
Aksa tertawa kecil mendapati Elang dikelilingi para wanita, mereka tidak tahu saja dia dingin, bahkan ragu menyukai lawan jenis atau tidak. Sejak putus dari kekasihnya, Elang menutup rapat pintu hati dan berjanji menyingkirkan wanita yang ingin dekat dengannya.
Ehem
“Ayo” suara Aksa bagai sebuah keberuntungan, Elang bisa terbebas dari suara bising mahkluk manja dan mudah menangis itu.
“Apa yang harus aku lakukan, katakan Aksa. Kau ini memberi perintah tidak jelas.” Elang menghela napas, tidak tahu apa yang diinginkan bosnya. Padahal waktu mereka tersisa beberapa jam lagi.
Rencana Aksa yang pertama membeli tanah tepat di seberang coffe shop mertuanya. Tahukah tanah luas itu milik siapa? Orangtua Aji, tanah warisan milik Aji. Ya Aksa memerintahkan Elang membeli tanah itu atas namanya, bahkan langsung membayar dengan uang tunai.
“Gila Aksa, untuk apa memiliki aset di sini? Siapa yang akan mengurusnya? Apalagi tanah itu luas, kalau tidak di garap dengan baik, satu tahun lagi menjadi hutan.” Elang tidak habis pikir dengan keinginan Aksa, buang - buang uang untuk hal receh.
“Sudahlah beli saja, untuk siapa yang merawatnya, aku bisa membayar seseorang, atau biarkan saja jadi hutan. Beli semuanya, jangan lewatkan satu meter pun. Ingat bayar dengan nilai di bawah harga wajar.” Tukas Aksa, dia tahu bahwa usaha toko bangunan keluarga Aji sedang membutuhkan dana segar.
Maka dari itu Aksa menggunakan trik ini, siapa juga yang tidak tergiur langsung berhadapan dengan uang tunai senilai tiga milyar rupiah.
“Otak licikmu terbaca oleh ku, baiklah, aku hubungi notaris sekarang juga.” Elang segera pergi dengan beberapa pengawal, dia senang menjalankan tugas mulia pertama dari Tuannya.
Sementara Elang membuat kesepakatan dengan pemilik tanah, Aksa menunggu di depan coffe shop mertuanya. Bahkan wajah kusut Danang terlihat hilir mudik, sepertinya ada masalah. Biarkan saja pria tua itu menghadapi sendirian, mungkin terkait persediaan biji kopi yang datang terlambat.
Tidak hanya itu Aksa pun memerintahkan asistennya mencari tahu dimana saja letak dan luas tanah milik Danang.
“Cari tahu tanahnya, aku dengar dia orang terkenal ke tiga yang memiliki tanah banyak di kecamatan ini.” Ucap Aksa penuh penekanan, tatapannya pun lurus ke depan tapi tidak fokus melihat satu titik, isi kepalanya menjelajah ke segala arah.
“Temui aku di restoran tempat kerjaku dulu, jangan lama karena tugas mu masih banyak.” Lagi-lagi Aksa memberi olahraga ringan kepada asistennya itu, lagipula ini memang keinginan Elang mendapat misi kecil sebelum mulai ke tahap lebih besar.
.
.
Tepat di seberang restoran, Aksa dan Elang duduk bersantai di Paris Cafe and Bakery. Salah satu tempat kesukaan Ajeng ketika awal menikah dulu, wanita itu sering mengajak suaminya ke sini, untuk menikmati malam minggu pada umumnya tapi hanya berlangsung satu tahun.
“Ini surat tanah, sertifikat menyusul, perlu waktu. Tuan Muda jenius juga, dugaanmu benar, mereka langsung setuju, tanpa penawaran. Daya tarik uang memang luar biasa yah.” Elang terkikik geli mengingat wajah pemilik tanah yang haus akan rupiah.
“Hem yah. Begitulah. Makanya aku di hina, mertuaku menilai bahwa putra pemilik tanah itu jauh lebih baik, sampai menjadikannya kandidat calon menantu idaman. Kau tahu Elang, saking menjijikkannya seorang Aksara, Ibu dan Bapak mertua memaksa istriku menggunakan alat kontrasepsi, mereka menolak hadirnya darah dagingku.” Aksa tertawa miris, ingatannya berputar pada kejadian menyesakkan dada. Pertama kali tahu rahasia yang ditutupi Ajeng.
“Ck, dan mereka pasti menyesal. Jadi kalian sering melakukanya? Tapi istrimu mau disentuh, aku pikir kalian pisah ranjang.” Elang tertawa, membayangkan betapa tersiksanya Aksa harus menahan diri.
“Kami itu suami istri, bercinta adalah kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan.” Tegas Aksa menatap tajam pada Elang lalu menyerahkan satu koper hitam berisi uang tunai.
