Gesekan pagar terdengar, Aksa membuka pintu gerbang. Seolah hari sialnya belum berakhir, tidak biasanya melihat Maya siang hari di rumah, ibu mertua itu selalu pulang sore setelah toko pakaiannya tutup.
Tapi sekarang Maya tengah menyiram tanaman kesayangannya. Riak wajah paruh baya tampak tidak bersahabat, Aksa yakin ibu mertuanya pasti langsung menyerang dengan banyak pertanyaan.
“Lho Aksa? Kamu? Kenapa bisa bebas?” suara melengking khas wanita yang terkejut melihat sesuatu, Aksa seperti penampakan yang menakutkan bagi Maya.
“Iya bu, Tuhan masih sayang dengan Aksa. Permisi bu.” Aksa berlalu dari hadapan Maya, namun wanita itu kembali berteriak menghentikan langkah kaki menantunya.
“Heh Aksa, kamu pasti menggunakan cara licik, iya kan? Atau jangan-jangan kamu kabur, saya tidak mau ya di rumah ada buronan. Memalukan, bisa-bisanya kamu menyerang Aji, calon mantuku. Kamu tidak selevel dengannya.” Cerca Maya seakan tiada akhir, entah terbuat dari apa mulut itu sampai tak jenuh mengeluarkan kalimat pedas.
Tetangga berdatangan ingin tahu, bahkan sebagian dari mereka menerobos masuk melewati pagar, hanya untuk menyaksikan drama pertengkaran menantu dan mertua.
Aksa melirik malas pada kerumunan di depan rumah.
“Bukti apa yang ibu miliki sampai menilai saya bersalah? Jaga lisan bu, tuduhan tanpa bukti termasuk pencemaran nama baik.” Telak Aksa memutar tubuhnya dan berjalan masuk.
“Dasar menantu rendahan kamu, Aksa. Kurang ajar kamu sama orangtua.” Teriak Maya hingga urat-urat di leher tertarik ke atas.
“Sudah Bu Maya, menantu seperti itu depak saja. Ajeng juga masih muda, bisa dapat suami melebihi Aksa.” Timpal warga komplek lain, setiap hari gemar menggunjing ketidaksempurnaan orang lain.
‘Iya Bu Maya, bilang ke Ajeng kalau suaminya tidak sopan mengancam mertua.’
Suara itu saling bersahutan satu sama lain, bahkan sampai Aksa masuk kamar mandi pun hinaan, caci maki semua menggema dalam ruangan.
Dalam guyuran air, tiba-tiba Aksa mengakhiri kegiatannya, sebab dering ponsel tak henti sejak lima menit lalu. Dilihat nama istri tercinta dalam layar, Aksa sigap menerima panggilan video.
“Ya sayang, Ajeng, aku di rumah. Pulang kerja aku jemput ya.”
Bukannya menanyakan kabar atau mencemaskan Aksa, wanita berlesung pipi itu mendadak marah. Jelas sekali wajah ketus Ajeng pada layar ponsel.
“Aksa kamu marah sama ibu? Kamu berani membentak ibu di depan semua tetangga? Beliau itu ibu aku Aksa, mertua kamu.”
Sembur Ajeng, mendapat hasutan dari Maya yang lebih dulu menghubungi putrinya. Mengadu domba antara sepasang suami istri.
“Maksud kamu, sayang? Seharusnya aku yang protes. Ibu menghina aku di hadapan teman-temannya. Apa itu pantas? Mungkin kamu bisa bilang ke ibu untuk jaga sikap, hargai aku sebagai suami anaknya.” Ucap Aksa meluap, mengingat dirinya yang tertimpa masalah sejak pagi hari, ditambah reaksi belahan jiwa tidak sesuai harapan.
Sejenak Ajeng termenung, diam. Tak menanggapi kata-kata suaminya, berpikir untuk menjawab semua perkataan Aksa.
“Kita itu menumpang Aksa, lebih baik tahu diri. Mengalah saja jangan mencari masalah. Kita tidak diusir pun sudah untung."
“Ibu benar Aksa, bagaimana caranya kamu bebas? Dalam video itu jelas kamu memukul Aji lebih dulu dengan kayu sampai dia pingsan.”
Detak jantung Aksara seakan berhenti, mendengar pernyataan istrinya. Demi apapun Ajeng membela Aji? Tidak mempercayai suami yang telah hidup dengannya selama dua tahun ini.
“Katakan, siapa yang menolong kamu? Kata ibu kamu pakai cara li …”
Sebelum kata-kata hinaan itu keluar dari bibir manis istrinya. Aksa lebih dulu angkat bicara, mengakhiri segala prasangka Ajeng.
“Ajeng silahkan percaya apa yang kamu yakini. Aku kerja dulu, ambil shift siang.” Tegas Aksa menutup telepon. Sudah tahu rumah tangganya tidak baik-baik saja, tetap berharap Ajeng peduli padanya.
Semula ingin istirahat dari rutinitas harian tapi semakin lama malah membuat Aksa kesal, akhirnya memilih pergi kerja.
