Pagi ini restoran sangat sibuk, supervisor memberi instruksi pada beberapa pelayan, termasuk Aksa. Sepuluh orang diikutsertakan menjaga dan melayani makan siang para peserta seminar kesehatan di gedung milik kementerian kesehatan.
‘Aksa, Rudi, Dani kalian bertugas di hidangan utama. Ingat jangan terlalu cepat yang penting teliti, jangan sampai Pak Menteri kecewa dengan restoran kita. Satu jam lagi berangkat.’
Aksa, Rudi, Dani berdampingan, hanya sikap Dani menunjukkan acuh, sedangkan Rudi seperti biasa merangkul bahkan menawarkan kopi sembari duduk santai di belakang, tepatnya area istirahat pegawai.
“Kenapa Rud, lemas banget?” tanya Aksa, tidak biasanya wajah Rudi pucat seperti ketakutan akan sesuatu.
“Masa? Salah lihat kamu. Aku sehat, tidak lemas.” Sahut Rudi, ketara sekali menutupi sesuatu. Mengalihkan kedua bola mata ke arah lain, menghindar dari Aksa.
“Ok. Kalau membutuhkan teman curhat, bisa berbagi denganku, tenang aja Rud rahasia kamu aman.” Imbuh Aksa, menyesap kopi hitam instan yang telah bersahabat dengannya sejak empat tahun lalu.
Sebelumnya Aksa tidak pernah bisa menikmati segala jenis kopi dalam bentuk sachet, tapi keadaan memaksa tubuhnya untuk menyesuaikan diri.
“Tidak kali ini Aksa.” Batin Rudi tidak tenang.
Satu jam persiapan, semua makanan diangkut menggunakan mobil box khusus, sedangkan untuk peralatan makan tiga orang pelayan berada di gedung sejak pagi.
Ini kali ketiga Aksa dan rekan-rekannya ditugaskan diluar dan satu minggu ini memang ramai akan permintaan catering, delivery order pun membludak.
Sebelum memasuki area gedung, Aksa melihat banyak pedagang, matanya teralih pada salah satu pria berambut putih membawa puluhan tangkai mawar merah dan putih dalam ember.
Dia merogoh saku celana, dan menemukan uang pecahan lima puluh ribu, niat Aksa setelah selesai bekerja akan membeli bunga untuk istrinya.
‘Cepat turun, lakukan persiapan. Tidak boleh ceroboh, ingat itu.’
Tujuh pelayan turun dari mobil, merapikan hidangan di atas meja panjang yang tersedia. Suasana hening dan dinginnya ruangan begitu terasa kental, pertanda materi mulai disampaikan.
Mendadak Aksa mendengar sesuatu yang membuat hatinya menghangat.
“Ajeng?” gumamnya, melihat sosok istri tercinta berjalan bersama beberapa orang memasuki ruangan. Aksa tidak mengira Ajeng ada di gedung ini, itu artinya dia bisa melepas rindu walau hanya menatap dari kejauhan. Karena dari semalam wanita itu enggan menyapa dan melayani suaminya.
Tidak juga mengatakan apapun tentang seminar, Ajeng hanya pamit seperti biasa, begitu juga dengan Aksa tidak membahas perihal tugasnya hari ini. Lagipula siapa yang peduli? Di mata sebagian orang tidak ada keistimewaan dari pekerjaan Aksa.
Aksa teringat akan penjual bunga tepat di depan gedung, dia minta izin lima menit untuk membeli setangkai mawar merah. Disimpannya tanda cinta dan kasih sayang itu di bawah meja bersama beberapa peralatan lain. Ia akan menunggu sampai waktu makan siang tiba.
“Beli apa kamu Aksa?” tanya Rudi penasaran, apa yang disembunyikan rekannya di bawah sana.
“Untuk istri, biasa Rud. Biar serasa pengantin baru.” Gurau Aksa, tersenyum lebar sembari menunjuk setangkai bunga.
“Wah … Ajeng ada di sini Aksa? Bisa makan siang bareng. Pepet terus, bila perlu tambah lagi kejutannya.” Balas Rudi, sedikit iri dengan rekannya. Memiliki istri wanita karir, cantik adalah idaman seorang Rudi, tapi ia berjodoh dengan teman sekolah, wanita yang hanya bisa minta uang.
Aksa merasa ada sedikit perbedaan, apa yang keluar dari bibir Rudi tidak sesuai dengan raut wajahnya. Begitu jelas sesuatu yang ditahan dalam diri agar tidak meluap.
Semua pegawai tidak ada yang istirahat, sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Termasuk Aksa, dia dua kali keluar masuk gedung membantu rekan lainnya membawa beragam hidangan.
Waktu berlari cepat, pintu aula utama terbuka, peserta seminar mulai keluar satu per satu. Menyambangi meja konsumsi, ada yang mengambil minum atau menuju hidangan utama. Aksa mencari keberadaan Ajeng, sayangnya hingga lima belas menit tak kunjung terlihat sosok yang ditunggu.
Pikiran Aksa tidak lagi berharap, mungkin istrinya menikmati snack ringan di meja lain.