“Ini apa lagi? Menghilang selama lima tahun dan sekarang menghamburkan uang. Luar biasa Tuan Muda Caldwell.” Elang memeriksa beberapa dokumen penting di dalamnya.
“Lima menit lagi pemilik restoran datang. Aku membelinya dan setelah itu berikan mereka pelajaran, kurangi kebijakan bonus selama satu tahun.” Aksa melakukan ini semua agar mempermudah penyelidikan siapa yang berani menjebaknya dengan cara kotor dan licik.
Dia pastikan membalas satu persatu kepada mereka semua termasuk hal kecil. Tapi untuk manager, kebaikannya selalu Aksa kenang.
“Dimengerti Tuan Muda.” Elang berdiri, beranjak dari tempatnya, menuju restoran di seberang jalan.
.
.
Selesai dengan rencana kedua, Elang terpaksa menemani Tuannya ke rumah sakit. Aksa langsung menemui direktur rumah sakit, sekaligus menyampaikan keinginannya untuk menjadi komite pengawas rumah sakit. Dan apa tanggapan dokter itu? Hinaan, cacian kembali menyerangnya, padahal penampilan Aksa saat ini berbeda tidak lagi lusuh.
“Apa kau bilang? Dengar ya dewan pengawas haruslah orang yang memiliki talenta, baik itu di bidang kesehatan atau berpengaruh dalam hal lain, bukan profesi rendahan seperti kamu.” suara menghina itu menggema dalam ruangan mewah ini.
Aksa masih tetap diam mendengarkan segala penyataan yang keluar dari mulut kotor. Duduk tenang di atas sofa khusus tamu, kendati dia tidak diizinkan untuk mengistirahatkan diri.
“Apa kamu pasien rumah sakit jiwa? Mimpi jadi pengawas? Rumah sakit mana, katakan? Aku sendiri yang akan mengantarmu ke sana.” Ucap direktur begitu pongah tak sadar diri berhadapan dengan siapa.
“Sudah selesai? Mungkin kejutan yang datang sebentar lagi membuat anda menyadari kesalahan.” Tutur Aksa begitu percaya diri menanti asisten pribadinya masuk ke ruangan.
Tok … tok
“MASUK” sahutnya marah mendapat tamu, mengusik ketenangan dalam bersantai di kursi empuk khusus direktur.
“Maaf Tuan Muda Caldwell, ini surat pengunduran diri direktur rumah sakit, dan penggantinya sudah resmi dipilih juga mendapat persetujuan. Silahkan masuk.” Elang mengulurkan tangan menyambut direktur baru.
“A-PA? ini pasti salah, s-siapa Tuan Muda Caldwell?” tanya mantan direktur tergagap, tubuhnya langsung gemetar tamat sudah riwayatnya sebagai dokter sekaligus pimpinan.
Elang menjelaskan apa yang terjadi dan saat itu juga mantan direktur dipindahkan ke rumah sakit d kota lain yang sangat membutuhkan tenaganya.
Aksa resmi menjadi salah satu dewan pengawas, semua ini tak lain dia lakukan untuk melakukan pemantauan kepada istri tercinta sekaligus Rayana. Di rumah sakit ini, di tempat keduanya mencari penghasilan, dan kenang buruk Aksa mendapat hinaan dari kakak ipar dan rekan kerja.
Sebelum Aksa benar-benar meninggalkan tanah air, ia menunggu di lobby, menggunakan topi dan kacamata, menunggu sosok yang pasti akan dirindukan.
Aksa melihat Ajeng berjalan dengan tumpukan rekam medis di tangan, berjalan lesu, kantung mata sangat jelas menghiasi wajah cantiknya. Tidak ada senyum sedikitpun, mungkin saja lelah karena hari sudah sore, pikir Aksa.
“Selamat tinggal sayang, aku harap kamu bahagia. Aku benar-benar mencintaimu Ajeng.”
Setelah Ajeng lewat menuju lorong lain, Aksa bergegas menyusul Elang yang menggerutu di dalam mobil.
“Sekarang kita pergi” tukas Aksa penuh keyakinan.
“Laksanakan Tuan” sahut Elang bahagia, bisa membawa bosnya kembali, dia juga tidak akan dikirim ke Antartika.
Sepasang mata memperhatikan Aksa sejak keluar dari pintu utama, dia tidak berkedip mantan rekan kerjanya berubah, memakai baju bagus dan mengendarai mobil mewah.
"Pasti salah orang, bukan. Bukan Aksa." Rudi ternganga melihatnya.
TBC
**
jangan lupa tinggalkan jejaknya, like dan komentar 🙏
terima lasih
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
gk dibongkar tuh aksa atas klakuan mertuo lu yg mnjebak sama perempuan malam dan gmana klarifikasi lho sama Ajeng..
2024-05-15
0
Sulis Tiyono
sudah bosen melarat waktunya ujuk gigi
2023-08-14
2
Jallu
show Force!
2023-08-08
1