“Mau kemana kamu? Kabur?” sinis Maya menatap nyalang ke arah menantunya.
“Kerja Bu.” Aksa menjawab tanpa melihat wajah ibu mertua, tidak mau sampai bertengkar dengan wanita, lalu membuat keributan yang mengudang warga komplek berkumpul.
Aksa mendorong motor, menulikan dua telinga, berusaha meredam amarah. Sebab Maya masih terus membandingkan dirinya dengan Aji. Tentu saja beda, Aksa setuju itu, tapi dia masih lebih baik dibanding pemuda yang terang-terangan merebut istrinya.
.
.
.
.
Pikiran Aksa bercabang ke sana kemari, untunglah dia masih tetap fokus mengendarai roda dua miliknya.
Sebelum masuk parkiran restoran, Aksa menghela napas. Dia harap bisa melewati hari ini dan seterusnya dengan baik.
‘Eh itu Aksa, mau apa dia ke sini?’
‘Mungkin minta pesangon. Pasti dipecat.’
‘Hebat juga dia bisa bebas cepat, jangan-jangan manager membantunya. Benar-benar Aksara pandai menjilat.’
‘Mungkin istrinya yang bantu, aku dengar seorang perawat, pasti gajinya di atas kita, bisa menjamin suaminya keluar.’
‘Aku kasihan, pasti istrinya tekanan batin. Suami seperti itu lebih baik ditinggalkan saja’
Hampir semua rekan kerja melontarkan kata-kata hinaan, tanpa mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lagi-lagi menilai orang dari cangkang luarnya, itupun belum tentu sesuai indra penglihatan.
Aksa tidak peduli, dia di sini untuk bekerja. Dunia luar memang keras banyak musuh bertebaran dimana-mana, itulah yang Aksa pelajari lima tahun belakangan ini. Setidaknya mereka mengungkapkan secara langsung daripada bersembunyi di balik kebaikan.
“Aksa, kamu bukannya di … ditahan ya? Ini benar kamu Aksa?” Rudi yang berpapasan dengan Aksa langsung memperhatikan rekannya ini.
“Iya Rud, beruntungnya ada orang baik yang memiliki semua bukti kalau aku tidak bersalah. Di mana manager?” Aksa menepuk bahu teman yang dinilai baik, selalu saling membantu selama tiga tahun ini.
“Biasa, bos ada tamu. Tunggulah dulu di sini Aksa, ceritakan kejadiannya. Aku penasaran.” Kata Rudi, menyimpan buku menu di atas meja, duduk menghadap Aksa.
Sebenarnya sedikit malas memberitahu kejadian tidak menyenangkan pagi tadi, Aksa meringkas beberapa cerita, tidak terlalu detil.”
“Orang itu bukan manager? Siapa lagi yang kamu kenal punya banyak uang selain bos kita? Selama ini kamu dapat perlakuan istimewa, mungkin bos bantu kamu. Beruntung sekai.” Ucap Rudi sedikit tertawa pelan, terkadang berpikir apa yang dilakukan Aksa sampai manager tidak memecatnya? Padahal Aksa sering datang terlambat.
“Apapun yang terjadi, aku tetap percaya bahwa Aksara kawanku ini tidak bersalah, tetap berjuang Aksa untuk tujuanmu. Aku yakin hidupmu ke depannya berubah” Inilah sikap Rudi selalu memberi semangat, dia salah satu senior tapi tidak arogan.
Melihat tamu keluar, Aksa bergegas menemui manager. Statusnya sebagai pegawai harus jelas, kalaupun di pecat, pasti ada pesangon. Setidaknya cukup untuk biaya mencari pekerjaan baru.
Beruntungnya Aksa, manager masih memberi kesempatan terakhir. Karena Aksa, restoran ramai selain itu dapat menghandle pelanggan VIP.
Rudi tidak senang melihat interaksi antara manager dan rekannya. Bahkan berharap Aksa meringkuk di tahanan selamanya.
“Kenapa kamu beruntung sekali Aksa? Seharusnya posisi frontliner jatuh ke tanganku.” Tubuh Rudi sedikit bergetar, tatapannya menyorot tajam membelah apapun yang menghalangi.
TBC
**
Ditunggu dukungannya kakak semua. Terima kasih banyak 🙏
Like, komen, vote dan gift menambah stamina Author
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Oman Mahayana
udah bab 10 gini.....keistimewaan si tokoh apa.....ga jelas....yg ada cuma cerita dia kena tindas, di maki....sial....udah gitu aja ga ada kemajuan...bikin eneg saja
2023-08-22
2
Ymmers
ooooppsss ada brutus di sini.. 🤭🤭🤭🤭
2023-05-31
1
Min Yoon-gi💜💜ᴅ͜͡ ๓
fontliner kan gajinya ga seberapa harusnya si rudi berharap jd manager wkkwkw. rudi rupanya teman dalam selimut. gak tulus
2023-04-05
2