“Eh suaminya Ajeng.” Bisik-bisik para perawat di depan pintu. Melirik penuh sindiran, merendahkan Aksa yang hanya berpakaian pelayan.
‘Ajeng ada suami kamu, ayo keluar.’
‘Untung suamiku bukan pelayan’
Menunjukkan pergelangan tangan, ya merk jam tangan terkenal. Setahu Aksa harganya sama dengan satu unit kendaraan roda dua tapi sayang itu palsu, entah pemiliknya sengaja atau memang tidak tahu. Serta sepatu mahal yang sangat diinginkan oleh Ajeng, sekarang Aksa tahu siapa dalang yang selalu membuat istrinya merasa iri.
Aksa juga tahu susahnya Ajeng menabung untuk membeli jam tangan dan sepatu brand ternama, sudah enam bulan belum terlaksana satupun.
‘Ajeng … suami kamu.’
Tawa beberapa rekan sesama perawat, menjauhi Ajeng yang berjalan mendekat, semula wanita itu lapar dan ingin makan, namun melewati meja hidangan utama. Sebab malu memiliki suami seperti Aksa, jujur dia serba salah, hati dan pikirannya berkecamuk. Perasaannya tidak rela, tapi otak Ajeng mengutamakan gengsi di depan teman-temannya.
Ajeng kerap kali panas hati karena dia tidak bisa memiliki apa yang di banggakan orang lain. Suami rekan kerjanya memiliki profesi dan gaji di atas para istri, sedangkan dia? Terbalik. Aksa juga sering tidak mampu membiayai kebutuhan pokok keluarga.
Tapi rasa perih di perut, membuat Ajeng urung, tidak mau nantinya berujung sakit. Wanita itu kembali menghampiri hidangan utama, mengantri di belakang.
Apa salahnya Aksa? Dia bukan pengangguran bahkan seluruh gajinya digunakan oleh ibu mertua dan istri.
Setelah selesai mengantri, Ajeng tidak perlu pusing memilih makanan, Aksa lebih dulu menyiapkan untuk istrinya. Tahu apa saja yang disukai dan tidak, kedua tangan Aksa memegang piring dan bunga mawar .
Ajeng menyambar piring tanpa mengambil bunga lambang kasih sayang, hingga jatuh ke atas lantai, tidak sengaja terinjak oleh sesama peserta.
“Jangan hamburkan uang kamu Aksa.” Lirih Ajeng, memutar tubuh mencari kursi kosong dan duduk sendirian.
Seorang wanita cantik baru keluar dari aula, berjalan dengan angkuh mendekati Aksa yang sedang merapikan alat makan.
Dia, Rayana sengaja berjalan tergesa-gesa, tujuannya memang adik ipar. Menabrak tubuh Aksa sampai piring di tangannya pecah, mangkuk besar berisi sup panas pun ikut bergerak ke depan dan tumpah, menyiram tas mahal Rayana.
“Argh Aksa kamu sengaja kan?” pekik Rayana mengibas rok span yang terkena cipratan sup. Dia pikir bisa melukai Aksa, justru tas mahalnya menjadi korban akibat rencana licik.
“Kamu tidak akan sanggup menggantinya. Ini aku beli di Singapore. Gaji kamu lima tahun juga tidak bisa membelinya. Adik ipar tidak tahu diri.” Berang Rayana, apalagi kulit tas kesayangannya mengkerut.
“Ini salahmu Rayana , kenapa aku yang ganti? Tidak bisa” Tolak Aksa sangat tegas dan menajamkan bola mata abu-abunya.
Sampai kapanpun Aksa tidak mau mengeluarkan uang sepeser pun untuk Rayana.
“Kamu gembel tidak tahu diri.” Desis Rayana , memegang sendok garpu hendak melayang mengenai Aksa.
“Kak?” teriak Ajeng dari meja makan, kemudian berlari cepat memisahkan Aksa dan kakaknya.
“Aku yang akan ganti tas kakak, jangan takut. Aku kirim uangnya ke rekening kakak sekarang juga.” Ajeng menelan ludah, pupus sudah keinginan membeli jam tangan bermerk. Lubuk hati Ajeng tidak kuasa menyaksikan suaminya dihina bahkan ditunjuk-tunjuk oleh Rayana.
“Sayang jangan.” Aksa menggeleng kepala, memegangi tangan istrinya agar tidak meraih ponsel dalam saku.
“Sudahlah Aksa, aku juga tidak mau menanggung malu karena suamiku di hina di depan teman-temanku.” Lirih Ajeng, suaranya tertahan menahan tangis.
TBC
***
ditunggu dukungannya
satu jempol, komen, vote dan gift sangat bermanfaat.
terima kasih 🙏😁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 86 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
Aksa yu jgn mau tertindas terus, tegas sedikit Laean tuh kemungkaran...hhh
2024-05-15
0
Sulis Tiyono
harusnya jaga juga dong kehormatan istri jgn mencolok proposional kerjaya kerja sok2 an kasihan imbasnya ke istri klu Ama yg lain sekali kali boleh unjuk gigi biar gk di remehi
2023-08-14
0
EL Shawieto
Ajeng yo pekok!!!
2023-05-16
2